
Matahari mulai menyentuh tubuh Lian yang masih berbaring di kasur, setengah badanya masih terselimuti, namun kamarnya sudah seperti kapal pecah akibat tidur Lian yang tidak beraturan menyebabkan guling dan bantal jatuh ke lantai, tak hanya itu ponsel juga beberapa buku Tere Liye nya berteteran di lantai.
"Hoam" Lian mengeleiat sambil mengucek matanya untuk terbangun.
"Sepertinya aku harus kembali ke rumah." ucap Lian sambil menunging masih tertidur.
"Ah~" dirinya teringat kejadian malam yang benar-benar mengenaskan. Kim ternyata mencintai dirinya namun sudah terlambat sudah karena Lian tidak bisa mengkhianati cinta Nata, begitu dengan janji dirinya kepada nonya, dan perasaan yang semakin tumbuh besar untuk Nata tak bisa lagi di pungkiri.
Walaupun beberapa hari ini Lian merasa kecewa terhadap kekasihnya itu tapi dia tetap mencintai Nata jika benar Nata harus membuat nya kecewa suatu saat nanti. "Aku terlalu bodoh mencintai Nata!" ujar Lian ketika kembali teringat dugan dugaan dibalik kebohongan Nata (Lihat bab. Waktu Sendiri sebagai kilas balik yang di pikirkan oleh Lian tentang kekasihnya dibalik kasus kematian Liana dan perempuan berwajah Liana.)
......................
Saat ini Lian berharap Kim dan teman-temannya sudah pergi dari Villa, untuk memastikan itu dia pun mengintip di jendela. "Sialan mobilnya masih ada" sambil menghela napas Lian pun kembali menutup gorden.
"Li.... " tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggil dibalik pintu, yang tak lain suara itu adalah suara Kim.
"Kenapa Kim ke sini?" Lian sambil geleng-geleng kepala dengan Kim yang tidak habis pikir mengenai kejadian kemarin seperti tidak ada sesuatu yang terjadi diantara mereka, padahal Lian juga sudah mengatakan hal dengan jelas sebagai bentuk penolakan.
"Li...gue masuk ya? lo masih tidur? " Ketika Lian mendengar itu dirinya pun langsung pergi berlari ke tangga sambil membawa sandal, "Bagaimana Kim tahu jika semalam aku lupa mengunci pintu, ah~terpaksa pura-pura tidur" ucap Lian di dalam hati sambil melihat isi kamar yang berantakan tapi tidak ada waktu untuk membereskannya.
Lian tampak seperti orang yang panik, seharusnya dirinya tidak melakukan hal ini! ha ha ha Lian seperti nya panik sehabis mengintip malah Kim datang secara tidak terduga! begitu dengan kejadian kemari membuat Lian canggung, dirinya habis di cium juga di tembak cinta oleh Kim secara tidak langsung, ya! Mungkin itu yang membuat Lian merasa panik layaknya pernah memeiliki yang sama.
"Lian! " Kim sudah ada di depan pintu kamar yang terbuka sedikit.
"Wah kamar nya berantakan sekali, anak ini gak pernah berubah ternyata! Tunggu... ini kan buku Tere Liye yang sering kita baca." pikir Kim sambil mengambil beberapa buku yang berantakan. Bibir Kim membentuk garis lengkungan dia tersenyum lebar saat melihat ada gelang yang pernah dia berikan.
"Gelang ini.... " ucap nya sambil mengingat masa lalunya dengan Lian, Kim sangat berterimakasih karena Lian telah menjaga gelang itu sampai saat ini, dia berpikir mungkin semalam Lian habis membaca atau marah-marah karena kejadian semalam.
"Ngapain Kim hanya berdiri." pikir Lian sambil matanya mengintip.
"Heh! jangan tidur ayam..." Kim sudah melihat mata Lian, dirinya pun langsung memeluk Lian.
"Kim! Kim awas pergi ih." pinta Lian sambil mencoba mendorong tubuh Kim yang lebih besar darinya.
"Lo mungil banget sih, jadi nyaman di peluk!" Kim tidak melepaskan Lian dia malah lebih erat memeluknya.
