CINTA KITA BUKAN CINTA MEREKA

CINTA KITA BUKAN CINTA MEREKA
CKBCM 3


__ADS_3

"Assalaamu'alaykum," Safira membuka pintu saat didengarnya suara Seno, sang ayah, di depan pintu.


"Wa'alaykumussalaam. Ayah, kok bajunya basah semua?" tanya Safira melihat ayahnya basah kuyub. "Perasaan nggak hujan deh."


"Tadi sebelum pulang, ayah dapat penumpang yang minta diantar ke Depok. Dalam perjalanan pulang sempat hujan. Begitu sampai disini nggak taunya kering." Seno menjawab sambil terkekeh.


"Lho, mas kok basah kuyub begitu?" Dian sang istri yang baru keluar dari kamar mandi kaget melihat suaminya basah kuyub. "Fir, tolong kamu masak air buat ayahmu mandi. Mas, sana kamu lepas dulu bajunya. Sambil menunggu air siap, aku buatkan teh hangat ya."


"Salman dan Sania mana, dik?" tanya Seno pada Dian. Kini ia terlihat segar kembali setelah mandi dan menyantap makan malam yang disiapkan oleh Dian dan Safira.


"Mereka sudah tidur. Tadi Salman pulang agak sore karena dipanggil Engkong Hasan, disuruh bantuin antar pesanan tanaman. Sania sejak siang agak kurang enak badan. Tapi tadi sudah aku kasih obat. Makanya sekarang dia sudah tidur," jelas Dian.


"Bagaimana sekolahmu, nak?" tanya Seno pada Safira. "Apakah pengajuan beasiswamu lolos?"


"Alhamdulillah, tadi bu Yuna memberitahu kalau pengajuan beasiswa semester ini disetujui. Tapi kata bu Yuna, nggak 100%. Untuk biaya fieldtrip tetap harus bayar." Safira berkata pelan sambil menundukkan kepala.


"Kapan fieldtripnya?"


"Fira nggak usah ikut saja yah."


"Kenapa? Bukannya itu bagian dari pembelajaran kamu?"


"Hmm.. Fira nggak mau merepotkan ayah dan ibu. Biar nanti Fira menghadap pak Husni, meminta kebijakan beliau untuk memberikan kelonggaran untuk tidak ikut fieldtrip itu."


Seno dan Dian berpandangan. Mereka tahu seberapa penting acara fieldtrip ini bagi Fira. Fieldtrip ini bukan sekedar jalan-jalan, namun juga mempengaruhi nilai beberapa mata pelajaran. Karena fieldtrip ini juga dibarengi dengan penelitian.


"Memangnya kapan Fir acaranya?" tanya Seno sekali lagi. Bukan menjawab Fira malah semakin menunduk.


"Fir, itu ditanya sama ayahmu, dijawab dong." Dian yang duduk di samping Safira membelai lembut kepala anaknya.


"Dua bulan lagi, yah."


"Berapa biayanya?"


"Hmm.. 500 ribu." Seno dan Dia saling berpandangan. Keduanya menghela nafas. Jumlah itu bukan jumlah yang kecil untuk mereka yang hanya mengandalkan penghasilan Seno sebagai driver ojol dan penghasilan Dian berjualan nasi uduk dan gado-gado.


"Kapan pendaftaran paling akhir?"


"Sebulan sebelum keberangkatan, yah."

__ADS_1


"Ayah usahakan ya nak. Semoga sebelum tanggal itu uangnya sudah ada."


"Yah, Fira nggak ikut juga nggak papa kok. Fira nggak mau membebani ayah dan ibu."


"Sudahlah, kamu nggak memikirkan hal itu. Tugasmu adalah fokus pada pelajaran dan mendapat nilai yang baik supaya bisa terus mendapat beasiswa," Dian menenangkan Safira yang terlihat ingin menangis. "Sudah tugas ayah dan ibu membiayai pendidikan kalian."


