Cinta Karena Satu Alasan

Cinta Karena Satu Alasan
Kenapa Melakukan Itu ?


__ADS_3

Di taman depan rumah kini Lian dan Nata sedang duduk sambil menikmati beberapa jajanan, juga rujak kesukaan Lian. Maklum Lian sangat menyukai jajan seperti anak kecil tapi tidak memaksa keadaan. Nata sengaja membawa itu agar suasana tidak begitu mencengkam bagi Lian apalagi dirinya sudah tidak sabar ingin melakukan interogasi.


Berbeda dengan Lian yang tiba-tiba terdiam menyaksikan tatap Nata yang tiba-tiba serius, dirinya tidak tahu harus berkata jujur atau sebaliknya. Tentang apa yang terjadi hari ini dan kemarin malam, Lian berpikir jika dirinya berkata yang sejujurnya pasti dia bisa curiga kebenaran di balik kalung nya yang sempat hilang.


"Mungkin aku harus menjelaskan secara jujur kenapa aku menghilang, tapi tidak ku ceritakan mengenai pertemuan ku dengan Kim." Lian berbicara di dalam hatinya sambil mengaduk aduk rujak yang belum saja di santap.


"Apa yang kamu pikirkan? " Nata membuat Lian tersadar dibarengi rasa takut jika Nata akan marah, begitu Nata bisa saja marah-marah kepada Dewi.


Lian terdiam, dirinya pun langsung memakan beberpa potongan buah dari rujak. "Wah ini segar sekali!"


"Nih biasanya di sambung dengan gorengan." Nata sambil memberikan beberapa gorengan kepada Lian, sambil dirinya juga menikmati beberapa rujak mengikuti Lian.


"Ah~sunguh lo suka rujak ini? " Lidah Nata menolak, dan merasa heran bagaimana kekasihnya itu bisa memakan buah masam dengan sambil yang sangat membakar! sambil menggelengkan kepala dirinya juga sesekali menggaruk kepala yang tidak gatal begitu tangan kanan nya mencari makanan manis.


Melihat Nata dirinya hanya bisa tersenyum. "Kamu lucu banget sih yang"


"Hey orang kepedesan butuh air lo malah cengengesan!? "


"Ini air minum, kamu ini... nyari kek nyari tukang air aja!" Jawab Lian kembali tertawa.


"Sudah STOP! gue mau tanya serius." ujar Nata sambil berganti posisi duduk, kini dirinya berhadapan dengan Lian.


Sungguh Lian sudah tidak bisa menghindari pembicaraan ini, tapi tidak masalah bagi Lian karena dirinya juga akan bertanya mengenai hasil otopsi jenajah... yang kini sangat membuat nya menggebu-gebu ingin segera bertanya-tanya. "Iya Nata tanyakan apa yang ingin kamu tahu, aku akan berkata jujur!" Hari ini perbincangan mereka sangat serius dan sensitif.


"Kemana lo pergi waktu itu?"


Lian tahu dirinya harus menjelaskan semua, begitu... Nata pasti sangat khawatir, sebelum Lian menjawab dirinya pun meminta izin agar tantenya Sani ikut mendengarkan semua penjelasan itu, karena Lian juga tahu bahwa tantenya pasti ingin mengetahui dan memeiliki rasa kahwatir yang sama. Tidak lama, Nata menyetujui hal itu dan kini tante Sani duduk di samping Lian.


Sebelumnya...

__ADS_1


Lian terlebih dahulu meminta maaf karena sudah membuat mereka khawatir, kenapa Lian memilih diam waktu itu sebab dirinya merasa hari itu sangat terpukul. Terpukul dengan emosi yang sudah membakar ketenangan nya, apa lagi ada masalah yang datang bertubi-tubi, namun agar mereka tidak merasa khawatir akan kesehatan mental nya atau pikirannya itu pun dengan penuh keyakinan sambil memegang tangan tantenya juga Nata. "Untuk masalah yang ku rasa sangat bertubi-tubi kini sudah meredam, dan kalian tidak perlu khawatir karena semua itu kini tidak membuat aku merasa tertekan!" ucap Lian penuh percaya.


Mungkin Tante dan Nata bertenya-tanya tentang masalah yang sedang di hadapi nya itu. Lian, menceritakan satu per satu bahwa di awal pertama kerja dirinya mendapatkan fitnah telah menjadi pelakor dibalik rumah tangga Anggara dan Dewi. Begitu fitnah itu di percaya oleh Dewi, sedangkan Anggara menurutnya masih bertanya-tanya kenapa aku harus melakukan hal itu dan untuk apa aku merusak hubungan mereka? Bodoh nya... Anggara telah percaya bahwa Lian mencintainya.


Hingga, hingga Anggara kecewa kesal terhadapnya. Untuk pertama kalinya sahabatnya itu berlaku kasar! mengusirnya juga mendorong hingga luka memar pada bagian kaki dan lengan kanannya.


