Cinta Di Langit Alhambra

Cinta Di Langit Alhambra
Aku akan menikah


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Bara keluar dari ruang rapat dengan di ikuti Jundi di belakangnya, terlihat wajah lelah, dan lega yang terlihat di wajah keduanya.


Mereka masuk ke dalam ruangan CEO, "Hah, aku sangat lega. Aku sudah berfikir kerjasama hari ini akan gagal karena kamu terlambat hampir dua jam lamanya." Ucap Jundi seraya menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa.


"Benar, aku juga tidak menyangka jika kita berhasil." Jawab Bara yang duduk bersebrangan dengan asistennya.


Keduanya tampak hening tidak ada suara satupun, pikiran mereka melayang entah kemana.


"Aku akan menikah tahun ini." Jundi berkata dengan menyenderkan kepalanya di punggung sofa.


Bara yang mendengarnya sontak saja kaget, "Kalian baru berpacaran, apa tidak terlalu cepat?" Tanya Bara agar sang sahabat tidak menyesal.


"Emm... Benar. Tapi, melihat kamu yang menikah tanpa mengenal siapa Stevani nyatanya juga baik-baik saja. Aku fikir, cinta akan tumbuh dengan sendirinya." Jawab Jundi dengan argumentasinya.


"Yah, kamu benar. Aku mencoba mencintai Stevani da begitu juga sebaliknya, tidak terlalu buruk kami rasa." Bara membenarkan perkataan Jundi.


"Apa kamu mulai tertarik dengan istri bar-barmu itu?" Tanya Jundi yang sangat penasaran.


"Bukan bar-bar, tapi gila. Namun, dia sangat cantik saat marah." Jawab Bara dengan tertawa pelan.


Jundi tersenyum simpul melihat jika Bara benar-benar sudah jatuh hati kepada Stevani.

__ADS_1


"Ya istri gilamu yang cantik." Timpal Jundi dengan nada malas.


"Datanglah ke mansion, kakek menanyakanmu." Ucap Bara.


"Aku sudah berencana akan membawa calon istriku, jika kamu tahu pasti kaget, dan tidak menyangka."


"Aku juga akan tahu siapa calon istrimu, yang jelas kamu datanglah kunjungi kakek." Kata Bara yang mulai bangkit dari duduknya.


"Bar, kamu tidak ingin berbulan madu?" Jundi bertanya dengan serius.


"Pekeerjaan kita masih banyak lagipula aku dan Stevani masih mencoba saling menerima, aku takut jika Stevani akan menolakku." Jawab Bara dengan jujur.


Suara tawa pecah memenuhi ruangan CEO, "Apakah Bara yang terhormat takut di tolak wanita terlebih istrinya sendiri saat malam pertama? Oh, bukan malam pertama lagi karena sudah banyak hari yang terlewati." Kata Jundi dengan sisa tawanya.


Bara yang melihat Jundi tertawa hanya mendengus kesal, sedangkan Jundi tidak menyangka jika sahabatnya mampu bertahan di samping Stevani tanpa hasrat untuk berhubungan.


Suara pintu ruangan tertutup dengan keras, Bara melempar kotak pensil ke arah Jundi sehingga membuat pria itu berlari keluar dari ruangan.


"Siapa yang akan bernafsu dengan wanita tubuh rata seperti itu," Gerutu Bara dengan kesal.


"Akan aku potong tangannya." Lanjutnya.


Bara kembali menenggelamkan dirinya bersama tumpukan dokumen yang seakan tidak ada habisnya.

__ADS_1


Sedangkan di ruangan Jundi dia tengah menghubungi seseorang di sebrang telfon.


"Minggu depan kita akan ke mansion Smith, bagaimana?" Tanya Jundi lembut.


"Aku takut." Jawab seseorang di sebrang telfon.


"Tidak perlu takut, ada aku. Aku akan menjelaskannya kepda Stevani." Jawab Jundi dengan yakin.


Yona yang tengah duduk di sofa, hanya mampu menggigit-gigit bibir bawahnya saja. Dia takut jika Stevani akan kecewa dengannya karena tidak memberi kabar apapun.


"Bagaimana jika Stevani membenciku, a-aku takut... Hiks." Yona memecahkan tangisnya.


Rasa rindu dan penyesalan berkecamuk di dalam hatinya. Nomor lama sudah dia buang bersamaan dengan ponsel lamanya sebelum terbang ke Eropa bersama Jundi karena suatu hal yang tidak ingin dia bagi bersama Stevani.


"Stt... Jangan menangis, Stevani sampai detik ini masih mencarimu. Bukankah dia masih peduli denganmu, sebelum kita menikah kamu harus bertemu dengannya. Dia akan jauh lebih kecewa lagi jika kamu berada dekat dengannya tapi tidak menemuinya." Jelas Jundi pada calon istrinya.


"Baiklah, kapan kita ke mansion menemui kakek. Aku harus bersiap-siap untuk bertemu dengan Stevani juga." Yona akhirnya menyetujui usulan Jundi.


"Secepatnya, yasudah aku akan kembali bekerja. Kamu tidak perlu memasak makan siang karena aku akan makan di kantin perusahaan, pekerjaan harus segera di selesaikan agar kita dapat menemui kakek meminta restunya." Jawab Jundi panjang kepada Yona.


"Baiklah, jika lembur kabari aku. Love you."


"Me to,"

__ADS_1


Jundi mematikan sambungan telfonnya sesudah menjawab ucapan cinta dari Yona, entahlah apakah ini karena rasa kasihan atau memang dia mencintai Yona.


Kehidupan Jundi yang penuh dengan komedi dan kerja kini cukup berubah karena kehadiran Yona di dalam hidupnya.


__ADS_2