
Ruang CCTV
Lian dan Nata pergi dan meminta izin mengecek video CCTV untuk mencari bukti mengenai wanita yang berwajah sama dengan Liana, setelah pengecekan beberapa jam akhirnya mereka menemukan wanita itu datang ke rumah sakit tiga hari yang lalu, dari rekaman itu wanita datang sudah bersama bayi dan sempat beberapa hari bayi itu dirawat di kamar nomor 123 di lantai dua.
Wanita itu menang memiliki wajah yang sama dengan Liana, bahkan tidak ada yang terlewatkan dari wajah wanita itu juga terdapat bekas luka serta tahu lalat di ujung alis kirinya. Baik Nata dan Lian mereka mulai percaya bahwa itu adalah Liana, untuk postur tubuh mungkin bisa saja berubah setelah memiliki anak tubuh wanita itu tampak berisi.
"Wajar disini tidak ada pasien bernama Liana, karena yang dirawat adalah anak nya." Ucap Lian sambil memperhatikan CCTV berikutnya di taman dan pintu masuk juga pintu keluar.
Nata dan Lian sudah bak investigasi yang sedang mengungkapkan sekandal misteri d balik kematian Liana, "Nat sepertinya bita butuh seseorang yang lebih menguasai... kita harus mengunakan orang yang memiliki prospek ini."
"Profesi ini, ok ini demi kelangsungan gue, gue akan mencarinya." jawab Nata. Akhirnya mereka sepakat untuk mencari seseorang yang bisa menguak kasus ini.
Mereka sudah mendapatkan data dan berpikir bahwa wanita itu bener-benar Liana. Begitu mereka juga mencari tahu data lengkap nya dengan memeriksa rekaman CCTV di luar, seperti toko yang dekat dengan rumah sakit ataupun ruamh dan bangunan yang memasang CCTV.
Semua nya sangat berjalan dengan mudah, dimana mereka kembali menemukan ada tiga mobil dan satu kendaraan motor yang membawa wanita itu ke rumah sakit. Namun mereka kesulitan mencari dimana titik awal mobil itu berada, dan hari ini mereka berhenti untuk mencari info lengkap mungkin dilanjutkan besok kembali.
18 : 36 WIB
Setelah berjam-jam akhirnya mereka pun memutuskan untuk mencukupkan nya. Apa yang dirasakan Lian hari ini walaupun terasa lelah akan tetap dia merasa bahagia bisa kembali dengan Nata.
"Terima kasih ya sayang, kamu sudah senantiasa membantu aku." ucap Nata sambil menyetir dia juga mencium tangan kanan Lian.
Ini adalah hari yang berbahagia bagi Lian karena kini dirinya bisa merasa di cintai dan mencintai Nata yang tulus. "Sama-sama sayang ku." jawab Lian dengan senyum yang indah membentuk mata penuh perhatian.
"Sayang mata mu sangat cantik." puji Nata.
Lian hanya tertawa mendengar pujian dari mulut Nata, hal itu membuat Nata malah menggelengkan kepala namun masih menggenggam tangan nya. "Yang jangan gitu lah." Nata merasa tidak terima jika Lian malah bercanda.
"Ya abisnya tumben banget puji puji aku.... " jawab Lian sambil mengalihkan pandangan, dirinya sangat menikmati view perjalanan sore.
Nata tersenyum melihat kekasihnya yang menikmati view perjalanan begitu indah aplagi langit jingga yang terlukis. "Indah ya." ujar Nata ikut menikmati langitnya.
Ketika Nata sedang menikmati langit jingga yang cantik, dan baru saja beberapa detik hehe belum satu menit tiba-tiba Lian mengagetkan dirinya dengan menjewer. "Heh!" Nata kaget langsung melirik dan menatap tajam Lian.
"Lo udah berani ya!" Nata sedikit meninggikan suaranya, dia juga kaget karena ini kali pertama ada orang yang berani menjewer dirinya walaupun itu tidak terasa sakit.
__ADS_1
Reaksi Nata yang tiba-tiba saja seperti orang marah membuat Lian menjadi kaget melihat tatapan sinis. "Sakit?" tanya Lian sambil elus-elus telinga Nata, dirinya merasa bersalah walaupun dia menjewer tidak keras dan penuh perasaan tapi itu hanya menurut dirinya.
Melihat Lian seperti ketakutan juga khawatir, membuat dirinya semakin gemas ingin rasanya mencubit kedua pipinya. "Aduh ya sakit ni yang..." jawab Nata dengan nada manja.
"Jangan bohong!" ujar Lian sambil mencubit lengan Nata hingga dirinya menjerit.
"Aw yang!" mereka pun saling melotot bak bocah yang sedang marah.
Tin Tiiiin (suara klakson mobil) hampir saja mereka menabrak mobil yang hendak melintas di depannya, kejadian itu membuat keduanya kaget dan sadar betapa pentingnya menjaga praturan ketika mengendarai. "Huh hampiri saja Li kita kecelakaan!" ujar Nata menghela nafas lega.
Lian merasa bersalah sudah membuat Nata lepas kendali karena tidak fokus menyetir. "... maaf ya sayang, karena aku kamu gak fokus nyetir."
"Enggak papa kok, ini bukan murni kesalahan kamu... lagian tadi aku malah ikutan memandangi langit jingga yang indah dan romantis saat aku bersama mu." di keadaan genting seperti ini Nata masih saja bisa mengatakan hal hal manis.
