Cinta Karena Satu Alasan

Cinta Karena Satu Alasan
Seperti Air Mengalir


__ADS_3

Pukul 02:41


"Tidak bisa kah pikiran ini terus kepada perasaan, aku ingin berhenti tanpa memikirkan dia. Nata, sangat mengganggu pikiran ku."


Lian terus bertanya-tanya, dirinya dibuat penasaran oleh sikap dan perilaku Nata. "Ya! Bagaiman perasaan dia yang sesungguhnya kepada ku?" di dalam hati, Lian pun pada akhirnya tidak bisa tertidur dengan nyenyak, hampir setiap satu jam memejamkan mata namun tak kunjung bisa.


Lian terdiam, dan dia beranjak dari tempat tidur dengan perlahan-lahan untuk membuka gorden. Kini Lian berdiri tepat di depan jendela, matanya sangat takjub melihat pemandangan malam di negri orang. Dirinya tidak sia-sia membuka gorden. Hal itu bisa mengalihkan pikiran nya sejenak dan menikmati keindahan.


Sudah lima menit berlalu, tak di sangka malam ini dia memiliki satu harapan tepat ketika melihat ada bintang jatuh. "Tuhan aku meminta satu diantara dua harapan kepadamu, tolong buatlah Nata menerima kepergian ba Lian dan jadikan aku penganti cintanya ba Lian." meminta sambil memejamkan matanya.


"Aku bisa lebih tenang." Lian menutup gorden, dan kembali ketempat tidurnya, saat ini wajah nya terlihat berseri-seri begitu dengan pikiran dan perasaan nya perlahan seraras, serta Lian bisa menghela nafas lega.


......................


Pagi hari, seperti biasa Lian selalu melakukan self talk motivation dengan sinar mentari secara langsung. Di taman dia berdiri sambil melentangkan tangan nya juga menutup mata tepat berhadapan dengan sorot matahari. Lian pun tak lupa tersenyum lebar menikmati sejuknya pagi dan asri nya taman.


"Terima kasih untuk diri ku dan semuanya, aku mampu memberikan ke bahagian, kenyamanan, dan kedamaian."


"Lian perempuan yang selalu bersyukur, terima kasih." lanjut Lian sambil menikmati hangatnya mentari, dia pun perlahan-lahan membuak matanya.


"Wah, cerah sekali dan menyenangkan!"


"Semangat Lian!" lanjut Lian menyemangati dirinya sendiri, Ya! memang siapa lagi yang akan menyemangati jika bukan dirinya.


"Semangat Lian! " terdengar suara yang tidak asing lagi di telinga Lian, suara itu berasal dari belakang dirinya.


Lian pun menoleh, dan benar saja itu adalah Anggara yang menggendong babynya bersama dengan Dewi yang selalu berada di sisi Anggara. Di sana mereka terliah begitu bahagia bisa kembali bertemu, mereka pun saling berpelukan.

__ADS_1


"Wah wah wah, ada yang lagi melepas rindu ni." ucap Nata sambil menemui mereka dan membuat mereka semua menoleh ke padanya.


"Iya dong kita kan sudah lama sekali tak berjumpa." ucap Dewi bergantian menggendong baby.


"Bos, kalian sudah (melirik Lian) kalian sudah jadi sepasang kekasih kan?" tanya Dewi penasaran, namun seketika pertanyaan ini membuat mereka berdua terdiam sepi.


"Oh jangan bilang kalian masih diem diem bae?" lanjut dewi sambil menepuk pelan bahu Lian.


Lian hanya tersenyum, lalu dia melirik Nata yang juga seperti kebingungan.


"Emm (mengusap leher kanan) gue dan Lian...." jawab Nata sambil memikirkan sesuatu hal, namun ketika Nata hendak melanjutkan pembicaraan, Babay Dewi dan Anggara menangis dengan nyaring.


Owak owak owak (tangis bayi)


"Enggak sayang, ceup ceup... Aduh sorry banget baby Ai lagi rewel gens." Ucap Dewi sambil menenangkan nya.


......................


"Nat, terima kasih ya kamu setiap hari selalu menemani aku."


