Cinta Di Langit Alhambra

Cinta Di Langit Alhambra
Awal Kebersamaan


__ADS_3

Happu Reading 🌹🌹


Bara dan Stevani memutuskan untuk pindah hotel, dari hotel acara pernikahannya ke hotel lainnya. Stevani hanya menuruti apa yang Bara inginkan, meskipun baginya sangat aneh.


"Silakan, Kak. Ini keycard kamar President Suite sesuai dengan yang tertera di dalam surat kontrak kemarin," kata seorang petugas resepsionis hotel bernama Rian memberikan sebuah kartu kunci kepada Danu. "Untuk tas mempelai pria dan wanita, kami yang akan mengurusnya dengan menyuruh bagian bellboy yang nanti akan membawakannya ke kamar."


"Terima kasih. Hmm, oh ya, treatment spesial untuk klien saya kali ini sudah dipersiapkan, ya? Saya tidak mau klien saya merasa kecewa, lagipula perencana pernikahan kami sudah lama bekerja sama dengan hotel ini," tanya Danu memastikan kembali.


Bara dan Stevani meminta rekomendasi hotel dari Danu yang terbaik setelah The Silla, dengan senang hati Danu membantu pengantin baru tersebut.


Seperti saat ini, Danu merekomendasikan salah satu hotel yang tidak kalah mewah dari The Silla yang biasa menjadi langganan para selebriti menikah. Dengan adanya kerjasama yang terjadi dari WO dan hotel akan lebih mempermudah Danu mengurusnya.


Rian mendengarkan dengan seksama, kemudian menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya dia menjawab, "sebentar, saya tanyakan dulu, Kak. Kebetulan saya baru saja bertugas di sini hari ini, jadi mohon maaf jika ada hal yang kurang saya ketahui sebelumnya."


Danu mengangguk, lalu berkata, "baik, tolong tanyakan detilnya, ya. Saya tidak ingin nama baik wedding organizer saya dan nama baik hotel ini menjadi taruhan hanya karena keteledoran salah satu pihak."


"Baik, Kak. Saya permisi sebentar," jawab Rian yang kemudian beranjak pergi menjauhi Danu untuk menanyakan detil mengenai pelayanan spesial yang tadi disebutkan oleh Danu.


Untuk beberapa saat lamanya, Danu berdiri menunggu di lobby bersama dengan Bara yang terlihat sangat sibuk dengan telepon genggamnya karena sebentar- sebentar dia harus mengangkat telepon entah untuk menerima panggilan atau untuk melakukan panggilan.


Setelah menunggu kurang lebih tiga puluh menit, Rian akhirnya kembali ke meja resepsionis. Melihat Rian, Danu pun gegas menghampiri pemuda yang seumuran dengannya itu dan menanyakan detil yang tadi sempat dia tanyakan.


"Semuanya sudah siap, Kak. Sesuai dengan isi kontrak antara Kakak dengan pihak marketing kami. Jadi, semua rentetan kegiatan itu akan dimulai sore ini hingga besok pagi sebelum pasangan mempelai check out dari hotel kami," jelas Rian.


Danu manggut- manggut mendengar penjelasan Rian, kemudian memberikan acungan jempol saat pemuda di depannya itu mengakhiri penjelasannya.


"Oke, baiklah kalau begitu. Tolong siapkan dua orang bellboy untuk mengambil semua barang kami yang masih berada di ruang ganti di ballroom, ya," pinta Danu.


"Baik, Kak. Mohon tunggu sebentar dengan sabar, kami akan mengirimkan dua orang bellboy untuk mengangkat barang- barang Kakak," jawab Rian.


"Terima kasih. Ah, ya, aku lupa. Tolong bawakan troli berbeda, ya karena kami berbeda tujuan. Pasangan mempelai akan langsung menuju ke kamar sementara kami akan kembali ke kantor," pinta Danu.


"Baik, Kak," ucap Rian, yang lalu menekan bel untuk memanggil dua orang bellboy yang dia tugaskan untuk membantu Danu.


