
"Jangan samain dia dengan cewek-cewek lain yang pernah lo kenal. Dia itu berbeda. Harusnya elo lebih peka terhadap situasi yang Safira hadapi. Apa elo tahu kalau selama ini banyak orang yang sering menghujat dia sejak ada yang menyebar video kita berkelahi? Banyak cewek terutama para senior yang membenci dia. Kejadian tadi sama sekali nggak membantu dia."
"Nggak usah sok tau!"
"Gue sama sekali nggak sok tau. Tadi gue bisa mendengar sindiran para senior kepada Safira." Troy terdiam mendengar ucapan Angga. Troy, kenapa elo nggak peka sih? omel Troy dalam hati.
"Kalau memang elo suka sama dia, seharusnya elo berusaha mencari tahu tentang dia. Bukannya memaksakan keinginan lo ke dia."
Troy sangat kesal mendengar ucapan Angga. Namun tak bisa dipungkiri tadi ia memang tidak mempedulikan permintaan Safira untuk melepaskan tangannya. Melihat Troy hanya terdiam, Angga meninggalkannya. Ia menyusul Safira di kelasnya.
"San, lo lihat Fira?" tanya Angga saat dilihatnya Safira tak ada di kelasnya. Kemana gadis itu?
"Lho, memangnya dia sudah datang?" Santi balik bertanya.
"Dan, elo lihat Safira?" tanya Sinta pada Dani, ketua kelas mereka.
"Tadi pas di bawah gue lihat. Lho, bukannya tadi dia datang bareng elo, Ngga?" Dani balik bertanya. Angga bingung harus menjawab apa. Ditariknya tangan Sinta ke arah tangga. Santi otomatis mengikuti mereka. Angga menceritakan kejadian tadi.
"Ya ampun, kasihan Fira. Sejak video itu beredar, teman-teman sekelas terutama Zara dan ganknya sering mem-bully dia," ucap Sinta prihatin. "Kalau gue jadi Safira mungkin gue sudah minta pindah sekolah."
"Harusnya Fira terima saja cintanya kak Troy," ucap Santi. "Kalau dia terima pasti nggak akan ada yang berani mem-bully dia."
"Tapi kalian tahu kan gimana prinsip Safira. Saat ini nggak ada kata pacaran di kamus hidup dia."
"Elo juga suka sama dia kan, Ngga?" Angga hanya cengar-cengir sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sebenarnya banyak cowok yang naksir dia, tapi mereka mundur karena sikap dingin Safira. Cuma sama elo, mas Seto dan teman-teman rohis Safira bisa bersikap ramah."
"Hmm.. kakak kalian naksir Safira?"
"Untuk saat ini sih nggak. Karena dia lagi naksir si Rosa. Itu lho cewek setengah bule pindahan dari Brisbane."
"Iya, gue kenal dia. Oh ya, kira-kira Safira kemana ya?"
"Gue tadi lihat dia ke musholla," ucap Rosa yang baru saja tiba. "Fira kenapa, Ngga? Kok tadi kayaknya dia menangis."
"Elo nggak bohong kan?"
"Yeee.. ngapain juga gue bohong! Kalau nggak percaya, lihat aja di musholla. Mungkin juga dia mau shalat dhuha sebelum pelajaran dimulai." balas Rosa sambil beranjak meninggalkan mereka, menuju kelasnya.
Tanpa menunggu lagi, Angga bergegas ke musholla yang terletak dekat lapangan basket. Benarlah apa yang dikatakan Rosa. Angga melihat Safira sedang memakai sepatunya kembali.
"Fir, elo nggak papa kan?" tanya Angga hati-hati.
"Nggak papa. Aku cuma risih aja. Aku nggak biasa kayak begitu. Selama ini cuma ayah dan adikku, lelaki yang pernah memegang tanganku ."
"Tadi aku sudah kasih tau Troy untuk nggak mengulangi lagi sikapnya yang seperti itu ke kamu."
__ADS_1
"Yang membuatku lebih nggak nyaman karena tadi ada kakak-kakak senior. Kamu dengar sendiri kan bagaimana komentar mereka." ucap Safira sambil menundukkan kepala.
"Iya, aku dengar. Jangan terlalu dipedulikan Fir. Biasalah netizen memang suka nyinyir."
"Hehehe.. bisa aja kamu, Ngga. Memangnya aku selebriti." Safira tertawa mendengar ucapan Angga.
"Nah, gitu dong. Kamu lebih cocok tertawa kayak gini daripada menangis."
"Kata siapa aku nangis? Ngaco kamu."
"Tadi aku susul kamu ke kelas, tapi kamu nggak ada. Lalu Rosa yang kasih tahu kalau kamu ada disini. Dia juga yang kasih tahu kalau kamu habis menangis." jelas Angga.
Safira hanya terdiam lalu mengambil tasnya dan berjalan menuju kelas. Angga tanpa banyak komentar mengikuti Safira hingga ke kelasnya. Santi dan Sinta terlihat sudah menanti di depan pintu. Safira tersenyum melihat kedua sahabatnya.
"Fir, kamu nggak papa kan?" tanya keduanya bebarengan.
"Kalian nih kenapa sih? Kalian dan Angga terlalu berlebihan khawatirnya." Safira terkekeh pelan. Angga bersyukur melihat wajah Safira lebih santai dibanding saat kejadian tadi. Dia memang cewek yang hebat, mampu menyembunyikan segala kegalauannya.
"Ngga, kamu ngapain kesini? Kelas kamu kan di gedung sana."
"Aku mau memastikan kamu aman sampai di kelas," jawab Angga.
