
"Fir, dapat salam,"ucap si kembar berbarengan saat pagi itu mereka bertemu dengan Safira di gerbang sekolah.
"Wa'alaykumussalaam," jawab Safira sambil tersenyum lalu menyapa beberapa teman yang dikenalnya.
"Nggak pengen tahu dari siapa gitu?" tanya Sinta penasaran karena reaksi Safira biasa-biasa saja.
"Hmm.. memangnya dari siapa?"
"Kak Troy."
"Oh..."
"Gitu doang?" Kali ini Santi yang heran.
"Memangnya aku harus gimana?"
"Cewek lain kalau dapat salam dari kak Troy pasti girang banget. Bisa teriak-teriak histeris, lompat-lompat kegirangan. Lah kamu cuma begitu reaksinya." Safira hanya tersenyum mendengar penjelasan Santi.
"Tiap orang kan beda-beda San. Aku bukan tipe orang yang seperti itu. Lagipula aku sudah jawab kan tadi."
"Tapi ini kak Troy lho yang kirim salam buat kamu. Kak Troy, cowok idola nomor satu di sekolah kita. Ganteng, tajir, cucu pemilik sekolah, keponakan guru, anak kepsek."
"Sayang jarang shalat." Jawaban pendek yang mampu membuat Sinta dan Santi terdiam.
"Tapi Fir...."
"Sin, San, aku sekolah disini bukan untuk mengejar cowok. Aku bisa sekolah disini karena beasiswa. Jadi aku nggak mau menyia-nyiakan kesempatan dan kepercayaan yang diberikan ini dengan memikirkan hal-hal lain seperti cowok. Aku mau fokus belajar."
Sinta dan Santi tahu kalau sudah begini tak ada yang bisa mereka lakukan. Ah, yang penting sudah menyampaikan amanat dari kak Troy.
"Yuk, ke kelas. Mumpung masih pagi. Bisa istirahat sebelum pelajaran dimulai."
"Selamat pagi Fira," sapa Angga yang kebetulan baru sampai dengan sepedanya. Santi dan Sinta menatap Angga heran.
"Pagi Angga. Baru sampai?" Fira membalas sapaan Angga. Hal yang membuat si kembar kembali terbelalak heran. Safira bersikap ramah kepada seorang cowok? Unbelievable, pikir keduanya.
"Iya. Tadi aku mampir ke rumah, tapi kata ibu kamu sudah berangkat bareng ayahmu."
"Iya tadi aku bareng ayah. Kebetulan beliau berangkatnya nggak terlalu pagi. Kamu ngapain nyamper aku?"
"Mau ajak berangkat bareng."
"Boncengan naik sepeda kamu?" Safira mengamati sepeda balap Angga yang tidak ada kursi untuk membonceng. "Aku disuruh duduk dimana? Ada-ada saja kamu."
"Hehehe... kalau tadi kamu mau bareng, aku bisa bawa motornya bang Juna. Biar bang Juna bawa mobil ke kantor."
"Makasih ya atas tawarannya. Tapi aku lebih senang diboncengin sama ayah." jawab Safira. "Ngga, aku duluan ya."
__ADS_1
"Kalau besok gimana Fir?" teriak Angga pada Safira yang sudah mulai menjauh. Safira hanya melambaikan tangan tanpa menoleh.
"Ngga, itu gebetan baru lo?" tanya Bento yang tiba-tiba ada di sampingnya.
"Bukan gebetan. Baru kenal kok sebulan terakhir ini. Baru mau dijadiin teman."
"Teman dekat maksud lo? Itu anak IPA yang waktu itu lo samperin ke kelasnya ya?" celetuk Arif yang tampaknya juga baru sampai.
"Kendaraan kalian mana?" tanya Angga heran. "Nggak biasanya kalian lewat gerbang ini jalan kaki."
"Mobil gue sudah laku. Nyokap belum beliin lagi. Katanya nanti aja, liat raport gue semester ini." jawab Bento lemas.
"Elo Rif? Mana motor lo?"
