
Happy reading ❤
"Safira memang nggak percaya sama mas Seto."
"Bagus dong. Berarti kamu percaya sama gue?" tanya Troy dengan pede.
"Nggak juga."
"Kok gitu?"
"Iya dong kak. Safira hanya percaya sama Allah. Kalau Fira percaya sama kalian, itu artinya syirik." Troy terdiam sesaat, mencerna ucapan Safira barusan. Tak lama ia pun tergelak.
"Ya ampun Firaaa.. kamu dalam situasi kayak gini masih bisa bercanda ya."
"Habisnya kak Troy serius banget."
"Kalau membicarakan hal penting pada orang yang spesial memang harus serius, Fir."
"Tapi kan saat ini kak Troy hanya ngobrol berdua Fira. Jadi nggak usah terlalu serius"
Ya ampun, nih anak beneran nggak ngerti atau pura-pura nggak ngerti sih? batin Troy gemas mendengar ucapan Safira. Kamu itu spesial buat aku, Fir.
"Memangnya gue nggak boleh ngobrol serius sama kamu?" pancing Troy
"Di dalam goa, udara dingin, jangan dibawa serius kak. Enaknya dibawa bercanda biar nggak terlalu terasa menghabiskan waktu di sini."
"Tapi aku pengen ngobrol serius sama kamu, Fir." Troy pantang menyerah
Nah lho, kok pakai aku bukan gue lagi? tanya Fira dalam hati.
"Hahaha... kak Troy bisa aja. Masa ngobrol serius sama junior. Fira mah nggak ngerti apa-apa Kak."
"Tapi menurutku, kamu lebih mengerti agama daripada aku."
"Apalagi urusan agama, Fira nggak ngerti apa-apa. Fira cuma mengerti yang wajib-wajib saja."
"Termasuk mengaji? Kemarin aku sempat mendengar kamu mencontohkan cara membaca ayat kepada anak-anak. Suara kamu bagus," puji Troy tulus. Beneran, ini bukan gombal. Suara Fira saat membaca ayat Al Qur'an memang bagus dan menyentuh hati.
"Kamu mau nggak ngajarin aku ngaji?"
"Ah, itu biasa saja kak. Mungkin karena kak Troy jarang mendengarkan orang tilawah, makanya kak Troy bilang suara Fira bagus. Suara Angga juga bagus saat mencontohkan adzan kepada mereka."
Kenapa sebut-sebut Angga sih? omel Troy dalam hati.
"Kak Troy kenapa nggak minta diajarkan oleh kak Ilyas atau mas Seto? Mereka juga bagus mengajinya."
"Fir, kenapa sih kamu panggil Seto pakai sebutan mas? Sementara kamu panggil aku hanya dengan sebutan kak?" tanya Troy tak suka. Kamu cemburu sama sahabatmu sendiri, Troy? tanya hati kecilnya.
"Kebiasaan kak."
"Kenapa kamu nggak mencoba membiasakan diri memanggilku mas Troy?" ucap Troy absurd
"Eh.. maksud kak Troy.....?" Safira terdengar bingung.
"Iya, aku juga mau dipanggil dengan sebutan mas. Lebih mesra kedengarannya?"
"Mesra? Memangnya memanggil dengan sebutan mas terdengar lebih mesra?" Safira tergelak. "Kak Troy ada-ada saja."
Ya tuhan, suara tawanya enak banget. Baru kali ini gue mendengar dia tertawa lepas. Padahal kaki dia sedang sakit. Fix, gue jatuh cinta sama dia.
__ADS_1
"Aku juga ingin dipanggil seperti Seto. Terdengar mesra dan menunjukkan kalau hubungan kita lebih dekat dibandingkan dengan yang lain." Kembali Safira tergelak mendengar ucapan Troy.
"Ya ampun kak Troy. Fira memanggil mas Seto seperti itu karena mengikuti Sinta dan Santi. Begitu cara mereka memanggil kakaknya," ucap Safira setelah tawanya reda. "Lagipula kenapa kak Troy ingin panggilan mesra?"
"Karena... eehmmm.. "Troy tergagap. Apa sekarang saja gue nembak dia? Kalau ditolak gimana? Ah lebih baik ditolak disini, nggak ada yang tau.
