Cinta Di Langit Alhambra

Cinta Di Langit Alhambra
Lamaran


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Mentari bergerak perlahan meredupkan langit, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Kakek Santosa sudah selesai bersiap untuk mengunjungi mansion Kristoff. Melihat majikannya berjalan keluar Paman L segera beranjak dari duduknya.


"Bagaimana, apa ada yang kurang dari penampilanku?" Tanya Kakek Santosa dengan membenarkan dasinya.


"Tidak, Tuan." Jawab Paman L jujur.


"Ayo kita berangkat!" Kakek Sanosa berjalan keluar terlebih dahulu melewati Paman L.


Membutuhkan waktu dua puluh menit hingga akhirnya tiba di sebuah mansion mewah, terlihat dua orang penjaga mansion mendekat ke arah mobil SUV yang di tumpangi Kakek Santosa.


"Saya ingin bertemu Tuan Kristoff." Ucap Kakek Santosa sopan.


"Apakah anda sudah memiliki janji untuk bertemu, Tuan?" Tanya sang penjaga juga sopan.


"Tidak, aku datang ke sini karena ingin melamar putrinya yang bernama Stevani untuk cucuku." Jawab Kakek Santosa jujur.


Mendengar ucapan Kakek Santosa membuat dua penjaga saling menatap, "Mohon tunggu sebentar, kami akan menelfon ke dalam." Kata penjaga yang langsung masuk ke dalam pos nya.


Kakek Santosa dengan tenang menunggu di dalam mobil bersama yang lain, hingga satu menit kemudian gerbang terbuka. Mobil SUV bergerak masuk dengan mobil yang lainnya di belakang, pilar-pilar besar, dan patung adalah pemandangan yang mereka lihat.


Tuan dan Nyonya Krostoff keluar dari mansion menyambut tamu yang tidak di undang dan tidak di kenal. Keduanya berjalan menuju pintu utama untuk melihat siapakah tamu tersebut.


"Selamat sore, Tuan dan Nyonya Kristoff." Sapa Kakek Santosa dengan tersenyum dan menyalami keduanya.


"Sore, apakah kita pernah bekerja sama dalam bisnis?" Tanya Tuan Kristoff bingung.

__ADS_1


"Tidak ... tidak, perkenalkan saya Gunawan Santosa kakek dari Bara Green Smith Santosa." Jawab Kakek Santosa dengan tertawa pelan.


Tuan dan Nyonya Kristoff saling memandang bingung, "Mari silahkan masuk." Ajak Nyonya Kristoff sopan.


Kakek Santosa mengangguk pelan dan mengikuti langkah keduanya menuju ruang tamu. Kini ke


empat orang sudah duduk di ruang tengah yang luas, dengan empat cangkir teh hangat yang berada di dalam cangkir berwarna putih tulang.


"Oh, rasanya tidak sopan saya bertamu tanpa membawa apapun. Ada sedikit oleh-oleh untuk kalian, saya harap kalian menyukainya." Ucap Kakek Santosa dengan menyuruh pengawal meletakkan beberapa kotak bingkisan di atas meja dan kursi.


Nyonya Kristoff menatap bingung, "Sebenarnya ada keperluan apa Tuan?" Tanyanya dengan penasaran.


"Saya tidak akan berbasa basi Tuan dan Nyonya, saya ingin melamar putri kalian yang bernama Stevani Kristoff untuk cucu saya satu-satunya bernama Bara." Ucap Kakek Santosa dengan tenang dan lugas.


Mendengar ucapan pria yang tidak mereka kenal tentu saja membuat bingung, jika tau nama putrinya mereka tidak bertanya lagi karena pekerjaan sang putri yang di kenal luas oleh masyarakat umum.


"Maaf, Tuan. Benar putri kami seorang selebgram yang banyak di kenal banyak orang, tetapi untuk menerima pinangan cucu anda tentu kami tidak bisa menutuskan karena putri kami sedang berada di luar negri." Jawab Tuan Kristoff jujur.


Segera Tuan Kristoff meminta ponselnya dan menghubungi salah satu pengawal yang menjaga Stevani, benar saja tidak lama setelah panggilan terputus Tuan Kristoff mendapatkan beberapa foto.


Tidak hanya foto saat sesi pemotretan, tetapi foto saat di restoran yang memang sengaja Stevani mengikuti Bara, foto di hotel saat perdebatan terjadi. Mengetahui hal itu membuat Tuan Kristoff sangat marah kepada Stevani, Nyonya Kristoff memandang foto dengan seksama.


