Cinta Di Langit Alhambra

Cinta Di Langit Alhambra
Panggilan sayang


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


"Hehehe!"


" Kenapa itu dengan tanganmu?" tanya Bara sedikit datar.


"Tidak ada, hanya melatih sebuah tinju," balas Stevani.


Bara tersenyum tipis, lalu meraih pergelangan tangan istrinya. Perlahan diturunkan tangan Stevani dan ditarik agar segera melangkah bersamanya menuju kemobil yang terparkir secara serampangan.


Kemudian dibukanya pintu samping sopir, dengan pelan didorongnya tubuh Stevani agar bisa segera duduk.


Stevani duduk dengan manis kemudian Bara memasangkan sabuk pengaman pada istrinya, setelah terpasang Bara pun berjalan berputar menuju ke kursi sopir. Dengan pelan Bara mulai melajukan kendaraan. Stevani hanya diam melihat ke luar jendela.


"Mengapa suasana pagi terlihat indah? Boleh turunkan aku di taman depan sana?" tanya Stevani.


Bara bergeming, pria itu masih melajukan kendaraan roda empatnya dengan pelan. Dalam hati dia masih ingin memandang wajah cantik sang istri meski dari samping. Bara lama kelamaan menjadikan wajah Stevani candunya entah sejak kapan.


Akhirnya sampai juga di taman yang diinginkan oleh Stevani, mobil Bara mulai melipir ketepian jalan. Setelah yakin bahwa jalan itu sepi maka Bara pun memarkirkan mobilnya di sisi kanan.


"Sudah sampai!" kata Bara datar.


Kemudian lelaki itu mulai mendekat pada Stevani membuat wanita itu sedikit menggeser tubuhnya. Ctek! Terdengar suara sabuk pengaman yang terlepas dari intinya. Stevani pun tersenyum manis.


" Terima kasih!" setelah mengucapkan kata terima kasih, segera Stevani keluar dari mobil tersebut.


Dengan langkah ringan nan ceria wanita itu berjalan meninggalkan Bara yang termangu menatap kepergian sang istri.


"Kamu cantik, Stev. Apa bisa aku cinta sama kamu," lirih Bara.


Setelah puas memandang punggung istrinya, Bara melanjutkan perjalanan menuju ke perusahaan yang dipimpinnya. Sedangkan Stevani melihat view yang sekiranya cocok untuk latar kontennya. Kali ini dia mendapat order memamerkan sebuah gaun santai yang akan di gunakan untuk keseharian.


"Wah, sudut ini sangat pas, tumbuhan yang berbunga terlihat manis. Semoga pas dan cocok!" gumam Stevani.


Kemudian wanita itu mempersiapkan keperluannya syuting bahan kontennya. Setelah siap barulah Stevani berlenggak lenggok ala peragawati profesional. Senyum yang lepas, dengan pakaian yang sangat sederhana bermotif bunga dan ukurannya juga pas pada badan mungilnya membuat tampilan Stevani terlihat memukau.


Setelah merasa cukup, maka Stevani pun menyudahi kegiatannya. Kemudian memberesi semua alat pembuataan konten yang cukup simple yaitu sebuah kamera dan penyangganya.


"Akhirnya sudah selesai, tinggal kirim ke yang pesan," lirih Stevani.


Kemudian wanita itu pun berjalan mencari tempat yang teduh untuk dia beristirahat. Stevani teringat dengan Yona sahabatnya yang sampai detik ini tidak mendapatkan kabar apapun.


Padahal, Stevani sudah menggerahkan anak buah keluarganya untuk mencari Yona saat dirinya bimbang untuk menunggu pesannya di balas.


Stevani termenung menatap lurus ke arah jalanan di mana banyak kendaraan bermotor lewat, dirinya hampa, dan lelah karena mengurus pekerjaannya seorang diri.


Bukan tidak mau mencari asisten lain hanya saja, Stevani sangat sulit untuk terbuka dengan orang lain. Kembali jemari lentik itu bergerak lincah di bensa pipih berlogo buah apel.


"Yon, di mana kamu sebenarnya. Aku sudah mengerahkan seluruh anak buah Ayah dan Mamaku tetapi tidak menemukanmu. Aku sangat merindukanmu."


Stevani mengirimkan kembali pesan singkat entah keberapa kalinya, sekali lagi dia harus menelan kecewa karena hanya centang satu yang menandakan jika nomor atau ponsel Yona belum aktif.


"Rupanya sudah dua jam aku di sini. Sebaiknya segera pulang, nanti ditunggu oleh kakek," gumam Stevani.

__ADS_1


Stevani berjalan menuju depan taman, dia harus mencegat taxi agar dapat pulang dengan selamat. Cukup lama Stevani berdiri dibahu jalan hingga satu taxi melaju pelan mendekatinya, sopir itu berhenti, dan membuka jendela depan. Menanyai Stevani apakah perlu taxi.


