Cinta Di Langit Alhambra

Cinta Di Langit Alhambra
Melamar gadis untuk Bara


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Remote televisi yang berada di tangan kanan Kakek Santosa di pukulkan tepat di kepala sang cucu dengan kesal, “Apa kamu mendoakan kakekmu cepat mati.” Geram Kakek Santosa.


“Lalu apa maksud perkataan kakek jika bukan seperti itu.” Balas Bara dengan menekuk wajahnya.


Kakek Santosa harus banyak-banyak bersabar menghadapi sikap kaku Bara, “Bukan seperti itu, kakek hanya ingin mengajukan permintaan terakir kepadamu, Bar. Bukan kakek berencana meninggal dalam waktu dekat ini. Kakek hanya ingin melihat kamu menikah dan memiliki cucu.” Jawab Kakek Santosa menatap kedua mata kecoklatan itu dengan intens.


“Kakek, kita sudah membahas ini. Bagi Bara cukup ada kakek yang menemani tidak perlu seorang istri.” Tolak Bara atas permintaan tersebut.


“Apa karena kamu di tolak oleh Alice? Ingat Bara, dia istri sahabatmu bahkan sekarang mereka sudah hidup bahagia. Bisakah kamu juga hidup bahagia, untukmu … untuk kakek?” Tanya Kakek Santosa dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata tuanya.


Bara membuang pandangannya ke sembarang arah, dia sudah merelakan Alice untuk Kenan karena sejatinya memang Alice bukan untuknya. Tapi, jika dia harus menikahi wanita selain Alice apakah dia bisa mencintainya? Apakah hatinya akan berdebar saat dia bersama Alice?


Kakek Santosa sudah menerima semua laporan apa yang di lakukan oleh Bara selama berada di Indonesia, bukan tidak peduli. Kakek Santosa merasa tidak ada hak untuk ikut campur masalah asmara sang cucu.


“Kakek yakin Alice akan merasa bersalah Bara, dia akan menyalahkan dirinya sendiri karena kamu tidak mencari kebahagiaanmu sendiri atau perlu kakek buat mereka bercerai untuk membuatmu bahagia!” Lanjut Kakek Santosa dengan perasaan yang sudah tidak bisa di kendalikan.


Bara masih diam seribu bahasa, bibirnya kelu untuk menjawab pertanayaan sang kakek. Dia bukan pria breng sek yang merusak kebahagiaan orang lain, jika dia ingin sudah sejak lama dia lakukan itu.


Paman L yang melihat Kakek Santosa memegang dadanya dari luar kamar langsung membuka pintu dengan kasar dan berlari. Hal itu tentu membuat Bara dan Jundi kaget juga beberapa pengawal yang berada di luar kamar.


“Tuan! Cepat panggilkan dokter!” Seru Paman L kepada Jundi dan pengawal.


Bara sontak berdiri dengan wajah panik dan cemas, “Kakek!” Ucapnya dengan kedua mata yang bergetar.


Jundi dan pengawal segera berlari secepat dan sekencang mungkin, Jundi menaiki lift sedangkan pengawal menuruni anak tangga.


Beruntung ruangan Kakek Santosa berada di lantai dua, ternyata pengawal lebih dulu sampai di lantai satu dan langsung mencegat seorang perawat menyampaikan jika Kakek Santosa colabs.

__ADS_1


Segera perawat berlari ke salah satu dokter dengan cepat rombongan dokter berjalan memasuki lift di mana lift Jundi baru saja terbuka. Tidak membutuhkan waktu lama, dokter dan juga perawat sampai di lantai dua langsung berjalan keluar menuju ruang rawat pasien.


Pintu ruang rawat Kakek Santosa terbuka lebar, Paman L segera menyingkir untuk memberi ruang kepada dokter.


Bara yang berada di samping sang kakek harus mengalah karena Jundi menariknya ke belakang agar perawat dapat membantu dokter bekerja dan menolong Kakek Santosa.


Ruangan yang sejak tadi tegang kini hening, hanya ada suara alat detak jantung yang memenuhi ruangan.


