
Di taman setelah joging, Nata dan Lian kini duduk di kursi sambil memantau Lisa juga Kim. Sebelum akhirnya mereka berdua datang menemui Nata dan Lian pun mencoba mengkomunikasikan apa yang sudah di dapat, namun ketika Lian bertanya kepada Nata tentang apa saja yang bisa di simpulkan dari beberapa kejadian Nata malah terdiam, dan sering melamun hingga akhirnya Lian memutuskan untuk tidak membahas sekarng.
"Nat, kita bahas tentang Lisa jangan di tempat ini... mungkin setelah pulang (senyum tipis) soalnya udah siang juga ni." ucap Lian berpendapat, dia mencoba mengalihkan pikiran Nata yang mungkin saja sekarang sedang tidak baik jika membahas tentang Lisa yang mirip dengan ba Liana.
Nata hanya menganggukan kepala, Lian yang melihat Nata tiba-tiba tidak ada gairah mencoba menghiburnya dengan membawa mencari pedagang mainan. Enatah apa yang akan di lakukan Lian itu masih tandanya? Yang jelas di dalam pikiran Lian tidak hanya anak kecil yang butuh hiburan dari pedagang permainan.
" Sayang, kita cari pedagang mainan yuk?" tanpa persetujuan Nata, dia pun menarik lengan pacarnya untuk berdiri.
Tidak lama, Nata yang tidak ingin membuat keributan di dalam hubungan yang baru saja seumur jagung dia pun mengikuti kemana Lian akan membawanya. Sesekali dia harus memaksa kan diri untuk tersenyum.
"Aku tahu kamu tidak tulus tersenyum, bahkan aku tahu jika kamu pasti sedang bingung dengan kejadian tadi... kamu sangat peduli dengan Lisa yang mungkin saja kamu akan mencintai nya."
"yang mungkin saja suatu saat nanti kamu akan kembali dengan Lisa, jika itu adalah ba Liana aku akan baik-baik saja... aku akan menerima nya." Lanjut Lian berbicara di dalam hati sambil berjalan bergandengan dengan Nata mencari tukang mainan.
Lian sangat senang ketika melihat ada tukang mainan yang tidak jauh dari posisi mereka, saking antusias nya dia sampai menepuk lengan Nata berkali-kali. Tidak di duga hal itu ternyata bisa membuat Nata sadar dengan semua pikiran kalutnya, dia pun tersenyum dan menggeleng-geleng kepala karena heran dengn Lian yang membawa dirinya ke tukang mainan bak anak kecil saja.
Namun di balik semua itu juga dia kembali tersadar! Bahwa yang harus dia cintai adalah Lian, wanita pilihan nyonya yang baik hati dan selalu bisa membuat dirinya bahagia.
Ketika Lian menoleh pandangan nya kepada Nata tiba-tiba dia terkesima, Nata yang tadi diam tanpa ekspresi kini berubah tersenyum denga tatapan tulus seperti yang diharapkannya. "Nata, aku sangat suka dengn cara kamu memandang juga tersenyum...."
"Ah gue gak senyum." jawab Nata mungkin merasa malu, dia juga mengalihkan pandangan nya ke segala arah.
"... cie salting."
"Hus! Apaan sih, ngapain juga gue salah tingkah."
"Lo kan pacar gue!" lanjut Nata sambil kembali menatap dengan tajam tanda serius.
"Pacar gue? Berarti Nata udah kembali sadar dong mmm kalau begitu, Nata benar-benar mengakui aku dengan tulus, hehe duh senang banget hari ini." berbicara di dalam hati Lian. Di posisi sekarang ketika hati Nata kembali berbunga-bunga bukan lagi Lian yang mengajak melainkan Nata lebih dahulu melangkah ke tukang mainan sambil meraih tangan Lian yang sempat terlepas.
Setelah mereka membeli gelembung balaon, mereka pun memainkan selayaknya anak kecil yang bahagia. Lian meniupkan gelembung balon begitu Nata juga ikutan meniup, mereka bersama-sama menikmati suasana itu sambil menuju ayunan. Hari ini Eliza Bunga Berlian mengingatkan Nata kepada masa kecilnya bersama dengan Nonya. Hari itu sama dengan apa yang di lakukannya sekarang, dimana nyonya juga membelikan gelembung balon lalau bermain ayunan di taman.
__ADS_1
......................
Tidak selang beberapa waktu, Nata yang mendengar suara tawa mirip dengan Liana langsung menoleh ke arah belakang dan dirinya melihat Lisa bersama Kim. Mereka sangat terlihat bahagia, kebahagiaan itu enatah kenapa membuat Nata menjadi kembali tidak bergairah. Dia tidak suka melihat kemesraan diantara Lisa dan Kim, karena dia sudah tertarik kepada Lisa yang jelas-jelas seperti Liana.
