Cinta Karena Satu Alasan

Cinta Karena Satu Alasan
Berbohong Untuk Kebaikan


__ADS_3

Helikopter, kita masih melihat pemandangan Bukit Tulis yang begitu indah, sejuk, dan asri. Namun sayang hati ku berubah tak seperti bunga-bunga bermekaran yang menghampar di sebagai lahan Bukit Tulis. 


Tawa ku dan keceriaan ini hanya untuk membuatmu merasa lebih baik Nat, aku tidak mungkin merusak semua usaha kamu ini. Ketika Nata mendengar bahwa aku sangat bahagia dia tertawa sambil memeluk dari samping namun aku tahu jelas ada hal yang ditutupi. 


"Li, kita mau ke mana lagi?" Nata bertanya sambil membenahi duduk nya lebih tegak dia juga melepas pelukan dan melihat ke arah jendela sambil menunjuk sungai yang menghubungi danau hati. 


Dia tersenyum tipis dan menoleh ku seakan-akan mengajak untuk menyaksikan sungai juga danau hati. Danau hati itu… tiba-tiba saja mengingatkan aku kepada ba Liana dan dirinya.  Hari itu aku berdoa kepada semesta dan berharap mereka bisa mendapatkan jalan yang terbaik juga cinta. 


"Semoga mereka mendapatkan jalan yang terbaik, berikan cinta untuk keduanya aamiin …." berbisik di hati. 


Dan ketika aku mengingat hal itu, aku kembali mencoba memahami semuanya 'harapan' dan jalan yang semesta berikan untuk mereka berdua kenapa merka harus bertengkar selanjutnya baru semesta yang memutuskan jalan diantaranya ba Liana pergi selama-lamanya, dan Nata bertemu dengan ku?


Apa ini memang yang semesta berikan untuk Nata, dan aku adalah takdir cinta nya? Mungkin kah ba Liana disana bahagia melihat aku menjadi kekasih Nata, begitu hati ini memang sudah mencintai Nata. Mereka "Ba Liana maaf kan aku." hatiku berbisik.


"Li?"


Ketika aku mendengar Nata memanggil semua yang aku pikirkan telah hilang. "Ya kenapa?"


"Seharusnya gue yang tanyakan itu, lo kenapa sebenarnya?"


Aku tidak mungkin mengatakan hal yang senangnya (senyum tipis) jika aku mengatakan bahwa aku ragu dengan apa yang telah kamu ucapkan untuk menjadi kekasih ku, kemungkinan besar kamu akan kecewa bahkan apa yang kamu siapkan dengan indah ini akan menjadi kenangan buruk.


Aku tidak tahu apa kamu bener-bener sudah bisa mengendalikan emosi? Atau sebaliknya yang jelas aku tidak ingin membuat trauma kembali, karena tempat ini pernah menyimpan duka lara di hati Nata. "Gak papa Nat, mungkin aku hanya capek karena semalam banyak yang harus di lakukan hehe jadi aku sedikit diam."


"Yaudah habis ini kita kembali ya, sekarang kita menelusuri kota ini."


Aku pun tersenyum kepadanya. Tapi pikiran ku tentang hatinya terus muncul dan mengangu. "... tidak mungkin Nata tidak mengingat moment bersama ba Liana."


"Apa Nata... mencoba untuk menyembuhkan hatinya dengan membuat momen-momen manis di sini?"


"Apa aku hanya alat, sebuah pancingan agar dirinya tidak lagi fokus dengan ba Liana atau dengan semua kenangan nya itu?"


"Apa dengan waktu dua tahun seseorang bisa menerima kenyataan? Melupakan seseorang, aku saja tidak bisa melupakan nya bahkan sulit untuk mengalihkan apa yang sudah aku saksikan tentang mereka."

__ADS_1


"... Lian hentikan, tak perlu berlebihan memikirkan semua ini, ini tidak baik dan lo juga tau sendiri tidak ada yang bisa terlupakan. " lanjut ku sambil menghela napas dan kembali pada apa yang sedang terjadi.


......................


Sudut Pandang Putra Cahya Winata.


" Nata terima kasih ya" gue sangat senang melihat Lian kembali berseri, tak seperti tadi ketika di helicopter yang tampak seperti tidak nyaman, bahkan seperti ada hal yang dia sembunyikan.


Lian walaupun gue belum bisa mencintai lo sepenuh hati gue, akan tetapi ada janji di hati ini untuk belajar menerima kehadiran lo sebagai pengganti Liana.


"Sama-sama Li."


"Lo tahu, gue sangat bersyukur sekali akhirnya kita bisa jadi sepasang kekasih." lanjut gue dan menggandeng Lian ke mbali ke dalam cafe.


