
Happy Reading 🌹🌹
Jundi segera meluncur ke hotel di mana Bara menginap dengan menggunakan taxi, beruntung tidak terlalu jauh jaraknya. Selama di perjalanan bibir Jundi komat kamit merapalkan do'a agar Bara belum kembali dan masih menginap di hotel.
Taxi berhenti, Jundi segera membayar taxi entah lebih atau kurang. Dia berlari dengan memanggul koper di bahunya "Titip sebentar." Ucapnya pada petugas yang berada di depan pintu utama hotel.
Jundi berlari-lari di dalam loby menuju resepsionis, tapi pandangannya terkunci pada pria yang sangat dia kenali. Dengan nafas tersengal-sengal akhirnya dia bisa mecapai Bara.
"Kakek masuk Rumah Sakit!" Ucap Jundi dengan memegang pundak Bara.
Jder!
Bagaikan petir di malam hari, Bara terpaku mendengar kabar tersebut.
"Kita pulang!" Ucap Bara yang langsung melangkahkan kakinya lebar menuju lift.
Mendengar kesehatan sang kakek menurun membuat Bara tidak dapat berfikir jernih lagi, dia takut sangat takut jika sampai Kakek Santosa meninggalkannya. Dia harus bersama siapa di dunia ini, sudah tidak memiliki orang tua dan saudara hanya Kakek Santosa saja keluarganya.
Tenggorokan Bara terasa tercekat, kedua matanya sudah memanas. Perasaan sesak menyeruak di dalam hatinya, dia membutuhkan tempat bersandar tapi keadaan memaksanya harus kuat dan tegar.
"Kakek pasti baik-baik saja." Gumamnya dalam hati.
Stevani yang tidak sengaja mendengar obrolan keduanya menghentikan langka kakinya, menoleh ke belakang memandang punggung pria yang biasanya bertengkar dengannya semakin menjauh dan hilang di dalam lift.
"Kenapa hatiku sedih." Monolog Stevani dalam hatinya.
Melihat raut wajah Stevani berubah membuat Yona bingung, "Stev, ayo." Ucap Yona dengan mengguncang pelan lengan sahabatnya.
"A ... i-iya ayo." Jawab Stevani linglung dan sedikit terbata.
__ADS_1
Stevani dan Yona meneruskan langkahnya menuju restoran yang berada di dalam hotel, pandangan Stevani kosong pikirannya terus terarah pada Bara "Ah, tidak Stev. Lupakan, dia hanya pria asing." Stevani menghirup udara dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
Jundi mengikuti Bara di belakang, dengan kasar Bara membuka pintu kamar hotel dan langsung mengeluarkan koper dari dalam lemari. Bara bisa saja menyuruh Jundi untuk membereskannya tapi Jundi harus tetap bersamanya saat seperti ini.
Bara mengepack pakaiannya dengan tangan gemetar, Jundi langsung berjongkok dan menghentikannya. "Biarkan aku saja, kamu hubungi Paman L." Ucap Jundi pelan.
Bara hanya diam tapi air matanya sudah luruh membasahi punggung tangan Jundi, Jundi pura-pura acuh karena dia tahu Bara tidak ingin terlihat lemah. "Menangislah jika membuatmu lega, Bar." kata Jundi dengan melanjutkan memasukkan pakaian Bara.
Bibir Bara bergetar tidak ada suara isak tangis hanya air mata yang terus turun, dengan kasar Bara mengusap air matanya dia beranjak pergi masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya dengan rapat. Dia merosotkan tubuhnya hingga terduduk di lantai tidak peduli basah ataupun kotor.
Tubuhnya terguncang bersamaan dengan suara lirih yang sudah dia tahan sejak tadi, dia hanya butuh ruang untuk menumpahkan perasaan sedihnya, dia tidak ingin membuat kakeknya khawatir melihat beban yang dia panggul di kedua pundaknya.
Jundi segera menelfon Paman L setelah selesai merapikan barang bawaan Bara, sejenak dia menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.
"Halo, Tuan Jundi." Ucap Paman L di sebrang telfon.
"Halo paman, aku dan Barra akan terbang hari ini. Tolong kirimkan lamat Rumah Sakitnya." Jawab Jundi pelan.
