
Troy mengendarai mobil tanpa banyak bicara. Sementara itu Safira dan Cantika asyik berbincang. Hal-hal random yang mereka bicarakan. Mulai dari masalah film, fashion, K-pop, dan masih banyak lagi.
"Kak, sudah nonton film yang waktu itu aku ceritain?" tanya Cantika.
"Belum sempat, Can. Belum ada waktunya. Senin sampai jumat sekolah dan ngajar kamu. Sabtu Minggu bantuin ibu di rumah."
"Sesekali nggak usah bantuin ibu. Gantian dengan Sania dan Salman," ucap Cantika enteng. Safira tertawa mendengarnya.
"Kami semua sudah ada tugas masing-masing. Nggak bisa seenaknya mengoper tugas ke yang lain."
"Kak Fira dipaksa bantuin ya?"
"Ya nggak dong. Kakak dan adik-adik memang sudah sepakat akan membantu kedua orang tua kami. Jadi nggak ada paksaan apapun dari orang tua kami. Lagipula apa yang kami lakukan nggak sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan."
Cantika mengangguk-angguk mendengar ucapan Safira.
"Kak, maaf ya kalau pertanyaan Cantika kali ini agak keterlaluan." Cantika terlihat ragu.
"Jangan nanya yang aneh-aneh, Can," Troy memperingatkan. Melalui kaca spion tengah, ia memperhatikan raut wajah Safira. Fiuuh, untunglah gadis itu tak terlihat tersinggung.
"Ih, siapa juga yang mau nanya yang aneh-aneh. Pertanyaan Cantika nggak aneh kok. Beneran!"
"Kamu mau nanya apa sih? Kok serius banget?"
"Hmm.. kakak janji jangan tersinggung ya."
"Iya, kakak janji."
"Hmm.. apakah keluarga kakak sejak dulu memang kekurangan sampai-sampai ibu kak Fira harus jualan dan ayah kak Fira menjadi driver ojol?" Safira tertawa mendengar pertanyaan Cantika.
"Ya ampuuun, kakak pikir kamu mau nanya apa. Kakak deg-degan tau."
"Kamu deg-degan nggak kalau aku tembak kamu?" tanya Troy absurd sambil memamerkan smirk-nya. (Heran, demen amat pamer smirk mas? Nggak tau apa para reader cewek mulai termehek-mehek?😅)
__ADS_1
"Pasti deg-degan dong kak," jawab Safira cepat. Hati Troy berbunga-bunga mendengar jawaban Safira.
"Namanya juga orang hidup, jantungnya pasti deg-degan. Kalau nggak deg-degan itu artinya sudah meninggal," lanjut Safira.
Kali ini Cantika yang tergelak mendengar ucapan Safira ditambah lagi melihat wajah Troy yang mendadak berubah setelah mendengar jawaban Safira. Cantika menepuk-nepuk lengan Troy sambil terus tertawa.
"Keluarga kami dulunya hidup berkecukupan, walau mungkin tidak sekaya teman-teman yang sekolah di Bhakti Nusa. Apalagi kalau dibandingkan dengan keluarga kalian. Apa yang kami mau pasti akan dipenuhi oleh ayah dan ibu. Tapi sayangnya semua itu malah membuat kami terlena."
"Apa yang terjadi kak?" tanya Cantika tak sabar.
"Ayah dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja dengan tuduhan penggelapan. Padahal bukan ayah yang melakukan itu. Pada akhirnya perusahaan memecat ayah sebagai ganti melaporkan ayah ke polisi. Untunglah ayah tidak putus asa. Ia mengikuti anjuran temannya untuk menjadi driver ojol. Ibu pun tak kalah semangat membantu perekonomian keluarga. Dengan keahlian memasaknya, ibu menerima pesanan catering dari para tetangga di tempat kami dulu tinggal.Dan yang lebih beruntung lagi aku mendapat full beasiswa dari SMA Bhakti Nusa karena pernah menjadi juara umum olimpiade Math and Science yang diadakan oleh Yayasan Bhakti Nusa."
"Waaah.. kak Fira hebat ya," puji Cantika. "Kak, waktu kehidupan kakak berubah gimana perasaan kakak? Dari yang biasa hidup enak menjadi hidup pas-pasan?"
"Can, kok elo nanyanya kayak gitu ke Fira? Nggak sopan, menyinggung perasaan orang aja," omel Troy.
"Kok nggak sopan? Cantika nanya kan bukan karena mau ngejek kak Fira, tapi mau belajar bagaimana kak Fira dan adik-adiknya bisa menerima perubahan hidup mereka."
"Pada awalnya kak Fira cukup shock dengan perubahan itu. Untunglah ayah dan ibu selalu mengingatkan kami untuk selalu sabar dan trrus bersyukur. Bahkan ketika akhirnya kami harus menjual rumah dan kami harus pindah ke rumah yang sekarang, ayah dan ibu selalu membesarkan hati kami dan mengatakan betapa beruntungnya kami tak perlu putus sekolah ataupun hidup menggelandang."
