Cinta Di Langit Alhambra

Cinta Di Langit Alhambra
Keseruan setelah menikah


__ADS_3

"Maaf, aku sangat lapar, sehingga perutku berbunyi sangat keras," ucap Stevani lirih menahan malu.


Para sahabat dan teman Bara tertawa, lalu mengejek Bara sebagai suami yang kurang perhatian karena membiarkan istrinya kelaparan. Lalu, dengan sedikit malu, Bara menyuapi Stevani dengan beberapa suap makanan ringan yang belum sempat mereka makan.


Usai memakan beberapa suap makanan untuk mengganjal perut, mereka pun melanjutkan kembali acara foto bersama. Kali ini giliran rekan bisnis Bara yang dengan antusias naik ke atas panggung, menyalami Bara dan Stevani sambil menyempatkan diri mengejek Bara.


"Bara, senyumlah! Ada bidadari cantik kok mayun," ucap salah satu rekan bisnis Bara.


Bara pun menjadi salah tingkah seketika bibirnya mengulas senyum tipis. Kemudian lelaki itu pun memeluk lengan Stevani. Sedangkan yang dipeluk juga langsung memerah kedua pipinya.


"Hahaha, pengantin ceweknya malu tuh!" celetuk salah satu teman yang lain.


Stevani seketika sembunyikan wajahnya di balik tubuh kekar Bara. Gadis itu merasa sangat malu akibat celetukan para tamu yang kebanyakan teman bisnis Bara dan mereka masih usia lajang yang sudah matang. Jundi yang melihat dan mendengar interaksi semua tamu hanya tersenyum simpul.


"Hai kalian kapan akan menyusul si dingin ini?" suara Jundi seketika membuat semua pembisnis muda menatap tajam padanya.


Jundi hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lelaki itu pun menyoraki yang lain agar segera menyusul bosnya yang sudah menikah dengan selebgram tanpa skandal. Stevani sangat bersih akun selebgramnya sehingga para pemburu berita tidak ada yang membuat tajuk judul menyesakkan dada.


"Oke siapa ini yang berfoto lagi bersama mempelai?" tanya juru foto.


Juru foto pun sudah siap diposisinya hanya menunggu para model yang ingin berpose. Fotografer yang sedikit gemulai itu pun menghampiri salah satu rekan Bara yang terlihat tampan dengan postur tubuh yang kekar dan terlihat gentle.


"Mas, ayo, berswafoto sama eike!" ajak sang fotografer dengan eksen melambai bagai orang yang bergenre belok.


Rekan Bara seketika berjengit dan melangkah mundur dua langkah, membuat yang lain tertawa terbahak. Bagaimana tidak tertawa jika melihat langsung adegan yang menggelikan bagi mereka. Sebenarnya mereka tahu seperti apa fotografer itu kelakuannya.


Sebenarnya sang fotografer murni seorang pria sejati tetapi terkadang suka menggoda cowok yang sedang kedapatan melamun menurut pandangannya. Dan, itu terjadi pada rekan Bara yang sejak tadi hanya melihat ponsel saja tanpa memedulikan keseruan acara foto bersama.


"Hahah, kau kena tipu, Bro!" ucap yang lain.


"Tipu bagaimana? Itu cowok atau jijay sich?" tanya rekan Bara tersebut.

__ADS_1


Jundi mendatangi rekan kerja Bara yang dia juga kenal dengan lelaki itu. Dengan pelan Jundi menepuk bahu sang rekan tersebut.


"Hai, Bung. Sudah jangan hiraukan mereka, pada dasarnya mereka adalah sama," tambah Jundi


"Sama bagaimana lho, Pak Jun?" tanya si rekan.


"Sama-sama gila!" balas Jundi asal dan disambut tawa oleh semua yang kebetulan berdiri di sekitar panggung.


Bara yang melihat keusilan sang fotografer dan asistennya itu ikut tertawa renyah. Tawa yang membuat Stevani terpana. Sungguh Bara terlihat semakin tampan dan macho jika tertawa lepas tanpa beban. Bara yang di tatap tanpa kedip oleh sang istri seketika menghentikan tawanya lalu memandang wajah Stevani yang masih berada dalam mode terpana.


Kedua jari Bara dijentikkan di depan wajah istrinya, seketika Stevani tersadar dari rasa terpana akan wajah tampan Bara, sang suami. Stevani tersenyum malu. Apalagi Bara masih menatapnya penuh arti.


