
Sudut pandang Eliza Bunga Berlian
Setelah kejadian itu (buka bab sebelumnya 'Masalah Bertubi-tubi')dari kejadian dimana sahabat ku harus kecewa karena salah mempercayai aku yang semestinya "aku adalah orang yang jujur, orang yang tidak mungkin melakukan hal itu, tapi sebaliknya Anggara marah besar kepadaku hingga dia tidak bisa percaya aku, dia lebih percaya dengan apa yang dia lihat...yang sebenarnya itu adalah jebakan."
Di dunia ini tidak hanya ada orang yang mencintai kita, tapi di dunia ini juga banyak orang benci kehadiran kita! Musuh. (Lian)
"Sekarang aku memilih untuk menenangkan diriku sendiri. " ucap penuh kepercayaan sambil membuka pintu villa.
Saat aku membuka pintu, mata ku langsung mencari dimana kapur tulis... entah kenapa aku seperti di tuntun untuk menuliskan beberapa masalah yang telah aku hadapi, yang rasanya aku harus menyelesaikan semua hal itu!? Padahal aku datang ke Villa ini hanya untuk menenangkan diriku tidak sebaliknya.
"Lian, hentikan!? " aku berbicara pada diriku sendiri, seaakan akan aku memiliki dua jiwa yang berbeda. Tidak... aku tidak bisa menghentikannya diriku untuk menulis.
gambar : ilustrasi blackboard.
"Apa di balik kasus itu Kim ingin menghancurkan dan mengambil alaih perusahaan Nata? tapi kenapa... kenapa Nata harus berbohong tentang hasil otipsi yang dia bilang belum ada hasil, jelas-jelas hasil nya sudah keluar dan Nata sudah tahu!? "
"Apa sebenarnya yang sedang di sembunyikan Nata!"
"Wanita berwajah Liana, aku yakin dia pasti bukan ba Liana...tapi Lisa aku yakin dia adalah ba Liana, karena itu Nata lebih yakin bahwa Lisa memiliki karakter yang sama juga body yang sama dengan ba Liana."
"Tapi kenapa wanita berwajah Liana bisa dengan Lisa dan mereka terlihat akrab!"
__ADS_1
(Buka kembali "Bab.Benang Kusut Ke-1" sebagai kilas balik cerita)
Di perjalanan menuju ruamh sakit Lian tidak sengaja kembali bertemu dengan Lisa dan wanita berwajah Liana sedang memasang ban mobil, Lian pun berhenti tak jauh dari mereka sekitar 10 meter dirinya berhenti dan mulai memata matai di balik pohon yang rindang. Tidak hanya itu Lian juga mengabadikan nya dengan mengambil beberapa foto sebagai bukti.
"Jika begitu... siapa ayah dari anak wanita berwajah Liana? Ini bisa jadi Nata tidak ingin memberitahu hasil otopsi sebenarnya karena jasad itu pasti bukan ba Liana, dan aku yakin Nata memiliki hubungan dengan wanita itu.... " jantung ku berdebuk kencang seakan-akan aku sangat marah jika harus menerima kenyataan bahwa dugaan ku adalah benar! Sesak sarsanya jika aku harus menerima kenyataan itu apalagi jika anak wanita itu adalah anak Putra Chya Winata.
Laki-laki yang selama ini aku cintai, laki-laki yang akan aku terima apa adanya dia walupun dia harus menyakitiku seperti yang aku pikirkan sekarang, sepertinya aku salah menaruh janji kepada nyonya!? Ternyata aku sangat sakit jika harus menerima semua ini nyonya. (Lihat bab.Bukan Sekedar Ucapan sebagai kilas balik)
Aku berjanji selalau mencintai Nata seperti apa pun kelak, aku tetap mencintai dirinya. "Nata." ucap ku sambil mengusap punggung nya dan berpelukan.
