
Sudut pandang Eliza Bunga Berlian (Lian), aku melihat sosok Nata yang lain dari biasanya, dia terlihat sangat tegar! Walaupun kondisi ini sangat berat, aku juga tahu banyak sekali cobaan yang diberikan semesta kepada Nata, samapi dia depresi?
Seseorang seperti Nata yang terlihat adalah kehidupan yang megah, kehidupan yang terlihat tenang, tapi jika di lihat bersama hidup nya penuh dengan cobaan. Ya! Memang di setiap perjalanan kita ada saja rintangan, dan apa yang membuat Nata terlihat sangat tegar untuk hari ini?
Bahkan Nata menyapa ku dengan senyuman yang indah. "Halo Lian, (tersenyum) gue berterima kasih karena lo hadir di sini menemani." lagi-lagi sosok Nata terlihat bersinar, ucapan terima kasih menghilangkan kesombongan juga ke angkuhan dari dirinya.
Di sini dia terlihat begitu berbeda, sorry aku kembali memuji dirinya karena siapa yang tidak senang melihat perubahan yang baik dari seseorang. "Iya Nat, sama-sama."
"Kamu sudah sarapan?" aku pun lanjut bertanya sambil membawa bekal makanan, hehehe aku tahu di sini banyak sekali hidangan tapi bisa saja Nata tidak napsu makan karena kesedihan.
Apa reaksi dari Nata saat aku bertanya mengenai sarapannya? Dia malah tertawa sambil mengacak-acak rambut depan ku. "Gue tahu gue sedang dalam kesedihan, gue berduka tapi tidak mungkin harus berlebihan bukan kah begitu?"
Wah... Sangat terkagum-kagum ketika aku mendengar hal itu keluar dari Nata, dia tidak seperti dulu yang aku kenal! Apa dia belajar tentang kejadian dulu ketika dia harus ditinggalkan oleh wanita yang dia cintai.
" Hey! Tatapan lo biasa aja kali?" lanjut Nata membuat aku tersadar, aku pun tersenyum dan memberikan kotak makan. "
" Terima kasih karena lo peduli sekali, Li... Gue banyak belajar dari lo dan dari kehidupan yang sudah gue lewati sebelum hari ini. "
" Jika gue terlarut dalam kesedihan, gue akan menjadi sakit! Mungkin pertama-tama kehilangan semangat, nafsu makan berkurang atau bisa saja mental kita yang sakit. Perlahan-lahan itu pasti terjadi, bahkan menggangu segala galanya." Nata menjelaskan dengan serius dia juga menatap ku dengan penuh.
" Gue paham semua ini akan terjadi kepada siapa pun, kita akan di tinggalkan sekalipun orang yang kita cintai, semua keindahan di dunia ini tidak ada yang abadi. "
__ADS_1
Aku pun setuju dengan dirinya, aku menganggukan kepala sambil meraih tangan nya dan kulihat mata nya saat aku menatap sorotan di mata Nata tidak bisa di bohongi, dia memang berduaka tapi dia menerima dengan ikhlas di hatinya sampai aku hanya bisa melihat aura aura fositif dari dirinya, duka lara itu ada tapi tak bisa aku liaht! Dia tersenyum.
"Tak perlu di hiraukan, kita ke pemakaman sekarang." ajak Nata menggandeng tangan ini. Ini adalah ke ajaiban tuhan saat kita percaya semua akan baik-baik saja, Nata pun sekarang baik baik saja.
Aku mulai kahwatir tentang kondisi mental nya, karena dia masih dalam pengontrolan obat-obatan.
Aku tidak lepas menoleh Nata. "Kenapa? Kamu tidak percaya bahwa gue baik baik saja?"
"Ya, aku kahwatir." ketika aku mengatakan itu, Nata dengan segera merangkul ku dari samping dan mengatakan dengan penuh percaya.
"Gue sudah baik baik saja, tapi gue juga minum obat itu kok karena gue ingin menjaga kesehatan gue untuk orang-orang yang sayang."