Dengan cepat Stevani mengangguk dan masuk ke dalam, Stevani memberikan alamat mansion yang sebelumnya dia minta kepada Bara saat di perjalanan tadi pagi. Ternyata tidak terlalu jauh dari mansion, hanya membutuhkan waktu 10 menit taxi yang di tumpangi Stevani sudah sampai di depan gerbang yang megah.


"Terima kasih, Sir!" kata Stevani dengan menyerahkan beberapa lembar uang.


Stevani berjalan dengan melemparkan senyum kepada beberapa pegawai mansion Smith. Dengan wajah ceria dia melangkah langsung menuju kamar pribadinya, meletakkan semua peralatan kontennya di atas nakas, dan berjalan masuk kekamar mandi untuk bebersih diri.


Suara gemericik air terdengar dari dalam, senandung sumbang terdengar tidak begitu mengganggu telinga karena kamar mandi yang sangat luas sehingga suara sumbang Stevani hanya menggema di dalam kamar mandi. Selama tida puluh menit lamanya Stevani keluar dengan wajah bersih dan badan harum.


Kaki kecil dan rampingnya melangkah menuju walk in closed, dia mengambik satu set pakaian santai yang biasa dia kenakan jika di rumah. Kaos biru muda dengan ukuran over size, celana jeans di atas lutut dengan beberapa sobekan.


"Aku harus memasak, apa suamiku akan pulang jika makan siang. Tapi, mungkin tidak biasanya Ayah jarang pulang untuk makan siang." ucapnya di depan cermin.


Stevani keluar dari kamar, berjalan menuruni setiap anak tangga menuju kedapur. Dia tidak menggunakan lift karena hanya di lantai dua, pertama x jika tahu kamarnya dilantai dua dan Bara menggunakan lift dia merasa ingin menjegal suaminya saat itu juga.


Seorang maid yang melihat kedatangan Stevani tampak kaget, "Nyonya, kok masuk dapur. Apa kata Tuan Muda nanti jika melihat istrinya sedang ada di dapur?"


"Tentu saja memasak." Jawab Stevani jujur.


"Biar kami saja, Nyonya. Anda dapat menunggu di meja makan, sebentar lagi masakan sudah selesai." jawab maid sopan.


Stevani menganggukkan kepala tapi kedua matanya melihat bungkus yang sangat familiar di matanya, "Itu apa?" Tunjuk Stevani.


Maid menoleh ke arah yang di tunjuk majikannya dan segera mengambilkannya, "Mie, mungkin kepala pelayan yang membawanya dari Korea tempo lalu Nyonya." jelas maid jujur.


"Aku akan memakan ini, aku bisa memasaknya." Kata Stevani dengan mengambil sebungkus mie ramen.


"Eh ... Nyonya, jika Tuann Bara tahu kami pasti akan di marahi," ucap maid dengan takut.


Maid hanya mampu menyingkir saat Stevani berjalan menuju lemari pendingin, dia mengambil beberapa sayuran, dan juga cabai segar di dalam kulkas. Mencuci dan memotongnya menjadi ukuran yang lebih kecil, maid membantu memanaskan air.


Para pelayan Bara hanya memandang Stevani yang terlihat terampil dalam mengupas beberapa sayuran. Semua sayuran di masukkan bersamaan dengan mie berbentuk bundar besar, dan juga bumbu-bumbunya.


"Tolong ambilkan mangkok." Ucap Stevani kepada maid.


Bau harus mie ramyoen khas Korea memenuhi area dapur, membuat para maid juga ingin mencobanya tapi takut karena semenjak bekerja di mansion Smith tidak di perkenankan untuk memasak masakan cepat saji terlebih saat Kakek Santosa mulai tinggal di mansion Smith.



Di gedung pencakar langit, Bara tengah tenggelam dengan tumpukan dokumen penting yang harus segera dia selesaikan. Sejak datang ke kantor hingga siang hari dia belum menyentuh secangkir kopi maupun sebutir nasi, Bara merasa ini adalah tanggung jawabnya.


Jundi masuk dengan cepat, dia menyodorkan dokumen penting lainnya untuk di bubuhi tanda tangan Bara. Tampak kedua pria tersebut tidak mengenakan dasi, jas, dan lengan pakaiannya di gulung hingga batas siku. Jundi yang melihat jam menunjukkan makan siang sudah terlewat langsung mengambil ponselnya mengetikkan sesuatu di sana.


"Siapa yang kamu hubungi?" Tanya Bara tanpa melihat kearah Jundi.


"Kekasihku." Jawab Jundi jujur.


Bara mendongak menatap wajah Jundi yang masih fokus dengan ponselnya, "Siapa? Sejak kapan?" Cecar Bara mengintimidasi.


"Sejak aku menembaknya, sudah. Waktu makan siang sudah lewat, aku harus kembali ke apartemen karena kekasihku sudah memasak banyak makanan. Apa kamu mau ikut?" Tanya Jundi cepat.


Bara hanya diam, pikirannya melayang apakah Stevani juga menyiapkan makan siang untuknya juga. Jundi yang tidak sabar kembali berkata, "Sudahlah, aku tahu pasti istrimu juga memasakan makan siang untukmu. Lalu untuk kado tadi malam bagaimana? Berapa ronde?" Tanya Jundi dengan ke kepoan tingkat tinggi.