Lian tersenyum. "Udah ah hayu jalan lagi!" pinta Lian sambil melihat ke jendela dirinya merasa salah tingkah.
"Ih salting nya pengen aku peluk" Nata menggoda Lian.
" Udah kenapa! Fokus ih... mau minum?" ujar Lian sambil membuka kan air botol untuk Nata.
Nata kembali mengucapkan rasa syukur atas hari ini karena penuh dengan kebahagiaan, bersama Lian dia bisa menikmati disetiap hal hal kecil akan tetapi bisa membuat nya bahagia, tersenyum dengan tulus.
"Puji Tuhan hari ini gue sangat bersyukur, karena hal ini lah yang selama ini gue cari... Tuhan memang selalu memiliki rencana indah yang tak terduga. " ucap Nata berbicara di dalam hati.
Nata percaya bahwa Tuhan-nya tidak pernah kekurangan cara untuk menolong hidup nya, dia juga percaya bahwa akan selalu ada kebaikan Tuhan dalam segala hal yang sudah di alamin nya. Nata yakin Tuhan selalu menyiapkan kejutan indah untuk menyampaikan kebaikan Nya.
Namun saat ini dirinya harus kembali mengingat akan siapa wanita berwajah Liana yang menggendong bayi. Apakah itu ada hubungannya dengan wanita yang pernah dia tiduri, tapi wanita itu adalah wanita bayaran yang seharusnya tidak meminta pertanggung jawaban.
"Apakah gue sedang di jebak?" sedikit demi sedikit pikiran Nata kembali kalu, dirinya mulai tidak sadar sedang melaju dengan kencang.
Untungnya di samping Nata ada Lian, sosok wanita yang selalu bisa membuatnya tenang. "Nat! pelan-pelan, Nat Nata." pinta Lian sambil melirik dirinya dan menepuk tangan kiri Nata yang memegang knob persneling.
"Sayang." Gue sadar sedang melaju dengan kencang, untuk membuat semuanya lebih tenang gue berhenti sejenak.
Saat itu gue melihat Lian sangat khawatir, mungkin dia juga bertanya-tanya tentang ini... tapi untuk saat ini gue masih belum bisa cerita tentang wanita bayaran itu yang kemungkinan besar ada kaitannya. Gue masih membungkam tak ingin jika hal ini bisa membuat dirinya terluka kembali.
__ADS_1
"Hari ini baru saja kembali baik... gak mungkin jika harus mengatakan hal itu sekarang, pasti Lian akan kepikiran tak hanya itu jika wanita itu ada hubungan nya dengan wanita bayaran dia akan sakit hati mendapatkan kabar bayi itu adalah anak gue."
"Ah gak mungkin juga bayi itu anak gue! gue yakin anak itu anak orang lain." Gue banyak berpikir, yang akhirnya Lian pun bertanya sambil memberikan aku minum.
Lian sangat peduli, sentuhan nya di pundak ini juga membuat gue lebih baik, tapi gue sangat takut jika suatu saat nanti Lian akan tersakiti.
"Nat jangan bengong terus, coba minum dulu ya."
"Terima kasih." Untuk menenangkan gue pun meminum nya, tak lama setelah kita terdiam mungkin ada dua sampai lima menit, akhirnya Lian bertanya.
"Kamu kenapa sayang?"
"Gak papa, hanya terpikirkan hal tadi saja... yaudah kita lanjut ya."
"Yang aku aja yang nyetir." Pinta Lian, ini yang membuat gue sangat sayang sekaligus tidak mau menyakiti nya tapi gue sering membuatnya terluka.
......................
Lian mengajak gue pergi ke sebuah tempat, dirinya tidak membawa gue ke Cafe London, tida juga ke bukit Tulis ataupun kedataran tinggi lainya, rumah pohon juga tidak. Sore menjelang malam dia membawa gue ke sebuah pantai, tidak pernah di duga Lian juga memiliki tempat indah yang bisa menenangkan hati.
Ketika mobil ini mulai melintas area pantai Lian pun mematika ac dan membuka kaca mobil, begitu udara segar yang masuk dari sayup-sayup angin tenang. Di sinilah gue menyadari kembali ada perbedaan diantar Lian dan Liana walaupun mereka memiliki tempat indah tapi apa yang gue lihat ini adalah berbeda.
"Gimana indah bukan, sunset..." ucap Lian tersenyum.
"Kita akan menelusuri pantai, dan buat hari ini lebih indah sejenak." Lanjut nya.
......................
Kita sangat menikmati sore ini, bahkan fokus gue bisa teralihkan... ya, memang Lian adalah wanita dengan sejuta cara untuk memperbaiki keadaan. "Moodbooster gue banget sih yang." ujar gue sambil berpegangan tangan menyusuri pantai.
Gumuruh ombang mulai terdengar, hari ini sudah mulai malam. Lian tidak hanya mengajak jalan-jalan di bibir pantai akan tetapi dia juga membawa gue ke tempat makan favorit nya namnya itu "Lesehan Cihuy" tak jauh dari pantai mungkin hanya berjarak dua kilometer.
"Kita mau menginap disini tidak?" tanya gue yang entah kenapa ingin menghabiskan waktu bersama dengan Lian.
"Apa yang?" Lian kembali bertanya, mungkin dia sangat lapar jadi tidak fokus dengan pertanyaan gue, hehe wajar lah memang seharian ini kita belum makan lagi. Lian memang memiliki tubuh mungil akan tetapi tidak ada kemungkinan dirinya makan banyak.
__ADS_1
"Nginep disini yuk?"