Troy dan Cantika terdiam mendengar cerita Safira. Selama ini mereka hanya taunya meminta dan menuntut kepada orang tua mereka.
"Dengan kejadian itu kami diajarkan untuk selalu bersyukur berapapun rejeki yang kami terima. Kami juga belajar membantu orang tua kami dengan bekerja membantu tetangga atau mengajar, contohnya ya seperti yg sekarang kak Fira lakukan."
"Kamu nggak malu Fir?" tanya Troy penasaran.
"Awalnya sempat malu waktu dimintain tolong sama bu ustadz untuk ajarin anak-anaknya. Tapi hati Fira terketuk waktu melihat Salman nggak malu melakukan pekerjaan kasar di rumah tetangga."
"Wah, kak Fira hebat banget!" Cantika mengangkat kedua jempolnya ke arah Safira. "Pasti semua pengalaman itu yang membuat kak Fira fokus pada pelajaran, supaya bisa membuat bangga orang tua."
"Iya Can. Hanya itu yang bisa kak Fira lakukan untuk membahagiakan mereka saat ini. Selain itu sebagai anak tertua kak Fira berkewajiban memberikan contoh yang baik kepada adik-adik."
"Kak,misalnya ada cowok yang nembak kak Fira gimana?" pancing Cantika. Safira terkekeh mendengar pertanyaan itu.
__ADS_1
"Nggak ada cowok yang suka sama cewek seperti kakak. Nggak gaul, miskin, nggak fashionable. Lagipula biasanya cowok nggak suka sama cewek yang lebih pintar dari dia," jawab Safira diplomatis. "Selain itu ayah juga belum mengijinkan kak Fira memiliki teman spesial. Belum waktunya."
"Pendapat kamu nggak sepenuhnya benar, Fir. Buktinya aku suka sama kamu walau kamu lebih pintar dari aku," celetuk Troy sambil memandang Safira melalui kaca spion. "Dan kata siapa kamu nggak gaul? Buktinya kamu bisa nyambung ngobrol sama adikku."
"Hmm.. mulai deh modus mau ngegombalin kak Fira. Jangan percaya kak!" ucap Cantika. "Kak, kalau masih nebeng sama kekayaan orang tua mendingan kak Troy, mundur. Apalagi kalau kak Troy shalatnya masih berantakan. Lupain bisa berjodoh sama kak Fira."
Troy tak menyahuti ucapan Cantika. Ia hanya fokus pada jalanan. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Safira. Sekali waktu mata mereka bertatapan selama beberapa detik, lalu Safira langsung membuang pandang. Entah mengapa kali ini detak jantung Troy seperti ia habis lari keliling lapangan. Baru kali ini Troy merasakan hal seperti itu.
Perjalanan selama 45 menit menuju rumah Safira tak terasa karena kedua gadis itu asyik berbincang. Troy tak banyak bicara, ia lebih banyak fokus pada jalanan. Apalagi tadi habis hujan deras.
"Kak Troy, Cantika, terima kasih ya sudah diantar sampai rumah. Sampaikan terima kasih kepada oma, dan mama papa kalian."
"Kita nggak ditawarin mampir nih?" tanya Troy.
"Sudah malam kak. Sekali lagi, makasih ya?" tolak Safira halus.
Safira keluar dari dalam mobil lalu berdiri di depan pagar rumahnya. Troy tak segera menjalankan mobil.
"Ada apa kak?" tanya Safira heran melihat hal tersebut.
"Kamu masuk dulu ke dalam rumah, baru nanti aku pulang. Aku nggak mau calon masa depanku kenapa-napa." ucap Troy lembut.
Safira tertunduk malu sekaligus jengah mendengar ucapan Troy. Apalagi tatapan Troy juga terasa berbeda.
"Iih kak Troy, ayo pulang! Nggak usah modus ngarep disuruh mampir deh. Sok perhatian banget. Kak Fira kan sudah di depan rumahnya. Tuh pintu rumahnya juga sudah terbuka," omel Cantika. Ia dapat melihat Safira tak nyaman dengan sikap Troy.
"Anak kecil ganggu aja deh!" balas Troy kesal. "Perusak suasana!"
"Kak Fira masuk aja ke rumah. Playboy kelas cere gak bakal jalan kalau kakak nggak masuk." teriak Cantika dari dalam mobil.
Cantika berteriak persis di telinga Troy. Tentu saja Troy terkejut lalu langsung menjewer telinga Cantika. Safira tertawa melihat interaksi keduanya. Lalu ia memutuskan segera masuk. Bisa berabe kalau Troy nggak segera pulang.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1