
Warning! Cerita pada bab delapan ini tidak diperuntukkan bagi anak-anak atau usia di bawah 17 tahun karena mengandung beberapa unsur baik cerita atau adegan dewasa. Terima kasih atas perhatiannya dan selamat membaca.
......................
Tol Ring roda, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan dengan selamat. Walaupun begitu Lian masih memikirkan kejadian tadi mengenai orang-orang yang sepertinya ingin melakukan penculikan terhadap dirinya, namun motif itu masih dikatakan belum pasti. Jika benar pun untuk apa mereka ingin menculik nya.
Nata yang dari tadi memperhatikan Lian merasa bahwa Lian sedang memikirkan sesuatu hal ‘?’, begitu terlihat ketika dirinya bertanya namun Lian hanya diam. “Li, gue tidak tahu nih kenapa ter pikir kembali kepada Liana.”
“Li?”
“Hah?” jawab Lian terlihat kebingungan lalu dia tersenyum sambil mengangkat kedua alis seperti ingin bertanya kembali. Nata yang mendapat respons seperti itu merasa ada sesuatu hal di pikiran Lian, dan dia mencoba menjaga emosi serta lisannya agar tidak menyebabkan keributan yang ia khawatirkan.
Nata pun tersenyum dengan tulus, senyuman yang diberikan Nata untuk pertama kalinya kepada Lian membuat Lian tidak henti memandang walaupun dia tidak lama tersenyum, Nata yang terlihat arogan dan cuek bebek ternyata bisa tersenyum ramah seindah itu, akan tetapi dirinya pun merasa senang karena dipandang oleh Lian.
......................
Sudut Pandang Putra Cahya Winata
Entah kenapa gue merasa senang dipandang oleh Lian, tidak sia-sia bertemu dengan dirinya. Gue juga merasa yakin bahwa pertemuan gue dan Lian bukan tanpa sebab, Tuhan mengirimkan Lian sebagaimana gue kembali belajar tentang masa lalu dan tidak hanya itu saja, kemiripan Lian mungkin datang dari Liana yang reinkarnasi.
“Ya 75% itu sudah bisa dikatakan kemiripan yang sangat mirip.” gue refleks sambil menatap Lian, dan apa yang gue ucapkan tadi membuat Lian sepertinya bingung dan dia pun bertanya mengenai hal itu.
“Tujuh ... puluh lima ?”
Saat itu gue merasa tidak bisa berpikir, rasanya ingin sekali mengatakan bahwa Liana itu sangat mirip dengan dirinya, namun itu tidak mungkin. Gue langsung mengalihkan semuanya dengan berpura-pura mengangkat panggilan dari seseorang.
“Halo?” sebuah alibi yang sangat bodoh, kemungkinan besar Lian akan curiga dan bisa saja dia bertanya kembali tentang perkataan gue mengenai “Ya 75% itu sudah bisa dikatakan kemiripan yang sangat mirip.” gue juga langsung membuka pintu mobil dan keluar.
......................
Sudut Pandang Campuran
Walaupun Della gagal menculik Lian, ia tetap mencari tahu mengenai kedekatan antara Putra dan Lian. Della bersama dengan Gala, dan Abian mencoba mencari tahu dibalik kedekatan mereka, dan saat mereka bertiga mengetahui tempat yang disinggahi akhirnya berpikir hal sama bahwa mereka memang ingin mengusut tuntas tentang kecelakaan Liana dan hal itu juga membuat mereka ber tiga harus berhati-hati.
“Gue rasa kita harus menghilangkan Lian, karena dia ternyata bukan wanita lemah.” ucap Abian sambil memperhatikan Nata dan Lian dari jarak yang cukup jauh.
“Gue setuju sama lo, karena gue merasa bahwa Lian bisa mengancam kembali posisi gue.” sahut Della setuju dengan Abian yang ingin menyingkirkan Lian, namun Gala yang mengetahui hal itu merasa tidak setuju karena bagaimana pun dirinya mencintai Lian dan merupakan cinta pandangan pertama.
“Tunggu!” ucap Gala.
Della dan Abian melirik, “Kenapa?”ucap mereka berbarengan.