__ADS_1


Bara hanya mendengus kesal mendengarnya.


"Jangan bilang jika kamu belum membobol gawang, Bar?" Melihat Bara hanya diam membuat Jundi tertawa terpingkal-pingkal "Wah, kamu harus mencobanya Bar. Katanya sangan membuat candu." lanjut Jundi yang seakan sudah tahu rasanya surga dunia.


Bara melempar bolpoint di tangannya, "Kamu saja belum merasakan, sudahlah sana pergi." Usir Bara.


"Ya memang aku belum merasakan, tapi sahabat kita Kenan sudah. Bahkan Alice sudah hamil lagi, kamu tahu anak mereka belum ada satu tahun. Betapa hebatnya sahabat kita satu itu, dalam satu tahun berhasil membuahkan hasil dua kali." Jawab Jundi yang memberitahu kehamilan Alice lagi.


"Bar, kamu harus bahagia. Mereka sudah bahagia, sudah pulanglah dan nikmati masa-masa pengantinmu. Aku pergi dulu." Lanjut Jundi yang kemudian pergi dari hadapan Bara.


Pria tampan itu membuang nafasnya kasar, tidak ada rasa sakit di hatinya mendengar kabar Alice kembali hamil. Apakah mungkin dia sudah menerima Stevani sepenuhnya. Dia mengambil jas dan menyambar kunci mobil, baiklah dia membuka hati untuk istrinya dia juga ingin bahagiia dengan keluarganya sendiri.


Bara terlihat berjalan mendekat menuju ruang makan. Pandangannya tertarik pada sosok sang istri yang duduk asyik menghadap pada sebuah mangkok mengepul asap.


"Apa ini?" tanya Bara yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Stevani.


"Mie instan," balas Stevani santai.


"Hai, lihatlah sikap duduk kamu. Apakah seperti itu duduknya jika makan mie instan?" tanya Bara.


Stevani duduk dengan satu kaki naik di atas kursi dan yang satunya menjuntai ke bawah. Stevani hanya mendongakkan kepala melihat siapa yang berbicara. Namun, hanya sesaat setelahnya kembali terpekur melahab sedikit demi sedikit mie tersebut.


Bara pun menarik kursi di samping Stevani, kemudian melihat sang istri yang tampak menikmati makanannya. Bara menelan salivanya seakan makanan itu sangat nikmat.


"Stev, lihat aku sebentar!"


Stevani pun menoleh melihat pada wajah sang suami, tetapi dia terhenyak rupanya yang mengajak bicara sejak tadi adalah Bara. Hal ini membuat wanita itu sedikit melompat dari duduknya dan membenarkan cara duduknya.


"Hehe, maaf!" ucap Stevani.


"Apakah seperti ini cara makan mie instan? Ini lho tidak sehat buat kesehatan kamu yang aktif sebagai selebgram," jelas Bara.


"Tetapi ini makanan yang paling enak di dunia lho, Tuan!" kilah Stevani yang masih memanggil suaminya dengan sebutan Tuan.


"Apakah tidak ada panggilan sayang untukku, Stev?" tanya Bara.


Stevani menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian membenarkan cara duduknya. Setelah nyaman barulah dia kembali menyuap mie instan tersebut. Bara yang melihat polah sang istri hendak menegur lagi.


"Stev ...."


Belum selesai Bara berkata satu sendok penuh memasuki mulut Bara yang membuka, dengan terpaksa lelaki itu mengunyah mie yang dimasukkan sang istri dalam mulutnya.


"Kunyah dan nikmati sensasinya, Sayang!" ucap Stevani.


Mendengar kata sayang yang terucap dari bibir sang istri membuat garis lengkung tercetak pada bibir Bara. Membuat lelaki itu seketika menelan mie yang sudah ada dalam mulutnya.


"Bagaimana, Sayang?" tanya Stevani mengulang kata sayang.


Bara langsung membuka mulutnya dengan lebar kembali berharap Stevani menyuapinya lagi. Namun, hingga ditunggu beberapa detik tidak ada pergerakan tangan Stevani menyendokkan lagi ke dalam mulutnya akhirnya lelaki itu merebut mangkuk mie milik sang istri.


"Baraa!" teriak Stevani dengan nada sedikit tinggi.


Namun, Bara malah asyik menikmati mie instan. Kini giliran Stevani yang terbengong melihat cara makan suaminya. Bara seperti lama tidak makan, cara makannya bahkan tidak pernah dikunyah langsung ditelan begitu saja. Stevani hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian wanita itu berdiri dari duduknya untuk mengambilkan air minum.

__ADS_1


Stevani pun menuangkan air putih pada gelas dan menaruhnya di samping kanan tangan sang suami. Bara menyingkirkan mangkuk bekas mie ke hadapan istrinya.


" Llaahh, habis. Giliran habis dikembalikan, nah, tadi larang aku makan. Sekarang dia yang habiskan!" sungut Stevani.


__ADS_2