Cinta Karena Satu Alasan

Cinta Karena Satu Alasan
Kita Bebas Tidak Ada Ikatan


__ADS_3

Kabar gembira untuk semuanya karena Lian kini bisa pulang dari rumah sakit dengan kondisi yang baik, dan hari ini Nata datang untuk menjemput Lian. Namun karena Lian tidak tahu jika Nata akan menjemput dirinya dia pun pergi lebih dahulu, dirinya merasa bahwa mereka sudah tidak perlu memikirkan perasaan satu sama lain, selain itu sebelumnya Nata tidak mengatakan jika ingin menjemput, jadi wajarlah jika Lian memutuskan untuk pergi tanpa menungu.


“Romantis sekali Nata, Teddy akhirnya kita bisa pulang dari sini ya.” ujar Lian sambil membawa boneka beruang. Dia pun melihat ke sekeliling ruangan yang mana penuh dengan momen bersama Nata, namun dirinya masih tidak tahu apa kah ini adalah bentuk cinta nya Nata? Atau sebaliknya... Nata memberikan ini semua karena angan-angan bukan cinta.


Dia mengingat ketika pertama kali Nata datang dan saling melepas rindu bersama berpelukan penuh haru tangis bahagia. “Angan-angan bukan cinta, tak perlu lagi kau hiraukan semua. Sudah jelas dan kita bebas melakukan apa yang di inginkan.” lanjut Lian dan menutup pintu kamar, di luar sudah terlihat Tante nya dengan sepupu (Bubu) dan suasana itu terlihat bahagia. Sorot mata diantara mereka dan juga senyum yang lebar, di sana Lian pun memeluk tante juga Bubu si kecil yang mengemaskan.


Mungkin hanya beberapa menit saja, ketika Lian dan keluarganya masuk ke dalam taxi Nata pun datang bersama dengan buket bunga dan beberapa makanan di tangan kanan nya. Wajah Nata terlihat sangat gembira bahkan dirinya juga mungkin tidak sabar bertemu dengan Lian yang terlihat dari cara dia berjalan bahkan sempat berlari kecil.


Namun sayang....


Nata terlambat datang, dan hal itu membuat dirinya sedikit kecewa karena tidak datang lebih awal."Ok tak apa-apa." pikir Nata, dirinya masih punya kesempatan untuk bertemu, dengan mencari tahu keberadaan Lian dari tante Sani.


Setelah beberapa saat, wajah Nata yang sumringah kini kembali menjadi masam, Ya! Lagi-lagi harapan itu sinar sebab Nata tidak bisa menghubungi tante Sani. Kini Nata terdiam sejenak dia mencoba berpikir “Ke mana harus pergi.”


"Berpikir tenang!"


"Ok!" lanjut Nata sambil dirinya berjalan.


......................


Alur cerita mundur, sore hari ketika Nata dan Lian saling bercengkerama dokter pun datang memberikan kabar gembira bahwa Lian sudah boleh pulang mulai besok pagi, di sana pun mereka berdua saling berpelukan dan membicarakan beberapa tempat yang bagus untuk di kunjungi seperti Quebec City yang merupakan tempat romantis di salah satu negara itu, Lian berharap bisa mengunjungi tempat itu sebelum pergi kembali ke Indonesia. “Pesona kota tua yang indah bak di Eropa (tersenyum memukau) apalagi di sore hari kita bisa berjalan-jalan menikmati suasana romantis, ya! Jalan-jalan di tepi sungai St. Laurence.”


“...selain itu kita juga bisa bersantai di cafe-cafe kuno.” lanjut Lian sambil membayangkan indahnya kota tua, sejuk nya di tepi pantai, dan romantisnya pemandangan jingga di suangai St. Laurence. Saat itu Nata hanya tertawa kecil melihat Lian yang sedang tersenyum-senyum.


“Ya... nanti kita ke tempat itu.” Jawab Nata.

__ADS_1


“Ah... kalau kamu bagaimana ?” tanya Lian sambil menoleh kepada Nata.