Melihat suaminya merubah raut wajahnya membuat Nyonya Kristoff mengambil ponsel suaminya dan dengan wajah yang kaget pula dia menatap setiap foto yang di kirimkan oleh pengawal. Menatap sejenak ke arah Kakek Santosa apakah ini sebuah kebohongan untuk menjegal karir sang putri.


Nyonya Kristoff mengerutkan keningnya dalam, jemari dengan kulit keriput tapi masih terawat mengezoom wajah Bara. Dia sejenak terdiam dan berfikir, "Ayah bukankah dia pria yang berciuman dengan Stevani di tempat rekreasi?" Tanya Nyonya Kristoff menoleh ke arah sang suami.


Mendengar hal itu, sontak saja membuat kedua pria berbeda usia itu kaget. Kakek Santosa menyuruh salah satu pengawal mendekat dan membisikkan sesuatu.

__ADS_1


"Jadi, benar Stevani berpacaran dengan Bara? Kenapa dia tidak pernah mengatakan kepada kita, Mama tau sendiri selama ini dia menyangkal setiap pria yang di kabarkan dekat dengannya." Jawab Tuan Kristoff dengan memijit pelipisnya yang mulai berdenyut.


"Dari pakaian yang di kenakan dia pasti bukan orang miskin, baguslah. Setidaknya Stevani tidak seperti kembarannya." Monolog Nyonya Krostoff pelan.


"Wah, ternyata mereka sudah berkencan ya. Bukankah lebih baik kita nikahkan saja mereka agar tidak perlu berkencan sembunyi-sembunyi. Bagaimana Tuan dan Nyonya atas pinangannya?" Tanya Kakek Santosa memastikan.


"Ah, tentu saja kami setuju. Benarkan Ayah, ingat Stevani adalah public figur daripada banyak gosip bertebaran di luar sana lebih baik segera di sahkan saja." Jawab Nyonya Kristoff tanpa peraetujuan suaminya.


"Mama." Tuan Kristoff mengingatkan istrinya agar tidak mengambil keputusan sepihak.


"Mau sampai kapan Ayah, usia Stevani juga sudah cukup untuk menikah. Keduanya juga sudah mapan dalam pekerjaan dan yang terpenting pria itu sayang dengan putri kita." Cecar Nyonya Kristoff yang tidak ingin jika sampai putrinya mendapatkan pria miskin.


"Saya setuju apa yang diucapkan istri anda Tuan. Bara juga sudah cukup usianya, dia sudah sangat mapan untuk menghidupi putri anda bahkan dia tidak pernah berkencang dengan wanita manapun sejak dulu hingga akhirnya putri anda yang dapat mencairkan hatinya yang dingin." Timpal Kakek Santosa dengan sedikit mengarang.


Tuan Kriatoff terdiam memikirkan dalam jangka panjang dan kemungkinan semua yang bisa terjadi jika Stevani menolak atau menikah. Jika menolak sudah di pastikan wanita jadi-jadian itu akan kabur di hari pernikahannya, jika dia menikah otomatis mengikuti suaminya tapi Tuan Kristoff masih ingin bersama kedua anaknya.


"Baik saya setuju, kita bisa siapkan pernikahan mereka saat keduanya sudah kembali dari Eropa karena saya tidak ingin putri saya kabur di hari pernikahannya" Jawab Tuan Kristoff dengan wajah serius.


"Tentu, saya akan hubungi Bara untuk segera membawa Stevani kembali ke Korea." Kata Kakek Santosa dengan tersenyum bahagia.



Di Granada, suasana aneh di rasakan oleh kedua insan. Jika keduanya bertemu maka akan ada pertengkaran dan hinaan tapi kini berbeda.


Stevani berjalan dengan Yona menuju restoran hotel untuk makan malam harus menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan Bara di restoran hotel, Bara berdehem sedangkan Stevani menggaruk lehernya yang tidak gatal.


"Ayo Stev!" Ajak Yona yang menarik lengan Stevani untuk menyingkir dari hadapan Bara.

__ADS_1


Bara hanya diam saat di lewati oleh Stevani, mulutnya terasa kelu untuk mengatakan sesuatu. Hingga Jundi berlari menuju ke arahnya dengan nafas tersengal-sengal.


"Bara, kakek masuk Rumah Sakit!" Ucap Jundi dengan nafas tak beraturan.


__ADS_2