
"Selamat siang pak," sapa Safira pada Broto. Ternyata di dalam ruangan bukan hanya ada Broto saja, tapi juga ada Kemala dan seorang gadis cantik berambut panjang. Seperti idol, pikir Safira.
"Selamat siang. Sini duduk." Broto menyuruh Safira duduk di samping gadis berambut panjang itu.
"Selamat siang, bu." Safira mengangguk ramah seraya mengulurkan tangannya pada Kemala mengajak salaman. Kemala mengulurkan tangannya, menyambut tangan Safira. Gadis ini cantik dan sopan, pikir Kemala.
"Siang nak Fira. Sini duduk sebelah Cantika." Oh, namanya Cantika, pikir Safira.
"Hai aku Cantika, adiknya kak Troy. Kakak pacarnya kak Troy ya?" tembak Cantika langsung setelah bersalaman dengan Safira.
"Eh.. bu-bukan.. Kakak bukan pacar kak Troy. Namaku Safira, kamu boleh panggil aku kak Fira saja." jawab Safira tergagap.
"Kalau bukan, kok jawabnya gugup gitu?" desak Cantika.
"Sayang, jangan godain kak Fira," tegur Kemala sambil menjawil lengan Cantika.
"Iih.. mama nggak tau sih kalau kak Troy tuh naksir berat sama kak Fira. Mama tau nggak, tadi pagi waktu kak Troy antar Cantika, dia kelihatan happy banget lho karena dia tau bakal sering ketemu dengan kak Fira," celoteh Cantika tanpa filter. "Memangnya mama papa nggak mau kalau kak Troy punya pacar seperti kak Fira? Pintar, cantik, shalihah."
"Can, kamu papa panggil kesini bukan untuk membahas masalah hubungan kakakmu dengan Fira. Papa mau kamu ngobrol-ngobrol dengan Fira supaya lebih akrab. Jadi nanti saat kamu dibimbing dia, kalian nyambung."
Cantika menatap Safira dari ujung kepala sampai ujung kaki. Matanya menatap calon tutornya dengan teliti. Bahkan Safira merasa seperti diinterogasi. Ia lebih gugup menghadapi Cantika daripada menghadapi Broto dan Kemala.
"Hmm.. kalau liat dari penampilannya okelah. Nggak norak. Cantik. Lebih cantik daripada cewek-cewek yang suka nempel sama kak Troy kayak perangko," ucap Cantika, lagi-lagi nggak difilter.
Sepertinya gadis ini menyenangkan, pikir Safira. Semoga gadis ini tidak seperti kakaknya yang suka memaksakan kehendaknya.
"Tenang kak, walaupun aku adiknya kak Troy, sifat kami berbeda. Aku nggak pemalas dan nggak bloon kayak kak Troy." Cantika seolah mengetahui jalan pikiran Safira.
"Siapa bilang gue bloon?" Tiba-tiba Troy menerobos masuk dan langsung duduk di samping Safira.
"Cantika yang bilang. Kak Troy mau apa? Nggak suka dibilang bloon? Lagian ngapain sih kak Troy duduk disitu? Sana pindah duduk di sebelah mama!" usir Cantika. Ia tahu Safira terlihat tak nyaman duduk di samping Troy. "Sempit kak, pindah gih! Ngapain duduk mepet-mepet kayak di angkot?!"
"Troy, sini duduk dekat mama. Kamu jangan bikin Fira nggak nyaman begitu. Lagipula sofanya kan sempit," Kemala memanggil Troy untuk pindah duduknya.
"Heh centil, elo aja sana yang pindah. Gue mau duduk dekat calon kakak ipar lo," jawab Troy kekeuh tak mau pindah.
__ADS_1
"Eh, nggak ada ya! Mama papa nyuruh kak Fira kesini tuh buat ketemu Cantika. Bukan ketemu kak Troy. Ganggu aja! Sana, buruan pindah ke samping mama! Kalau kakak nggak mau pindah, Cantika akan ajak kak Fira ngobrol di mushola aja. Sekalian biar kak Troy nggak bisa dekat-dekat dan nggak bisa lihat kak Fira," ancam Cantika.
Akhirnya sambil menggerutu, Troy pindah ke sebelah Kemala.
"Ma, tukeran duduknya."
"Kenapa pakai tukeran segala?" tanya Kemala heran.
