
Happy Reading 🌹🌹
Mobil yang di tumpangi Bara dan Jundi kini telah sampai di lokasi tempat pengambilan gambar. Keduanya berjalan keluar dari dalam mobil.
Para crew yang melihat mereka datang tampak kaget dan langsung menyapa, seperti biasa Jundi yang membalas sapaan mereka sedangkan Bara tetap berjalan ke depan.
Hingga kedua mata Bara menyipit melihat wanita yang sangat-sangat dia kenal tengah bersandar di pundak pria lain.
Tanpa sadar kedua tangan Bara terkepal dengan erat dan wajahnya semakin dingin nan suram. Matanya menyala tajam memandang bagaimana pria lain tengah menatap istrinya dengan tatapan yang sangat Bara ketahui.
Jundi yang berada di samping Bara mengambil jarak aman, dia tidak ingin terkena imbas akibat kecemburuan sahabatnya. Mungkin saat Bara cemburu terhadap Alice belumlah ada setengahnya, tapi mengingat jika Bara sudah mencintai Stevani tanpa dia sadar membuat Jundi menjadi was-was.
Sesi pemotretan berakhir, Stevani memberi salam kepada rekannya dan berjalan menuju Bara. Karena dia juga melihat saat Bara dan Jundi datang tengah melihat pemotretannya.
"Sayang, kamu datang?" Tanya Stevani dengan tersenyum melengkung sempurna.
Stevani sangatlah bahagia dan senang karena suaminya datang untuk menemui dirinya, tapi berbeda di kedua mata Bara. Bara melihat senyum Stevani karena wanita itu senang sudah berfoto berdua dengan pria lain bahkan tidak ada jarak di antara keduanya.
Bara berlalu bergitu saja tanpa membalas ucapan istrinya, Stevani hanya bingung dia melihat kearah Jundi untuk meminta penjelasan. Jundi membisikkan sesuatu membuat Stevani senang sekaligus panik.
"Biarkan aku selesaikan pemotretan ini." Ucap Stevani kepada Jundi,
"Ta-tapi, bagaimana aku menjelaskan kepada Bara?" Tanya Jundi panik.
"Tenang saja, percayalah padaku." Jawab Stevani dengan mengedipkan sebelah matanya kearah Jundi.
"Si*al kenapa dia begitu cantik, astaga! sadarlah Jundi kamu akan menikah." Ucapnya sekaligus menepuk pipinya agar tetap waras jika wanita yang dia sebut cantik adalah istri sahabatnya.
Bara yang akan masuk ke dalam mobil memutar tubuhnya tidak ada Stevani yang menyusulnya, "Wah, dia tidak mengejarku." Ucapnya pelan.
Dengan kesal, Bara menutup pintu mobil dengan keras, dan menendang ban yang tidak berdosa itu. "Argh! Kenapa dia tidak membicarakn pekerjaan ini padaku, bahkan dia seperti lintah menempel dengan pria lain." Umpat Bara dengan mengacak-acak rambutnya.
Stevani mengikuti penata busana dan yang lainnya, mereka masuk kedalam ruang ganti untuk mempersiapkan lagi kostum terakir. Stevani mengenakan atasan berwarna putih dengan kerutan di bagian depan sedangkan bawahannya mengenakan celana jenas berwarna biru.
Senada dengan Stevani, Done juga mengenakan kostum yang sama. Mereka kembali beradu pose di depan kamera. Membawa ice cream karena produk kali ini adalah sun screen, beberapa pose Stevani lakukan hingga pemotretan berakir.
__ADS_1
Para crew dan fotografer sangat puas dengan pekerjaan keduanya, dalam waktu satu hari bisa menyelesaikan target yang di berikan oleh perusahaan.
"Terima kasih, Stev. Seperti biasanya bekerjasama denganmu tidak pernah mengecewakan." Ucap sang fotografer.
"Sama-sama, senang bekerjasama denganmu dan juga tim." Jawab Stevani kembali.
Stevani dengan di bantu Jundi berjalan keluar dari studio, hingga Jundi meninggalkannya lebih dahulu untuk membawa koper kedalam bagasi mobil.
"Stev!" Seru Done.
Stevani yang berjalan ke arah mobil menghentikan langkahnya, ternyata Done sudah berada di sampingnya.
"Ada apa?" Tanya Stevani to the point.
Sone tersenyum dan menggarung tengkuknya, "Ah, bolehkan kita makan malam. I-ini seperti rasa terima kasihku karena sudah bekerja keras untuk pemotretan hari ini." Ucap Done dengan gugup.
"Aku ...."
"Maaf, istriku harus segera pulang. Terima kasih untuk tawarannya Tuan Done." Bara menyela ucapan Stevani.
"Jalan."
