Cinta Di Langit Alhambra

Cinta Di Langit Alhambra
Nasib percintaan dua bersaudara


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


“Aigo, ternyata kamu sangat tampan.” Ucap Nyonya Kristoff kepada Bara.


Bara hanya mengangguk dengan wajah datarnya sebagai tanda terima kasih, sama halnya dengan sang istri Tuan Kristoff sudah sudah membaca laporan tentang calon menantunya tersebut. Ternyata pria muda dan tampan yang tengah duduk di depan mereka salah satu pengusaha muda sukses di benua Eropa.


Stevani tidak memperdulikan kekaguman orang tuanya kepada Bara, justru dia masih belum bisa mengerti dengan kejadian hari ini.


“Jadi, aku akan menikah dengan dia. Bukan kakek?” Tanya Stevani dengan menujuk kearah Bara.


Bara yang di tunjuk oleh Stevani merasa tidak suka, dengan cepat dia menepis tangan kanan wanita yang akan menjadi istrinya tersebut.


“Yang sopan kamu!” Ucap Bara dengan wajah kesal.


Stevani hanya mencebik kesal, “Bukan kakek yang akan menikah denganku?” Tanya Stevani sekali lagi dengan mata lebar menghadap kea rah Kakek Santosa.


Kakek Santosa yang melihat wajah Stevani tertawa pelan, sedangkan Nyonya Kristoff mendelik kesal hingga memukul pundak putrinya dengan kencang karena dia malu kepada calon besan dan menantunya.


“Mama! Stev hanya bertanya.” Seru Stevani dengan wajah cemberut dengan bibir maju beberapa centi.


“Tentu tidak, Nak. Mana mungkin orang tua ini menikah lagi terlebih dengan wanita seumuran cucuku.” Jawab Kakek Santosa tersenyum lembut


Stevani mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti, “Sepertinya di masa lalu aku melakukan kejahatan hingga menikahi pria seperti cucu kakek.” Celetuk Stevani tanpa dosa.


Kakek Santosa yang mendengarnya tergelak dengan keras karena dirinya benar-benar seperti di buat jungkir balik dengan sifat calon menantunya, bahkan Bara dan Jundi tertegun karena sudah lama tidak melihat tawa sang kakek yang lepas seperti hari ini.


Nyonya dan Tuan Kristoff hanya mampu menghela nafas panjang dengan mulut tanpa filter sang putri, kembarannya Stevan hanya diam sibuk bermain dengan ponselnya. Dia acuh dengan keributan yang di buat oleh saudara kembarnya yang akan menikah.

__ADS_1


“Maafkan putri kami yang terlalu bersemangat dengan pernikahan ini.” Ucap Tuan Kristoff tidak enak hati.


“Hahaha … tidak apa-apa Tuan, dia sebentar lagi akan menjadi menantuku. Sepertinya kehidupan di mansion Smith akan kembali hidup seperti puluhan tahun lalu.” Jawab Kakek Santosa dengan tersenyum tipis.


Stevani yang sejak tadi menatap intens kearah Kakek Santosa mendadak sembilu mendengar kalimat terakir, kenapa hatinya sakit, dan sedih. Padahal dia tidak dan belum tahu apapun latar belakang calon suaminya.


“Oh tentu saja Kek, tenang saja. Mansion suamiku akan penuh dengan suara memekkan telinga dari anak-anak kami nanti.” Ucap Stevani dengan memberikan kedipan mata kearah Bara.


Bara yang melihat kedipan itu sontak tersedak air yang tengah dia minum hingga terbatuk-batuk, sedangkan Jundi terkekeh pelan tanpa suara.


“Wah, sungguh tidak main-main calon istri Bara.” Monolog Jundi.


“Benar, kalian setelah menikah berilah aku cicit yang banyak. Benarkan besan?” Tanya Kakek Santosa kepada kedua orang tua Stevani.


“Benar, aku setuju. Mansion kami juga sepi karena tidak ada anak kecil, kedua anak kami sudah dewasa yang satu akan menikah dan satunya akan sibuk mengurus perusahaan.” Jawab Tuan Kristoff


Pembircaraan mereka terhenti karena beberapa pelayan restoran telah masuk dengan membawa dua trolli makanan, setelah pers confers yang diadakan di perusahaan Kristoff. Orang tua Stevan mengadakan perjamuan kepada Kakek Santosa dan Bara.