“Mmm begini La, Bi, kita kan tahu bahwa wanita itu adalah wanita tangguh, dan ... (berpikir) dan jika kita menyingkirkan dengan hal yang sama atau membunuh dia, itu pasti be risiko sangat tinggi.” pernyataan itu tidak dihiraukan oleh Della juga abian bahkan mereka malah menertawakan Gala.
__ADS_1
“Hahaha.”
“Hey! Kalian bahkan tertawa seraya ledek gue.”
“Tenang lah, kita juga tahu wanita itu bukan wanita sembarangan, buktinya ia dapat melakukan bela diri, tidak hanya itu gue tahu ia juga memiliki sahabat dan orang-orang terkenal kaya raya.” jawab Abian sambil memberikan kunci mobil kepada Gala.
Saat itu juga Gala merasa ketakutan apabila dirinya harus membunuh. Wajah Gala mulai pucat.
“Woy ayo pergi, sebelum mereka berdua curiga.” perintah Abian. Dengan napas lega Gala pun masuk ke dalam mobil.
“Kita buat peringatan kepada wanita itu.” ucap Della.
Jalan Tol Ring Roda, Nata dan Lian pun mulai mencari data dan keterangan lain yang mungkin akan mereka dapatkan di lokasi kejadian tersebut, CCTV tersembunyi yang terpasang di atas jembatan ternyata masih bisa berjalan dan setelah mereka telusuri itu adalah milik warga yang di mana rumah nya sangat dekat. berada di belakang tol. Mereka memasang itu dikarenakan khawatir jika terjadi sebuah kecelakaan kendaraan bisa menghantam tembok atau pembatas yang bisa saja hancur dan menerobos rumah mereka.
Sayang mereka tidak mendapatkan data lain terkait kecelakaan Liana. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk kembali.
“ Bukan kah itu mobil ... kayanya aku kenal toh mobil?” ucap Lian tak henti melihat plat mobil. Mendengar apa yang dikatakan Lian, Nata pun ikut melihat dan memeperhatikan mobil itu.
“Lo pernah lihat?”
Lian menganggukkan kepala seraya menujuk mobil yang melaju itu. “Laki-laki yang ... meeting bersama kamu beberapa waktu yang lalu Nat.”
Setelah beberapa menit mereka berdua memikirkan siapa pemilik mobil itu, dan akhirnya Nata mengingat “Abian ....”
Setelah beberapa saat akhirnya mereka berdua menyimpulkan bahwa mobil tadi adalah milik Abian, dengan segera Nata meminta Dewi untuk melihat CCTV dan mencari beberapa bukti mengenai Abian hari ini.
Dalam panggilan.
Nata : “Dew jangan lupa cari info lengkap dari beberapa sumber CCTV di kantor dan tempat sekitarnya.”
Dewi : “Siap baik pak.”
......................
Rumah Putra Cahya Winata
Nata membawa Lian ke rumah nya untuk membahas mengenai Liana, namun bukan hanya itu saja tujuan Nata adalah melakukan pendekatan dengan Lian, mereka pun akhirnya sampai di rumah.
“ Ok kita sudah sampai di rumah gue”
Lian melihat sebuah rumah yang sangat mewah bahkan dia merasa bingung ketika pertama masuk ke dalam rumah sudah di sambut oleh para pelayan, dirinya merasa hidup di sebuah dongeng kerajaan. Lian terkejut saat melihat ke depan sudah tidak ada Nata, dia pun dengan segera mengejar Nata yang sudah terlihat di lantai dua.
“Hey! Nat tunggu ....” pinta Lian sabil tersenyum ke beberapa pelayan yang ada serta membungkukan badan nya seraya menghormati, dia pun tidak henti tersenyum.
__ADS_1
“Nat, kok ninggalin gitu aja sih kan aku cape mengejar kamu lumayan tahu lari-lari di anak tangga capek.” keluh Lian sambil mengatur napas. Nata yang melihat Lian hanya tersenyum dan menahan tawa.
“Siapa yang suruh?” ucap Nata.sambil berjalan menuju lift. Sentak Lian melirik Nata dengan sudut yang tajam.
“Ada lift Nat? Kok gak omong sih.” ucap Lian sambil memukul lengan Nata berkali-kali karena merasa kesal.