“Gue, ke mana ya?” Nata menjawab kebingungan, dia pun berpikir tentang tempat yang romantis untuk di kunjungi oleh sepasang kekasih. Ketika itu Nata pun tertawa malu dirinya menggelengkan kepala.


“Kenapa Nat, apa yang kamu pikirkan?” Lian bertanya penasaran, dia juga ikut tertawa.


Nata pun mengaruk kening sambil tersenyum malu. “Tidak ada apa apa Lian, hanya pikiran ini tidak untuk di ceritakan.”


“Sekarang lebih baik lo istirahat, karena gue juga harus balik ke hotel untuk melihat beberapa data di pc.” lanjut Nata sambil mencium kening Lian untuk berpamitan.


......................


"Gue harus segera pergi dari sini." ujar Nata mengendarai mobil nya.


Nata melihat ke segala arah, dan sangat beruntung karena hari ini pengunjung tidak begitu ramai. Sehingga dia bisa dengan mudah mencari Liana, Nata juga meminta bantuan kepada teman-teman nya yang ada di Kanada untuk mencari Lian dan keluarganya di sekitar Quebec City juga pinggir sungai St. Laurance.


Namun sayang setelah kurang lebih satu jam mereka mencari Lian memang tidak ada di tempat itu. "It seems that Lian is indeed not here. "


"Yes, friend thank you very much for your help." mereka pun berpelukan dan berpamitan.


Kini Nata mencoba menghubungi kontak tante Lian, lagi-lagi nomor tidak bisa di hubungi. "Sial! Kemana sih lo Li?" Nata sambil emosi, dia pun mengelus dada agar bisa lebih tenang.


"Li, lo dimana sih?" Nata kembali bertanya.


"LIAN! LO DIMANA LI!" teriak Nata sambil menertawakan dirinya yang bertanya-tanya sendirian.

__ADS_1


"Kita bebas, tak perlu khawatir walaupun aku mencintai mu" Nata terngiang ngiang dengan pernyataan Lian kemarin. Dirinya pun kembali tertawa, namun setelah itu dia terlihat frustasi.


Senja pun muali terlihat jingga, kini Nata mulai menelusuri pinggiran sungai. Dia berjalan sendirian. Tak pernah di sangka-sangka jika selama satu hari ini dirinya tidak lagi meminum obat. "Benar-benar sudah sembuh kah gue?" kini Nata pun tertawa bahagia.


"Nata?" pangil seseorang dari arah depan sambil melambaikan tangan.


Betapa bahagianya dia melihat Lian yang ternyata hadir di depannya, namun ketika dia hendak berlari dirinya pun mengingat tentang penyakit jiwanya yang bisa saja semua ini adalah halusinasi, Nata pun diam berdiri.


"Nata?" Lian kembali memanggil sambil melambaikan tangan dan tersenyum tepat di hadapan nya dengn jarak kurang dari satu meter.


"Lian?" tanya Nata masih tidak percaya.


Lian pun menganggukan sambil meraih tangan Nata. "Iya Nat ini aku, kamu tidak halusinasi."


Mendengar hal itu Nata pun langsung memeluk Lian sambil memangku nya bahagia.


"Lian, dia siapa?" tanya Nata sambil menurunkan Lian.


"Tidak mungkin jika laki-laki itu adalah pacarnya, dia kan hanya mencintai aku? Tapi siapa dia, atau jangan-jangan Lian pendekatan dengan orang itu. Ah... itu tidak mungkin!" pikir Nata di dalam hatinya sambil bertanya-tanya.


Lian pun menoleh ke samping dan merangkul orang itu dari samping. "Ah iya kenalin ini...." sebelum Lian memperkenalkan sosok laki-laki di sampingnya, tiba-tiba saja Nata mendapat pangilan mendesak dari Nonya yang akhirnya menghentikan pembicaraan itu.


"Nonya?" Ujar Nata yang barubsadar dirinya mendapatkan beberapa panggil masuk, begitu juga dengan beberapa pesan.


Nyonya di kabarkan sedang sakit, kabar itu membuat Nata terlihat sangat panik! sesekali dia mencoba mengatur napas untuk lebih tenang.

__ADS_1


__ADS_2