Cinta Karena Satu Alasan

Cinta Karena Satu Alasan
Kembali Berwarna


__ADS_3

Sudut pandangan Nata


Hari itu merupakan hari yang sangat indah, tidak pernah ter pikirkan oleh gue bahwa Lian akan menikmati sentuhan yang gue berikan, walaupun tidak lama tapi gue tahu sejatinya Lian menyukai pelukan dan ciuman. Kini hari di mana penuh dengan ketakutan dan kekel abuan telah ter gantikan kembali dengan hari cerah dan berwarna seperti pelangi.


Sepertinya tidak bisa ter pungkiri bahwa gue mencintai sosok Lian, Lian yang sama manis nya dengan Liana. Gue harus bisa mendapatkan hati Lian!


“Wanita lemah lembut dan sempurna ?” pandangan ini tidak henti memandang bayang-bayangan yang muncul mulai dari senyuman, keceriaan, tangguh, kelembutan, kedamaian. Walau pun dirinya tidak akan pernah menggantikan sosok Liana akan tetapi seakan-akan jiwa itu hidup di dalam tubuh Lian.


Saat gue sedang asyik memandang foto mereka berdua tiba-tiba saja Nyonya memanggil, dan panggilan itu membuat gue murka! Gue kira Nyonya tidak akan membahas tentang ‘Aryo’ atau pun mengundang kakek tua yang licik untuk makan bersama. “Cinta kadang memang buta.”


“Saya turun segera.” gue tidak bisa mengelak, untuk saat ini apa yang diinginkan oleh nyonya harus gue lakukan. Karena keras kepalanya nyonya tidak bisa dilawan dengan api atau batu kembali. Ketika gue duduk dan memandang nyonya betapa bahagianya raut wajah itu.


“Nyonya senang sekali kamu mau turun, dan makan bersama.” ucap nyonya sambil memberikan udang di piring, dan saat itu gue berusaha tenang, menghormati keputusan nyonya untuk kembali berhubungan dengan kakek tua yang licik.


Tidak tahu kenapa gue sangat heran dengan Bubu juga pak Aryo, adik kecil gue menyukai makanan yang sama bahkan minuman jus buah yang mereka suka. Yang bikin gue heran kenapa bisa mereka tidak menyukai buncis. Pikiran gue saat itu adalah “Apa jangan-jangan anak ini adalah anak pak Aryo!” betapa berdebuk ingin rasanya melakukan tes DNA diantara mereka.


......................


Sudut Pandang Lian


Aku tidak pernah berpikir bahwa semua akan terjadi, hari itu sangat tidak pernah aku duga. Ku kira tidak akan terjadi hal itu, tidak tahu diri memang dirinya. Berani sekali dia melakukan itu kepada ku. Mungkin ini kesalahan ku juga seandainya aku tidak membalas untuk memandang dirinya dengan lembut, tidak akan pernah terjadi kebodohan itu! Bodohnya lagi kenapa aku menikmati.


“Eliza Bunga Berlian, STOP! Tidak perlu di pikirkan kembali.” ucap ku sambil membuka pintu luar. Ya malam ini Anggara sahabat ku ingin mengajak aku juga tante untuk makan malam bersama keluarganya.


Anggara pun sampai di depan pintu rumah. “Hai, kok keluar sendiri mana tante lo?” tanya sambil melirik ke dalam rumah.


“Ada lah, tunggu bentar ya masih dandan.” jawab aku sambil mempersilakan Anggara duduk. Anggara masih memperhatikan raut di wajah ku, mungkin feeling kita sangat kuat sehingga dia merasa bahwa di otak ku ini penuh pikiran.


“Bagaimana nih kemarin ... sepertinya ada bau-bau pikiran berat!”


Anggara tahu saja aku sedang memikirkan kejadian dengan Nata, dan saat itu aku pun menceritakan apa yang telah terjadi antara aku juga Nata, respons teman ku ini sangat mencengangkan! Di mana ia mengatakan bahwa Nata memiliki perasaan untukku.