Bara masih terduduk lemas di tempatnya dengan mamandangi wajah sang kakek yang kini terpejam dengan bantuan oksigen. Air mata Bara luruh tanpa suara kejadian hari ini yang terjadi di depan mata dan kepalanya sendiri membuat ketakutannya semakin menjadi.


“Tuan, makan dulu. Anda sejak tadi belum memakan apapaun.” Ucap Paman L lembut kepada majikannya.


Bara hanya menggeleng pelan, dia enggan membuka mulutnya. Tenggorokannya terasa tercekat, Paman L yang melihatnya hanya mampu menghela nafas panjang. Sedangkan Bara masih terngiang ucapan sang dokter.


“Pasien mengalami serangan jantung akibat hipertensi yang pasien derita. Tekanan darah yang tinggi meningkatkan resiko penyakit jantung dan stroke, hal ini terjadi karena semakin tinggi tekanan darah maka semakin besar pula tekanan yang terjadi pada dinding pembuluh darah yang kemudian berisiko menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah.”


“Tentu saja selain meminum obat, pola hidup pasien harus di rubah Tuan. Bisa mengonsumsi makanan bernutrisi, menghindari garam yang berlebih, alkolol, olahraga, dan kelola stress dengan baik.” Jawab dokter menjelaskan dengan tenang.


“Selama ini tidak ada gelaja penyakit jantung, dok. Bagaimana mungkin semua ini terjadi.” Bara mengguyar rambutnya ke belakang dengan rasa tidak percaya.


“Untuk penderita hipertensi seringkali muncul tidak disertai dengan gelaja yang pasti, Tuan. Semua baru muncul dengan tiba-tiba saat semuanya sudah parah dan menimbulkan komplikasi, termasuk penyakit jantung.” Jelas dokter lagi.


Bara meraup wajahnya dengan kasar, dadanya terlalu sesak, kepalanya berdenyut nyeri memikirkan semua kejadian ini.


“Terima kasih, dok untuk penjelasannya. Mohon perawatan terbaik untuk pasien.” Ucap Paman L yang di angguki oleh sang dokter.



Bara duduk bersandar di sofa dengan kepala menengadah ke atas, menatap langit-langit yang berwarna putih bersih.

__ADS_1


“Paman.” Ucap Bara yang masih setia dengan posisinya.


“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” Tanya Paman L.


“Apa yang kakek lakukan hingga datang ke Korea Selatan?” Tanya Bara dengan melirikkan bola matanya saja.


“Tuan hanya ingin berjalan-jalan dan juga memiliki beberapa keperluan saja.” Bohong Palam L kepada Bara.


“Keperluan? Keperluan apa.” Tanya Bara yang terus mengintrograsi kepala pelayan mansion.


Paman L terdiam sejenak, “Saya tidak berani mengatakannya Tuan, bisa anda tanyakan sendiri kepada Tuan Santosa.” Jawab Paman L kepada Tuan Mudanya.


Helaan nafas yang kasar terdengar, Bara menegakkan duduknya dan menatap sang kakek yang masih tergolek lemah. Pandangannya berubah menjadi sendu nan kosong, jangankan untuk makan untuk bernafas saja rasanya sulit.


“Tuan.” Panggil Paman L pelan.


“Hem.”


“Apa anda akan mengabulkan permintaan Tuan Santosa saat ini?” Tanya Paman L hati-hati.


Bara menaikkan sebelah alisnya yang kini menatap kepala pelayan tengah berdiri tidak jauh darinya dengan menurunkan pandangannya, bagaimana dia tahu jika sang kakek meminta permintaan terakir kepadanya sebelum penyakit jantung itu datang.


“Apa yang sebenarnya kakekku lakukan hingga jauh-jauh datang ke sini.” Ucap Bara berubah dingin.


Paman L tidak takut dengan perubahan itu, baginya sudah biasa jika Bara bersikap seperti itu di saat sesuatu tidak nyaman di hati dan pikirannya.


“Tuan melamar seorang gadis untuk anda.” Jawab Paman L jujur.


Jundi yang duduk di hadapan Bara sontak terbatuk-batuk akibat tersedak air ludahnya sendiri, “Me-melamar?” Beo Jundi menata Paman L tidak percaya begitu juga Bara dengan mata membulat sempurna.

__ADS_1


__ADS_2