
Happy Reading 🌹🌹
Pagi terlah datang, matahari sudah muncul dari tempat peraduannya dengan sempurna. Jika orang-orang sudah memulai aktivitasnya berbeda dengan dua insan yang masih berada di bawah selimut tebal tengah berpelukan.
Stevani dan Bara masih terlelap dalam tidurnya, keduanya tampak saling memeluk dengan nyaman. Pembicaraan keduanya berakir menjelang subuh hari karena keduanya berbicara dengan sangat serius. Bahkan Stevani menanyakan siapa Alice, dengan lancar Bara menceritakan semuanya.
Bara bersyukur jika Stevani tidak membantingnya, meskipun Stevani harus mendengar dari sang kakek tapi tidak masalah baginya karena lambat laun Stevani pasti akan tahu jika bukan dari kakek ya dari orang lain.
Ponsel bara berdering dengan nyaring membuat keduanya terusik, masih menulikan telinga mereka tetapi ponsel kembali berdering membuat Stevani bangun dengan kesal, "Siapa sih pagi-pagi menelfonmu sayang!" Ucap Stevani yang masih memejamkan kedua matanya tapi bibinya sudah mengerucut.
Bara hanya berdehem dan sedikit memutar tubuhnya, beruntung ponsel miliknya berada di atas nakas sehingga mudah di jangkau. Kening Bara mengkerut dalam saat melihat nama Jundi berada di layar ponselnya.
"Ada apa?" Tanya Bara dengan suara serak khas bangun tidur.
"Hey! masih tanya ada apa, kamu lupa jika kita ada rapat hari ini." Teriak Jundi di balik telfon.
Mendengar kata rapat seketika membuat kedua mata Bara terbuka lebar bahkan langsung mendudukkan dirinya begitu saja, " Tunggu 30 menit!" jawabnya panik.
Stevani yang sudah kembali merebahkan dirinya kembali, langsung bangun, dan berjalan dengan menguap. Bara yang menutup pintu kamar mandi cukup keras tidak di hiraukannya. Dia melangkah menuju walk in closed menyiapkan pakaian kerja suaminya.
Meskipun belum bisa menjadi istri yang sempurna untuk sang suami, Stevani sedang berusaha agar menjadi istri yang baik untuk Bara. Dia menjatuhkan pilihan pada stelan jas berwarna merah maroon karena dia bosan melihat suaminya hanya memakai jas hitam dan biru dongker saja.
Stevani mengambil juga semua aksesoris yang cocok untuk di kenakan suaminya, dari dasi, kaos kaki, penjepit dasi, jam tangan, sepatu, dan yang lainnya. Semua dia tata dengan rapi di atas meja yang terbuat dari kaca dyang berada di dalam walk in closed.
Dia menoleh saat mendengar suara yang masuk ke ruangan walk in closed dengan tergesa-gesa, "Sayang pakaianku." Ucap Bara dengan mengeringkan rambutnya yang basah.
Stevani langsung berbalik badan saat Bara melorotkan handuk yang melingkar di pinggangnya, "Kenapa?" Tanya Bara tanpa dosa.
"Hiss, bisa gak sih kamu tidak sembarangan bertelanjang di depanku." Jawab Stevani dengan nada kesal.
"Kamukan istriku, tidak apa-apa latihan juga biar kamu terbiasa." Seloroh Bara dengan mengenakan kemeja putihnya.
"Terbiasa apa, melihatmu bertelanjang." Stevani mencebik kesal.
Bara hanya terkekeh, "Sayang kancingkan kemejaku." Ucap Bara bernada manja.
Stevani bergidik mengeri, dia belum terbiasa mendengar suara Bara yang lebih mendayu dari suaranya. Stevani berbalik dengan menatap tajam ke arah suaminya, dengan cekatan Stevani mengancingkan kemeja suaminya beruntung Bara sudah mengenakan celana panjangnya.
__ADS_1
Stevani juga memasangkan dasi, sedangkan Bara sibuk menatap wajah elok sang istri. Sentuhan terakir adalah pin didasinya. "Sudah cepat ayo aku tatakan rambutmu." Stevani menarik Bara keluar dari walk in closed.
Dengan tekut dia menurut apa yang di katakan Stevani, Bara duduk di kursi sedangkan Stevani di belakang sedang mengeringkan rambut Bara dengan hairdrayer. Jika di lihat posisi mereka seperti bermain salon-salonan membuat Bara terkekeh geli.
