
Makan siang hari ini sangat spesial, bahkan tidak pernah aku menduga bahwa sosok Nata si tuan muda yang jelas-jalas terlihat tukang perintah ini itu... ternyata dia pintar masak. Menurut para asisten rumah ini kali ke dua Nata masak, pertama masak untuk Nyonya, dan sekarang masak untuk aku.
Itu tandanya aku merupakan orang spesial bagi Nata, begitu kata mereka aku juga sangat beruntung bisa mendapatkan hati baik si tuan muda yang lebih sering dikenal CEO arogan. Tapi aku percaya arogannya perlahan-lahan akan menghilang dan menjadikan si tuan muda dengn kerendahan hati.
"Nata...." bisik hati Lian sambil memperhatikan Nata.
"Li gue gak pinter masak... jadi jangan berkespetasi tinggi, tapi gue mau buat makan siang ini lebih bermakna bagi lo."
Mendengar hal itu membuat Lian merasa sangat senang, tentu saja ini sangat penuh dengan makan bagi Lian karena Nata peduli, dan selalu berusaha menjadikan Lian sebagai wanita spesial. Walaupun terkadang Nata masih memikirkan perasaannya untuk Liana.
"Ya, ini membuat aku bahagia... terima kasih ya Nat." ucap Lian sambil melihat Nata terlihat lihay seperti sudah biasa saja dengan alat-alat di dapur bahkan Nata terlihat pintar memasak.
"Bagaimana Nata bisa mengatakan bahwa dia tidak pintar memasak, sedangkan apa yang aku lihat seperti sudah terbiasa memasak?"
"Begitu dengan aroma pasarkan nya sangat lezat." lanjut bisik hati Lian sambil memperhatikan Nata kembali.
"Lian sangat manis, jika dia seperti itu nampak anak kecil menggemaskan yang sedang menungu makan... tatapan nya itu penuh perhatian." bisik dalam hati Nata sambil tersenyum memperhatikan Lian yang menunggu dirinya memasak.
"Huh, Liana ... haha lo kenapa melakukan semua ini?" pikir Nata sambil menghela naps berat.
"... tapi, di sini sudah ada Lian yang merupakan kekasih gue." lanjut Nata berpikir hal lain.
Walau Nata kembali di buat bimbang tentang Liana yang kemungkinan besar masih hidup, begitu dengan hatinya masih separuh untuknya. Namun jika melihat apa yang terjadi dirinya sangat senang bersama Lian, hal-hal sederhana bisa membuat nya senang bersama Lian.
"Li, mata lo indah sekali... dan tatapan itu membuat gue gak tega untuk melukai hati lo. Lian gue janji muali detik ini gue mulai belajar mencintai lo." bisik hati Nata, sambil menuangkan makanan ke piring.
Lian bertepuk tangan dengn semangat, sudah tidak sabar ingin menyantap. "Wah! Aroma nya sangat mengoda sampai cacing di perut ku bersuara Nat."
"Hahaha" Lian tertawa tidak ada rasa malu.
Nata yang mendengar hal itu sangat senang, walupun belum di santap akan tetapi dirinya sudah mendapatkan pujian sebab si cacing-cacing Lian keroncongan mencium aroma masakan nya. "hahah sepertinya sudah tidak sabar ya?"
"Iya betul Nat...." jawab Lian.
Nata pun berjalan menemui Lian, dan di meja makan dihidangkan beberapa menu makanan yang ternyata kesukaan Lian.
Wah... lagi-lagi Lian di buat takjub dengan Nata yang tahu makanan kesukaan nya, bahkan hal itu membuat dirinya semakin percaya jika Nata telah kembali mencintainya.
"Terimakasih sayang...." Lian pun langsung memeluk Nata dengan erat dan mereka terlihat bahagia.
"Nat! Ini enak...." puji Lian sambil menyantap hidangan itu dengan nikmat.
Nata tersenyum sambil memperhatikan Lian makan dengan lahap. "Hey makan pelan-pelan saja... tidak ada yang akan mengambil makanan ini." ujar Nata.