"Iya Li, sudah semestinya kok." jawab Nata.


Lian menoleh kepada Nata ketika mendengar jawaban itu. "Boleh kah aku bertanya, tentang kepedulian kamu kepada ku Nat?" tanya Lian lalu kembali melihat-liaht sekitarnya.


Nata pun membawa ke kursi, disana mereka berhenti sejenak dan Nata kali ini menatap Lian sambil menggenggam kedua tangan nya. "Lian, sejujurnya gue sangat bingung untuk menjawab semuanya." Nata pun beranjak berdiri dan mendekat ke tiang dinding.


"Entah harus darimana gue menjelaskan, gue bingung dengan perasaan ini. Li? Gue... jelas sangat takut kehilangan lo. Bahkan gue tidak bisa jika harus ditinggalkan lo, namun gue... Li, hati ini masih untuk Liana."

__ADS_1


"Kepedulian ini karena gue tidak ingin kehilangan wanita yang mirip dengan Liana." lanjut Nata sambil mendekati Lian dan menatapnya.


Lian pun terdiam sejenak, apa yang di katakan oleh Nata membuat dirinya harus bisa memahami keadaan yang memang dimaklumi nya.


"Li, lo bisa kan membantu gue melupakan Liana dengan cara lo selalu ada untuk gue?" pinta Nata sambil bersimpuh di depan Lian.


"Tidak perlu seperti ini, ayo bangun lah Nat." pinta Lian, dengan begitu Nata pun kembali berdiri setengah badan.


"Nat melupakan seseorang itu tidak mudah bahkan aku mungkin tidak mamapu, karena kamu mengira aku adalah ba Liana, bukan Lian. Apa selama ini kamu melakukan hanya karena aku mirip Liana, Nat? Apa kamu tidak melihat sisi lain dari diriku, tanpa harus menyamakan aku dan ba Liana?" lanjut Lian bertanya.


Nata pun terdiam, dia kini menghela nafas. "Gue tidak pernah berpikir bahwa dirimu adalah Lian, maafkan gue Li... Atas semua yang gue pikir bahwa jiwa Liana hidup bersama lo."


Mendengar penjelasan itu Lian pun hanya tersenyum dan menerima tanpa merasa berkecil hati. "Aku merasa baik-baik saja, dan sudah memaafkan hal itu. Nat, aku rasa mulai dari sekarang kita tidak melakukan kebohongan, tak perlu lagi kamu peduli jika mengira aku mirip dengan ba Lian."


"ke kenapa Li?"


"Karena jika aku tidak memiliki kemiripan dengan ba Lian, kamu... Akan kecewa."


Nata pun terdiam, dia merasa gelisah jika harus berhenti sampai di sini dan jika Lian tidak pernah mau lagi mengenal dirinya. "Li, gue tidak mau jika lo pergi!"


Lian menatap Nata, "aku masih di sini, sudah lah kita kembali ke kamar aku rasanya lapar." pinta Lian.


Nata pun membawa Lian ke kamar, disana Nata terlihat sedikit canggung dan begitu dirinya ragu untuk membantu Lian.


"Hey! Nat jangan banyak diam." ujar Lian sambil mengambil sarapan nya.


"Li, lo gak marah?" Nata bertanya, dirinya sangat takut jika Lian marah.

__ADS_1


Lian pun tertawa. "Enggak lah, aku bisa mengerti semuanya... Kita bisa berjalan mengalir seperti air, tak perlu khawatir walupun aku memang benar-benar mencintai kamu, tapi aku tidak memaksa dirimu untuk mencintaiku, bahkan aku lebih tenang ketika kamu jujur." Akhirnya mereka pun kembali seperti biasa, Nata masih dengan kepedulian nya terhadap Lian. Di kamar itu mereka pun saling bercerita dan tertawa, suasana sangat hangat.


Nata merasa tenang, bahkan dirinya juga bahagia setelah mendengar pernyataan Lian yang memang selalau mengerti bahkan dirinya terlihat baik-baik saja mendengar kejujuran dirinya.


__ADS_2