"Fir, boleh aku ngomong serius sama kamu?" Belum sempat Troy melanjutkan ucapannya, terdengar bunyi gemuruh dari perut mereka. Keduanya terdiam dan tak lama tawa mereka meledak.
"Lapar." Mereka mengucapkan kata itu bersamaan. Kembali tawa mereka meledak.
"Sudah hampir jam 3 sore."
"Ya Allah, aku hampir melewati waktu shalat," ucap Safira panik. "Subuh tadi aku masih sempat melaksanakan shalat subuh, tapi gara-gara kakiku sakit aku belum shalat dzuhur. Ini sudah mau ashar. Gimana dong?"
Troy terdiam mendengar ucapan Safira. Hebat nih cewek, di dalam goa yang nggak tau berada dimana, kaki sedang sakit, tapi dia masih ingat shalat. Padahal gue aja sama sekali nggak ingat buat shalat.
"Kaki kamu kan sakit, nggak usah shalat juga nggak apa-apa kali."
"Nggak bisa begitu kak. Cuma kaki Fira yang sakit. Anggota tubuh yang lain kan nggak sakit."
"Terus gimana wudhunya? Shalatnya? Mukenanya ada?"
"Insyaa Allah wudhunya bisa pakai air hujan itu kak. Tinggal bergeser sedikit tangan Fira bisa menadahi air hujan untuk wudhu. Shalatnya bisa sambil duduk. Boleh Fira minta tolong?"
"Apa?"
"Tolong ambilin mukena Fira di dekat tempat tadi kita ketemu. Nggak jauh dari sini."
Tak lama Safira sudah terlihat khusyuk menjalankan ibadah. Troy termanggu melihatnya. Di sudut hatinya bergetar melihat hal tersebut. Benar-benar cewek langka, bisik hatinya.
"Kak Troy nggak shalat?" tanya Fira setelah dia selesai berdoa.
"Bingung kenapa? Kakak bisa wudhu pakai air hujan. Baju kakak nggak terlalu kotor kan? Kakak nggak junub kan?"
"Ju.. junub? Maksud kamu? Kita kan dari tadi nggak ngapa-ngapain Fir." Kembali Safira terkekeh geli.
"Ya ampun kak Troy, maksud Fira bukan junub karena melakukan hubungan 'itu'. Tapi siapa tau kakak habis 'mimpi'," Safira memelankan suaranya saat mengucapkan kalimat terakhir.
Troy menggaruk kepalanya dengan canggung. Rasanya aneh membahas hal seperti ini di depan cewek yang ditaksirnya.
Akhirnya hari itu Troy mendapat tambahan pengetahuan dari Safira mengenai shalat dan masalah yang terkait dengan shalat. Tentu saja hal ini menambah kekaguman Troy terhadap gadis di sebelahnya.
⭐⭐⭐⭐⭐
"Pak, itu apa?" tanya pak Yahya pada pak Rahman yang berjalan di depannya. Saat ini mereka masih terus melakukan pencarian. Hari sudah mulai senja. Matahari mulai tergelincir dan sebentar lagi kegelapan akan menutupi hutan itu.
Bahkan kali ini ditambah dengan tim SAR berpengalaman yang dikirim oleh oma Linda. Rupanya berita menghilangnya Troy dan salah satu siswi sekolah mereka sampai ke telinga oma Linda.
Tidak tanggung-tanggung, Broto ikut serta mencari putra tiri dan siswinya. Tentu saja itu ia lakukan sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dan kepala sekolah.
Walaupun sikap Troy selalu ketus kepadanya, ia tak bisa tinggal diam mendengar berita menghilangnya Troy. Belum lagi Kemala yang terus menerus menangisi putra sulungnya. Bahkan oma Linda mengancam akan berangkat sendiri memimpin tim SAR bila Broto menolak.
"Yang mana pak Yahya?"
"Itu yang di sebelah sana, yang dekat pohon besar itu."
"Itu goa. Warga dusun kami tak ada yang berani kesana karena konon katanya orang yang masuk ke dalam goa itu nggak ada yang pernah keluar lagi," jelas pak Rahman.
"Bagaimana kalau kita periksa goa tersebut pak?" tanya Ridho, ketua tim SAR yang diperintah oleh Broto.
