Cinta Di Langit Alhambra

Cinta Di Langit Alhambra
Suasana Haru


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Dengan wajah secerah bolam lampu, Bara berjalan keluar dari rumah sakit dengan menggenggam erat tangan sang istri.


Dia membukakan pintu seperti biasanya, memperlakukan Stevani seperti putri raja di dalam cerita dongeng.


Perlahan mobil bergerak meninggalkan area parkir rumah sakit, "Kamu ingin apa sayangku?" Tanya Bara kepada Stevani.


"Aku hanya ingin tidur dalam pelukanmu saja sayang." Jawab Stevani jujur.


"Dengan senang hati Nyonya Bara,"


Bara menjalankan mobil menuju mabsion Smith, sudah tiga puluh menit tetapi mobil baru menjauh dari rumah sakit mungkin hampir 1km.


Membuat Stevani sangat jenuh dan malas, "Bar, biarkan aku saja yang menyetir." Ucapnya dengan nada jengkel.


Bara menggeleng, "Sudah kamu duduk saja dengan tenang sayang, biarkan suamimu ini fokus menyetir." Jawabnya tanpa melihat ke arah Stevani.


"Kamu lama Bara, lihat mana ada mobil berjalan dengan kecepatan seperti ini. Lihat orang berjalan kaki saja menyalip kita." Ucap Stevani yang sudah frustasi.


"Sabar sayang, aku harus berhati-hati karena bayi kita masih imut. Ingat kata dokter jika tidak boleh terkena guncangan jadi aku harus berhati-hati jangan sampai terkena guncangan." Jawab Bara dengan panjang lebar.


Helaan nafas keluar kasar dari Stevani, "Bukan begitu sayanggggggg! Hih, makhsud guncangan yang kasar." Ucap Stevani lagi yang sudah sangat kesal.


Bara tidak menjawab dia tetap melajukan mobil dengan kecepatan siput, meskipun banyak pejalan kaki dan sepeda melihat ke arah mobilnya, Bara tetap acuh.


Hingga tiga jam kemudian barulah mobil Bara sampai di mansion Smith, penjaga yang melihatnya juga heran karena benar-benar seperti siput.


Mesin mobil dimatikan, "Say-"


Ucapan Bara terputus karena melihat Stevani sudah tertidur pulas di kursi, menatap sejenak wajah istrinya yang tampak berisi, dan tersenyum lebar mengingat jika istrinya tengah mengandung benih yang selama ini dia suplay.


"Anak-anak Daddy, jangan bikin Mommy kalian susah ya." Ucapnya pelan di depan perut sang istri dan mengecupnya.

__ADS_1


Bara keluar dari mobil, berjalan memutar membuka pintu sebelahnya. Membuka seat belt yang masih terpasang untuk melindangi Stevani.


Menggendong dengan cara bridal style, dia berjalan masuk kedalam mansion. Terdengar sayup-sayup orang berbincang membuat Bara masuk ke dalam ruang tamu.


Tampak Jundi yang tengah menangis bersama seorang wanita yang memunggungi Bara sedangkan Kakek Santosa yang hanya menepuk-nepuk pundak Jundi.


"Ada apa ini?" Tanya Bara dengam wajah heran tetapi Stevani masih digendongannya.


"Bara ... Stevani."


"Aku akan menidurkan istriku, jangan beranjak selangkahpun dari sini." Ucapnya dengan intimidasi.


Yona hanya menundukkan kepalanya saja, dia sejak awal sudah takut dengan pandangan Bara.


Stevani yang merasa teruski tidurnya oerlahan mengerjapkan kedua matanya, "Ekm, sayang. Kita sudah sampai?" Tanyanya yang masih bersandar di dada bidang sang suami.


"Sudah sayang, kita ke kamar ya." Ucap Bara.


"Tidak, turunkan aku. Aku ingin bersama kakek, aku akan kekamar kakek saja." Tolak Stevani cepat.


"Kakek ada di sini, eh Jundi juga di sini. Siapa wanita ini? Kekasihmu ." Ucap Stevani dengan ceria.


Yona berdiri dan memutar tubuhnya, tampak kedua mata yona kembali basah karena air mata. Sedangkan Stevani kaget dan langsung memeluk tubuh Yona dengan erat penuh haru.


"Yona! Hiks, kemana saja kamu. Aku mencarimu bahkan anak buah Ayahku sudah aku kerahkan tetapi tidak menemukanmu, hikss kamu sangat jahat sekali." Ucap Stevani yang menangis dengan memeluk Yona.


