Cinta Karena Satu Alasan

Cinta Karena Satu Alasan
Masalah Bertubi-tubi


__ADS_3

Baru saja masalah mulai terselesaikan tiba-tiba saja adankagi masalah baru muncul, ya memang hidup itu penuh dengan permasalahan yang mungkin kedatangan nya tidak di sangak-sangaka bahkan diri sendiri merasa tidak pernah membuat kesalahan itu. "Kenapa lagi dengan Dewi?" pikir Lian sambil menutup loker.


"Lo ikut gue." lengan Lian di tarik paksa oleh Anggara untuk masuk ke ruangan CEO, disana Anggara melihatkan kotak makan yang tadi Lian cari di loker nya begitu melihat nya Lian terlihat kebingungan.


"Itu kan... kotak makan untuk Nata, kok?"


"Ya! kotak ini ada di meja gue... kenapa bisa, itu yang jadi pertanyaan gue Li?" Jawab Anggara, sahabatnya sangat emosi dengan semua ini.


Seseorang mengintip dibalik pintu yang terbuka sedikit, "Sekarang kalian akan hancur terutama lo Li, gue gak akan pernah diam membiarkan lo mengambil hati siapa pun dan hanya gue lah yang harus di banggakan!" Wanita itu sambil tersenyum jahat.


"Sumpah aku gak ngerti ini ada apa sebenarnya, kenapa bisa kontak makan itu ada di meka kamu Ga?" Lian bertanya-tanya, begitu dia juga mengingat kejadian tadi tentang Dewi yang mengatakan "Dasar Pelako" pasti ada seseorang yang sengaja melakukan hal ini.


"Siapa yang melakukan ini, kenapa orang itu tega melakukan ini... kita di fitnah! " lanjut Lian sambil mondar-mandir di ruangan CEO.


"Sepertinya... gue tahu siapa pelakunya!"


"Kamu yakin... pelakunya adalah orang di sekitar cafe London ini?"


"Ya gue yakin sekali, karena dia itu tidak ingin posisinya terancam apalagi lo kan bisa di andalkan di setiap job." Lanjut Anggara memanggil Diah (EO dan MC dari cafe London.


......................


Menurut Anggara, Diah lah yang sudah merencanakan semua ini... karena Diah adalah EO serta MC baru atau karyawan baru di cafe London. CEO cafe berpikir dan menguga sebab dirinya melihat Diah sedang mengintip di balik dinding dekat loker, namun saat itu Anggara tidak merasa curiga dan membiarkan Diah, selain itu di hari pertama kerja Lian, Diah sama sekali tidak terlihat antusias atau senang wajahnya terlihat tidak menyukai jika semua orang atau karyawan menyambut Lian dengan penuh kebahagiaan, bahkan Diah sempat tidak ada di ruang kerja.


"Diah!? " pangil Anggara dengan bentakannya. Di ruang CEO ada Diah, Lian juga Anggara, disana Diah berpikir bahwa rencananya akan berhasil dengan mulus. Namun sebaliknya Anggara sudah mengetahui kebusukannya.

__ADS_1


"Maaf pak kenapa bapak benatak saya tiba-tiba ya? " Diah bertanya seolah-olah tidak mengerti.


"Saya tahu jika kamu lah yang sudah merencanakan semuanini kan? Diah kamubkan yang mengacu kepada istri saya, lalu kamu juga yang memitnah Lian!? " Mendengar tuduhan itu Diah sangat terkejut karena bagaimana bisa bos nya mengetahui semua ini, tapi dia sangat licik dan sudah menyiapkan bom besar yang akan menimpa Lian.


"Maksud bapak apa? Saya tidak mengerti.... " Diah masih berpura-pura.


"Kamu jangan berani bohongi Saya!"


"Maaf ya pak saya berani bersumpah bahwa saya tidak mengarti apa yang bapak katakan atau tuduhan tadi, kotak makan ini saya tidak tahu? begitu dengan yang lainya.... " Diah kembali menjelaskan dengan penuh siasat, dirinya terlihat bingung juga bersedih.


"Begini aja Ga, kenapa kamu gak coba hubungi Dewi dan minta kah no yang sudah mengadu domba... biar kita bisa cari tahu siapa di balik no itu." Sahut Lian memberikan saran.