__ADS_1
"Tapi mas, bagaimana kalau...."
"Pak, sekarang bukan saatnya percaya pada mitos seperti itu. Ada dua nyawa yang dipertaruhkan disini," tegas Ridho menghilangkan keraguan pak Rahman. "Insyaa Allah apa yang menjadi mitos takkan terjadi."
Sementara itu di dalam goa, Troy dan Safira duduk berdampingan dan tertidur pulas. Kepala Safira tanpa sengaja bersandar di bahu Troy.
"TROY!"
"SAFIRA!"
Sayup-sayup terdengar nama mereka dipanggil. Troy yang pertama terbangun dan mendengarnya. Saat ia hendak berdiri, barulah ia menyadari bahunya dijadikan tempat bersandar oleh gadis cantik berhijab yang sepanjang hari ini membuatnya kagum. Bukannya membangunkan Safira, Troy malah mempergunakan kesempatan ini untuk menatap dari dekat wajah Safira.
Aku baru tahu kalau bulu mata gadis ini ternyata panjang dan lentik. Hidungnya mungil. Bibirnya... aah.. Hush!... buang jauh-jauh pikiran kotormu Troy, omel hati kecilnya. Ini bukan saatnya memikirkan hal seperti itu.
"TROY!"
"SAFIRA!"
Sekali lagi Troy mendengar suara-suara memanggil nama mereka. Diliriknya ponsel untuk melihat jam. Ah sial, baterai ponselku habis. Diangkatnya pergelangan tangan kirinya untuk melihat jam tangannya. Semua itu dilakukan perlahan agar tak mengagetkan Safira. Jam menunjukkan pukul 17.30. Suasana di luar goa sudah mulai gelap. Aah berapa lama mereka tertidur?
Suara-suara itu semakin mendekat. Troy yakin itu adalah rombongan yang mencari mereka. Troy kembali menatap Safira yang masih tertidur lelap. Perlahan Troy mengangkat tangan kanannya dan mengelus kepala Safira yang tertutup jilbab. Ada perasaan hangat mengalir di dadanya saat ia menyentuh kepala Safira. Ah, rasa apa ini. Bukan hal aneh bagiku menyentuh kepala wanita, tapi kenapa kali ini berbeda?
"Fira, bangun." Kali ini Troy mengguncang pelan lengan Safira. Ia melakukan itu berkali-kali. Namun rupanya gadis itu benar-benar kelelahan. Akhirnya Troy memberanikan diri menggenggam tangan Safira dan mengecup punggung tangan gadis itu.
"Aaah... siapa kamu?! Ngapain kamu?!" Safira tergagap saat dirasakannya sesuatu yang hangat menempel di punggung tangannya. Secara reflek Safira memukul punggung Troy dengan keras.
"Fir, ini aku... Troy!"
"Troy?... Aaah.. Kak Troy?! Kak Troy mau ngapain? Jangan macam-macam kak, nanti Fira bakal teriak biar semua warga kampung datang." Troy menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Fir, kamu lupa kita ada dimana?" tanya Troy lembut. "Kita di dalam goa di tengah hutan!"
"Kak Troy jangan macam-macam ya. Jangan ambil kesempatan di tengah hutan!"
"TROY!"
"SAFIRA!"
"Kamu dengar itu Fir? Ada yang mencari kita!"
Safira bergegas ingin berdiri, lupa bahwa kakinya sedang sakit. Akibatnya ia terjatuh ke atas tubuh Troy yang masih duduk.
"Ma-maaf... bukan maksudku...." Keduanya sama-sama terkejut dengan kejadian tersebut. Sesaat suasana menjadi canggung.
"TROY!"
"SAFIRA!"
"KAMI DISINI!" Keduanya berteriak dengan kompak.
"Pak Yahya, sepertinya ada suara dari dalam goa. Mari kita masuk ke sana," ucap Ridho.
Tak lama keduanya berhasil diselamatkan dan dibawa keluar dari hutan. Safira yang kakinya terluka dibawa dengan tandu. Karena malu, Safira pura-pura tertidur. Troy yang berjalan di samping tandu hanya senyum-senyum sendiri melihat hal itu.
"Kenapa? Malu?" Safira mengangguk. Troy terkekeh.
"Nggak usah malu, kamu kan terluka."
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1