"Kim!"
"Kenapa?"
"Tidak baik seperti ini!" Lian merasa Kim sudah berlebihan.
"Kim merindukan Lian yang menggemaskan"
"Aw!" Lian melakukan pukulan pada bahu Kim dan akhirnya Kim sadar bahwa Lian adalah si jagoan yang bisa bela diri.
"Ampun! gue gak ngajak ribut." Lanjut Kim memohon.
__ADS_1
"Pergi!" Lian dengan wajah cemberut.
"Ayo! kita makan bersama... temen gue dah masak sarapan superewah!" Ajak Kim sambil menarik lengan Lian keluar dari kamar.
"Kim.... " Lian sambil mencoba melepaskan tangan Kim yang semakin terkunci.
"Ikut saja Lian, gue tahu lo juga pasti lapar... belum masak juga kan! Gue mau bayar hutang karena semalam gue ikut makan."
"Gak perlu... apa an sih Kim!"
"Suut diam!"
......................
Ketika Kim membuka pintu, mereka berdua di kejutkan oleh seseorang yang sudah ada di depan menungu Lian dan saat itu Kim langsung menoleh kepada Lian. Hati Lian sangat senang karena dengan kedatangan mereka Lian bisa menolak ajakan Kim.
Tak menungu lama Lian pun memperkenalkan ibu Irma, Om Melky dan Om Robby kepada Kim dengan kedatangan mereka menjadi alasan Lian untuk tidak makan bersama kerna dia sudah ada janji dan memang benar sebelum nya Lian sudah berjanji akan makan bersama ibu dan Om nya. Tapi tak di sangka oleh Lian, Kim juga di ajak makan bersama oleh mereka!
Huft~ bagi Lian yang tidak bisa melarang om juga ibunya, tentu Kim sangat senang karena drngan begitu dia punya kesempatan untuk dekat dan bersama Lian walaupun tidak lama. Om dan ibunya membawa Kim dan Lian ke tempat yang sudah di siapkan mereka "Taman Indah Pulau Kapuk" disana mereka makan bersama dengan keluarga besar dari ibu Irma.
......................
Setelah dua jam lebih akhirnya mereka pun kembali ke Villa, Kim merasa senang karena dirinya di kira kekasih Lian. "Lian apa yang tadi mereka katakan?"
"Kekasih mu tampan, dan baik hati." Lanjut Kim sambil tersenyum-senyum.
"Ya! Sayang.... " ledek Kim.
Lian baru ingat! Dirinya baru sadar bahwa Kim sudah memiliki kekasih yaitu Lisa, ketika itu dirinya menarik lengan Kim.Tepat ketika Kim menoleh dirinya menatap nya dengan tajam sambil bertanya tentang Lisa. "Kim... bukan kah kamu berpacaran dengan Lisa? "
Kim terdiam sejenak, "Tidak lagi!" Jawa Kim tanpa ekspresi, dirinya mencoba meyakinkan Lian bahwa saat ini sedang merasa terpukul, namun yang kebenarannya dari dulu Kim tidak pernah berpacaran dengan Lisa.
"Karena aku hanya mencintai mu!" lanjut Kim tetap tanpa ekspresi.
"Kim aku serius!" pernyataan itu seakan-akan apa yang dikatakan Kim hanyalah kebohongan.
"Gue serius! Gue sama Lisa gak ada lagi hubungan seperti yang lo pikir, dan gue paham hati ini untuk siapa? hanya untuk lo Li. " Kim kembali memperjelas. Saat itu Lian hanya terdiam, dan memikirkan tentang kejadian semalam mungkin dirinya juga sudah membuat Kim lebih sakit hati, bahkan dirinya sudah merusak hari indah hari ulang tahun Kim.
"Kasihan sekali Kim, tapi... aku juga tak bisa seperti harapannya. " ucap di dalam hati Lian sambil menatap Kim penuh perhatian, tak lama dirinya pun iba dan memeluk Kim.
" I'm sorry for my behavior yesterday, but I didn't mean to hurt you and make your heart hurt?" Lian meminta maaf dengan berlinang air mata.