Tidak menungu lama Dewi pun memberikan kontak juga beberapa gambar yang membuat dirinya merasa cemburu dengan kedekatan suaminya dan Lian. Anggara akhirnya menghubungi nomor tersebut, namun sayang nomor itu tidak menjawab yang pada akhirnya ada salah satu karyawan memangil Lian karena mendengar ada nada dering yang mungkin saja itu adalah pangilan penting.


Sedangkan wanita bernama Diah hanya tersenyum jahat, dirinya juga merasa lega. Akhirnya semua bisa berjalan dengan lancar,"Si Tika bisa di andalkan. " berbicara dia dalam hatinya.


"Ya Li gue denger ada nada dering di loker lo, dan takutnya itu pangilan mendesak karena bunyinya terus menerus."


"Pangilan? " Lian pun menoleh ke arah Anggara dengan kebingungan, tapi tidak dengan Anggara dia langsung pergi menuju loker dan terus memangil no yang dia curigai.


......................


Ketika Lian membuak lokernya dia sangat terkejut karena melihat ada gadget, surat beserta amplop berisi kan uang. Anggara yang melihat itu sontak langsung marah kepada Lian, dia tidak pernah mrnduga sahabatnya sendiri lah yang sudah merencanakan semua ini. "Li! APA INI?"


"HAH! LO SENDIRI YANG MERENCANAKAN INI? INI AMPLOP DENGAN UANG ... DAN INI 'TERIMA KASIH TELAH BEKERJA SAMA' MAKSUDNYA APA INI!? "

__ADS_1


"LO MAU NGE HANCURIN HUBUNGAN GUE DENGAN DEWI? "


"APA MAU LO? " Anggara terus memarahi Lian dan tidak memberikan kesempatan kepada Lian untuk berbicara.


"Angga... aku tidak melakukan semua ini ga? "


"Aku.... " sebelum Lian berbicara Anggara sudah menyuruh Lian untuk pergi dari Cafe London ini.


"Lo pergi...." Anggara sambil mendorong Lian ke loker.


......................


Awan muali mendung, Lian kini pergi dari cafe London bersama pesva nya... di perjalanan dia tidak pernah memikirkan bahwa hari ini sangatlah buruk, masalah yang belum selesai, bahkan sekarang dirinya harus berhadapan dengan masalh baru. "Kenapa ini terjadi? " pikir Lian sambil membawa si biru, cuaca mendung sangat mendukung perasaan nya yang kelabu.


Air hujan mulai turun, tapi Lian terus melaju dan berpikir untuk menerjang nya. "Hujan kau bisa membawa aku ke kedamaian... dan menghapus air mata ini. " ucap di dalam hati Lian sambil menerjang rintik air yang muslim deras.


Terlihat semua orang, serta para pengguna motor yang mungkin tidak membawa jas hujan memilih untuk berteduh. Bahkan jika melihat jalanan mungkin tidak ada yang berani menerjang hujan cukup deras tanpa jas hujan! Tika seperti Lian dia malah menerjang sambil menangis.


Cukup mengagetkan orang-orang yang melihat Lian, mungkin mereka bertanya-tanya kenapa wanita itu menerjang hujan? Bagitu ketika Kim melihat Lian di lampu merah dia juga bertanya-tanya "Bukan kah itu Lian, dan kenapa Lian memaksa diri hujan-hujanan? " pikir Kim yang mobilnya berada di samping motor vespa Lian.


Tin Tin (Klakson mobil) Kim juga membuka jendela mobilnya. "Li Lian? " pangil dan berharap Lian mendengar. saat itu Lian menoleh dan tersenyum tanpa kata-kata.


"Hey kenapa hujan-hujanan? " tanya Kim sedikit berteriak. Deras nya hujan membuat suasana menjadi bising. Lian hanya tersenyum dia memilih untuk diam.


"Li... gue tanya lo kenapa harus hujan-hujanan? " dan Lian hanya menggelengkan kepalanya. Kim merasa bahwa Lian pasti sedang tidak baik-baik saja... karena Lian mestinya selalu berbicara juga menemui dirinya sambil tertawa.

__ADS_1


__ADS_2