"Maafkan aku, maafkan aku Stev." Yona hanya mampu meminta maaf kepada sabatnya.


Stevani melepaskan pelukanya dan memandangi wajah Yona dengan seksama, menutar tibuh sahabatnya kekanan dan kekiri.


"Syukurlah, kamu tidak apa-apa. Aku mendapat kabar jika Ayahmu di penjara, baguslah sudah lama aku ingin melakukannya Yona tetapi selalu kamu larang. Huh, biarkan setan itu mendapatkan pelajaran sekarang." Stevani mengomel tanpa rem.


"Stev." Panggil Yona pelan.

__ADS_1


"Heh, apa? Oh ya kamu pegal ya, ayo duduk." Stevani duduk bersama Yona hingga membuat Jundi menyingkir.


Yona hanya diam dia melihat kearah Jundi dan Kakek Santosa meminta toling untuk mengatakan kepada Stevani.


"Kenapa diam, apa yang tidak aku ketahui disini. Lalu kenapa kamu datang dengan Jundi? Kamu dijemput Jundi atau suamiku ingin memberikan kejutan kepadaku?" Cecar Stevani kembali.


"Kami akan menikah." Jawab Jundi.


"Ap- , menikah? What!" Stevani kaget dengan ucapan Jundi.


Yona mengangguk, "Benar, kami akan menikah. Aku akan pulang ke Korea untuk menemui Mamamu. Maafkan aku Stev tidak bisa datang di hari pernikahanmu, hari itu aku datang dan bertemu Mamamu di depan lift. Aku takut karena aku sedang tidak baik-baik saja sehingga aku berlari keluar dari hotel. Beruntung aku bertemu Jundi, dia melihatku yang tampak kacau saat itu dan berniat membantuku. Tetapi sebelum Jundi membantuku, ternyata Ayahku sudah dijebloskan oleh Mamamu ke dalam penjara. Hiks... A-aku sudah salah sangka kepada Mamamu yang ternyata dia peduli kepadaku selama ini, Mamamu memiliki semua bukti kuat bagaimana saat Ayah menyiksaku dan memakiku, diam-diam meletakkan orang kepercayaan yang menyamar menjadi tetanggaku. Aku ingin menikah Stev, aku ingin ada Ayahku meskipun dia seperti itu. Hanya dia yang aku miliki di dunia ini setelah kepergian Ibuku." Yona menjelaskan kenapa dia tidak datang di hari pernikahan Stevani saat itu.


Stevani menangis sesenggukan, dia kembali meneluk tubuh Yona, dan keduanya menangis.


Tiga pria hanya mampu menatap sedih kedua wanita yang tengah menangis, Bara menatao sejenak wajah sahabatnya yang tamoak mengusap air matanya.


"Kamu harus lebih kuat daripada istrimu kelak." Ucapnya dengan menepuk pundak Jundi.


"Sayang, kamu harus beristirahat. Biarkan Jundi dan Yona berbincang dengan kakek." Bara menghampiri Stevani yang tampak lengket dengan Yona.


"Tidak, aku ingin bersama Yona." Tolak Stevani dengan wajah cemberut.


Bara menghela nafas panjang, "Biarkan Yona menyelesaikan urusannya dulu, jika Yona menikah dengan Jundi kamu bisa bermain lagi dengan Yona. Bagaimanapun dia akan tinggal di Eropa." Jawab Bara mengarang.


"Benar juga, yasudah ayo kita kekamar." Kata Stevani.


"Hem, pintarnya Mommy si kembar." Ucap Bara mengacak rambut sang istri dengan gemas.


"Kembar?" Beo tiga orang yang tidak paham.


"Ah, begini Kakek. Stevani tengah hamil kembar jadi sebentar lagi kakek akan memiliki cicit." Jawab Bara menjelaskan kepada Kakek Santosa.


Kabar gembira tentu saja di sambut dengan rasa bahagia, Stevani berjalan menghampiri Kakek Santosa, dan memeluknya erat.

__ADS_1


"Selamat menjadi buyut, Kek." Ucap Stevani yanh mulai lagi menangis.


Kakek Santosa juga menangis, dia menepuk pelan pundak Stevani. Hari ini di ruang tamu sangat mengharu biru dengan kebahagiaan masing-masing.


__ADS_2