
"Ngga, lo beneran nggak mau ikutan kita weekend besok?" tanya Arif sambil mematikan laptopnya.
"Iya Ngga, acaranya nggak bakal seru kalau elo nggak ikutan. Tuh Nakula Sadewa sudah nggak ikutan gara-gara kucing nyokapnya mau lahiran. Masa sekarang juga elo nggak mau ikutan," ucap Bento, teman mereka yang berbadan tambun. Nama aslinya Benny Harfianto. Tapi biasa dipanggil Bento oleh teman-temannya, kependekan dari Benny Tolol. Dasar teman-teman biadab. 🤭
"Sorry gue beneran nggak bisa. Kemarin Engkong jatuh dari tangga. Enyak Rodiah nyuruh gue antar engkong fisioterapi. Jadwalnya bentrok dengan acara kalian."
"Kenapa bukan abang lo, Juna, yang antar engkong Rojaih?" tanya Arif lagi. "Ayolah elo minta bang Juna aja yang antar engkong."
"Kalau bisa nolak, gue pasti nolak. Masalahnya kalau gue menolak, enyak Rodiah nggak bakal mau kasih uang jajan buat gue. Bisa kacau kalau gue nggak punya duit."
"Elo minta duit sama bokap nyokap dong," imbuh Bento. "Elo tuh tajir tapi duit jajan lo dikit. Heran gue sama Enyak Rodiah. Pelit banget sama cucu sendiri."
"Gue kagak tajir. Noh si Arif yang tajir melintir. Gue mah cuma anak tukang bangunan," sahut Angga.
"Iye, tukang bangunan di Dubai sono alias kontraktor kelas kakap. Sok merendah lo!" tukas Bento keki. "Tuh si Arif yang babenya cuma pemilik kios di pasar aja ke sekolah naik Kawasaki. Lah elo, nebeng mulu sama gue. Mana jarang ngejajanin gue."
"Ooh.. jadi elo nggak ikhlas nebengin gue?" tanya Angga pura-pura ngambek."Ya sudah, kalau begitu nanti gue bilang sama Lanny supaya besok berangkat naik angkot aja bareng gue."
"Yaelaaah... baperan amat sih lo! Gue kan cuma bercanda, Ngga."
"Becanda lo nggak asyik," sahut Angga. "Padahal gue baru cerita sama Lanny kalau minggu depan elo tuh bakal jemput pake mobil baru. Tapi kayaknya nanti gue kasih tau dia kalau elo batal jemput dia."
"Nggak jangan gitu dong. Nggak asyik amat sih. Gue ikhlas kok jemput elo. Gue janji deh nggak bakal ungkit-ungkit lagi urusan kayak gitu. Elo mah teman gue yang paliiiiing baik." Bento langsung buru-buru mengeluarkan sebatang coklat dari dalam tasnya. "Titip buat Lanny ya."
"Buat gue mana?" Sambil ngedumel Angga menerima coklat yang Bento titipkan untuk Lanny. Tak lama Bento mengeluarkan 2 batang permen lolipop dari dalam tasnya dan memberikannya masing-masing satu kepada Angga dan Arif.
"Bujuuug... gue cuma diupah permen beginian? Waaah parah lo." Angga geleng-geleng kepala sambil membuka bungkus permen tersebut.
"°Nanti kalo si Lanny sudah terima cinta gue, elo gue traktir makan bakso di warung mbok Pinah."
"Memangnya elo belum nembak dia?" tanya Arif dan Angga berbarengan. Bento menunduk sedih. Kedua sahabatnya saling berpandangan. Ingin ketawa tapi kasihan.
"Sudah 5 kali gue nembak dia selama semester ini. Jawabannya selalu nanti dulu, nanti dulu."
"Gileee... 5 kali? Gue satu semester sudah ganti 3 cewek. Salah kali lo cara nembaknya. Kan gue sudah pernah ajarin ke elo gimana cara nembak yang baik dan benar." Arif menepuk-nepuk punggung Bento.
"Elo belajar nembak cewek sama si Arif. Ya kagak bakal diterima. Dia aja kagak pernah nembak cewek. Dari jaman smp dulu, selalu cewek yang ajak dia pacaran. Dia mah terima beres. Gue kasih tahu nih kemana elo harus belajar nembak." Angga menyuruh kedua temannya mendekat. Setelah mereka mendekat, Angga memperhatikan sekitar mereka. Setelah di rasa aman... "PER-BA-KIN"
__ADS_1
"Setdaaaaah nih bocah! Gue pikir serius. Dasar kamvret lo!!" Bento dan Arif melemparkan guling dan bantal ke arah Angga yang langsung kabur keluar dari kamar Bento.
Pada saat bersamaan pintu kamar terbuka dan masuklah Bintang, kakak sulung Bento yang cantiknya melebihi Selena Gemez, penyanyi dangdut dari kampung sebelah. Tak ayal tubuh mereka berbenturan. Untunglah Angga sempat menahan pinggang Bintang sehingga gadis cantik itu tidak jatuh terjengkang di lantai. Akibatnya kini Bintang berada dalam pelukan Angga.
"Eh, kak Bintang. Hmm.. ma - maaf kak," Ucap Angga tapi masih belum melepaskan pelukannya.
"Eh.. ng.. nggak papa Angga." Jawab Bintang sambil tersenyum manis. Buset nih cewek kalau senyum kenapa tambah cantik ya, batin Angga sambil memperhatikan pipi Bintang yang merona.