"Memang hati tidak bisa di bohongi, dan gue jelas sekali masih menyimpan perasaan untuk Liana walaupun sedikit demi sedikit gue mulai menerima Lian."
"Setiap kali gue melihat lo ada dalam bayang-bayang seseorang, hati kembali mencintai lo." lanjut Nata berpikir, berbicara di dalam hati.
Lian sangat kuat dengan feeling, begitu dia bisa membaca apa yang sedang terjadi kepada Nata, Lian mengerti dan memahami di setiap perubahan yang di tampilkan dari raut wajah.
"Nat, aku paham... kenapa kamu bisa menjadi kembali diam seperti ini." ucap Lian beranjak dari ayunan kini berada di samping Nata dengan menggandengnya.
"Hai kalian...." Lisa melambaikan tangan penuh ceria sambil membawa dua kotak makan.
Lian pun menyambut dengan ceria kembali, "Halo... kita ketemu di sini."
"Ini gue bawa makanan, tadi ada yang jualan nasi sekalian aja takut nya kalian belum sarapan nih."
".... Ah terima kasih, tapi gak usah gue sama Lian udah makan" jawab Nata nampa kesal.
"Sayang?" Lian mencoba memanggil Nata dengan lembut, karena saat ini terlihat sekali Nata sedang moody. Apalagi ketika menjawab Lisa tampak kesal.
"Apa?"
"Kita pulang yuk, solanya aku harus siap-siap untuk mengantar Bubu ke tempat les." Jawab Lian kepada Nata dengan lembut, dirinya juga mencoba mencari alasan yang pas agar tidak menyinggung keadaan sekarang.
"Kim, kita harus pulang sekarang... gak papa kan?" lanjut Lian pun bertanya kepada Kim untuk berpamitan.
"Oh iya... gak papa lah kita bisa bareng lagi kapan-kapan, thanks juga lo udah mau joging bareng, bantu Lisa, yah mungkin kita bisa rencanakan pertemuan berikutnya." jawab Kim tersenyum.
"yaudah kita pamit ya... Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam, hati-hati di jalan...." mereka pun melambaikan tangan berpamitan.
......................
Di dalam mobil, Nata masih terlihat badmood wajahnya masih di tekut. "Lo bisa pulang sendiri gak?"
Secara tiba-tiba Nata berhenti di tengah jalan dan mengatakan hal itu kepada pacarnya, dia terlihat sangat kesal tanpa kejelasan hanya karena tidak terima melihat kemesraan Lisa dan Kim. Melihat semua ini Lian tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi, karena... begitu dirinya ingin mencoba menenangkan, Nata menolak bahkan menghempas tangan Lian dengan kasar ketika Lian hendak memegang.
"Gue gak butuh sentuhan!"
"Gue ingin sendiri!" lanjut dengan nada tinggi.
"Nat, aku khawatir... ijinkan aku ada di samping mu dan temani kamu yah?" pinta Lian dengan penuh kepedulian.
"GAK PERLU LIAN, GUE BISA JAGA DIRI, SEKARANG TURUN! ATAU GUE PAKSA LO TURUN!"
Suasana itu sangat tegang dan penuh emosi, bahkan ini kali pertama Lian mendapatkan perlakuan secara kasar dari Nata sampai dirinya gemetar takut terjadi seseuatu kepada Nata, namun dia tidak bisa bersikap tegas bahkan memaksa kan diri agar tetep menemani Nata yang tiba-tiba saja marah kepadanya.
"Jika aku membalikkan kemarahan ini kepada Nata, tentang sikap yang tidak seharusnya... mungkin itu akan berdampak lebih buruk kepadanya.
" Jujur aku khawatir tapi harus gimana? Mungkin kamu memang butuh waktu sendiri."
"BENGONG LAGI, LO BUDEK! ENGAK KAN LI UDAH DEH TURUN TURUN...."
"Iya sayang ku... aku turun ya, aku percaya kamu bisa melewatinya, ok hati hati di jalan." Lian pun terpaksa turun dari mobil.
Ketika Lian membuka pintu mobil Nata pun mengatakan tentang waktu. "Katanya waktu menyembuhkan segala hal dalam hidup, bersabar dan semuanya akan baik-baik saja."
Mendengar hal itu Lian pun menoleh kepada Nata. "Ya ini hanya masalah waktu saja, perlahan-lahan semua akan berubah ketika bertindak!" Lian membalas.
Mobil Nata pun melaju dengan perlahan menjauh dari Lian."LOVE YOU NATA!" teriak Lian sambil tersenyum kepada mobil Nata yang melaju.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja Nat, aku... percaya lo akan kembali." ujar daram derai air mata Lian.
"Aku akan mencintaimu, seperti apa pun... dan menerima kamu apa adanya." Lian berbicara di dalam hati sambil tersenyum.