Setelah diarahkan oleh Danu, kedua orang bellboy itu pun dengan sigap mengambil dua buah troli barang termasuk troli yang dilengkapi dengan palang untuk gantungan pakaian dan gegas menuju ke ruang ganti yang berada di ballroom untuk mengangkut semua barang milik tamu- tamunya.


Danu memalingkan wajahnya ke arah Bara dan Stevani yang masih saling diam karena kedua pasangan tersebut sama- sama sedang asyik mengutak atik ponsel masing- masing. Melihat kedua pasangan itu tidak memperhatikannya, maka dia pun memutuskan untuk mendatangi Rani di ruang tunggu ballroon dan membantu gadis itu.


Usai mengangkat semua barang, Danu, Rani dan dua orang bellboy yang membawa buah troli yang berbeda kembali menuju ke lobby kemudian menghampiri Bara dan Stevani yang masih sibuk dengan telepon selular masing- masing.


"Kak Bara, Kak Stevani maaf mengganggu kesibukkan kalian berdua. Kami hanya ingin memberitahu bahwa bellboy sudah mengangkat semua barag milik Kakak berdua untuk dibawa ke kamar. Ini keycard kamar Kakak. Selamat menempuh hidup baru, semoga berbahagia selalu, langgeng hingga akhir usia. Terima kasih untuk kerja sama yang baik dan mewakili semua, kami berdua meminta maaf jika ada salah kata dan salah tingkah yang kurang berkenan," ucap Danu.


Mendengar ucapan Danu, Bara segera berdiri dari tempat duduknya diikuti oleh Stevani dan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Danu padanya dan Stevani, sikap pria muda itu terlihat sangat hangat dan berwibawa. Mereka berempat pun berjabat tangan sebelum akhirnya berpisah. Bara dan Stevani pun mengikuti langkah salah satu dari bellboy yang membawa barang milik mereka menuju ke kamar President Suite yang sudah dipersiapkan untuk mereka berdua.


Tidak ada obrolan selama berada di dalam lift, membuat bellboy aedikit heran. Karena pada umumnya dia banyak menemui pasangan pengantin baru terus bermesraan seakan dirinya tak nampak.


Tapi, kenapa dengan pasangan kali ini. Di lihat dari pantulan lift kedua pasangan tampak sibuk dengan ponsel masing-masing. Stevani yang tampak sesekali terkikik geli sedangkan Bara yang selalu datar tanpa ekspresi apapun di wajahnya.


Pintu lift berdenting menandakan jika ketiganya sudah sampai lantai yang di tuju, bellboy melangkah keluar dengan trolly yang di ikuti Bara dan Stevani di belakangnya.


Sesampainya di depan kamar, petugas bellboy tersebut membuka pintu kamar dengan master keycard dari resepsionis, memasukkan barang- barang milik kedua mempelai dan kembali menuju ke lobby setelah semua tugasnya selesai. Sepeninggal petugas bellboy, Stevani pun segera memasukkan tas miliknya dan Bara ke dalam lemari yang ada di dalam kamar tersebut dan menghempaskan berat tubuhnya di sofa bersebelahan dengan Bara, suaminya yang masih sibuk bekerja


Baru saja dia memejamkan mata, terdengar suara ketukan di pintu, "room boy."

__ADS_1


Mendengar suara tersebut, Stevani kembali membuka matanya dan melihat ada seorang pria muda berpakaian layaknya seorang room boy beserta satu orang pemuda lainnya dan seorang gadis yang mana keduanya berpakaian layaknya seorang terapis ternama.


"Ada apa, ya?" tanya Stevani, wajahnya terlihat sangat lelah.


"Kami ingin memberikan sebuah layanan spesial untuk pasangan pengantin yang baru saja menikah hari ini. Ini rekan saya Andri dan Sari, mereka berdua dari Shila Heaven Spa & Beauty Treatment. Mereka akan memberikan treatment perawatan tubuh untuk Kakak berdua. Bagaimana, Kakak mau melakukan treatment di mana? Di tempat spa atau di kamar?" tanya room boy muda bernama Jodi tersebut.


"Kami akan melakukan treatment itu di tempat spa saja. Ayo, Sayang kita ikuti mereka sekarang," ajak Bara yang tiba- tiba sudah berdiri di belakang Stevani.


