
Happy Reading 🌹🌹
Mobil Nissan GT-R50 berhenti tepat di depan perusahaan Kristoff, pintu di buka oleh pertugas keamanan yang berjaga di sekeliling perusahaan. Nyonya dan Tuan Kristoff turun terlebih dahulu dari dalam mobil yang kemudian di susul oleh pemilik kaki jenjang yang mengenakan sepatu hak tinggi turun dengan di susuk bagian tubuhnya yang lain.
Para pemburu berita berlomba-lomba mengambil gambar ekslusif hari ini, Stevani memberikan senyum cantik yang seperti dia berikan kepada para awak media, tangannya melambai dengan gerakan kecil. Tuan Kristoff berjalan dengan istrinya yang menggandenga lengannya, Stevani berjalan di belakang bersama saudara kembarnya Stevan.
Ke empat orang keluarga inti Kirstoff berjalan di tengah-tengah antara wartawan yang sudah duduk rapi di tempat mereka, melihat petinggi perusahaan hadir serentak para wartawan yang duduk berdiri dan membungkukkan badan sebagai tanda hormat.
Kini seluruh keluarga Kristoff sudah duduk di kursi dengan banyak mic di meja mereka, Stevani dengan senyum tipisnya sedangkan ketiga orang yang berada di sampingnya dengan wajah datar. Suara jepretan dan blitz cahaya dari kamera terus tertuju kepada keluarga Kristoff.
Cukup lama ruangan itu hanya ada suara kamera hingga kini hening karena Tuan Kristoff memberi intruksi agar berhenti, baik Stevan dan Stevani juga hanya diam seperti yang para wartawan lakukan.
“Terima kasih kepada kalian yang sudah datang di acara hari ini, seperti yang kalian tahu jika aku sudah tua untuk memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan. Selain itu, aku juga ingin menjadi seorang kakek seperti rekan-rekan kerjaku.” Tuan Kristoff menjeda ucapannya.
“Hari ini dengan di saksikan seluruh masyarakat saya Kristoff resmi mengundurkan diri dari jabatan presider yang akan di gantikan oleh putra laki-laki saya yaitu Stevan Kristoff. Semua keputusan saya ambil secara sadar dan tanpa paksaan dari siapapun.” Lanjutnya yang membuat kedua anak kembarnya kaget begitu juga para wartawan.
“Ayah, masalah ini belum pernah kalian bicarakan kepadaku. Kenapa tiba-tiba seperti ini,” protes Stevan dengan wajah tidak suka.
“Tidak perlu Ayah bicarakan karena memang hanya kamu penerus perusahaan Kristoff.” Jawab Tuan Kristoff dengan tegas.
Suara riuh karena bisik-bisik membuat Stevan menjadi tertekan, kamera terus menyorot ke arahnya.
“Tuan, kami mendapatkan undangan karena pengumuman pernikahan keturunan anda. Apakah selain mengangkat Tuan Stevan, anda juga akan mengumumkan pernikahannya?” Tanya salah seorang wartawan dengan memegang mic.
“Apakah pengangkatan Tuan Stevan sudah mendapatkan persetujuan dari jajaran direksi, jika di lihat Tuan Stevan tampak belum siap.” Tanya wartawan lainnya.
__ADS_1
“Untuk mengankat Stevan menjabat sebagai CEO tidak perlu persetujuan direksi karena di sini akulah yang memegang kendali, tentu dia kaget karena aku tidak pernah membicarakan hal ini sebelumnya tapi aku yakin kemampuannya jauh di atasku.” Jawab Tuan Kristoff dengan tegas dan lugas.
“Pertanyaan terakir Tuan, apakah Nona Stevani tidak anda pertimbangkan untuk memimpin perusahaan?” kembalis seorang wartawan bertanya.
“Tentu saja pernah, tetapi putriku lebih suka bekerja di depan kamera daripada di belakang meja dengan setumpuk kertas dan angka … hahaha” Jawab Tuan Kristoff dengan di akhiri tawanya.
Para wartwan dengan cepat dan licah mengetikkan setiap kata dan suasana di dalam ruangan hari ini, “Lalu siapa yang akan menikah di antara anak kembar anda Tuan? Keduanya tidak pernah tersandung gossip dengan lawan jenis kecuali Nona Stefani karena bekerja di dunia hiburan.” Ucap wartawan yang sejak tadi belum puas dengan jawaban Tuan Kristoff.
“Pengumuman yang kedua selain pengangkatan Stevan secara resmi sebagai CEO di perusahaan Kristoff menggantikanku adalah pernikahan Stevani yang akan di gelar satu minggu di mulai hitungan hari ini.” Jawab Tuan Kristoff dengan tenang.