Sebelum Anggara dan aku selesai membicarakan hal ini, tante ku datang dan kami pun pergi ke rumah Anggara untuk makan malam, Ya! Aku dan keluarganya memang sangat akrab bahkan kami seperti keluarga, setiap malam minggu Anggara dan keluarganya rutin membuat acara makan malam yang tentunya aku dan tante selalu di undang.


......................


Kamar Anggara Sentosa


Kita selalu menghabiskan waktu bersama untuk bercerita, juga memecahkan sebuah permasalahan di markas besar yaitu kamar Anggara Sentosa, di sini ada salah satu ruangan rahasia yang hanya diketahui oleh aku, Angga tidak ada yang tahu selain kita berdua, aku tidak tahu kenapa dia tidak memberi tahu tempat ini kepada siapa pun selain aku dan dia mengatakan bahwa aku adalah orang ‘tepercaya dan spesial’


Ok kita lanjutkan cerita tadi di mana sahabatku berkata bahwa Nata memiliki perasaan, akan tetapi sahabatku juga bilang bahwa aku harus waspada dengan Nata, bisa saja dia hanya ingin melampiaskan emosi nya. Nata bisa saja hanya mencari pelarian, untuk saat ini Nata juga dikabarkan sedang dekat dengan mantan nya ‘Della’


“Nih lo juga harus tau Nata adalah playboy akan tetapi Nata bisa bertahan bertahun tahun dengan Liana! Dan tidak mungkin dirinya langsung move on.” pernyataan itu membuat aku sulit untuk berpikir, sedangkan aku sepertinya telah menyukai laki-laki bernama Nata itu.


“Ok! Sepertinya benar juga, aku akan berhati-hati.”


Sudut Pandang Campuran


Pagi hari, seperti biasa Lian selalu melakukan dengan rutin memejamkan matanya di bawah sinar mentari. Dia melakukan hal itu untuk kesehatan mata sekaligus menjaga mental halte dengan memejamkan mata di bawah sinar mentari Lian bisa sekaligus menikmati awal yang cerah. Menurutnya saat menutup mata dan tersenyum dengan menikmati, rasa syukur itu akan datang sekaligus dengan kedamaian.


“Hai” seseorang menyapa dan membuat dirinya kaget. Lian pun langsung menepuk lengan dia dengan mata membulat.


“Kamu?” ucap Lian sembari melangkah untuk menghindar.


“Ya, kenapa lo kaget melihat gue ada di sini ?”


“Ya jelas lah kaget, se pagi ini Nata ada di Cafe, untuk apa coba? Terus kau ... (menunjuk) tidak melihat aku sedang apa, seharusnya tidak mengganggu mediasi ku.”


Nata tidak seperti biasa nya yang langsung emosi atau menanggapi dengan berbagai alasan. Dia kini mencoba menahan lisan, juga emosi nya dengan mengatur pernapasan.


“Iya Lian sorry ya, gue tadi ganggu lo ... karena gue terlalu senang bisa melihat lo tersenyum seindah itu ... jadi tidak bisa menahan.”

__ADS_1


Lian kini terdiam, dirinya terbuai dengan kelembutan Nata. Sosok yang dia kenal sebagai pria arogan yang tidak mau kalah itu, ternyata memiliki sisi bisa mengalah dan dapat menerima kesalahan, walaupun dia masih menambahkan alasan.


“Li ... kok jadi bengong.” ucap Nata sembari menyentuh lengan Lian.


Lian tersenyum, “Ya tidak apa-apa” Lian pun kini duduk di kursi taman Cafe London.


Mereka kini membahas tentang Abian juga keterkaitan degan Liana. Di mana anak buah Nata yang bernama Dewi dan Aldi kini mendapatkan beberapa keterangan yang mungkin bersangkutan dengan Liana. Tak hanya itu ada beberapa yang harus mereka curigai adalah Della.