Nata melihat sebuah perbedaan antar Lian juga Liana yang baru dia sadari, bahwa Lian terlihat sangat sederhana yang tidak begitu memperhatikan penampilan di depan kekasihnya bak teman yang gokil, tidak ada anggun-anggun nya di mana hari ini Lian makan tidak seperti ketika di acara pesta.
"Gue bahagia melihat semua ini...." bisik di hati Nata.
"Nat, kenapa bengong! Hey." tanya Lian dengn penuh makanan di mulutnya.
__ADS_1
"Ah gak papa Li, gue hanya gemes aja lihat lo." yang seketika pernyataan itu membuat Lian berhenti makan, dirinya merasa malu di tatap seperti itu oleh Nata sambil berkedip manja.
"Kenapa diam? Ayo lanjut makan, habiskan biar... tinggi, he." ledek Nata sambil tersenyum miring.
"Tinggi? Yang ada bukan tinggi sih makin bulat aku hahaha."
"hahaha ih lucu banget sih ayang gue." ujar Nata sambil mencubit hidung mungil yang tidak mancung.
"... Mmm" Lian memasang wajah cute, dia masih menyantap makanan dengan lahap.
Nata yang melihat belepotan di pipi Lian dengan segera mengambil tisu namun, ketika Nata hendak mengusap nya Lian sudah membersihkan dengan tangan nya sendiri. Hal itu memperlihatkan Lian bener-bener bak anak kecil. "Lian!" sedikit meninggikan sura nya hingga Lian terkejut mendengar itu, seketika dia terdiam sejenak.
"Kenapa?" tanya Lian.
"... M ini kan ada tisu! lap pake tisu dengan benar."
Lian menyeringgai. "He iya...."
"Nata maaf jika aku seperti ini dengan mu, mungkin kamu tidak nyaman ya kan?" lanjut Lian.
"Bukan begitu, gue suka lo yang apa adanya... dan bisa menyesuaikan diri ketika lo berhadapan dengn kondisi lain, sama halnya ketika kita makan bersama di pesta... atau acara tertentu yang formal gue suka lo napak anggun." Nata menatap lembut, dia memberitahukan dengn penuh kehati-hatian.
"Tadi gue hanya tidak suka... tangan lo jadi kotor (tersenyum) kan ada tisu kenapa enggan di gunakan sayang!"
"Sini, gue bantu lap di pipi lo." Nata mengusapnya juga membersihkan makanan di punggung tangan Lian.
Lian yang mendapatkan ke pedulian itu sangat merasa beruntung, tidak hanya itu dia juga benar-benar bahgai melihat perubahan Nata, keromantisan, perhatian, yang di berikan Nata membuat hari ini sangat bermakna. "Nyonya dan ba Liana pasti senang." pikir Lian sambil tersenyum.
......................
Kini Lian menemui Nata di tepat cuci piring dirinya ingin membantu Nata membereskan beberapa alat juga membantu mencuci piring.
"Nata sini biar aku bantu ya...." Nata pun mengiyakan, dengan senang hati Nata juga membantu Lian mengikat tali celemek dari arah depan hingga membuat Lian merasa gugup karena berdekatan dengan Nata, bahkan seperti berpelukan.
Melihat Lian gugup Nata hanya tersenyum, senyuman Nata bak tuan muda yang tampan sehingga membuat jantung Lian berdebu kencang. "Jantung mu terdengar." ujar Nata yang mendengar.
Apa yang di katakan oleh Nata membuat Lian tersipu malu terlihat juga dari kedua pipi nya merah merona.
"Sudah." Lanjut Nata sambil mencium kening Lian, spontan itu mengejutkan Lian.
Hari ini benar-benar hari yang sangat indah bagi mereka, bahkan ini lebih romantis dirasakan oleh Lian. Apa yang di lakukan Nata membuat Lian terkesima dengan sejuta rasa yang ada pokonya udah kayak lagu-lagu jatuh cinta.
......................
Sore hari Nata pun mengantarkan kekasihnya, dia juga tidak lupa membawa bingkisan untuk tante Sani dan Bubu sebuah makanan kesukaan mereka berdua. Nata hari ini bener-bener tampak berbeda bagi Lian, dia sangat bersyukur dengan perubahan yang ada pada Nata.
