Cinta Karena Satu Alasan

Cinta Karena Satu Alasan
Cemburu


__ADS_3

Rumah Putra Cahya Winata, sore itu Lian terdiam diambang pintu kamar Nata. Matanya tidak lepas memperhatikan kedekatan antara Della dan Nata, walaupun dirinya mendapatkan respon yang tidak baik dari Nata yang memalingkan wajah ketika saling melihat, hal itu juga membuat dirinya sakit hati dan merasa cemburu, walaupun seperti itu dia tetap berusaha untuk baik-baik saja.


“Aku tahu hatiku merasa tidak suka bahkan sakit mendapatkan respon seperti itu darinya, tapi apa daya! Yasudah asalkan dia bahagia.” ucap Lian di dalam hati sabil matanya melirik Nata dan melangkah perlahan untuk pergi.


......................


Message.


^^^Gala: Li, kamu di mana?^^^


Lian melihat pesan dari Gala. “Gala, kenapa kamu masih mencari ku?”


[3 Nada dering panggilan masuk ‘Gala’] Lian pun mematikan daya teleponnya.


Tiba-tiba saja Lian di kaget kan oleh suara anak kecil yang tepat ada di samping nay. “Kak Li?” anak itu sambil menatap.


“Hey! Bubu....” jawab Lian mengelus dada sambil tersenyum.


“Kakak kaget ya?” tanya Bubu, Lian pun menganggukkan kepala seraya benar.


“Ayo! Ikut aku ketemu nyonya.” ajak Bubu sambil menarik lengan Lian untuk pergi menemui nyonya.


......................


Kebun Apel, ketika Lian sampai dirinya langsung di takjub kan melihat merah rona buah apel yang siap dipanen.


“Apel itu favorit aku.”mendengar pernyataan itu membuat Lian teringat dengan sang Tante yang juga sangat menyukai apel merah, bahkan ketika mengandung Brama Aryo Nathan tante nya bisa menghabiskan satu kilo garm buah apel stiap harinya.

__ADS_1


“Ya sebentar lagi semua akan terungkap, Tante akan bertemu dengan Brama.” ucap di dalam hatinya.


Di sana Lian disambut hangat oleh nyonya, nyonya sangat senang melihat Lian bisa datang tak lain nyonya memeluk Lian, menurut nyonya sosok Lian adalah perempuan yang baik hati, dan tidak mudah emosi, serta menyukai anak-anak. “Nonya senang kehadiran kamu, jadi ini tuan putri.” ujar nyonya yang membuat Lian tersenyum namun bertanya tanya apa yang dimaksud oleh nyonya dengan kata ‘tuan putri.’


“Kita memanen, setelah itu kita ... makan bersama.” ujar nyonya sambil mengajak Lian untuk mengambil buah apel, Lian pun mengambil keranjang dan mulai mengunting tangkai buah apel bersama Bubu, betapa bahagianya diantara mereka seperti Ibu dan ana-anaknya, mereka pun disela dengan tawa bahagia.


......................


Kamar Putra Cahya Winata, rasa tidak suka Della saat berada di balkon melihat Lian yang sedang menikmati panen bersama nyonya dan Bubu hal itu membuat jari jarinya bersatu dan mengepal. Nata yang melihat Della cemberut pun penasaran ingin melihat apa yang sedang terjadi di luar. “Kenapa?” tanya Nata sambil melihat ke arah kebun.


“Nyonya terlihat sangat senang.” ucap Nata di dalam hati.


Kini Nata meraih tangan Della, dia mencoba menenangkanya dengan mengusap-usap di bagian yang mengepal. Della yang mendapatkan perhatian itu langsung melirik dan menatap Nata. “Apa benar ini Nata? Dia peduli sekali dengan situasi gue saat ini.” ucap di dalam hati Della, kini Della tersenyum kepada Nata.


“... Put, terima kasih ya lo sudah menenangkan gue.”


Nata juga memberikan senyuman kepada Della, betapa dirinya merasa bahagia ketika bisa membuat seseorang lebih tenang, Nata kini memandang Lian dari jauh. “Perempuan itu yang mengajarkan gue untuk peduli.” ucap di dalam hati, Nata pun meraih tangan Della dan mengajak ke taman bunga.