Ketika kita melangkah ke dalam cafe semua orang bersorak memeriahkan hubungan gue dan Liana, maksud gue Lian sambil bertepuk tangan.


" Selamat ya bos, akhirnya lo bisa sama Lian." ucap Aldi sambil berjabat tangan, gue pun tersenyum sambil menepuk pelan bahu nya.


"Lo juga segera deh jangan betah-betah jadi jomblo." ledek.


"Ya betul itu Al, lagian lo kan udah mapan...." lanjut Anggara sambil tersenyum gue juga melihat Anggara yang tersenyum bahagia sambil memeluk sahabatnya yaitu Lian.


"Selamat ya sayang... bro tolong di jaga hati nya." Anggara menoleh gue untuk berpesan dan menepuk pelan bahu ini, gue mengangguk sambil tersenyum tipis. Enatah kenapa gue sangat khawatir tentang apa yang dikatakan Anggara 'apa gue bisa menjaga hati Lian?' itu yang menjadi ketakutan.


Hari ini gue melihat orang-orang sangat bahagia, begitu dengan tantenya Lian sesekali memeluk Lian dan mengatakan 'selamat sayang' tapi nyatanya gue telah berbohong dan tidak sepenuhnya hati ini untuk Lian.


"Maaf gak gue semuanya, seharusnya gue tidak mengatakan hari ini. Tapi ini semua demi Lian juga beliau yang sangat berharap agar segera menikah dengan Lian." bisikan hati.


"Nat, kamu... kamu kenapa?" tanya Lian yang terlihat khawatir saat melihat wajah ini memerah dan air mata sudah menggendang, dengan segera gue mengusap sebelum menetes.


Gue tidak tahu harus mengatakan apa, rasanya tiba-tiba saja perih apalagi mengingat hal yang pernah terjadi di sini bersama Liana, kata-kata gue yang kasar, diri ini yang egois... kenapa gue sangat angkuh!


"Nat, lo kenapa?" Lian bertanya-tanya sambil memeluk gue, dirinya mengusap pungung ini agar lebih menenangkan.

__ADS_1


Gue memang sangat beruntung bisa mendapatkan Lian, dia sama persis dengan Liana yang selalu perduli di setiap kondisi gue. Hanya gue yang bodoh tidak pernah mengarti apa yang dia lakukan selama ini.


"Nat, jujur aja ada apa?" Lian kembali bertanya sambil menatap gue dengan serius.


"Gak papa Li, gue hanya terharu melihat semua ini... Gue merasakan hal tak pernah gue rasakan lagi. Terima kasih ya..." ucap gue tanpa menceritakan hal yang sebenarnya.


Namun memang gue patut syukuri semua ini, kehadiran wanita ini mengubah segalanya perlahan-lahan lebih baik.


......................


" Akhirnya impian selama ini mulai terwujud, semesta mengabulkan doa dan harapan ku, walaupun bukan aku yang ada di sisi nya."


"Begitulah semesta memang selalu mengabulkan permintaan, atau harapan seseorang dengan kemungkinan yang besar tanpa harus sesuai dengan apa yang di inginkan melainkan mengantikanya dengan yang lebih baik."


Seseorang tersenyum lebar sambil menyaksikan Lian dan Nata berpelukan, "Ya, pelukan itu terlihat hangat... memang tidak salah Nata memilih dia." dirinya kembali tersenyum.


"Kim..." seseorang itu memanggil laki-laki bernama Kim, dan dia pun segera mencari dari mana asalnya suara itu.


Ketika Kim melangkah untuk menemui seseorang yang memengil nya tiba-tiba saja Lian memanggil dengan wajah ceria.


"Kim..." Lian melambaikan tangan.


"Hai kawan, Congratulations to your relationship with Nata. " Lian pun tersenyum, namun dirinyaerasa ada hal yang aneh ketika mata Kim terus tertuju ke salah satu pintu ruangan.


"Ada apa Kim, kamu seperti sedang mencari seseuatu?"


"Oh, tidak! tidak ada apa-apa Lian."


"Oiya ini kado untuk mu, happy birthday juga."


Lian pun mengucapkan terimakasih, namun dirinya tidak lepas dan menatap pintu ruangan yang di lirik oleh Kim. "Apa aku akan percaya seperti yang di katakan Holly Black tentang kebohongan yang kamu katakan Kim." bisikan hati Lian sambil mempersilahkan Kim menikamati semua.


"Berbohong sampai Anda percaya, itulah rahasia sebenarnya dari berbohong." (Holly Black)

__ADS_1


Lian tertawa kepada dirinya sendiri yang juga berbohong kepada Nata, begitu dirinya menggeleng kan kepala karena merasa sangat lucu dengan hari ini yang penuh dengan rahasia. "Nata juga telah berbohong tentang perasaannya."


__ADS_2