Walupun kini Lian penasaran dengan kabar hati Nata yang sebenarnya. Nata memang terlihat tidak memikirkan apa pun bahkan sangat menikmati hari ini, tapi pikiran Lian terus bertanya-tanya dengan kebenaran hari ini apa sperti yang terlihat tidak ada lagi kesedihan kepada Nata.
"Nat... apa kamu merasa bahagia dengan ku?"
__ADS_1
Nata melirik Lian, dirinya pun mererai tangan kanan Lian. "Lihat mata ini Lian, gue banar-benar bahgai bersama lo!" jawab Nata sambil berhenti menyetir, dirinya meminta Lian untuk menatap.
Lian pun terdiam, "Aku percaya." jawab Lian, dengan begitu Nata pun mencium tangan Lian dan kembali melanjutkan perjalanan.
"Tak perlu kahwatir lagi tentang perasaan ini, gue perlahan mencintai lo." ungkapan Nata membuat Lian tersenyum lega.
"Oiya, Li... bisa kah lo memanggil dengan sebutan lain dengan konsisten?" lanjut Nata meminta.
Lian di buat bingung oleh permintaan Nata, dia merasa aneh jika harus memanggil Nata dengan pangilan lain, dirinya pun menoleh ke arah Nata.
"Hehehe... pangilan apa Nat?" tanya Lian pura-pura tidak mengerti.
"Kita kan udah pacaran ni, apa kita akan memngil terus menerus dengan nama. Tidak kan Li... jadi lo pangil gue dengan pangilan sayang dengan konsisten."
"Biar terkesan dan terlihat kita ini serasi, sepasang ke kasih begitu loh Li." Lanjut Nata menjelaskan.
Mungkin mereka berdua terbiasa menyapa dengan sapaan nama dan ketika merka hendak mengganti, juga membuat suasana yang lebih romantis malah di buat bingung enatah pangilan apa yang cocok.
"Hehe..."
Nata pun menoleh Lian yangenyeringgai. "si kuda..." ujar Nata melihat Lian menampakkan gigi seperti kuda sedang tersenyum sehingga membuat suasana itu menjadi seperti lawak.
"Nat... yang benar saja si kuda."
"Hahaha... Iya enggak sayang." balas Nata dan memanggil sayang membuat Lian malah cengengesan mendengarnya, tak seperti tadi di rumah nya pangilan "sayang" yang keluar dari masing-masing terasa indah.
"Heis kenapa lo malah cengengesan Li." tanya Nata heran sama Lian.
".... Tidak papa sayang, haha hanya tiba-tiba menjadi lawak saja." ketika mata Lian bertemu dengan Nata tiba-tiba saja membuat nya terhenti teryenyum, tatapan Nata sangat tajam dan serius.
"Serius, gue mau..." pikir Nata memerhatikan bibir Lian. Lian yang mendapatkan respon itu tiba-tiba saja teringat ketika Nata mencium bibirnya, tatapan itu smaa seperti hati ini... bahkan dari tadi Nata tertuju kepada bibir lembutnya.
"Tidak sekarang Nat, pasti Lian akan terkejut. " pikir Nata.
"Sayang... sudah sampai ni." ucap Nata.
"Ku kira Nata akan mencium ku, tapi ternyata dia hanya menatap ku saja... atau dia mengurungkan dirinya? Kenapa... padahal kita sekarang sudah menjadi sepasang kekasih." pikir Lian, kini dirinya membuak seatbelt.
"Kamu mau kerumah dulu gak?" tanya Lian.
"Lain kali saja, oiya ini bingkisan untuk tante dan adik gue." jawab Nata sambil memberikan bingkisan kepada Lian.
Ketika Lian hendak membuka pintu Nata pun memnagil dan menghentikan nya sejenak. "Li...." pangila nya, Lian pun menoleh.
Nata tersenyum, "Gue akan merindukan lo..."
"Iya rindu tingal call atau main kesini, bisa juga kan aku yang kesana?"
"Tak perlu di jawab Lian, sudah... hati-hati." jawab Nata sambil mengacak acak rambut depan Lian. Lian hanya tersenyum.
__ADS_1
"Seharusnya aku yang bilang hati-hati Nat, hehe karena kamu masih harus melakukan perjalanan." bisik hati Lian.
"Love you Lian...bye"