Cinta Karena Satu Alasan

Cinta Karena Satu Alasan
Menenangkan Diri


__ADS_3

Selanjutnya... Lian pun mulai membuka kulkas. "Ah~ kenapa aku bodoh! Villa ini kan sudah tiga bulan tidak ada yang jaga." Lian baru sadar jika Villa nya sudah kosong beberapa bulan, dan tidak mungkin ada tanda tanda kehidupan di kulkasnya.


"Aku mau makan apa? " pikir Lian sambil menutup pintu, dia pun melangkah pergi dari dapur dan kini Lian sudah ada di luar Villa, namun dia masih belum memutuskan ingin makan apa sore ini.


"Makan apa ya? "


"Kira-kira yang enak makan apa ni? " dia bertanya-tanya, sambil mrnaiki si biru. perutnya sudah lapar dan tidak memaksa dirinya untuk terus memikirkan makanan apa yang enak di makan untuk sore ini!? Andai saja si perut bisa berbicara "sudah lah Li jangan banyak memikirkan makan apa! aku sudah lapar-lapar apalagi habis hujan begini!"


"Habis hujan makan apa ya?" Lian baru menyalakan mesin motornya.


......................


Di perjalanan Lian terpikirkan tentang "Me time." Beberapa hari ini mungkin aku akan menghabiskan waktu sendiri, waktu sendiri memang penting untuk ku dan kesehatan mental, hehehe ngomongin mental karena saat ini emosi ku naik turun! udah kayak main ular tangga. Waktu sendiri untuk melakukan hal yang aku sukai, dan waktu dimana menyendiri itu perlu! Ini akan membantu mengendalikan emosi juga sebuah relaksasi nyata.


Lian berhenti, sambil membuka helm. Tin Tin (Lian memberikan kelakson motor ke salah satu angkringan tempat makan) Wajah Lian tampak berseri-seri, sepertinya dia mulai menutupi segala rasa kesal atau amarah nya. "Om Robby... Om Melky" sapa Lian sambil tersenyum lebar kepada ke dua lelaki.


"Hey!" salah satu beranjak dari duduk nya dan menemui Lian, begitu sangat senang om Robby pun menepuk pundak Lian rasa bangga.


"Sudah lama tak kemari!"


"Ah~iya Lian? " om Melky baru sadar kedatangan Lian, bagitu dia pun berdiri menanti.


Lian pun memberikan salam kepada kedua om nya, rasa tidak percaya bahwa gadis kecilnya kini sudah tumbuh dewasa Melky terus memegang lengan Lian sambil memperhatikannya. "Udah besar saja kau!"


"Irma... " Panggil istri dari Melky.


"Ah apa sih pah" Irma keluar sambil membawa sayuran dan nampan setelah menghidangkan makanan kepada pelanggan. Irma masih tidak sadar jika anak kecil yang dulu kini sudah hadir di depan mereka, "Ibu.... " Lian menyapa sambil memeluk Irma.


Ibu Irma, Om Melky dan Om Robby sudah seperti keluarga Lian, apalagi dulu waktu dia kecil keluarga Anggara selalu membawa Lian kemana pun mereka pergi belibur, dan di suatu hari Lian gadis kecil itu pernah hilang ketika bermain di pantai dengan Anggara, begitu mereka lah yang menolong Lian dan merawat Lian dalam waktu yang tidak lama yaitu beberapa hari sebelum keluarga Anggara menemukan Lian.


Irma hanya diam dan merasakan hangat nya pelukan Lian seperti di peluk seorang anak, ya! Irma dan Melky tidak memiliki seorang anak begitu Irma juga tidak bisa mendengar dengan jelas jika orang-orang tidak berteriak di kuping nya. Irma dan Melky sudah seperti orang tua sambung nya setelah tante Sani.


"Siapa ? " tanya Irma kepada Lian, dirinya tidak ingat siapa anak perempuan yang sedang dia peluk.

__ADS_1


"Ini aku ibu Lian." Jawab Lian sambil menatap nya. Ibu Irma sumringah ketika mendengar nama Lian, dirinya baru sadar tentang gadis kecil yang pernah tinggal bersama.


"Kamu sama siapa? " Ibu Irma berteriak.


"Aku sendiri bu, sengaja ke mari karena aku rindu." Jawab Lian kembali memeluk.


Disana Lian dibtawari hidangan yang mewah, namun Lian menolak karena dirinya tiba-tiba saja ingin memasak sendiri, dan kedatangan nya juga untuk membeli beberapa bahan masakan seperti Ikan, dan sea food milik om Robby. Mungkin Lian harus membuat mereka kecewa karena datang hanya sebentar tapi Lian sudah berjanji besok akan datang kemarin dan menghabiskan waktu dengan mereka.


"Ah baik lah kami paham, kamu butuh waktu sendiri. " hanya melihat raut wajah dan mata Lian om Melky sudah paham, tentang kondisi putrinya. Ya! om melky memang bisa membaca pikiran.


