
Happy Reading 🌹🌹
“Bara.” Panggil Kakek Santosa pelan.
“Ada apa, Kek?” Tanya Bara dengan menoleh kearah sang kakek.
“Kakek harap kamu bisa bersikap baik dengan Stevani, meskipun baru pertama kali bertemu. Kakek bisa melihat jika dia gadis yang baik dan pengertian sama halnya denganmu. Coba bukalah hatimu untuk Stevani meskipun itu membutuhkan waktu.” Ucap Kakek Santosa panjang lebar.
Bara hanya diam seribu bahasa mendengarkan ucapan sang Kakek, dia membuang pandangannya ke luar jendela. Menghela nafas panjang, dia juga sedang memikirkan bagaimana dia akan menjalani bahtera rumah tangga. Sejujurnya dia belum mampu untuk melupakan wanita yang sempat memporak porandakan hatinya, tetapi melihat bagaiamana wanita itu mempertahankan rumah tangga dengan sahabatnya membuat Bara berfikir.
Apakah dia juga akan mempertahankan rumah tangganya meski tidak akan ada cinta yang hadir di antara keduanya atau dia akan menyadari perasaannya di akhir cerita. Dia tidak ingin seperti pria dalam tokoh novel yang selalu menyesal di akhir cerita, di saat cinta itu sudah pergi meninggalkannya.
“Kamu harus bahagia Bara.” Lanjut Kakek Santosa.
Bara hanya mengangguk tanpa ada niatan untuk menjawab, kini mobil SUV putih telah sampai di Rumah Sakit. Saat ini Kakek Santosa masih mendapatkan perawatan selama Bara belum menyetujui sang kakek di pulangkan.
“Kakek ingin ke taman?” Tanya Bara.
“Boleh.” Jawab sang kakek.
Bara mengambil alih pekerjaan perawat dan mendorong kursi roda yang tengah Kakek Santosa gunakan menuju taman di samping rumah sakit. Sedangkan Jundi tengah melakukan meeting di restoran.
Hari menjelang sore, membuat matahari mulai redup tidak seterik siang hari. Banyak para pasien dengan mengenakan pakaian rumah sakit juga tengah di taman bersama sanak saudara, Bara melangkahkan kakinya menuju salah satu kursi di bawah pohon yang rindang.
Bara duduk di kursi yang terbuat dari semen dan kursi roda Kakek Santosa berada di sampingnya, keduanya terdiam dengan menatap orang-orang yang berada di hadapan mereka. Hingga sebuah bola karet berhenti tepat di kaki Bara, seorang anak laki-laki berlari mendekat.
“Maaf paman itu bolaku.” Ucap anak laki-laki itu dengan suara cadel.
Bara tersenyum dan menyerahkan bola karet yang sebelumnya sudah dia ambil kepada anak kecil tersebut.
“Terima kasih, paman.” Kata anak itu yang kemudian berlari meninggalkan Bara dan Kakek Santosa.
__ADS_1
“Dulu, kamu juga seperti dia. Gemar bermain sepak bola dengan ayah di belakang mansion dan ibumu datang membawa snack untuk kalian. Bara kita boleh mengenang masa lalu tetapi jangan menjadika masa lalu sebuah alasan untuk menunda kebahagiaanmu. Orang tuamu pasti sedih melihatmu dari surga, yang lalu biarlah berlalu karena merka sudah meninggal, dan cerita kehidupannya sudah berhenti.”
“Bara takut, Kek.” Jawab Bara dengan kedua mata yang sudah berkabut.
“Bara takut tidak bisa menjadi kepala keluarga yang baik, suami yang baik, dan ayah yang baik juga, Bagaimana jika Bara meninggalkan anak Bara saat masih kecil seperti Mommy dan Daddy?” Lanjut Bara dengan nada bergetar.
“Semua orang tua pasti ingin menyaksikan anak-anaknya tumbuh dewasa dan memiliki keluarga, tetapi tidak semua orang tua mendapatkan kesempatan itu. Benar Ayah dan Ibumu tidak memiliki kesempatan untuk melihatmu tumbuh dewasa tetapi tidak denganmu karena takdir setiap manusia berbeda.” Jawab Kakek Santosa dengan menggenggam erat tangan sang cucu.
Bara dengan kasar mengusap air mata yang sudah mulai luruh di pipinya, “Apa Bara bisa?” Tanya Bara lagi.
“Tentu saja bisa ada kakek yang akan selalu bersamamu.” Jawab Kakek Santosa dengan mengulas senyum.