"Apes gue. Kemarin sore ada razia di bundaran dekat rumah, dan gue nggak pakai helm. SIM gue ditahan. Bokap nggak ngebolehin gue bawa motor kalau nggak ada SIM." Angga tergelak mendengar jawaban para sahabatnya.
"Ya sudah, besok naik sepeda aja kayak gue. Kita konvoi. Kalian kan punya sepeda mahal yang nggak pernah dipakai tuh. Hitung-hitung olahraga."
"Ya ampun, elo nyuruh gue gowes dari rumah sampai sekolah? Bisa kehabisan nafas gue!" seru Bento yang tubuhnya memang lumayan tambun. "Mendingan gue naik ojek atau taksi online deh. Biar gue bisa bareng Lanny."
"Ben, itu bukannya Lanny? Itu tuh yang baru turun dari mobil merah," tunjuk Arif ke arah tempat parkir. "Itu kan mobilnya kak Ryan, anak kelas 12 IPS 1."
"Mana? Oh iya, elo benar Rif. Itu memang kak Ryan. Rumah mereka kan deketan," sambung Angga. "Eh jangan-jangan mereka jadian. Tiga hari lalu gue lihat mereka pulang bareng. Waktu itu elo nggak masuk gara-gara bisul lo pecah."
"Lo bilang rumah mereka deketan kan? Pasti kak Ryan cuma mau berbuat baik pada tetangga," ucap Bento membesarkan hatinya sendiri.
"Pantas saja dia nggak pernah nerima cinta lo Ben," komentar Arif. Tak ada sahutan. Begitu Arif dan Angga menoleh, dilihatnya Bento berlari ke taman belakang sekolah.
"Ngga, kenapa tuh si Bento? Kita susul yuk. Gue takut dia frustasi terus gantung diri di pohon mawar."
"Pohon sama orang gedean orangnya. Ada-ada aja lo Rif. Ya sudah, kita susulin dia." Keduanya segera mengejar teman mereka yang sedang patah hati.
⭐⭐⭐⭐
Jam istirahat baru berbunyi. Safira menghela nafas lega. Pelajaran kimia hari ini benar-benar membuat kepalanya pusing. Apalagi tadi pagi dia belum sempat sarapan. Segera Safira membuka kotak bekalnya. Untunglah ibu membawakan bekal yang lumayan banyak sehingga bisa untuk dua kali makan.
"Lis, itu mau sekolah atau mau piknik sih? Ke sekolah kok bawa rantang," sindir Zara, salah seorang cewek cantik di kelas mereka. Sejak awal dia dan teman-temannya memang kurang suka pada Safira. Apalagi saat mengetahui Safira lebih pintar darinya. Bahkan kini Safira menduduki peringkat tertinggi di angkatan mereka.
"Ya maklumlah Zar, namanya juga orang kampung. Suka nggak sadar diri kalau tempatnya bukan disini," balas Lisna, teman satu ganknya.
"Jangan gitu ah. Buang-buang waktu aja ngomongin dia. Mendingan kita makan di kantin. Lihat bekal dia bikin gue hilang selera makan. Yuk," ajak Diana. Saat melewati tempat duduk Safira, mereka sengaja menyenggol mejanya. Untunglah kotak bekal milik Safira tidak jatuh.
"Astaghfirullah, punya mulut pada lemes-lemes banget sih. kamu kenapa diam saja Fir?" tanya Sinta emosi. Saat Zara dan teman-temannya mengejek Safira, Sinta dan Santi sedang ke ruang guru untuk mengantarkan buku teman-teman sekelas.
"Kenapa musti emosi? Apa yang mereka katakan memang benar kok," jawab Safira kalem sehingga membuat gemas si kembar.
"Kok kamu bisa sabar sih tiap hari dibully sama mereka? Kamu nggak kepengen membalas mereka?" tanya Santi geram.
__ADS_1
"Buat apa dibalas? Buang-buang energi saja. Rasulullah saat diperlakukan jahat oleh pamannya saja nggak marah. Malah dia mendoakan yang baik-baik untuk pamannya."