......................


Malam pun tiba, Lian juga bergegas untuk segera pulang ke Villa nya yang lumayan jauh. Semakin malam cuaca semakin tidak mendukung begitu ketika Lian berpamitan gerimis mulai menghampiri dirinya di jalan. "Jangan sampai aku kehujanan lagi." ujar Lian sambil menanjapkan gas.


Ketika Lian datang dan melihat ke samping, ternyata Villa sebelah sedang ramai ada tiga mobil yang terparkir. Villa Anggaran memang sangat megah dan luas bahkan fasilitas nya sangat banyak, terus pemandangan pantai dan nyaman juga menjadi data tarik utama.


"Kim!" Ketika Lian mendengar ada seseorang yang memangik nama Kim, Lian langsung menoleh dan memperhatikan mereka.


"Apa benar disana ada Kim Aurora?" Pikir Lian sambil melihat kembali mobil yang terparkir.


Lian tidak lagi banyak berpikir, karena dia rasa hari ini benar-benar untuk istirahat, dirinya pun masuk ke dalam rumah mencoba masa bodo, namun sayang ketika Lian sudah menutup pintu dirinya penasaran dengan Kim, Lian pun mengintip dari jendela.


"Ngapain Kim ada di sini, apa mereka berlibur? "


.....................


"Na na na...." saat ini Lian sedang menikmati malam nya sendiri. Untuk menikmati semuanya Lian pun tidak lupa memutar musik-musik klasik yang ternyata suaranya bentrokan dengan musik yang di play tetangga sebelah (Kim dan teman-temannya) hingga membuat Lian merasa bising.


Lian yang sedang memasak ikan pun berhenti sejenak, dirinya keluar sambil membawa pisau besar dengan celemek yang terpakai. "Woy berisik!" Lian berteriak di depan mereka. Namun mereka tidak menghiraukan Lian yang sudah emosi... bahkan mereka mengajak Lian untuk minum bersama.


"Hay Nona manis!" Goda peria yang sudah mabok.


"Ayo kita bersenang-senang? " Ajak salah satu di antara mereka sambil merangkul Lian.

__ADS_1


"Hey! kurang ajar sekali kalian, lepas.... " pintar Lian sambil mencoba melepaskan rangkulan itu.


"Tidak mau!"


"Ih awas! dasar bau.... " Lian mencium bau alkoholnya.


Tak lama dan dirinya juga merasa sia-sia meminta mereka untuk tidak menyakakan musik dengan kencang karena semuanya sudah mabok, tanpa ijin dengan berani Lian mematikan musik itu dan mereka hanya bersorak-sorak kecewa. Lian hanya sersenyum sinis sambil berjalan menuju Villa nya tiba-tiba saja lengan nya di tarik oleh Kim.


"Li.... " Pangil Kim yang sadar juga tidak mabok.


Lian pun menoleh, dan kaget karena melihat Kim yang tapkanya biasa-biasa saja. "Kim? kamu...."


"Li kok lo ada di sini? " Kim penasaran.


"Aku hanya ingin sendiri. " jawab Lian melepas tangan Kim.


Lian pun kembali ke villa nya, namun dia pikir Kim tidak akan menemuinya ternyata itu salah Kim mengetuk pintu masuk dan akhirnya dia menungu Lian di luar sambil melamun.


"Ngapain sih Kim nunggu gitu kan aku jadi gak enak. " ucap Lian di dalam hatinya, tak lama dia pun menyuruh Kim untuk masuk kedalam.


Lian membuka pintu. "Ayo masuk!"


Kim pun menatap Lian dan tersenyum. "Terima kasih ya Li." Lian pun hanya mengangguk.


Baru saja melangkah masuk perut kim sudah keroncongan, dan hal itu membuat Kim menunduk malu. "Ayo kita makan bersama." Lian mengajak Kim makan malam bersama. Di meja makan Kim terlihat sangat kelaparan bahkan beberapa kali dirinya nambah, "Makan mu sangat enak" Kim memuji Lian.


"Makan lah yang banyak. "


Kim menganggukkan kepalanya. "Kenapa kamu bisa ada di sini, sendiri lagi? " lanjut Kim bertanya.


"Hanya ingin sendiri."


"Gue juga sama ingin menenangkan diri, tapi kawan-kawan menyusul! "

__ADS_1


"Akhirnya kita merayakan ultah gue di sini!" Lanjut Kim menjelaskan. Lian sangat lupa jika teman nya ini hari ini sedang berulang tahun.


Lian dan Kim tiba-tiba saja saling bertatapan. "Kenapa kamu sangat dingin? " Kim bertanya akan sikap Lian yang sebenarnya, walaupun Lian peduli tapi sikap nya sangat dingin wajahnya tanpa ekspresi.


__ADS_2