"Iya nak, insyaa allah akan ada jalan keluar untuk segala masalah kita."


Safira memeluk erat sang ibu. Hatinya sangat sedih mengingat betapa berat perjuangan kedua orang tuanya membiayai pendidikan mereka bertiga.


⭐⭐⭐⭐


"Troy, sini kamu!" panggil oma Linda saat dilihatnya Troy berjalan menuju kamarnya. "Duduk!"


"Ada apa sih oma? Troy capek nih baru banget sampai."


"Kamu dari mana?" tanya oma Linda seraya menatap tajam sang cucu.


"Troy baru balik dari rumah Cor... eh Tony," jawab Roy gugup. Aduh, semoga oma nggak terima laporan kalau tadi aku clubbing sebentar, keluh Troy dalam hati.


"Ini apa?" Oma Linda melemparkan selembar kertas ke hadapan Troy. Tanpa melihat isinya Troy tahu kalau itu adalah laporan bulanan yang diberikan oleh pihak sekolah kepada ketua yayasan. Laporan bulanan cucu tersayang, Troy Gunadi Hartawan.


"Jangan kurang ajar kamu. Panggil dia papa atau setidaknya om Broto. Dia itu suami mama mu. Berarti sekarang dia adalah papamu." tukas oma Linda tajam. "Kenapa hari ini kamu tidak mengikuti kelas pengayaaan sore? Kemana kamu?"


"Troy lupa kalau hari ini ada kelas pengayaan, oma. Tadi setelah pelajaran terakhir Troy ke rumah Tony untuk mengerjakan tugas Fisika." Yang Troy katakan tak sepenuhnya bohong. Ia memang ke rumah Tony, tapi bukan untuk mengerjakan tugas melainkan untuk menonton film terbaru. Karena asyik menonton, dia lupa kalau jam 3 ada kelas pengayaan khusus siswa kelas 12. Setelah itu bukannya pulang, mereka malah pergi clubbing dan baru pulang jam 9 malam.


"Kenapa bisa lupa? Padahal kelas pengayaan sudah terjadwal." cecar oma Linda. "Laporan bulanan menunjukkan kamu sering datang terlambat di kelas pengayaan serta beberapa kali tidak mengikuti tryout."


Troy terdiam. Mampus gue! Alasan apa ya yang harus gue sampaikan ke oma? Otak Troy buntu.


"Maaf oma. Troy capek harus terus menerus mengikuti tryout. Sementara di tempat bimbel juga terus menerus ada tryout."


"Tugas kamu itu belajar dan menunjukkan hasil yang terbaik. Kamu itu cucu ketua yayasan. Seharusnya kamu menjadi panutan bagi siswa lainnya. Bukannya malah sengaja membuat ulah." Troy terdiam mendengar omelan sang oma.


"Kamu harusnya malu pada para penerima beasiswa. Mereka itu adalah anak-anak yang bekerja keras demi mendapatkan pendidikan yang layak. Sementara kamu yang hidup berkecukupan malah nggak serius," omel oma Linda.


"Maaf oma."


"Mam, sudahlah. Biarkan Troy istirahat dulu." Kemala yang baru keluar kamar menyelamatkan Troy.

__ADS_1


"Nah, kamu ini yang membuat anakmu jadi manja. Troy itu sudah besar, sudah saatnya belajar bertanggung jawab. Dan tanggung jawab dia adalah menjalani pendidikannya dengan benar dan hasil memuaskan," sahut oma Linda. "Oma nggak menuntut dia untuk menjadi juara, tapi setidaknya lebih seriuslah dalam belajar. Dia ini yang nantinya akan melanjutkan memimpin perusahaan dan yayasan yang telah dibangun papamu, Mala."


"Mala mengerti mam, tapi itu kan bisa dibicarakan nanti setelah anaknya mandi dan makan. Coba mama lihat wajahnya yang lelah. Mala yakin dia pasti capek belajar terus hari ini," bela Kemala.