"Kamu kenapa sih, jangan membuatku takut." Ucap Stevani dengan wajah kesal.
"Ekhm, tidak. Baru kali ini ada wanita yang menyentuh rambutku selain Mama." Jawab Bara dengan tersenyum.
Stevani membalas senyuman itu bahkan ada semburat merah di kedua pipinya, entahlah hanya mendengar satu fakta itu membuat Stevani bahagia bukan kepalang.
Menghabiskan waktu sepuluh menit akhirnya urusan rambut sudah selesai, "Kamu tidak sarapn dulu?" Tanya Stevani yang memberikan tas kerja Bara.
"Tidak, aku akan sarapan bersama client dan Jundi saja sayang. Aku berangkat kerja dulu." Jawab Bara yang mengecup pipi istrinya dan berlalu begitu saja dari dalam kamar.
Stevani tertegun sesaat, dia mengedipkan kedua matanya dengan cepat, hingga detik berikutnya teriakan melengking di dalam kamar. Beruntung kamar Bara ada peredam suara, jika satu mansion mendengarnya pastilah mereka langsung berlari ke lantai dua.
"Aaaaa...! Ya ampun ... ya ampun ... apa begini yang namanya jatuh cinta." Teriak Stevani histeris dan gemas sendiri.
Stevani berjingkar dan berguling di atas kasur yang masih berantakan tersebut, bahkan kedua kaki yang masih menjuntai di atas lantai dia hentakkan beberapa kali.
"Ah, tidak Kek. Aku ada rapat dengan client pagi ini dan sudah terlambat. Bara pergi dulu." Pamit Bara dengan cepat.
Kakek Santosa hanya memandang kepergian sang cucu, "Panggilkan Stevani agar turun sarapan, L." Kata Kakek Santosa kepada kepala pelayan.
"Baik tuan." Jawab Paman L sopan.
Tok
Tok
Tok
"Nona!"
Mendengar suara pintu di ketuk membuat Stevani langsung bangkit dan tersadar dari kegilaannya, dia berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Ada apa, paman?" Tanya Stevani yang membuka pintu kamarnya sedikit.
__ADS_1
Paman L mencuri-curi pemandangan di dalam kamar utama, "Tuan Santosa menunggu anda di meja makan." Jawab Paman L.
"Baik, lima menit lagi aku akan turun." Stevani langsung menutup pintunya.
Sedangkan Paman L tanpa tersenyum malu karena melihat bagaimana berantakannya kasur sang majikan, "Sepertinya sebentar lagi mansion ini akan bertambah anggotanya." Ucap Paman L lirih.
"Bertambah apa L?" Tanya Kakek Santosa yang secara tiba-tiba sudah di depannya.
"Eh, itu anu tuan. Sepertinya anda sebentar lagi akan dapat cucu." Jawab Paman L kikuk.
"Beneran? Dari mana kamu tahu?" Cecar Kakek Santosa.
"Semoga saja tuan, tadi saya melihat bagaimana berantakannya kasur Tuan Bara dan Nona Stevani." Jelas Paman L.
"Hahaha, sepertinya aku harus mengirim mereka berbulan madu L. Bagaimana pendapatmu?" Tanya Kakek Santosa.
"Ide yang bagus tuan, tapi harus anda urungkan untuk waktu dekat ini karena Tuan Bara pasti sedang sibuk dengan pekerjaannya." Ucap Paman L sopan.
"Hem, benar juga. Kamu hubungi Jundi nanti siang."
"Baik Tuan.
Kini Kakek Santosa dan Stevani sudah berkumpul di meja makan, keduanya tampak sangat menikmati sarapan pagi ini.
"Stev."
"Iya, kek. Apa ada yang tidak kakek sukai?" Tanya Stevani mendongak dan menatap ke arah Kakek Santosa.
"Bagimana tawaran berbulan madu dari kakek kemarin? Apa kamu mau?" Ucap Kakek Santosa.
Stevani melipat ke dalam bibirnya, "Stev, belum membicarakannya kepada Bara kek. Bara sedang sibuk bekerja, dia saja sudah sangat terlambat hari ini." Jawab Stevani dengan wajah lesu.
"Tenang saja, akan kakek atur. Bagaimana?" Kata Kakek Santosa dengan enteng.
Stevani berfikir sejenak, hingga akhirnya menganggukkan kepalanya dengan mantap. Kakek Santosa tersenyum senang dan keduanya kembali melanjutkan sarapannya.
__ADS_1