Cinta Karena Satu Alasan

Cinta Karena Satu Alasan
Makan Malam dan Kehawatiran


__ADS_3

Di jalan yang sepi, Lian dan Nata bertemu. Lian membawa dan mengerahkan Aldi kepada Nata dia pun memeinta Nata untuk menjelaskan apa modus dari tindakan tersebut. Akan tetapi kejadian itu tidak di jelaskan secara fakta oleh nya, Nata memilih berbohong. Di situasi itu juga terlihat gerakan-gerakan yang patut di curigai dimana Nata menjelaskan tanpa memandang Lian dan dia juga terlihat gugup sembari berpikir, jari tangan nya pun tak bisa diam begitu dengan postur tubuh yang seakan akan menunjukan ketidak jujuran. 


"Oh, Lo mau tau? Ya gue, gue memang (jarinya mengusap hidung lalu menggaruk bagian bawah kepala sebelah kiri) menyuruh… mm semua itu karena gue curiga sama lo." 


Lian hanya terdiam sambil memperhatikan gaya Nata. Karena Lian hanya diam saja Nata pun kembali berkata dan menegaskan agar Lian percaya. "Ya benar gue emang curiga sama lo, jika lo tidak percaya tanya saja sama dia tuh!" ujar Nata meyakinkan Lian. 


Aldi yang mendengar pernyataan itu harus dengan berat hati mengangguk. "Iya Li." 


Lian yang tidak mau ribet dengan si arogan itu pun harus pergi dan menerima alasan yang sangat ngambang, karena masih ada pertanyaan untuk apa Nata mencurigai dirinya, mengapa harus mencurigai, apa yang di curigai dari dirinya serta masih banyak pertanyaan lain, namun dikarenakan Lian juga ada janji makan malam dengan keluarga Anggara di Café Asteroid membuat dirinya harus pergi. 


Jam 17.56 WIB, Lian pun pergi tanpak mengatakan apapun. Langkah yang menjauh dari Nata itu membuatnya senang sekaligus khawatir, karena Lian pergi begitu saja setelah melihat jam di tangan. 


"Kenapa dia pergi begitu saja, dan apa yang akan di bicarakan mereka dalam pertemuan itu?" ujar Nata di dalam hati. Tak lama kemudian Nata menatap Aldi tajam dan kesal dia marah besar kepada Aldi yang tidak becus menangani Lian walaupun begitu dia harus menyimpan amarah itu dan memerintahkan kembali Aldi untuk mencari tahu apa yang di bicarakan Lian dengan keluarga Anggara. 


Nata sangat gengsi jika harus diketahui Lian bahwa dirinya cemburu dengan Anggara, dengan begitu dia terpaksa mengerahkan Aldi kembali. "Heh! Cari tahu apa yang di bicarakan keluarga itu." perintah Nata kepada Aldi, dengan segera Aldi pun bergegas. 


......................


...Mall Astroid 45...


Satu jam kemudian resepsionis belum mendapatkan kabar mengenai Lian, dan juga telepon Lian tidak aktif, hal itu membuat Anggara terlihat cemas dengan menghilangnya Lian secara tiba-tiba. "Li, lo dimana sih?" ujar Anggara sambil memikirkan keputusan apa yang harus diambil, apakah dirinya harus memberitahu keluarga dan tante Lian bahwa sepupu nya hilang? Atau menunggu beberapa menit sebelum makan malam di mulai. 


Anggaran pun kembali mencoba menghubungi Lian, dan setelah beberapa detik akhirnya pangilan Lian berdering yang menandakan panggilan itu masuk hingga kemungkinan Lian mengangkat telpon. 


"Ayo dong angkat!" tak lama setelah beberapa kali Anggara mencoba menghubungi Lian, akhirnya Lian hadir di depan Anggara dengan wajah lelah. 


"Li? Astaga! Lo kemana aja sih, bikin gue panik tau gak sih." melihat Lian yang ada di depan nya dengan kesal dia menjelaskan kecemasan nya dengan emosi. 


"Lo… kenapa lelah gini? Berkeringat lagi, katakan apa yang terjadi Li?." 


Lian hanya menggeleng kepala sambil mengambil dress nya yang di pegang Anggara. "Tunggu Li, lo belum jawab gue?" 


"Nati." jawab Lian, lalu dia pun pergi untuk berganti pakaian. 

__ADS_1


......................


...Cafe Asteroid ...


Lian dan Anggara datang di waktu yang pas saat semua hidangan hadir, serta irama dari alat musik itu pun menyambut kedatangan mereka. Ya! Malam itu membuat Anggara dan Lian pun bertanya-tanya tentang mereka yang harus makan malam dengan sangat mewah dan tidak biasanya. 


Lian dan Anggara saling menatap, dan mereka sama-sama menggelengkan kepala. "Gue tidak tahu, ini tempat dan embel-embel nya mereka yang pesan." bisik Anggara kepada Lian. 


Seketika mereka berdua khawatir dengan acara ini, mereka takut jika makan malam ini memiliki tujuan yang lain, karena semua dekorasi melambangkan keromantisan. "Apa lo merasakan apa yang gue rasa?" Anggara kembali membisiki. 


"Maksudnya?" jawab Lian. 


"Gak enak perasaan nya, lo duluan sana biar merka tidak berpikir hal lain." jawab Anggaran sambil meminta Lian untuk pergi lebih dulu, dengan segera Lian melangkah mendahului. 


Betapa bahagia Nyokap dan Bokap Anggaran melihat Lian yang sudah hadir, dan melihat tampilan Lian yang berbeda dari biasanya membuat mereka termasuk tantenya takjub. 