Mendengar ucapan sang ayah sontak membuat Stevani berteriak, “WHAT!”
Tidak hanya Stevani, Stevan yang saudara kembarnya saja juga kaget apalagi calon pengantinyya. Tidak berbeda jauh dengan Yona yang berdiri tidak jauh dari panggung di mana keluarga Kristoff tengah melakukan pers confers.
“Lalu di mana calon Nona Stevani, Tuan. Kita sudah di sini hampir dua jam tetapi tidak melihat batang hidung calon suami putri anda. Apakah ini adalah pernikahan bisnis?” Tanya wartawan kembali.
“Bagaimana bisa aku menikahkan anakku kepada pria yang belum dia kenal, tentu saja mereka sudah kenal bahkan sudah sering berkencan secara sembunyi-sembunyi.” Jawab Tuan Kristoff dengan wajah tersenyum cerah.
Kening Stevani dan Yona mengkerut dalam, seakan mereka tengah mengingat-ingat siapakah pria yang sering mereka temui diam-diam. Tetapi nihil, tidak ada satupun pria yang di temui Stevani secara diam-diam selama ini.
Hingga pintu ruangan di buka dengan lebar oleh petugas keamanan, orang-orang yang berada di dalam ruangan mengalihkan atensi mereka kea rah pintu masuk. Para wartawan menolehkan kepalanya siapakah gerangan yang baru saja memasuki ruangan pers confers.
Terlihat sosok kakek yang tengah duduk di kursi roda lengkap dengan perawat yang mendorongnya, sedangkan di sampingnya seorang pria berperawakan gagah dan tampan mengenakan jas hitam.
Bara yang menatap lurus ke depan sedikit termagu karena melihat sosok wanita yang sudah di lamarkan sang kakek untuknya begitu cantik hari ini, entahlah padahal dia sudah pernah melihat Stevani dengan make up tetapi kenapa kali ini berbeda.
__ADS_1
Stevani menutup mulutnya kaget dia hanya fokus dengan Kakek Santosa yang duduk di kursi tidak dengan pria tampan yang tengah menatapnya intens, “Hancur sudah masa depanku! Bagaimana bisa aku menikah dengan kakek-kakek yang sedang sakit … apa setelah menikah aku akan menjadi janda?”
“Tidak!!!” Teriak Stevani refkek dengan mengacak rambutnya.
Semua yang ada di dalam ruangan mengalihkan kea rah Stevani, dia yang merasa di awasi segera merapikan rambutnya dan tersenyum kaku. Tapi di dalam hatinya menangis histeris meratapi nasibnya, berbeda dengan Stevani.
Bara hanya memutar bola matanya malas, “Jika bukan karena kakek, aku tidak akan sudi menikah dengan wanita gila itu.” Umpatnya dalam hati.
Kakek Santosa memberi inturksi kepada perawat untuk mendorongnya ke depan, Bara tetap berjalan mendekati panggung dengan tatapan yang terkunci kepada Stevani.
Yona menatap Bara yang kini sudah berdiri tepat di depan Stevani dengan pandangan yang sulit di mengerti, Tuan dan Nyonya Kristoff lantas berdiri dan turun dari panggung agar bisa berdiri di samping calon besan mereka.
Pandangan Stevani dan Bara terkunci, kedua mata Stevani melebar dengan sempurna saat melihat Bara sudah berdiri tepat di hadapannya meskipun ada jarak di antara mereka. “Apa yang sebenarnya terjadi ini.” Ucapnya dalam hati.
Hingga kesadaran Stevani kembali saat Stevan menepuk pundak kembarannya dengan keras, memberi kode untuk turun dari panggung seperti yang kedua orang tuanya lakukan. Kini Stevani berdiri tepat di samping Bara sedangkan sebelahnya adalah Stevan kembarannya.
“Perkenalkan saya Gunawan Santosa, secara resmi saya sudah melamar Stevani Kristoff untuk cucu saya Bara Green Smith Santosa. Saya sangat senang dan bahagia ternyata lamaran saya di terima dengan baik olehnya.” Ucap Kakek Santosa dengan menoleh kea rah Stevani.
Stevani yang tampak masih mencerna setiap kalimat yang di lontarkan oleh Kakek Santosa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja, membuat Bara yang melihatnya menyunggingkan senyum tipis.
“Kenapa dia lucu sekali … shi*t! sadarlah dia wanita gila.” Monolog Bara di dalam hati.
Kakek Santosa kembali menatap ke depan ke arah wartawan , "Pernikahan keduanya akan di gelar tujuh hari lagi dari sekarang, rekan-rekan akan kami undang untuk meliput acara sakral dan membahagiakan bagi kami para orang tua." Lanjut Kakek Santosa dengan di iringi tepuk tangan para wartawan.
__ADS_1