......................


“... ini romantis sekali.” ucap Della sambil berjalan menghampiri bunga-bunga. Namun tiba-tiba saja dia harus merasa kesal karena harus bertemu dengan Lian yang sedang memetik bunga mawar bersama Bubu.


“Della?” ucap Lian sambil tersenyum, lalu matanya mencari Nata.


“Kenapa lo ada di sini! Lo sengaja ya datang kemari untuk merusak hubungan baik gue dengan Putra!” ujar Della sambil mendorong Lian hingga bunga yang sudah terkumpul di keranjang jatuh berserakan.


“Hey! Jangan kasar.” teriak anak kecil yang membuat Della terkejut. “Bubu! Kak Della tidak melakukan apa-apa dia jatuh sendiri.”

__ADS_1


Bubu menatap sinis Della, dia pun lngsung membantu mengambil bunga-bunga yang sudah jatuh. “Kak tidak apa-apa?” tanya Bubu.


“Tidak papa kok, lagian kakak yang tidak hati-hati jadi terpeleset.”


“Lian? Lo kenapa?” tanya Nata yang baru saja datang, Nata langsung melirik Della. Sudah jelas pasti Della yang melakukan ini karena dari tadi dia tidak menyukai Lian ada di sini, begitu wajah nya terlihat ketakutan.


“Ayo La kita bertemu nyonya?” Nata mengajak Della untuk bertemu nyonya, Della yang mendapat panggilan ‘La’ membuat dirinya merasa senang karena panggilan La merupakan panggilan sayang dari Putra. Mereka pun pergi meninggalkan Lian sambil bergandengan tangan.


“kenapa sekarang aku harus cemburu.” ucap didalam hati Lian, dirinya merasa kesulitan ketika harus terlihat baik baik saja senyum Lian namun matanya tidak terima melihat kedekatan Della dan Nata.


......................


Gala yang belum bisa berhasil mendapatkan Lian tidak henti untuk terus berjuang dan bekerja sama bersama Della serta mereka juga sebisa mungkin menjauhkan Nata dan Lian agar tidak pernah bertemu.


Ketika Lian hendak mengantarkan bunga ke pada Nyonya dia langsung di hentikan oleh Della. "Li tunggu." ujar sambil menarik lengan Lian.


"Gala menunggu lo di depan, enatah lah dia ingin mengatakan apa."


"... sepertinya penting, soal tante lo." lanjut Della. Ketika Lian mendengar itu dia langsung menemui Gala, dan memberikan bunga kepada Della serta meminta tolong untuk menyampaikan hal ini kepada nyonya jika dirinya harus pulang.


......................


Gerbang Depan Rumah, Della sengaja menyuruh Gala Sentosa untuk menjemput Lian yang masih di rumah Putra, ketika Putra izin keluar sebentar untuk masalah Aldi, Della langsung memanfaatkan kesempatan itu dan menghubungi Gala. Rencana itu pun berhasil di mana Lian terpaksa berpamitan karena mendapat kabar dari Gala mengenai Tante nya yang pingsan di depan rumah.


“Jangan begitu khawatir Li, gue udah bawa tante lo ke RS.”


“Ayo! Kita segera pergi.” lanjut Gala sambil mengajak Lian, Lian belum sempat berpamitan dengan Bubu dan nyonya, tapi dirinya meminta tolong kepada Della untuk menyampaikan semua ini.

__ADS_1


“... Gala aku ingin meminta maaf dan juga berterima kasih, jika kamu tidak cepat membawa tante ke RS, aku tidak tahu apa yang akan terjadi.” ucap Lian, dia measa bersalah karena sudah menjauh dan bersikap dingin kepada Gala yang selalu ada untuk dirinya.


Gala pun menganggukkan kepala sambil menyetir. “Ya! Sebenarnya tante lo pingsan gara-gara gue, seharusnya gue yang meminta maaf.” ucap di dalam hati Gala.


__ADS_2