"Hai sayang malam ini sangat cantik." puji Nyokap Anggara. 


Lian pun tersenyum, "Itu dia…." jawab Lian sambil melihat ke arah Anggaran. 


Ketika mereka makan malam, Aldi datang dan terus melihat apa yang sedang terjadi diantara mereka. Dia juga membayar pelayan cafe untuk memasang alat yang ia pinta dimana cctv dan rekaman suara terpasang di dekat meja yang mereka pesan, dengan begitu Aldi juga Nata bisa mendengar sekaligus mengetahui gerak-gerik mereka secara langsung. 


40 menit kemudian, setelah selesai menikmati hidangan itu betapa bahagia nya mereka semua. Dimana apa yang menjadi khawatiran Lian dan Anggara tidak terjadi, tidak ada perjodohan diantara mereka dan memang makan malam ini hanya untuk mempererat persahabatan antara Anggaran juga Lian serta mendekatkan tali silaturahmi antar tante nya dengan orang tua Anggara. Namun kedekatan itu menjadikan Nata masih merasa cemburu apalagi ketika melihat Lian yang sangat peduli kepada Anggaran. 


"Oiya Sayang, jangan lupa ya anterin tante Lian dulu." sahut nyokap Anggara. Anggaran pun tersenyum kepada mami. "Ya harus dong mam, ah mamaih masa Angga membiarkan." jawab sambil mengajak Lian juga tantenya ke parkiran.


......................


Di perjalanan pulang, Anggara melihat mobil tua yang terparkir di sebuah cafe di pinggir jalan yang membuat dirinya tak henti memperhatikan plat mobil." Kenapa Ga? Kok dari tadi kek liat sesuatu yang heran?" tanya Lian penasaran.


"Hah? Oh enggak kok." Anggara yang tadinya membawa mobil dengan santai tiba-tiba saja menaikkan laju kecepatannya. Lian mencoba memahami apa yang sedang di sembunyikan oleh sahabat nya itu, dan dia juga memikirkan untuk pergi ke cafe yang tadi di pandangan lama oleh Anggara.


"Apa pun yang kamu sembunyikan, aku tahu itu Ga." ucap didalam hati sambil melirik Anggara.

__ADS_1


......................


Setelah Anggara sampai mengantarkan di depan rumah Lian, dengan cepat Lian pun mengatakan terima kasih dan segera pergi membuak pintu gerbang untuk pergi ke garasi dan membawa si kuning keluar." Li, kamu mau kemana?" tanya tantenya yang baru saja hendak menutup gerbang rumah.


"Jangan di tutup."


"Lian mau pergi dulu benatr, jangan khawatir... Satu jam lebih Lian udah sampai di rumah ya tan...." lanjut Lian sambil mengendarai motor vespa.


......................


Di perjalanan menuju cafe, Lian harus mendapatkan kesialan dimana motor nya mogok dan hal itu membuat dirinya harus terpaksa mencari angkutan umum yang sangat jarang melintas. Jalanan yang sepi membuat Lian juga harus waspada dengan para perampok! Ya benar saja tak lama beberapa menit tiga orang pemuda yang mabuk berat mendekati Lian sambil membawa-bawa botol.


"Hai manis...." mereka bertiga muali menggoda dan mengangu ke yaman Lian, hingga dia harus berhadapan untuk mengajar para pemuda itu.


"Diam! Jangan gangu Saya." ucap Lian merasa percuma, karrna mereka pasti tidak akan mendengar apa yang di ucap kan nya. Lian pun mencoba menjauh dan berlari akan tetapi mereka ber tiga mengejar dan ada salah satu diantara mereka melemparkan botol minuman yang hampir saja mengenai lengan Lian.


Walaupun tidak mengenai nya, tetap saja Lian harus terluka karrna menginjak salah satu pecahan beling yang berserakan di jalan. Saat itu Lian tidak bisa berlari kencang dan salah satu cara adalah menghajar mereka dengan jurus-jurusnya.


Para pemuda itu pun berhasil di hajar oleh Lian, akan tetapi dia harus merintih kesakitan bahkan darah Lian sudah banyak yang keluar. "Gila memang, kenapa jadi seperti ini." ucap nya sambil duduk di trotoar. Tak lama Lian duduk istirahat datang lah mobil Tua yang tidak lain adalah Gala.


Tin Tin (klakson mobil) "Lian?" panggil Gala dengan terkejut melihat apa yang dia lihat. Dengan segara Gala turun dari mobil dan membawa Lian ke dalam mobil nya.


"Lo kok bisa ada di jalan sama pemuda itu?" Lian terdiam sejenak dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Dia pun tersenyum lebih dahulu. "Ya mereka mengangu ku, aku tadi mau beli obat untuk tante terus... Motor mogok dan datang mereka, aku lari ninggalin menyelamatkan diridan... Ini yang terjadi"


"Ya Tuhan Lian, untung aja lo masih bisa selamat." Gala dengan segera membawa Lian ke klinik terdekat.


"Terima kasih ya Ga, kamu selalau ada ketika aku kesulitan." ucap Lian.


......................


Kelinik, "Jika bos tahu, pasti cemburu sudah lah masa bodo gue kan hanya menjalankan perintah" ujar Aldi sambil mengintai Lian dan Gala di balik blosure.


"Wah wah wah, sepertinya Gala dan Lian cocok juga!" lanjut Aldi sambil melihat kejadian dimana Gala memangku Lian ke luar dari klinik.

__ADS_1


__ADS_2