Sementara itu Arif dan Bento hanya bisa bengong melihat kejadian itu. Kejadian yang mirip adegan picisan di drama-drama Korea yang sering mereka tonton. Akhirnya Bento duluan yang sadar kakaknya masih berada dalam pelukan Angga sahabatnya. Segera ia berdiri dan mendorong tubuh Angga menjauh dari Bintang.
"Heh dasar kadal.. cari kesempatan dalam kesempitan lo ye. Ada udang di balik bakwan kayaknya." Bento segera menyembunyikan sang kakak di balik badan tambunnya. Otomatis badan langsing Bintang menghilang tertutup oleh tubuh sang adik.
"Siapa yang ada bakwan di balik udang.. eh salah kata siapa ada udang di balik bakwan. Tadi itu beneran nggak sengaja. Kalau gue nggak pegangin, kak Bintang bisa jatuh. Kasian kan lihat kak Bintang yang cantik ini jatuh terjengkang." Angga membela diri.
"Elo mah modus banget Ngga. Dasar kadal buntung!" Bento masih ngedumel.
"Sudah Ben. Tadi itu nggak sengaja kok. Niat dia kan menolong kakak. Makasih ya Ngga," Bintang membela Angga. "Lain kali kamu lebih hati-hati ya."
"I-iya kak," jawab Angga dengan hati berbunga-bunga karena sudah lama dia kesengsem sama kakaknya Bento yang satu ini. "Tapi tubuh kakak nggak ada yang sakit kan saat tadi kita tabrakan?"
"Alhamdulillah nggak," jawab Bintang sambil tersenyum manis, melebihi manisnya madu. "Ben, tadi bunda sebelum berangkat ke Yogya pesan supaya mobil kamu di bawa ke bengkel weekend ini. Bunda nggak mau tuh mobil mogok lagi. Ada orang yang mau lihat mobil itu."
"Ya nggaklah. Lo lupa nyokap gue bisnis sampingannya jual beli mobil. Kemarin ada yang nawar mobil gue," sahut Bento.
"Kalau elo nggak punya mobil itu artinya elo nggak bisa jemput Lanny dong. Itu artinya..."
"Yap, dugaan lo benar. Elo kagak bisa lagi nebeng sama gue. Karena sebelum gue dapat mobil baru gue ke sekolah bawa motor. Dan nggak mungkinlah gue boncengin elo dan Lanny. Gue pasti bakal bonceng...."
"Pasti gue kan Ben?" tanya Angga penuh harap. Wajahnya tampak memelas. Bintang sampai tertawa melihatnya.
"Ya nggaklah ngapain juga gue boncengin elo. Nanti disangkain terong makan terong. Dih, najong!"
"Terus gue gimana ke sekolahnya?"
"Naik sepedalah. Elo kan punya sepeda yang mahal itu."
"Biarpun mahal tetap sepeda, bro. Gue tetap harus gowes. Kalau gue naik sepeda, sampai sekolah gue nggak pasti kusut, bau asem, dekil."
__ADS_1
"Berangkatnya habis shalat subuh. Nggak usah mandi. Nanti sampai sekolah elo numpang mandi deh di rumahnya mang Ujang," usul Arif. "Biar sehat Ngga."
"Usul yang bagus tuh Ngga. Kamu pasti lebih fit kalau rutin sepedahan. Jadi lebih macho." Bintang mendukung usulan Arif.
"Yang benar kak? Kak Bintang suka cowok yang macho?" tanya Angga. Bintang mengangguk.
"Oke, kalau begitu mulai besok gue akan naik sepeda ke sekolah." Wajah Angga terlihat penuh tekad. Ia bertekad menunjukkan pada Bintang kalau dia bukan Angga yang lemah.
"Dasar kecoak gepeng! Giliran kakak gue bilang suka cowok macho elo langsung semangat bawa sepeda ke sekolah." Bento meledek sahabatnya dari kecil.
Ya, Bento dan Angga sudah bersahabat sejak keduanya di bangku SD. Sementara Arif bersahabat dengan mereka sejak SMP. Kini mereka duduk di kelas 11.
"Kalian sudah makan belum?" tanya Bintang. Ketiganya kompak menggeleng. "Ya sudah kakak masakin spaghetti mau?"
"Mau kak." Sekali lagi ketiganya kompak menjawab. Untuk urusan makan, mereka memang tidak pernah pilih-pilih makanan.
"Oke, kakak akan buatkan. Tapi kakak butuh bantuan nih. Siapa yang mau bantuin? Ben, kamu bantuin kakak yuk!"
"Ogah ah kak. Capek."
"Capek kenapa?" tanya Bintang heran.
"Capek diomelin kak Bintang. Capek disuruh-suruh."
"Gue saja yang bantu kak Bintang." Tanpa diminta lagi Angga menawarkan diri. Kapan lagi bisa berduaan sama pujaan hatinya. Terbayang sudha oleh Angga saat memasak nanti Bintang akan mengajarinya memotong sambil memeluknya dari belakang. Ya ampuuun, pasti mesra banget deh. Tiba-tiba ..... plak!! Sebuah buku mendarat di kepalanya. Angga langsung menoleh kesal kepada Bento.
"Kagak usah mengkhayal yang aneh-aneh lo ye!! Gue tau otak lo pasti ngeres," omel Bento.
"Sok tahu lo!"
"Tahulah. Muka lo tuh mupeng banget. Pake merem melek lagi." Sambil nyengir Angga langsung garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Sudah, sudah.. Nggak usah berantem. Ayo tiga-tiganya bantuin kakak." Bintang melerai. "Yang nggak mau bantuin, nggak kebagian spaghetti."
Lagi-lagi ketiganya dengan kompak mengikuti Bintang menuju dapur.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1
Ayo jangan lupa like dan komennya ya