"Cantik!" lirih Bara yang masih jelas terdengar oleh Stevani.


"Iya, Tampan!" balas Stevani.


"Cie, hai kalian dengarkan suara hati kedua mempelai ini! Mereka saling puji lho," teriak salah satu pengunjung yang kebetulan masih berada di atas panggung pengatin.


Seketika sorotan lampu blist saling bergantian mengambil gambar kedua pengantin. Bara terlihat semakin merapat pada Stevani yang saat ini terlihat sangat cantik. Stevani yang baru tersadar dari situasi yang absurd itu pun segera mengulum senyum tipis. Kemudian mengumumkan siapa lagi yang ingin berswafoto bareng kedua pengantin


"Bapak dan Ibu Kristoff dimohon segera naik le atas panggung, ini ada permintaan agar kalian sudi berswafoto dengan semua rekan bisnis sang mempelai pria.


Mendapat panggilan akhirnya kedua orang tua Stevani pun naik ke podium, lalu memposisikan diri keduanya berdampingan dengan sang putri, sementara beberapa rekan bisnis Bara berdiri berjajar di samping pengantin pria. Dalam hitungan detik pun selesai.


"Terima kasih Om dan Tante," ucap mereka serempak.


Setelah foto selesai segera kedua orang tua Stevani pun turun begitu juga ayah+ Bara yang ternyata kakeknya. Saat ini kedua orang tuanya Bara sudah meninggal yang ada hanya seorang pria tua yang sering dipanggil sebagai kakek oleh Bara.


"Terima kasih," ucap salah satu rekan bisnis Bara.


"Eeh tunggu apa benar dia pria tulen, Tuan Jundi?" tanya sang rekan.

__ADS_1


"Benar, Bung. Dia pria tulen, tadi itu dia sengaja berniat seperti itu agar kamu fokus pada acara ini," balas Jundi.


Para pembawa acara mengumumkan acara lempar bunga yang menjadi tradisi bagi para pengantin, yaitu lempar buket bunga. Bara dan Stevani segera berdiri dan menghadap pada sisi ruang yang sudah kosong.


"Baik kita mulai berhitung, dari angka terkecil hingga besar. Dan pada hitungan akhir buket ini akan aku lempar ke belakang. Jika salah satu dari kalian ada yang berhasil menangkap buket itu, maka dia akan menjadi mempelai berikutnya."


Kedua pengantin pun mulai berhitung, dimulai dari angka sepuluh lalu menurun hingga ke angka satu, seperti saat latihan pelemparan buket bunga tersebut. Semua segera berdiri bersiap begitu juga para fotografer dan penata lampu.


"Oke, kita mulai yaa," teriak Stevani.


"Siapa yang bisa menangkap buket ini berarti dialah selanjutnya yang akan menikah!" teriak sang fotografer.


"Baiklah, bersiaplah kalian!" lanjut sang fotografer.


Sepuluh, sembilan, delapan tujuh, enam, lima, empat, tiga


"Sudah sampai pada hitungan ke tiga ya gaes. Persiapkan diri kaliannn!" ucap sang fotografer.


Tiga, dua ... saatuu


Bersamaan kata satu terlontar dari bibir sang fotografer, Stevani bersama dengan Bara segera melempar buket bunga tersebut. Dan saat berbalik badan tawa Bara lamgsung berderai melihat siapa yang berhasil memdapatkan buket tersebut. Sang fotografer pun ikut tertawa lepas.


Rekan bisnis Bara yang sejak tadi menjadi bahan bully dan candaan justru dialah yang mendapat menangkap buket tersebut.


"Selamat untuk Anda, Tuan pemilik ponsel!" ucap sang fotografer.


Rekan bisnis Bara tersebut seketika melempar buket itu kembali pada halaman tengah sebah pesta. Namun, buket itu seakan bisa terbang sendiri menuju tuannya. Dan anehnya buket itu pun juga kembali pada si rekan bisnis Bara.


"Hai, pamali lho, Tuan. Hal ini sangat aneh dan tidak bisa kita hindari kemana dan siapa yang akan dihampiri oleh bunga buket tersebut," papar Jundi.


"Jadi terima saja agar roh pengantin dalam buket itu puas mendapatkan calon pengantin yang tidak kalah tampannya dengan majikan aku," lanjut Jundi

__ADS_1


...🌹🌹...



__ADS_2