Bara menaikkan selimut hingga sebatas dada, setelah cukup berbincang di taman Kakek Santosa merasakan kantuk yang melanda mungkin karena efek obat yang dia minum setelah makan siang bersama keluarga calon istrinya.
Hingga dia merasakan ponselnya bergetar membuat pria tampan itu menjauh dari brangkar di mana kakeknya tengah beristirahat. Terlihat nomor asing di benda pipihnya, keningnya berkerut tetapi jemarinya berlum bergerak hingga panggilan itu mati dan masuk lagi,
“Hallo.
“Ini siapa?” Tanya Bara bingung.
“Oh god, apa kamu lupa dengan suaar calon istrimu.” Jawab Stevani di sebrang telfon dengan mengibaskan rambutnya meski Bara tidak dapat melihat.
Bara hanya ber oh ria saja karena dia sendiri hari ini sudah sangat lelah dan malas jika harus berdebat dengan Stevani.
“Jangan berani-berani menutup telfonku, begini besok kita harus ke butik untuk melakukan feeting baju.” Ucap Stevani kepada Bara.
“Kamu bisa melakukannya sendiri.” Jawab Bara dengan nada datar.
“Hey! Aku menikah ada pasangannya dan itu kamu magpie! Kamu pikir aku menikah dengan manekin, oh ayolah. Aku seorang public figure bagaiman jika banyak wartawan yang meliputku secara diam-diam dan akan muncul berita jika seorang Stevani Kristoff datang seorang diri di butik.” Cecar Stevani panjang lebar kepada Bara.
__ADS_1
“Kamu berisik sekali seperti Burung Kakapo.” Olok Bara dengan menajuhkan sedikit ponselnya.
“Burung Kakapo? Aku akan mencarinya di internet, jika tidak cantik awas kau.” Ancam Stevani.
Bara hanya tersenyum dan menanti reaksi Stevani jika melihat Burung Kakapo, jemari Bara menghitung sampai tiga.
“1 … 2 … 3 …”
Hingga suara menggelegar di sebrang telfon membuat Bara tertawa kencang bahkan melupakan jika Kakek Santosa tengah beristirahat saat ini.
“Ya! Bara! Aku tidak bulat dan gemuk seperti burung itu!” Teriak Stevani.
“Hahaha … aku tidak mengataimu bulan dan gemuk, aku hanya bilang jika suaramu berisik seperti burung itu.” Jawab Bara dengan sisa tawanya bahkan sudut mata Bara keluar air mata.
Burung Kakapo disebut juga betet burung hantu, dengan bintik-bintik wajah sempurna berbulu hijau dan kuning yang endemic dari Selandia Baru. Hewan ini memiliki wajah bundar datar, paruh abu-abu lebar, lengan pendek, kaki lebar, dengan sayap dan ekor relative pendek. Buru Kakapo merupakan salah satu spesies yang terancam punah ini memiliki suara paling keras daripada jenis burung lainnya. Saat masa kawin, burung jantan akan mengeluarkan panggilan berisik hingga mencapai 123 desibel. Suara tersebut dapat terdengar hingga tujuh kilometre.
“Bisa-bisanya kamu menyebut calon istrimu yang cantik ini Burung Kakapo.” Umpat Stevani dengan suara kesal.
“Makanya jangan berisik, aku tidak tuli, dan masih bisa mendengat degan suara biasa.” Kata Bara tanpa rasa bersalah.
“Huh, carilah burung yang cantik kenapa aku di samakan dengan Burung Kakapo.” Stevani masih belum terima di katakana mirip burung berbadan gempal tersebut.
“Tidak ada yang cocok denganmu kecuali Burung Kakapo.” Ucap Bara dengan tawa seakan mengejek.
“Huh! Setidaknya burung itu di lindungi dan spesies yang langka, seperti kamu mendapatkan calon istri yang tidak ada duanya sepertiku.” Jawab Stevani yang kembali membangun kepercayaan dirinya.
“Narsis.” Kata Bara dengan mengulum senyum di serbang telfon.
Tanpa Bara sadari, sejak tadi ada tiga orang yang tengah menatap ke arahnya. Siapa lagi jika bukan Jundi, Paman L, dan Kakek Santosa. Mereka bahkan hanya menatap heran bagaimana Bara tertawa yang kemudian rebahan di atas sofa, bangun lagi, dan kembali tertawa.
__ADS_1
“Wah, sepertinya akan turun hujan besok.” Ucap Jundi dengan wajah tidak percaya.
"Sepertinya Tuan Muda sudah tidak sabar untuk menikah." Timpal Paman L.