Kini mereka menyimpulkan beberapa kemungkinan jika benar Abian dan Della dibalik kecelakaan maut itu, pertama mereka berpikir bahwa Della bekerja sama dengan Abian atau sebaliknya yaitu untuk merebut posisi kepemilikan perusahaan, yang di mana mereka telah mengetahui bahwa Liana adalah sosok yang paling berharga! Atau boomerang yang akan dirasakan oleh Nata jika kehilangan Liana, dan hal itu dibenarkan oleh Nata di mana dirinya dalam beberapa waktu hingga saat ini jika ter pikir dapat menjadikan nya sulit menjalani aktivitas.


Selanjutnya ....


Mereka berdua juga menarik kemungkinan mengapa Abian bekerja sama dengan Della, karena Della sepertinya ingin kembali mendapatkan posisi di hati Nata! Dan kenapa saat ini Della selalu berusaha menghibur, dan ada untuk Nata! Care Della juga berita yang ada di media mengenai kedekatan mereka.


Di saat mereka sedang berbincang tiba-tiba saja Nata melihat salah satu karyawan cafe yang menurutnya sangat mencurigakan, karena laki-laki itu seperti sedang me mata-mati. Namun Lian mengelak jika sosok Gala juga dibalik kecelakaan itu.


“Nat, sepertinya orang itu tidak ada hubungannya.”


“Kenapa?”


“Ya aku tahu dia baik, dan tidak mungkin melakukan hal itu untuk apa coba?”


“Semua orang tidak bisa terduga! Buktinya saja saudara tiri gue juga mantan gue yang gue kenal baik ternyata ada jahatnya.”


“Jangan-jangan lo!” Lanjut Nata mulai emosi, dia pun menuduh Lian yang juga bersangkutan dengan kematian Liana.


Saat dirinya di tuduh oleh Nata, Lian merasa kecewa bagaimana bisa Nata memberikan tuduhan itu! Sedangkan dirinya tulus membantu, dan selama ini dia selalu mencoba menghibur. “Nat pikirkan kembali mengenai tuduhan mu itu.” ucap Lian sambil pergi meninggalkan dirinya di kursi sudut 36° No.14 yang merupakan kursi legenda. Kursi itu kini menjadi kursi private, yang jauh dari kursi lainnya.


“Li tunggu.” ucap Nata mencoba menghentikan langkah Lian, namun sayang Lian sudah lebih dahulu merasa kecewa.


“Li sorry Li ....” lanjut Nata.


“Pak apa tidak dipikirkan kembali untuk mencari bukti-bukti lebih kuat, karena kita belum mendapatkan bukti yang membenarkan mereka lah pelakunya?” seru Aldi sambil menulis di whiteboard.


“Nah pak dari situ kita bisa melihat beberapa point yang belum kita dapatkan!”


“Ya benar pak Saya juga masih mencari bukti lain terkait CCTV yang seharusnya merekam ba Liana di cafe London, dan ini masih jauh untuk menyelesaikan.”


“Kami berdua menduga ada seseorang yang bekerja sama dengan Della juga Abian, kemungkinan orang itu karyawan cafe atau pun dari luar.” ucap Dewi.


Kini Nata memikirkan tentang karyawan laki-laki di cafe London, ‘Gala Sentosa’ dia menduga Gala ada kaitannya dengan kasus kematian Liana sebab tidak mungkin Gala seperti melakukan mata-mata saat dirinya bertemu dengan Lian, Nata pun meminta Aldi untuk mencari tahu latar belakang kehidupan Gala Sentosa.


......................


Ruang CEO Cafe London


Lian datang untuk menemui sahabatnya, dirinya pun menceritakan tentang kejadian tadi pagi mengenai tuduhan Nata terhadapnya. Mendengar hal itu membuat Anggara marah karena sahabatnya di tuduh, namun pada akhirnya Lian merelai bahwa tuduhan itu adalah hal wajar dan menjelaskan kepada Anggara agar tidak mendatangi Nata.


“Sebentar! Tunggu dahulu Angga ... tahan emosi.”


“Begini hal itu wajar terjadi karena, pengalaman Nata yang sedang dikhianati oleh mantan kekasihnya juga saudara tiri mereka adalah orang yang baik.”