Stevani yang terkejut mendengar suara Bara, langsung memalingkan wajahnya dan menatap Bara dengan tatapan sengit karena panggilan "Sayang" yang disematkan oleh Bara tanpa persetujuannya.


Jodi mengangguk, kemudian pamit undur diri kepada Bara dan Stevani. Mereka kemudian berpisah, Jodi kembali ke tempatnya, sementara Bara dan Stevani mengikuti Arvin dan Dania ke tempat spa. Sesampainya di tempat spa, Arvin dan Dania meminta Bara dan Stevani untuk mengganti pakaian yang mereka pakai dengan sehelai kain sebelum memulai perawatan.




"Tu-tunggu dulu. Kenapa kami satu ruangan, bukankah wanita dan pria untuk spa ruangannya terpisah?" Tanya Bara dengan wajah kaget dan suara terbata.


"Ini paket untuk berbulan madu tuan, sehingga spa di lalukan di ruangan yang sama." Jelas Arvin sopan.


"Hah?"


Stevani yang melihat Bara linglung membuat dirinya memiliki ide jail, "Ah, sepertinya suamiku tegang karena ini malam pertama kami." ucapnya dengan jemari lentiknya membelai wajah Bara dari samping.


Mendapatkan perlakuan dari Stevani membuat tubuh Bara meremang dan dengan cepat menoleh serta mencekal pergelangan tangan istrinya.


Melihat senyum permainan Stevani membuat Bara tersenyum miring, "Benar sekali sayang, aku suda tidak sabar menghabisimu nanti malam ... Cup!" Jawab Bara dengan menekankan kata menghabisi serta mengecup punggung tangan Stevani.


Arvin dan Dania hanya mampi menundukkan kepalanya dalam karena melihat pasangan suami istri di depannya tersebut tampak lucu.


Stevani terasa tercekat ingin mengucapkan kalimat tetapi bibirnya bergerak tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Ayo kita ganti baju, sayangku." Bara merangkul pundak Stevani dengan kalimat menekan.


Stevani yang linglung hanya dapat melangkahkan kakinya dengan berat, 'kenapa seperti ini, tidakk!!!" terikanya dalam hati.


Usai melakukan perawatan, Bara dan Stevani kembali ke kamar. Di dalam kamar mereka kembali menemukan sebuah kejutan, karena di atas sebuah meja di ruang makan yang juga berada di dalam kamar itu, mereka mendapati sudah penuh dengan berbagai menu mewah untuk makan malam dan tak lupa ruang makan tersebut pun diolah redup dengan cahaya lilin yang dinyalakan khusus di dalam ruang makan itu.


"Kamu ganti pakaian terlebih dahulu atau mau langsung makan?" tanya Bara singkat. "Aku pun mau berganti pakaian lebih dahulu. Silakan kamu pakai kamar mandi, aku cukup berganti pakaian di sini saja," titah Bara tanpa melihat ke arah Stevani.


Stevani membelalakkan matanya, tetapi dia tidak membantah sedikit pun perkataan Bara. Hatinya masih dongkol sejak keluar dari kamar ganti di ruang spa.


"Tidak perlu di tutupi seperti itu, kamu tahu aku tidak bernafsu dengan tubuh terutama dadamu yang rata itu." cela Bara dengan nada meremehkan.


Mereka pun menikmati makan malam dalam dengan diam, Stevani mengiris daging steik dengan sesekali melirik ke arah Bara.


"Makanlah dengan tenang dan jaga pandanganmu." Bara berucap tanpa melihat ke arah Stevani.


"Cih, siapa juga yang memandangmu." Jawab Stevani dengan wajah masam.


"Ah, sejak tadi kamu memandangiku? Aku tahu jika aku ini tampan." kata Bara dengan tersenyum tipis.


Senyum bara di mata Stevani sangatlah menyebalkan saat ini, bahkan dia merutuki kebodohannya karena terjebak dengan ucapan Bara.

__ADS_1


Melihat Stevani tidak membalas ucapannya, membuat Bara tersenyum lebar tanpa sadar. Kenapa wanita di depannya ini tanpa sadar menarik perhatiannya sejak pertama bertemu.