"Cieee... khawatir ya pacarnya kenapa-napa?" ledek Sinta dan Santi.
"Siapa pacarnya siapa?" tanya Safira bingung.
"Ah, aku sama Angga tuh cuma temenan," elak Safira. "Lagipula nggak mungkin Angga naksir aku. Siapa tahu dia kesini karena naksir salah satu dari kalian."
"Kamu nih pura-pura nggak tahu ya. Sudah jelas Angga khawatirnya sama kamu. Bukan sama kita."
"Ngga, kamu suka sama Fira kan?" tembak Santi. Belum sempat Angga menjawab, Seto datang menghampiri mereka.
"Fir, kamu nggak papa kan?"
"Fira nggak papa kok, mas. Aduh kalian ini biasa aja kenapa sih?" Safira tergelak melihat kecemasan Seto dan yang lainnya. "Nih lihat, aku masih utuh."
"Maafin Troy ya. Dia memang suka gegabah. Dia sebenarnya baik, tapi suka nggak pakai basa-basi gitu." Seto menjelaskan. "Selama ini cewek-cewek yang dia dekati nggak ada yang seperti kamu. Makanya dia memperlakukan kamu seperti cewek lain."
"Iya Fira mengerti kok mas. Tadi Fira cuma merasa risih aja karena kak Troy bersikap seperti itu."
"Fir, aku ke kelas ya. Nanti siang aku kesini lagi." Setelah berpamitan pada yang lain, Angga langsung berlari menuju kelasnya.
"Fir, anak IPS itu sering main kesini ya?" tanya Seto.
"Iya mas. Kenapa memangnya?" Safira balik bertanya.
"Dia suka sama kamu?"
__ADS_1
"Wah, Fira nggak tau mas. Kayaknya biasa saja."
"Ya sudah. Lain kali kalau Troy aneh-aneh, bilang sama mas Seto ya."
Sepeninggal Seto mereka semua masuk ke dalam kelas. Setelah menaruh tasnya si kembar langsung duduk di hadapan Safira.
"Fir, kamu benar-benar nggak tahu kalau Angga naksir kamu?" Safira menggeleng sambil tersenyum.
"Kalian ini dari tadi ngomongin soal naksir-naksiran terus deh. Nggak usah memikirkan hal seperti itu. Mendingan kita mikirin soal ulangan matematika di jam pertama ini."
"Ulangan matematika? Bukannya hari ini nggak ada pelajaran matematika?" tanya Santi bingung. "Ini hari Kamis kan?"
"Astaga Santi... ini hari Rabu. Semalam sebelum tidur gue kan sudah mengingatkan elo buat belajar." omel Sinta.
"Hehehehe... semalam pas elo ngomong gue nggak dengar. Soalnya semalam gue lagi marathon drakor yang kemarin Nina kasih tahu. Dramanya seru banget."
"Astaga Santi. Kalau ketauan mama, bisa habis lo diomelin. Sana buruan belajar, mumpung masih ada waktu."
⭐⭐⭐⭐
"Anak-anak jangan lupa minggu depan kita akan berangkat fieldtrip. Ketua kelas akan membagikan jadwal perjalanan, alamat penginapan, termasuk nomor telpon guru-guru yang akan mendampingi kalian." Pak Binsar memberi pengumuman dengan logat Bataknya yang khas. "Satu hal lagi, jangan lupa diisi formulirnya dan ditandatangani oleh orang tua kalian. Pengumpulan formulir paling lambat tiga hari sebelum keberangkatan."
"Pak, ini formulir apa lagi ya? Bukannya kita sudah isi formulir saat pendaftaran?" tanya Bimo heran.
"Ini formulir untuk mengetahui apakah ada di antara kalian yang memiliki riwayat penyakit atau membutuhkan treatment khusus selama fieldtrip nanti. Maksud treatment disini berhubungan dengan penyakit yang kalian derita ya. Bukan perlakuan istimewa."
Para siswa mengangguk-angguk. Fieldtrip ini merupakan pembelajaran luar sekolah yang diwajibkan bagi seluruh siswa kelas 10 hingga kelas 12. Selain itu perjalanan ini juga sebagai sarana refreshing setelah mereka melaksanakan ujian semester.
"Dan, aku nggak butuh formulir ini." Safira mengembalikan formulir yang dibagikan oleh Dani. "Aku nggak ikut fieldtrip."
"Nama lo ada di daftar ini. Nih, lihat sendiri kalau elo nggak percaya. Nama lo ada di nomor 23." Dani memperlihatkan daftar nama peserta dari kelas mereka. "Kelas kita berangkat semua kok."
Safira memperhatikan daftar nama yang Dani perlihatkan dengan teliti. Benarlah, namanya ada di daftar tersebut. Pasti ada kesalahan nih, batin Safira.
"Nggak mungkin Dan. Aku sudah bilang kok ke guru BP kalau aku nggak ikut. Pasti maksudnya Safira kelas lain deh."
"Fir, di kelas 11 IPA nama Safira Ammara cuma satu. Ya elo doang."
"Kenapa Fir?" tanya Sinta dan Santi.
"Ini pasti ada kesalahan. Namaku kok ada di daftar ya? Padahal aku belum mendaftar. Aku juga sudah bilang ke pak Husni kalau aku nggak ikut dan beliau sudah menyetujuinya."
"Coba aja elo tanya ke TU atau pak Husni. Tugas gue cuma bagiin formulir." usul Dani.
"Iya Fir. Nanti pas jam istirahat, kita temani kamu bertemu dengan pak Husni." Safira termangu tak mengerti.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1