Jundi langsung menjalankan mobil saat Bara memberi perintah, Done hanya menatap kepergian Stevani bersama suaminya dengan tatapan hampa. Pupus sudah harapannya, ternayta Stevani sudah memiliki suami terlebih dia juga tahu Bara adalah CEO dari perusahaan yang menjadikannya model produk hari ini.
Bara berjalan masuk ke dalam mansion dengan langkah lebar, di ikuti Stevani yang berlari kecil untuk mengejarnya. Kakek Santosa yang sedang duduk di ruang tengah hanya mampu melihat saja, sedangkan Jundi berjalan masuk membawa koper milik Stevani.
Jundi menjatuhkan bobot tubuhnya di depan Kakek Santosa dengan lesu, "Ada apa?" Tanya sang kakek.
"Ada singa jantan yang tengah mengamuk." Jawabnya ambigu.
Kakek Santosa hanya tersenyum saja, "Lebih baik begitu, dia pasti akan mengajak Stevani berbulan madu." Kata Kakek Santosa dengan santai.
Sedangkan di dalma kamar, Bara hanya berani membanting pintu sebagai luapan amarahnya. Stevani yang di belakangnya tentu saja selalu senam jantung dia membuka pintu berjalan masuk menyusul sang suami.
__ADS_1
"Sayang! Kamu kenapa, sih" Ucap Stevani dengan meletakkan tasnya di atas nakas.
Bara masih diam seribu bahasa, dia membuka pintu walk in closed dan membanting pintu itu dengan keras, Stevani hanya menahan tawanya saja dia kembali mengikuti suaminya. Terlihat Bara tengah dengan kesal membuka jas dan kemejanya.
Stevani berjalan mendekat dan berusaha menyentuh tetapi Bara menyingkirkan tangan Stevani, dia menatap kesal ke arah sang istri.
"Kenapa, apa kamu begitu senangnya di sentuh oleh pria lain!" Seru Bara yang sudah terbakar api cemburu.
Deg!
Jantung Stevani berdenyut nyeri, tetapi dia mencoba memahami pria yang tengah tersulut emosi tersebut. "Apa yang kamu katakan, aku saja belum pernah kamu sentuh sayang." Jawab Stevani yang kini membuka satu per satu kancing kemeja Bara.
"Kenapa? Kenapa kamu tidak mengatakannya kepadaku." Ucap Bara dengan nada penuh penekanan.
"Mengatakan apa? Tentang pemotretan?" Tanya Stevani lembut.
Bara hanya mendengus kesa, dia berlalu dari hadapan istrinya untuk mendinginkan kepalanya saat ini. Hati dan otaknya sangat panas bahkan hampir meledak rasanya.
Stevani mengikuti langkah Bara dan berhasil masuk kedalam kamar mandi, "Kenapa kamu marah? Aku hanya bosan dan jenuh saja di mansion, kamu sibuk bekerja pulang larut malam.. Aku kesepian." Ucap Stevani kembali dengan jujur.
"Itu bukan alasan yang dapat aku terima, Stevani!" Kata Bara dengan nada dingin.
"Lalu alasan apa? Apa ada pengantin yang lebih satu minggu lamanya belum melakukan hubungan badan, jangankan hubungan badan berciu*man aja tidak pernah. Apa kamu pikir aku wanita tidak normal atau kamu yang tidak normal. Jika memang kamu tidak ingin menyentuhku tidak masalah, aku mampu mencari kebahagiaanku sendiri. Banyak pria di luar sana yang jauh lebih mapan, taman, kaya, dan mencinta...."
Ucapan Stevani di bungkam dengan ciuman Bara, Bara mendorong tubuh Stevani di bawah shower yang dengan cepat di nyalakan oleh Bara sehingga membasahi keduanya, Stevani yang tidak siap dengan perlakuan Bara sontak kaget dan mulai kehabisan pasokan oksigen.
Bara melepas ciumannya, ibu jarinya mengelap bibir ranum sang istri yang bengkak akibat ulahnya. Kedua matanya menatap dengan lekat kedua mata Stevani, "Jangan pernah membicarakan pria lain dengan bibirmu ini, aku tidak suka. Kamu hanya milikku dan selamanya begitu." Ucap Bara tulus.
Stevani yang mendengar ucapan Bara tidak sadar meneteskan air matanya, "Apa kamu mencintaiku?" Tanya Stevani dengan suara serak.
"Aku mencintaimu Stevani bahkan tanpa sadar aku sudah mencintaimu." Bara berkata dalam hati.
Bara kembali mencium bibir ranum sang istri dengan lembut dan penuh perasaan, Kedua tanganya membuka pengait di belakang pakaian sang istri dan merobeknya hingga tak terbentuk lagi.
Stevani lantas mendorong dada bidang sang suami, "Apa yang kamu lakuakan!" Seru Stevani kaget.
__ADS_1
"Aku akan menghapus setiap jejak pria lain pada tubuhmu."