“Ya, memang ada makanya tanya lah dahulu biar tidak capek?”
“Mana aku tahu kan, kenapa kamu tidak bilang Nat ... seharusnya kamu yang memberi tahu lah kan kamu yang punya rumah.” jawab Lian sambil memutar kan bola matanya lalu turun ke bawah, dia merasa heran kenapa Nata kembali ke bawah.
Dengan rasa bingung Lian pun menarik lengan Nata dan menghentikan langkah kakinya, namun Nata malah kembali merelai tangan Lian dan membawanya ke sebuah garasi mobil. Lian pun masuk ke mobil yang mungil, dia pun masih terdiam sampai akhirnya sampai di tempat tujuan yaitu ‘tempat les musik’ Lian semakin bingung kenapa Nata membawanya ke tempat ini.
......................
Tempat Les Musik
Nata pun memberi tahu kenapa dirinya membawa ke tempat les, ternyata dia menjemput adik yang sedang melakukan les musik, Lian dan adik nya pun berkenalan tak terduga ternyata mereka terlihat sangat akrab padahal itu hari pertama mereka bertemu dan biasanya Arya Putra Bungsu tidak mudah untuk menerima orang baru.
“Ba kita ke taman bermain ya, Bubu biasanya ke sana kalau sehabis pulang dari les.” ucap sambil mengayun-ayun kan tangan mereka (Lian dan Bubu). Kedekatan itu membuat Nata teringat tentang feeling Bubu mengenai seseorang yang bisa melakukan perubahan kepada hidupnya. Nata merasa sangat bahagia melihat kedekatan itu, mereka seperti saudara bahkan Lian sangat terlihat sayang kepada Bubu.
“Hati-hati sayang sini jalannya.” ucap Lian kepada Bubu yang hampir saja terpeleset.
......................
Taman Bermain
Tidak bisa di pungkiri oleh Nata tentang bayang-bayang Liana, dia selalu mengingat di setiap tempat. Seperti taman bermain ini yang menyimpan banyak kenangan ketika Liana pertama kali menemani Bubu bermain, dan taman ini merupakan taman yang di pilih oleh Liana. Kini terlihat Nata dengan wajah sedih, tanpa ceria bahkan sangat terlihat murung, Dia pun hanya berani duduk di sebuah kursi yang menghadap ke arah kolam dan air pancuran.
Lian yang melihat raut wajah dan mata Nata, dirinya sangat memahami perasaan yang kini terasa. Dengan segera dirinya menarik lengan Nata dan membawa Bubu bermain di tempat yang berbeda, Lian membawa ke sebuah lapangan yang sedang banyak anak-anak bermain bola, bermain skateboard, dan masih banyak permainan lain.
“Wow! I like it, you now so happy ....” ucap Bubu dengan ter kagum.
Tidak disangka ternyata Lian bisa membawa Nata ke fokus yang lain, hingga akhirnya Nata bisa tersenyum bahkan tertawa melihat aksi Bubu yang ikut bermain bola dengan anak-anak yang lain. Tidak hanya di situ setelah bermain bola Lian pun memberikan es krim yang ternyata mereka bertiga mempunyai variant yang sama.
Hari itu adalah hari yang sangat berbeda, apalagi untuk Bubu tidak hanya bermain tapi bisa berkenalan dan memiliki teman-teman baru. Begitu dengan Nata yang penuh rasa syukur di per temukan dengan Lian, wanita yang sangat spesial di dalam hidupnya.
......................
Depan Rumah Lian
Setelah bermain di taman kini Nata mengantarkan Bubu pulang dan mengantarkan Lian ke rumahnya. Di depan rumah Lian ada hal yang tidak pernah terduga sebelumnya, ketika Lian hendak membuak pintu pagar rumah Nata pun menghentikan nya dengan menahan tangan Lian yang hendak membuka, hal itu tidak membuat Lian merasa curiga.
Akan tetapi ketika Lian melirik, mata mereka pun bertemu tatapan itu sangat lembut baginya dan tidak lama Nata secara refleks merelai tubuh mungil Lian hingga membuat sentuhan di bibir, hal itu membuat Lian kaget karena Nata berani mencium juga memeluk nya dengan erat.
__ADS_1