"Capek belajar? Ya ampun Mala, kamu percaya begitu saja bahwa anakmu capek belajar. Coba lihat ini," oma Linda menunjukkan foto di ponselnya dan tampaklah gambar Troy yang baru keluar dari sebuah club. Troy terkejut. Ia tak menyangka oma Linda mengawasi segala gerak geriknya.


"O-oma, dapat darimana foto itu?" tanya Troy tergagap. Mampus gue, mampus beribu-ribu kali ini mah.


"Kenapa? Kamu mau menyangkal kalau tadi kamu pergi clubbing bersama teman-temanmu?" Otak Troy berputar cepat untuk mencari jawaban yang dapat menyelamatkan dirinya.


"Engh.. nggak oma. Troy nggak menyangkal kok. Itu tadi Troy diajak oleh Duta dan Tony. Kebetulan pacarnya Duta ulang tahun."


"Clubbing di malam sekolah? Pacarnya Duta ulang tahun? Kamu pikir oma akan percaya begitu saja dengan ucapanmu. Anak muda, kamu sepertinya lupa sudah berapa tahun oma mu ini hidup," ucap oma Linda sinis. "Apapun alasannya, kamu itu masih dibawah umur. Belum saatnya kamu pergi ke tempat-tempat seperti itu."


"Tapi oma..."


"Sudah! Oma nggak mau mendengar berbagai alasanmu. Serahkan kartu kredit dan kunci mobilmu. Semua itu hanya menjadikanmu anak yang liar." oma Linda menjatuhkan ultimatum. Troy tahu ia tak mungkin membantah perintah sang oma. Dengan kesal ia menyerahkan kartu kredit dan kunci mobilnya.


"Jangan pernah berpikir untuk meminjam mobil mamamu. Mulai besok kamu berangkat dan pulang bersama papamu."


"Tapi oma ......"


"Nggak ada tapi-tapian. Oma baru akan mengembalikan mobilmu kalau kamu sudah berubah." Mampus lagi gue! maki Troy dalam hati.


"Mam, Troy kan sudah besar. Masa berangkat dan pulang sekolah diantar jemput papanya. Dia kan bukan anak SD lagi." Kemala membela anaknya. Troy adalah anak satu-satunya dari mendiang suaminya. Ia sangat menyayangi putranya ini. Melebihi sayangnya kepada Cantika, anak perempuannya dari Broto.


"Kenapa dia harus bawa mobil. Papanya kan bekerja di tempat yang sama dengan sekolah dia. Seharusnya dia bersyukur oma tidak menyuruhnya naik angkot." Oma Linda meninggalkan mereka seraya membawa kunci mobil dan kartu kredit Troy.


"Mam, masa Troy harus berangkat sama si Broto?"


"Troy, panggil dia papa."


"Dia bukan papa Troy. Dia cuma benalu yang numpang hidup sama oma."


"Troy! Kamu nggak boleh bicara seperti itu tentang papamu." tegur Kemala.


"Dia memang cuma benalu dan pesuruh oma kan? Buktinya dia selalu menurut apa yang oma perintahkan. Kalau bukan pesuruh apa namanya? Kacung?!" Troy pergi meninggalkan Kemala yang hanya mampu memandangi anaknya sambil memegang dadanya.


Ia tak menyangka Troy sedemikian bencinya pada Broto, suami pilihan oma Linda. Awalnya ia pun menolak menikah dengan Broto, sepeninggal Jordan suaminya. Ia sempat menjanda selama setahun. Lalu oma Linda memperkenalkannya pada Brotoyudho, pegawainya di sekolah. Saat itu Broto hanyalah guru wali kelas. Kemala menolak. Ia merasa mengkhianati Jordan bila menikah lagi. Namun kegigihan dan perhatian Broto lama-lama meluluhkannya. Meskipun ditentang oleh Troy, ia tetap menikah dengan Broto. Kini meski telah menikah selama beberapa tahun, Troy tetap menolak memanggil Broto dengan sebutan papa.

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2