“Selamat menikmati.” Ucap pelayan setelah selesai menata pesanan di meja makan.


“Terima kasih.” Jawab Stevani dan Yona bersamaan.


Keduanya saling melihat dan tertawa bersama, begitulah persahabatan yang terjalin sejak SMA. Stevani dengan karakternya yang keras sedangkan Yona yang lemah lembut perpaduan yin dan yang seimbang.

__ADS_1


Semuanya mulai makan siang dengan khitmat, sesekali para orang tua berbincang berbeda dengan yang muda semua sibuk dengan pikirnnya masing-masing kecuali Stevani. Dia yang paling tampak menikmati makan siang hari ini.


Tidak segan, Stevani menaruh lauk di atas mangkuk Kakek Santosa, awalnya sang kakek tertegun, dan bingung karena kebiasaan orang Eropa dan Indonesia cukup berbeda dengan Korea. Karena Jundi membisikkan sesuatu di telinganya membuat Kakek Santosa mengerti.


Kakek Santosa juga melakukan hal yang sama kepada calon menantunya, menaruh sepotong daging belut di atas tumpukan nasi milik Stevani. “Makanlah yang banyak, Nak.” Ucap Kakek Santosa tulus.


Stevani hanya mengangguk dengan kedua pipi yang tersipu malu, entahlah padahal dia sudah frustasi memikirkan keputusannya menerima pinangan dari kakek-kakek. Bahkan dia sudah berencana kabur hari ini.


Stevan yang melihat bagaimana orang tuanya ramah dengan calon besannya, membuat hatinya tercubit. Dengan perasaan sesaak dia mencoba menelan nasi yang dia masukkan ke dalam mulutnya dengan sesekali mengecek ponselnya menunggu balasan dari seseorang yang sudah mampu memporak-porandakan hatinya.


Bara yang sejak tadi diam hanya melirik saudara kembar calon istrinya, karena sejak bertemu hingga sudah duduk bersama di meja makan selama berjam-jam tidak ada satu patah katapun keluar dari mulut pria dingin itu.


“Apa dia tidak menyukaiku?” Gumam Bara di dalam hati.


“Ekhm, apa kamu sudah menikah?” Bara memecah keheningan antara dirinya dan Stevan.


Stevan yang sejak tadi menunduk dan fokus dengan mangkuk di depannya mengangkat pandangannya, “Belum.” Jawabnya singkat yang kemudian kembali fokus dengan makanannya.


Helaan nafas frustasi di hembuskan oleh Bara, sepertinya dia harus mendapatkan stock kesabaran dua kali lipat saat resmi menjadi suami seorang Stevani Kristoff.


“Kau, meski aku tidak mengenalmu sebelumnya. Bersabarlah menghadapi kakakku, aku tahu dia kasar dan tidak tahu aturan tetapi dia baik. Selamat atas pernikahan kalian, aku berharap kalian bahagia … begitu juga aku.” Stevan menatap Bara dengan intes dan kalimat terakir hanya dia katakana di dalam hatinya.


Bara sedikit tertegun mendengat ucapan kembaran dari calon istrinya, Bara hanya mengangguk kaku, “Begitu juga kamu.” Jawab Bara dengan sedikit terbata.


Bara sedikit tidak nyaman dengan tatapan Stevan, seakan ada suatu beban yang tengah di pikul olehnya. Mungkin karena dia sudah menjabat sebagai CEO sehingga membuat Stevan sedikit tertekan.


Perbincangan keduanya tertangkap oleh Tuan Kristoff, memikirkan percintaan anak laki-lakinya membuat Tuan dan Nyonya Kristoff tidak bisa tidur nyenyak. Tuan Kristoff memutuskan akan membereskan satu per satu urusan di keluarganya, yang jelas dia harus menikahkan anak tertuanya, dan akan mengurus anak terkirnya.

__ADS_1


Sebagai orang tua, baik Tuan dan Nyonya Kristoff menginginkah yang terbaik untuk anak-anak mereka. Membina rumah tangga bahagia hingga akhir hayat dan memiliki keluarga yang harmonis dengan cucu-cucu yang akan memenuhi kebahagiaan di mansion Kristoff.



__ADS_2