"Tapi kamu bukan rasul, Fir."
"Aku mencoba meniru rasul, San."
"Fir, kamu jadi pacarnya kak Troy saja biar nggak ada yang berani memandang kamu sebelah mata lagi," usul Sinta yang disetujui oleh Santi. "Tadi malam mas Seto bilang kalau kak Troy suka sama kamu. Makanya dia sering kirim salam buat kamu."
"Alhamdulillah kalau dia suka sama aku."
"Alhamdulillah? Kamu mau jadi pacar kak Troy?"
"Kata siapa aku mau?"
"Tadi kamu bilang alhamdulillah. Bukannya itu berarti kamu juga suka sama dia?"
"Aku bilang begitu bukan karena aku mau jadi pacarnya kak Troy. Maksudku alhamdulillah dia suka cewek bukan suka sama cowok." Safira terkekeh. Si kembar ikutan terkekeh mendengar penjelasan Safira.
"Fir, kenapa nggak mau jadi pacar kak Troy? Itu suatu kebanggaan lho." tanya Sinta penasaran.
"Aku belum mau pacaran, Sin. Aku mau fokus pada pendidikan. Lulus dengan nilai memuaskan, syukur-syukur bisa masuk PTN melalui jalur undangan. Lalu kuliah yang benar sampai lulus dan bisa dapat pekerjaan. Aku mau bantuin orang tuaku."
"Ya ampun, pemikiran kamu dewasa banget. Usia kita baru 17 tahun, tapi kamu berpikir jauh ke depan. Seusia kita ini harusnya bersenang-senang, bukan mikir yang berat-berat Fir," ucap Santi.
"Kehidupan mengajarkanku seperti itu. Aku harus siap menghadapi masa depan dengan segala keterbatasanku. Aku berbeda dengan kalian yang bisa dengan tenang menikmati masa remaja."
"Kamu menyesali hidupmu yang susah?"
"Nggak. Aku malah bersyukur ayah di PHK dari tempat kerjanya."
"Kenapa begitu?"
"Karena itu mengajarkan kami untuk lebih mensyukuri segala sesuatu yang kami peroleh dan miliki. Dulu kami hidup berkecukupan, walau tidak bisa dibilang berlebihan. Apa yang kami inginkan bisa ayah berikan. Hal itu menjadikan kami lalai dan mungkin lupa bersyukur. Dulu saat SMP dikasih uang saku sehari lima puluh ribu tuh kayaknya kurang terus. Padahal banyak teman-temanku yang uang jajannya hanya sepuluh ribu. Mungkin tanpa kusadari kami, aku khususnya, menjadi sombong."
"Sekarang, berapapun yang ayah bawa pulang dari hasil narik atau berapapun keuntungan ibu berjualan terasa bagai nikmat yang melebihi uang jajan seratus ribu perhari," lanjut Safira. "Kami jadi lebih menghargai segala hal yang orang tua kerjakan untuk membiayai kami."
"Memangnya dulu kamu nggak begini?" tanya Santi heran.
"Aku pernah mengalami gaya hidup hedonis, San. Setiap hari ke mall. Kemana-mana naik taksi. Dan saat SMP dulu aku belum berhijab seperti sekarang. Aku berhijab, tapi masih memakai rok seragam yang ketat, celana jeans ketat. Pokoknya beda 180⁰ deh dengan aku yang sekarang."
"Kamu hebat ya, bisa berubah seperti sekarang ini," puji Sinta. Santi mengangguk setuju.
"Allah memberikan hidayah melalui cara yang tak diduga. Eh, ayo cicipin bekalku. Ibu membawakan cukup banyak nih. Keasyikan ngobrol sampai lupa makan. Kepalaku mulai pusing nih."
Sementara ketiga gadis itu menikmati makanan yang dibawa Safira, di pintu tampak seseorang yang rupanya sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka. Kekagumannya kepada gadis itu semakin bertambah.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1