"Tidak apa-apa Lian, gue paham...." Kim sambil menepuk pungungnya.
"Mestinya tidak pernah ada kata kecewa, karena sejatinya kita hanya salah meletakkan harapan." (Andra) → quote untuk Kim Aurora.
......................
__ADS_1
Pukul. 13.00 sesampainya di rumah Lian sangat terlihat kusut, dan hal itu membuat tante nya bertanya-tanya ada apa dengan keponakan nya yang tidak biasanya, Lian juga kali pertama pergi tanpa kabar dan membuat mereka khawatir. "Lian." ucap tante nya sambil memeluk berharap Lian lebih tenang.
"Aku merindukan mu."
Baru saja tiga menit Lian di rumah dan memeluk tante nya tiba-tiba saja dirinya dikagetkan dengan kedatangan Kim. "Assalamu'alaikum"
"Laki-laki itu ngapain kesini!" pikir Lian dengan emosi, karena kedatangan Kim membuat dirinya merasa tidak tenang.
"Mohon maaf mengganggu kalian, Bubu tadi mengizinkan saya masuk."Lanjut Kim sambil tersenyum.
" Oh tidak papa Kim." jawab tante Sani.
"Ini tante... hanya ingin memberikan ini." semuanya terkejut begitu dengan tante Sani yang mendapati kalung Lian ada dintangan Kim, dia pun langsung menoleh ke arah Lian.
Melihat kalung itu tangan Lian reflek meraba area lehernya. "Bagaimana bisa kalung itu ada di tangan Kim." pikir Lian.
"Ini, sepertinya kemarin lusa ketika lo mengantarkan gue ke kantor Putra terjatuh di mobil." Kim memperjelas, dirinya berbohong.
"Ah~ iya pantas saja kemarin aku mencarinya tidak ada, aku tidak sempat menemukan nya di mana-mana."
"Terima kasih ya Kim." lanjut Lian ber terima kasih.
Kim pun menganggukan kepala, lalu berpamitan.
......................
Ketika Kim hendak keluar dari ruang tamau tiba-tiba saja Nata datang, bagitu Nata melihat ada Kim dirumah Lian membuat dirinya merasa curiga! karena bagimana bisa Kim ada di sini bersamaan dengan Lian yang baru pulang dari hilangnya.
Pikiran Nata juga sudah kalut, dirinya menatap Kim dengan sinis begitu kepada Lian tatapan itu juga di berikutnya. "Kenapa ada Kim? " tanya Nata.
"Putra tenang lah dulu, lo langsung emosi gitu" Kim yang menyahuti lebih dulu sambil melihat tangan dan wajah marah Nata.
"Gue kesini hanya memberikan kalung Lian yang terjatuh di mobil, jadi... kemarin lusa Lian bantu gue nganterin ke kantor lo karena gue udah ngantuk banget dan akhirnya bertemu Lian di jalan, dan lo tau kan gue sama Lian adalah teman dari SMA jadi gue minta tolonglah dia (tanpa suara)" Kim menjelaskan semuanya juga dia berbohong hal yang sebenarnya kepada Nata, karena yang sebenarnya kalung itu terjatuh di pantai ketika malam itu mereka jalan bersama.
Setelah penjelasan itu Nata pun mencoba percaya, dan akhirnya Kim juga pergi dari rumah Lian. "Ya! gue gak bisa lama lama ada urusan. "
"Assalamu'alaikum" Lanjut Kim.
"Nata.... " Lian pun memeluk kekasihnya dengan kerinduan, dan sebelum Kim keluar dia pun menyaksikannya.
......................
"Kamu kenapa menghilang begitu saja? " tanya Nata dengan nada tingi, sambil duduk di taman depan rumah Lian, saat itu Nata bener-benar khawatir tentang kekasih yang tiba-tiba saja di kabar kan hilang! Apalagi sore itu badai.
"Nata...." Lian sambil menatap dan hal itu menyentuh kasih sayang Nata yang akhirnya memeluk sambil mengelus-elus kekasihnya.
"Aku tidak bermaksud membentak." jelas Nata.
__ADS_1