"Walaupun sakit, ini adalah cinta... aku juga tahu Nata berbohong karena dia sangat khawatir dengan impian dan masa depannya dengan ku, Nata pasti tidak ingin menyakiti aku jika benar yang aku duga dan pikirkan itu adalah kenyataannya." Aku tidak henti memikirkan semuanya sendiri, dan hati ini sudah menerima dengan perlahan-lahan jika semua itu adalah kenyataan.
Selama ini aku bisa melihat usaha Nata untuk menjadi laki-laki baik untuk ku, untuk Nyonya juga mantan ke kasihnya ba Liana. Ketika aku mengingat semua ini aku merasa jika kasus di balik kematian ba Liana ini memiliki maksudn "Balas Dendam." tapi entah siapa yang ingin balas dendam?
Ting (suara notifikasi)
Ting "
Ting"
Message.
Nata : Sayang... gue ke cafe tapi kok lo gak ada sih?
__ADS_1
Nata : No lo kok gak aktif.
Nata : Li, lo dimana? (pesan selanjutnya setelah 15 menit pesan berikutnya)
Nata : Li balas pesan ini, kita semua khawatir!
13 Pangilan tidak terjawab (Nata)
10 Pangilan tidak terjawab (Tante Sani)
(Ba... Bubu minta ba pulang) 1 pesan baru dari Bubu.
Aku baru menyadari bahwa aku telah kembali membuat khawatirkan, dan aku pun membalas pesan dari sepupu ku tercinta agar dia tidak khawatir tentangku. "Sayang... ba Lian tidak pulang hari ini, dan sampaikan juga ke mom Sani kalau ba Lian menginap di luar, juga tidak perlu khawatir. ba Lian baik-baik saja. " aku membalas pesan Bubu. Setelah itu aku kembali menonaktifkan ponsel ini.
Pukul 16.30 WIB, waktu sudah mulai sore bagitu matahari juga mulai berwarna jingga. "Indah." aku membuka jendela yang menghadap ke bibir pantai, dari atas Villa pemandangan terlihat indah, burung berterbangan di angkasa begitu ombak terlihat tenang menyapu bibir pantai, tidak ada terumbuk karang di sini... hanya ada pohon kelapa juga cemara laut yang indah di taman pantai.
Air laut begitu indah ketika sinar jingga memantul dan membuat kilauan, perahu para nelayan mulai terlihat di ujung-ujung garis, tak hanya itu kapal besar pun nampak terlihat kecil. "Hari ini patut aku syukuri... Terima kasih Tuhan. " aku mengucapkan rasa bersyukur di atas permasalahan hidup ini aku masih bisa menikmati keindahan alam semesta yang membuat pikiran ini kembali fresh.
"Ah~perut ku lapar sekali. " Strlah tadi hujan aku baru menyadari bahwa perutku belum di isi kembali, "hahaha" aku tertawa merasa lucu dengan apa yang sudah aku lakukan, aku menerjang hujan, menikmati setiap air yang menetes, menangis bersama hujan, bak di film-film drama... seakan akan duaia ku menjadi hollywood.
"Lian Lian" aku memanggil diriku sendiri dan menggelengkan kepala, sambil beranjak turun dari tangga menuju dapur yang mininalis dan estetik.
"Rasanya aku ingin tingal di sini bah... gak mau pulang lagi kalau udah lihat dapur ini." aku ngoceh sendiri layaknya ada bah di sini, Ya! Villa ini milik bah (kake buyut sahabatku) yang di berikan pada ku di hari ulang tahun Anggara, yang seharusnya ini Villa milik sahabat ku, tapi dia tidak mau malah ingin membuat Villa yang lebih besar hehe maklum lah orang kayak semua jadi si bah ngasih ke aku karena dia juga udah anggap aku sebagai cicit nya.
__ADS_1
"Jika aku mengingat itu... aku sekarang juga teringat sahabat ku, dia sekarang sngat marah badaku bahkan untuk kali pertama dia mendorong dan mengusir aku untuk pergi!" ah~batin ku menangis kembali, aku pikir Anggar tidak akan mudah percaya.