Panggilan telfon terputus, pesan singkat masuk berisi alamat rumah sakit di mana Kakek Santosa di rawat. Jundi segera memesan tiket menuju Korea Selatan, beruntung masih ada kursi kosong menuju ke negara gingseng tersebut meskipun hanya kelas ekonomi.
Terdengar suara gemericik air, Jundi masih setia duduk menunggu Bara keluar dari dalam kamar mandi hingga pintu terbuka lebar menampakkan pria dengan wajah sayu.
"Ayo kita berangkat, aku sudah memesankan tiket." Ucap Jundi yang bangkit dan berjalan menuju Bara.
Bara hanya mengangguk, keduanya berjalan meninggalkan hotel. Dengan menggunakan taxi keduanya berlalu dari area hotel untuk menuju bandara agar segera bertemu Kakek Santosa. Selama di perjalanan Bara lebih banyak diam dengan membuang pandangannya ke luar jendela.
Tatapannya kosong, pikirannya melayang ke tempat sang kakek di rawat, ingin rasanya saat ini dia memiliki kekuatan doraemon jika tidak memiliki pintu ajaib setidaknya memiliki baling-baling bambu.
"Kita sudah sampai." Ucap Jundi yang mengagetkan Bara.
__ADS_1
Bara keluar tanpa berkata sepatah katapun, bahkan perjalanan yang hampir satu jam menuju bandara tidak terasa untuknya. Keduanya masuk ke dalam bandara setelah Jundi membayar taxi, menuju penukaran tiket dan melewati petugas keamanan untuk mengecek satu per satu penumpang pesawat.
Bara mengerutkan keningnya karena berada di kabin yang asing untuknya, Jundi menepuk kursi kosong di sebelahnya agar Bara segera duduk untuk memberi jalan penumpang lain.
"Cepat, duduk! Hanya tersisa bangku ekonomi saja, tidak masalah bukan?" Tanya Jundi dengan wajah biasa saja.
Bara menangguk, Jundi mengulum senyum karena Bara agak kesusahan dalam duduknya mengingat tinggi badan sahabatnya yang seperti jerapah tentu saja memiliki kaki yang panjang. Sedangkan Bara dengan menahan kesal akhirnya menyerah dan menerima keadaan ini sampai di tempat tujuan.
Suara pramugari yang tengah menerangkan tentang keamanan pesawat mulai terdengar, semua menumpang memasang sabuk pengaman karena sebentar lagi akan lepas landas. Tidak membutuhkan waktu lama, pesawat mulai bergerak pelan dan semakin cepat hingga membuat para penumpang miring karena baru akan naik badan pesawat.
Selama di perjalanan Bara hanya tidur dengan bersedekap dada, dia harus mengumpukan energi karena pasti begadang untuk menjaga sang kakek. Sedangkan Jundi yang berada di sebelahnya sibuk mengisi enegi juga tapi dengan cara yang berbeda yaitu makan.
"Stev!" Panggil Yona hingga membuat wanita yang tengah membersihkan make up menjatuhkan kapas karena kaget.
"Ada apa sih." Jawab Stevani sedikit sewot.
"Kamu yang ada apa, kenapa sejat tadi kamu banyak ngalamun." Ucap Yona dengan wajah merengut.
"Tidak, aku hanya capek saja." Elak Stevani yang mempercepat membersihkan wajah.
"Kamu memikirkan Tuan Bara?" Tanya Yona penuh selidik.
Stevani hanya berdecih saja, "Untuk apa aku memikirkan pria asing itu." Jawab Stevani yang berjalan ke arah kamar mandi.
Stevani membasuh wajahnya dengan air dingin, sejenak dia menatap cermin yang berada di depannya dengan pikiran melayang ke Bara. Dia sempat mendengar jika Kakeknya sakit, meski hanya melihat wajah Bara dari samping Stevani cukup tahu raut wajah sedih itu.
Stevani keluar dari dalam kamar mandi dengan mengeringkan wajahnya menggunakan handuk putih, terlihat Yona tengah tiduran dengan memainkan ponselnya. Stevani kembali duduk karena akan mengenakan skincare malam rutinnya. Tapi gerakannya terhenti karena ponsel miliknya berdering.
__ADS_1
"Stev, segera pulang. Ayah masuk Rumah Sakit!"