"Sudah, tentu saja aku sudah sarapan makanya aku ingat apa kamu sudah makan pagi atau belum dan tidak nafsu." jawab ku sambil membuak pintu mobil.
"Iya Lian, sarapan itu penting! Untuk memberikan energi kepada kita biar tubuh sehat, otak kita juga bisa fakus dengan aktivitas yang sedang di jalankan."
"iya betul sekali, mood kita juga bisa terjaga."
"Nice, anak pintar!." jawab Nata sambil memuji ku seperti anak kecil.
"Itu Nat, jadi kamu juga jangan susah makan ya, kalau lagi sakit ni. Kamu harus makan walupun tak enak makan karena di dalam makanan itu ada energi yang tersimpan." Tiba-tiba saja aku ingin mengatakan hal itu, enatah lah pembicaraan kami mengalir begitu saja, aku juga senang melihat Nata tanpa menyimpan rasa sedih nya.
__ADS_1
Aku juga yakin Nonya dan ba Lian disana pasti ikutan tersenyum bahagia melihat Nata yang ceria, bahkan dia sangat menjaga kesehatan nya.
......................
Pemakaman, ketika sampai di pemakaman Nata mengatakan kepadaku tentang hal tadi "sarapan" ya itu di bahas ulang oleh Nata setrlah kami selesai menaburkan bunga dan doa, Nata mengajak aku untuk duduk sebentar.
Di kursi dekat dengan pemakaman nyonya, Nata mengatakan tentang penyebab kematian dari Nonya karena dia selalu menolak untuk sarapan yang dia makan saat pagi hari hanyalah minum teh manis, itu semua sebab nyonya tak ingin jika tubuh ideal nya menjadi berubah.
Nyonya mengapa beberapa penyakit yang disebabkan karena telat makan, dia juga sering tidak sarapan padahal dulu nyonya mengingat kepada anak-anaknya tentang sarapan itu penting untuk kesehatan tapi, Nonya sendiri tidak sarapan.
Dia tahu tentang itu. Nata anak nyonya sudah sering berdebat tentang masalah ini, tapi Nonya tidak mau kalah dia terus beralasan dan berargumen, karena Nata tidak ingin ada pertengkaran dia pun berhenti untuk mengatakan apa pun kepada nyonya dan perlahan tubuh nyonya muali di serang beberapa penyakit.
Ketika nyonya di kabarkan menderita penyakit maggh kronis barulah dia sadar dan mulai membiasakan dirinya sarapan, tapi setelah sembuh dan bertemu dengan laki-laki bernama Aryo dia muali berhenti sarapan sebab Aryo terus memuji tubuh ideal nyonya yang dulu dan mengatakan bahwa dirinya sangat suka.Nonya pun termakan apa yang dikatakan pak Aryo hingga dia kembali sakit.
Ketika di rumah sakit dokter mengatakan ada beberapa penyakit yang ada didalam tubuh Nonya akibat pola hidup yang tidak sehat. Sering tidak sarapan membuat sel sel tubuh tidak mamapu merespon insulih sehingga nyonya mengidap diabetes tipe 2.
Selain itu Nyonya masuk ke rumah sakit karena mengalami penyumbatan arteri jantung atau aterosklerosis selamat yang disebabkan oleh timbunan lemak, kalsium, dan peradangan di pembuluh arteri, hingga terjadi sumbatan arteri lalu menjadi keras dan menyempit. Akibatnya, terkena serangan jantung dan stroke.
Setelah Nata menjelaskan semuanya dia pun memeluk ku dengan erat. "Mari kita menjaga kesehatan, gue tidak ingin melihat seseorang menderita." Itu yang dikatakan Nata, ya! memang Nata pengasih, dia sebenarnya laki-laki baik.
Pengalaman hidup Nata membuat Lian bisa berpikir terbuka, dirinya juga ikut belajar di setiap langkah nya bersama Nata. Laki-laki yang kini semakin hari semakin baik di matanya.
__ADS_1