"Hal itu yang membuat aku merasa kecewa, ternyata sahabat ku lebih percaya Tika juga Diah EO baru dari Cafe London. "


"Itu saja tante..." Lanjut Lian, begitu tantenya langsung memberikan pelukan.


"Tapi gak usah khawatir tante, aku yakin aku bisa menanganinya... Tante (menatap) biarkan aku menguras ini sendiri." lanjut Lian, karena Lian yang tidak mau tantenya ikut andil dia pun tidak bisa memaksa. "Tante yakin kau berhasil, jika butuh tante tak usah sungkan ya sayang" kembali memeluk.


"Ya tante, boleh kah aku sekarang berbicara berdua dengan Nata? "


"Oh tentu saja" tantenya tersenyum, dan mengelus bahu Nata.


......................


"Li... gue ingin bertanya soal Kim!"


"Kim?" ucap Lian, dirinya tiba-tiba saja seperti gelisah bagutu Nata bertanya-tanya juga apa kah kekasihnya sedang memikirkan hal lain sehingga raut senyum an nya menjadi ragu!


Jelas benar. Lian sebenarnya terpikirkan kejadian semalam dimana Kim berani mencium bibir nya setelah itu Kim mengungkapkan isi hati yang ternyata Kim cinta kepadanya. Walaupun Lian sudah menolak tapi Kim akan tetap berusaha mengejar cinta Lian, Huft!


"Li, tolong ceitakan bagaimana dulu lo dengan Kim, karena gue merasa hubungan lo saat ini juga sangat dekat... kalian sama-sama peduli."


"Tapi kamu tidak akan curiga atau... marah kan? " Lian khawatir.


"Cerita kan, gue berusaha seperti yang lo mau tidak marah atau pun curiga, (tertawa) apa yang harus gue curigai? "

__ADS_1


"Ya, karena dulu sampai sekarang Kim sangat memperlakukan aku dengan baik, bahkan... teman-teman sekolah termasuk Anggara menduga bahwa aku dan Kim berpacaran."


"Itu dulu! sekarang kalian sudah ada pasangan... dan gue rasa mungkin memang Kim laki-laki baik yang selalu peduli dengan seseorang apalagi perempuan." mendengar tanggapan itu Lian bisa bernafas lega, dan dirinya tidak perlu mengatakan bahwa saat ini Kim sudah putus dari Lisa.


"Ok sepertinya, lo mungkin harus hati-hati karena bisa saja Kim ingin menghancurkan gue dengan umpan nya adalah lo! Jadi lo jangan sampai baper dan suka sama si Kim, lo lebih baik jauh jauh dari Kim!"


"Iya... aku akan menjauhi Kim."


"Nata?" Lanjut Lian, dirinya sudah tidak sabar ingin mengetahui apakah kekasihnya akan berbohong kembali atau sebaliknya. "Mengenai hasil otopsi, bagaimana apa sudah ada kabar? "


"Belum, belum ada tuh."


"Sudah santai aja dulu... dan gue rasa gak lagi begitu penting!" Lanjut Nata sambil meraih lengan Lian.


"Sayang... perusahaan besar itu tidak berati, karena yang berarti itu adalah lo dan gue akan membawa lo pergi dari sini setelah proyek besar ini selesai. " Lanjut Nata sambil menatap Lian penuh perhatian, Nata sangat tidak ingin jika berlama-lama tingal di negara ini yang suatusaat akan merusak hubungan nya dengan Lian.


Nata berinisiatif untuk tingal di luar negri dan membangun bisnis baru dari nol, dia akan membuka cafe dan butik seperti impian Lian. "Kita akan bahagia di luar negri."


Mendengar hal itu membuat Lian terkejut! perusahaan yang dirintis oleh keluarganya bahkan dirinya ikut andil kini akan di biarkan begitu saja hanya karena seorang gadis yaitu dirinya! Bagaimana bisa... seharusnya Nata tetap mengembangkan dan mempertahankan perusahaan itu! Apa sebenarnya yang sedang terjadi?


"Tapi Nat. Perusahaan itu sudah kalian rintis dan itu adalah usaha keluarga kalian untuk mempertahankan semuanya! kenapa.... " sebelum Lian selesai bicara. Nata langsung menyahut.


"Tidak sayang... tidak ada tuntutan keluarga tentang hal itu, dan gue rasa keputusan gue sudah matang, begitu kehidupan disana sudah gue rintis mulai dari sekarang. Gue tahu siapa yang pantas memegang perusahaan itu!"


"Aldi? "


"Ya... gue akan mundur dan menyerah kan wasiat kepada Aldi."


"Tapi apa yang sebenarnya! Kenapa Nata masih berbohong tentang hasil otopsi itu dan apakah ini ada kaitannya dengan Nata yang ingin membawa ku ke luar negeri? " pikir Lian di dalam benaknya.

__ADS_1


"Muach" Nata mencium kening Lian. Terlihat Nata yang sangat mencintai Lian.


__ADS_2