Menjelang tengah malam barulah mereka istirahat.


"Aku tidur di sini, kamu tidurlah di sofa tidur sana," kata Stevani pada Bara yang langsung melotot kesal pada istrinya.


"Enak saja! Tidak, kamu saja yang tidur di sana aku yang membayar semua ini." Tolak Bara dengan melemparkan bantal ke arah Stevani.


"Hey! Aku juga mampu membayar hotel ini, ingat aku Stevani Kristoff. Sana pergi jangan merusak istirahatku." Jawab Stevani tidak mau kalah dengan Bara.


"Tapi sekarang kamu sudah menjadi Stevani Smith Santosa. Kamu harus menuruti ucapan suamimu jika tidak kamu akan aku ...."


"Aku apa, huh!" potong Stevani dengan berkacak pinggang menaikkan dagunya ke arah Bara.


Bara menatap lekan kedua manik mata istrinya yang kemudian terus bergerak melihat leher jenjang putih dan dada yang mungkin pas saat di genggaman tangannya.


Gluk!


Bara menelan ludahnya susah payah, otaknya berputar saat Jundi mengeluarkan gaun tidur saat koper keduanya tertukar.


****! Dia merutuki dirinya saat ini, Bara langsung menjatuhkan bobot tubuhnya di tengah kasur berukuran king size tersebut.


"Hush ... Hush ... Aku mau tidur." usir Bara kepada Stevani yang masih berdiri di pinggir kasur.


Dengan puncak emosi yang sudah di ambang batas , Stevani langsung menjatuhkan bobot tibuhnya di samping Bara dengan kaki kecil nan ramping dia mendorong pantat Bara hingga bergeser cukup jauh dari posisi sebelumnya.


"Ingat, aku tidak akan bergerak seincipun dari sini." kata Stevani dengan keyakinan penuh.


"Menyingkir, atau kamu akan menyesal seumur hidup." Ucap Bara penuh intimidasi.


"Heh? Cobalah, tidak akan ... Aku tidak ak-. Apa yang kamu lakukan!" Seru Stevani melengking memenuhi kamar luas tersebut.


Bara melepas seluruh pakaiannya dan melemparnya dengan asal, membuat kedua mata Stevani dapat melihat dengan jelas enam kotak roti yang terpahat indah di tubuh suaminya.


Senyum melengkung sempurna di bibir Bara, "Aku tetap akan tidur di sini, jika kamu tidak mau pindah ke sofa terserah!" ucap Bara acuh san kembali merebahkan tubuh telanjangnya.


Stevani mendudukkan dirinya dengaj mendengus kesal, "jangan harap seorang Stevani tidur di tempat sempit itu."


Bara yang awalnya sudah memejamkan kedua matanya kembali membukanya kembali, terlihat Stevani membuka kancing piama tidurnya satu per satu kemudian membuangnya asal seperti yang di lakukan Bara.


"K-kau! Dasar wanita gila!" Seru Bara melotot ke arah istrinya.


"Jangan bilang Tuan Bara menjadi bernafsu dengan tubuh sexy ku saat ini?" Ucap Stevani dengan menggoda.


Bara memalingkan wajahnya, "Bermimpilah, aku bahkan mual melihatnya." kata Bara yang memunggungi Stevani.


Mendengar ucapan Bara membuat Stevani sakot hati, tapi bukan Stevani jika harus merengek dengan ucapan laknat suaminya itu.


"Awas saja, kamu akan tercandu-candu saat tau rasanya." Oceh Stevani yang merebahkan dirinya agak jauh dari Bara.


Posisi keduanya saling memunggungi saat ini dengan pikiran dan perasaan masing-masing hingga pangi menjelang mereka bangun pagi dengan wajah kusut.


Kedua kantung mata tampak bergelayut manja di kedua insan yang saat ini tengah melakukan sarapan pagi, mereka memutuskan untuk check out dari hotel dan langsung menuju ke bandara untuk terbang ke Eropa.

__ADS_1


...🌹🌹...



__ADS_2