“Mmm ya juga sih (berpikir) Li? Jika mereka ada keterkaitan nya dengan kematian ba Liana, dan terakhir kali ba Liana singgah adalah cafe ini otomatis kita bisa mencari bukti CCTV mengenai mereka di CCTV kita.”


“Ya benar, aku pernah melihat mereka ada di CCTV cafe dan ....” ketika Lian hendak meneruskan pembicaraan nya ia berhenti sebab dirinya melihat sosok Gala ada bersama mereka. Kini Lian mengingat tuduhan Nata yang kemungkinan bisa jadi Gala memang ikut andil dalam kasus ini.


“Woy dan apa?” tanya Angga.


“Tidak, kita lihat kembali CCTV nya dahulu.”


......................

__ADS_1


Kantor PT Cahya Winata


Nata merasa menyesal karena dengan mudahnya telah menuduh Lian, dirinya kini sadar akan emosi yang membara kini menghancurkan harapannya. “Lo bodoh banget sih!” ucap sambil marah-marah.


Message.


Nata : Li, tidak seharusnya gue menuduh lo yang tidak-tidak. Lo mau kan maafin gue?


Setatus pesan terbaca.


15 menit telah berlalu, Nata terlihat gelisah dan dirinya mengakui bahwa sosok Lian merupakan wanita yang dia harapkan untuk dimiliki, kegelisahan ini tidak pernah terjadi kepada siapa pun selain wanita yang kini menjadi mantan nya.


“Ini tidak bisa dibiarkan, gue harus pergi menemui Lian.”


......................


Depan Rumah Lian


Lian terkejut ketika melihat ada mobil di depan rumah, kini dirinya mengingat persis mobil siapa itu? 'Nata' ya mobil itu milik Nata. Lian tetap berjalan dan juga membuka pagar pintu dan ketika membuka pintu terlihat Nata yang sedang duduk di teras rumah.


"Kenapa Nata ada disini? Apa dia sangat merasa bersalah sehingga menemui aku."


"Nata berubah?" lanjut bergumam didalam hati Lian.


Betapa bahagianya Nata saat melihat Lian sudah datang di depan rumah, Nata tersenyum dengan tulus kepada Lian, hatinya berbunga-bunga. Tidak disangka ternyata mereka berdua berdebuk kencang tidak biasanya.


" Kenapa jantung ku berdebuk kencang, Li ... Apa ini menandakan cinta?"


......................


Sudut Pandang Nata


Tuhan, tidak biasanya dan terasa baru saat diterasa,


Jantung ini berdebuk kencang,


Bibir ini ingin melukis garis ketulusan,


Rasanya bahagia....


Dan serasa telah kembali berwarna.


Gue tidak bisa berhenti menatap dirinya, rasanya ingin aku memeluk dirinya. "Lian?" ucap sambil berdiri di depan Lian penuh dengan tatapan tajam.


Lian melihat Nata. "Ya, kenapa tidak bilang datang kerumah?"


"Lian gue datang, gue merasa bersalah dan ingin memeinta maaf atas semua yang gue katakan ke lo ... Maafin gue ya?"


"Li...." lanjut Nata sambil meraih kedua tangan Lian.


Lian menganggukan kepala menandakan ia sudah memaafkan Nata, setelah itu Lian tersenyum dan mempersilahkan Nata untuk kedalam rumah. Nata kini bertemu dengan tante Lian yang ternyata dia pernah melihat wanita itu dengan kakak tua licik yang dia kenal 'Aryo' saat itu Nata melihat ada pertikaian diantara mereka namun Nata tidak tahu apa yang sedang di permasalahan oleh mereka.


"Li, bisakah kita berbicara di luar saja?"


"Ada hal yang ingin di bicarakan, ini sangat penting." lanjut Nata.


Mereka pun kini ada di teras depan, "Gimana Nat, apa yang ingin di bicarakan?" tanya Lian, mereka duduk berhadapan.


"Tapi, sebelumnya gue mau tanya mengenai tante lo dengan seseorang?"


"Seseorang?"

__ADS_1


__ADS_2