"Aku mau duduk di seberangnya Fira."
"Dih, ganjen amat sih! Musti banget gitu duduk di depan kak Fira?"
"Heh, anak kecil nggak usah sok ngatur ya."
"Sudah, sudah. Kalian memangnya nggak malu ribut di depan Fira?" Broto menengahi. "Troy, kamu ngapain datang ke sekolah? Bukannya kamu sudah libur?"
"Terserah guelah mau libur atau nggak," jawab Troy ketus.
"Kak Troy!" Spontan Safira menegur perilaku Troy yang dianggapnya tak sopan. Troy langsung diam saat dilihatnya sang gadis pujaan melotot ke arahnya. "Jangan kayak begitu menjawab omongan orang tua. Nggak sopan."
"Hayooo.. mikirin apa? Happy banget diomelin sama kak Fira. Omelin aja terus kak. Dia emang nggak sopan sama orang tua. Senang banget melawan papa dan mama. Nggak pernah menurut kalau diomongin. Dia tuh cuma takut sama oma," adu Cantika sambil tertawa. Bahagia banget dia melihat kakaknya kicep tak bisa membantah omelan Safira.
"Can, kita ngobrol di mushola aja yuk," ajak Safira. "Kakak suka gerah kalau dekat-dekat sama anak yang nggak sopan sama orang tua."
"Eh, jangan dong. Kalau kalian ke mushola aku nggak bisa ngeliat kamu," ucap Troy memelas.
"Makanya kak Troy jangan kayak gitu ke papa." Troy baru mau membalas ucapan Cantika saat dilihatnya pandangan tajam Safira.
"Oke, oke. Gue akan diam. Tapi kalian disini aja," sahut Troy pelan. Wajahnya terlihat bete.
Broto dan Kemala hanya bisa tersenyum melihat interaksi ketiganya.
Setelah mengobrol selama hampir satu jam, akhirnya disepakati Safira akan mengajar Cantika seminggu dua kali.
"Nanti biar aku yang jemput kamu ya Fir."
__ADS_1
"Nggak usah kak. Nanti aku bisa naik angkot atau bareng Cantika."
"Nanti Cantika aku yang jemput."
"Tumben mau jemput tanpa diomelin dulu," sindir Cantika.
"Heh bocil, jangan ikut campur ya urusan orang gede!" omel Troy.
"Kalau begitu, biar aku naik angkot saja. Atau kamu mau ikut naik angkot?" tanya Safira pada Cantika.
"Naik angkot? Ma, pa, boleh nggak Cantika pulang sekolah naik angkot bareng kak Fira? Please, boleh ya? Please."
"Memangnya kamu nggak pernah naik angkot?" tanya Safira heran. Cantika menggeleng sambil cemberut.
"Nggak boleh sama mama. Katanya takut anaknya diculik. Dih, padahal siapa juga yang mau nyulik aku. Gini-gini aku tuh sudah gede. Bukan bocah SD lagi. Aku juga tau nggak boleh ikut kalau diajak orang asing."
"Kalau yang nyulik si Ilyas gimana?"
"Kak Ilyas?" Safira heran karena tiba-tiba Troy menyebut nama sahabatnya.
"Iya, Ilyas. Si bocil ini kan naks....." Belum sempat Troy menyelesaikan ucapannya, Cantika sudah melompat ke depan Troy dan menutup mulut sang kakak.
"Kak Troy jangan ember deh!" omel Cantika.
"Sudah, sudah. Kalian jangan berantem terus. Troy, sana kamu antar Safira pulang. Sekalian ajak adikmu," perintah Kemala. Bagaikan dapat durian runtuh, Troy langsung berdiri dan memberi hormat pada Kemala.
"Siap ma! Tugas akan segera dilaksanakan!"
"Nggak usah bu. Biar Fira naik angkot aja," tolak Safira.
"Nggak papa, sekalian biar Cantika lihat dimana rumah kamu. Siapa tau nanti dia mau belajar di rumahmu."
"Waduh, saya malu kalau Cantika belajar di rumah saya. Rumah saya jelek dan kecil. Nggak pakai AC. Kasihan Cantika," tolak Safira panik.
"Kak Fira nggak perlu panik begitu. Mama cuma bercanda. Ayo kak, kita pulang."
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