
Sudut pandang Eliza Bunga Berlian
Setelah Nata mendapatkan kabar bahwa nyonya sedang sakit, aku pun langsung ikut dengannya pulang ke Indonesia. Ketika di Quebec City aku melihat dia begitu panik bahkan dia langsung menarik lengan ini untuk segera pergi dari tempat.
Aku pun menahan dia, "Tunggu Nat, tenang dulu." enatah kenapa Nata malah tidak terima dengan ku seolah-olah aku melakukan kesalahan.
"Apa lagi Lian! Nonya sedang sakit lo mau apa? Jika tidak mau ikut dengan gue ya sudah?" bentak Nata.
"Aku ingin kamu hanya tenang dahulu." aku pun menjawabnya sambil memeluk dia agar lebih tenang, tak lama setelah itu aku memeberikan air mineral dan membawanya untuk duduk sejenak.
Tidak sia-sia aku pun berhasil membuat dirinya lebih tenang, di akhir dia pun berterima kasih, juga meminta maaf. "Lian terima kasih ya, gue lebih baik." ucap Nata lembut sambil menghela napas lega.
Tatap Nata, "Li, gue juga mau minta maaf karena tadi membentak lo." lanjut Nata, mendengar hal itu aku sangat tersentuh dengan sosok Nata yang berbeda. Dia tidak lagi tinggi hati bahkan mau meminta maaf kepada seseorang.
"Iya Nat, aku paham kok. Gak papa, yasudah kita berangkat ayo." ajak ku sambil menggandeng Nata, di sini aku juga melihat senyum Nata tidak bisa di pungkiri aku semakin mencintai Nata.
Dia berubah drastis, walaupun kadang emosi nya masih sulit di kontrol tapi perlahan dia bisa tenang jika selalu ada orang yang membantu dirinya lebih baik.
__ADS_1
......................
Sesampi di rumah sakit, baik aku juga Nata kita sama sama kaget karena nyonya masih di ruang instalasi gawat darurat (IGD). Kami sangat berharap nyonya bisa segera siuman. Kurang lebih dua puluh menit aku dan Nata menunggu akhirnya Nyonya sadarkan diri dan meminta untuk bertemu aku dan Nata.
Saat itu aku bahagia, tapi dibalik semua itu aku juga bertanya - tanya apa yang akan disampaikan oleh Nyonya. Di ruangan itu terlihat nyonya tampak letih, dia pun mererai tangan ku dan Nata seketika jantuk ku berdegup kencang enatah kenapa aku merasa tidak biasanya.
Perasaan ini aku tidak tahu? Aku tidak mengerti apa artinya... aku tersenyum kepada nyonya, begitu dengn nyonya yang tersenyum kepada kita berdua. "Tuan muda." ujar nyonya, ketika nyonya memenggal Nata aku pun menoleh kepadanya.
Perlahan-lahan nyonya mengelus tangan ku. "Lian, Nyonya minta kepada mu untuk menjadi menantu ku."
Aku memang mencintai Nata, tapi aku tidak bisa memaksa Nata mencintai aku yang dimana hatinya masih untuk ba Liana. Jika aku menikah dengan Nata apa Nata akan bahagia? Jika dia tidak bahagia bagaimana bisa dikatakan aku mencintai dirinya, jelas Nata akan merasa tersiksa begitu dengan ku, aku tidak bisa memaksa cinta.
"Lian?" nyonya memanggil ku kembali, aku sangat gugup sesekali kulihat kepada Nata, satukali aku juga melihat nyonya.
"Nyonya, kenapa Nyonya terburu-buru lihat Lian dia sangat terkejut." balas Nata sambil mengelus elus tangan nyonya dengan lembut.
"Aku a aku hanya meminta, biar dia menikah de dengan mu" Nyonya menjawab mulai kesulitan mengatur napasnya.
__ADS_1
Aku masih tidak tahu apa yang harus aku katakan aku kembali nenoleh kepada Nata. Nata menatap ku dan dia tersenyum. "Nonya ku, kamu sembuh saja dulu ya?"
"Jika memang nanti Lian adalah jodoh ku kita pasti akan menikah, tapi untuk saat ini... kita tidak bisa memaksa." Nata menjelaskan dengan pelan pelan penuh hati hati. Namun disana Nyonya hanya tersenyum dan mengatakan "Aku sangat berharap itu terjadi."
Melihat wajah yang penuh harapan itu aku pun mengatakan jika aku mau menjadi istri Nata. "Iya nyonya aku mau." jawab ku masih ragu, karena aku tidak mungkin menolak apa lagi ketika aku menyaksikan kondisi nyonya.
Nata pun menatap ku, seakan-akan dia mengatakan "Apa kah lo yakin dengan keputusan ini?" melihat tatapan itu aku hanya bisa tersenyum lalu melihat nyonya.
"te rima kasih Li Lian kamu sudah mengabulkan permintaan i ini."
"Lian, tolong cintai Nata." itu adalah kata-kata yang terakhir dari nyonya.
"Waktu kematian pukul 22. 30." ujar dokter, dan ketika itu aku hanya bisa memeluk Nata sambil menangis, begitu dengan Nata dia sangat bersedih.
Disini aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku tidak bisa mengatakan apa pun agar Nata tenang, karena aku tidak akan pernah bisa mengerti perasaan yang saat ini di rasakannya karena hari ini adalah bagian tersulit dalam hidup ketika menyaksikan seseorang yang di cintai telah meninggal. Di sini aku hanya bisa berdoa semoga Nata bisa diberikan ke kuatan, dan Nyonya bahagia di sana.
Aku berjanji selalau mencintai Nata seperti apa pun kelak, aku tetap mencintai dirinya. "Nata." ucap ku sambil mengusap punggung nya dan berpelukan.
__ADS_1