
"Nyak, Angga berangkat dulu ya," pamit Angga pada enyak Rodiah.
"Iye, hati-hati. Jangan berantem lagi. Kasian abang lo kalau harus ijin melulu ke kantornya cuma buat ke sekolahan lo."
"Hah?! Enyak kok tahu?" tanya Angga kaget.
"Ya taulah! Kita ini kan tinggal serumah. Enyak bisa liat muka lo bonyok. Eh, ngomong-ngomong lawan elo bonyok juga kagak? Elo kan jago berantem Ngga," tanya enyak Rodiah penasaran.
"Pastilah, cucu engkong kan juara silat sekecamatan," puji engkong Rojaih yang dari tadi asyik makan pisang goreng sambil baca koran.
"Hehehe... sama-sama bonyok Nyak. Dia juga jago berantem. Tapi masih menang Angga sih."
"Enyak kasih tau ye, elo itu jangan gampang kepancing sama lawan. Enyak khawatir, lawan lo bakal balas dendam."
"Ngga, pesan engkong nih ye. Kagak usah ribut hanya gara-gara urusan cewek. Bikin malu doang."
"Iya, Ngkong. Lagian bukan Angga juga sih yang mulai. Dianya aja yang emosi duluan gara-gara liat Angga bareng cewek yang dia taksir."
"Kasihan emak babe lo jauh-jauh kerja disono. Elo sekolah nyang bener. Kagak usah mikirin cewek dulu," nasihat enyak Rodiah. "Tuh liat abang lo, dari dulu lempeng-lempeng aja hidupnya. Kagak aneh-aneh kayak elo."
"Ah, hidup bang Juna mah terlalu datar nyak."
"Eh, tapi ceweknya cantik banget nggak?" tanya engkong Rojaih. "Malu-maluin kalau elo berantem gara-gara cewek biasa."
Bukannya menjawab, Angga hanya mengangkat dua jempol untuk menggambarkan cewek yang di maksud.
"Lo sudah ngebet kawin?" tanya engkong Rojaih.
"Kok kawin sih Ngkong? Pacaran dulu boleh kali."
"Kagak usah pake pacaran kalau ujung-ujungnya elo kagak kawin sama dia. Kasihan anak orang lo rusak. Bikin dosa ajah." komentar enyak Rodiah.
"Yaelah nyak, namanya juga anak muda. Wajar kali kalau pacaran." elak Angga. "Sudah ah, Angga berangkat dulu ya. Takut telat. Assalaamu'alaykum."
"Rodiah, liat tuh cucu lo sudah gede. Tau-tau dah pengen pacaran aja."
"Padahal jaman dulu mah kita kagak pakai pacaran ya. Emak bapaknya juga kagak pacaran. Ketemu langsung diajak kawin."
"Beda jaman Nyak," komentar Juna yang sudah terlihat rapi.
"Emangnya jaman sekarang kagak ada perjodohan gitu, Jun?" tanya enyak Rodiah penasaran.
"Kalau di kehidupan nyata Juna nggak tau, Nyak. Tapi kalau di novel-novel banyak," jawab Juna sambil nyengir. "Tapi perjodohan jaman sekarang pastinya nggak segampang jaman dulu, Nyak. Cewek-cewek jaman sekarang lebih mandiri. Pendidikan mereka tinggi dan banyak juga yang karirnya lebih cemerlang daripada cowok. Jadi mereka merasa lebih nyaman bila memilih sendiri calon pendamping hidup mereka."
"Kalau yang kawin muda ada, Jun?" Enyak Rodiah kembali kepo.
"Ada. Tapi ya gitu, ada yang awet sampai punya anak lebih dari dua tapi ada juga yang cerai. Penyebab cerainya juga macam-macam. Perselingkuhan, KDRT, atau ya pisah begitu saja karena merasa nggak cocok."
"Kayak neng Priska gitu ya, den?" tanya Mpok Mumun yang datang mengantarkan minuman hangat sekaligus tas bekal makan siang Juna.
"Iya mpok."
"Emangnya Priska jadi janda gara-gara apa? Jangan-jangan CLBK sama elo, Jun," tuduh enyak Rodiah.
"Astaga Rodiah, jangan sembarangan nuduh. Masa cucu kita lo tuduh jadi pebinor," omel engkong Rojaih yang rupanya diam-diam mendengarkan sembari membaca koran. "Kagak ada tuh keturunan gue yang merusak rumah tangga orang."
__ADS_1
"Ih, si abang sok tahu nih. Bisa aja kan mereka ketemu lagi terus jatuh cinta," balas enyak Rodiah tak mau kalah.
Juna dan mpok Mumum terkekeh melihat kedua orang tua di hadapan mereka berdebat.
"Tenang 'kong, Nyak.. Priska cerai dengan bang Mamat bukan gara-gara Juna. Mereka bercerai karena Mamat kawin lagi sama pilihan orang tuanya."
"Lah, kagak apa-apa kan kalau cowok punya bini lebih dari satu," sahut Engkong Rojaih. "Tuh si Husen bininya tiga."
"Nah, itu juga yang membedakan cewek jaman sekarang dengan jaman dulu. Cewek-cewek sekarang menolak di poligami. Apalagi kalau alasannya nggak kuat."
"Poligami? Itu apaan sih den? Main poli? Emang sih mpok jarang liat cewek-cewek jaman sekarang main poli. Katanya takut kukunya patah. Padahal mpok yang sudah tua begini aja masih kuat gebukannya. Sayang aja pinggang mpok sudah sering sakit," celoteh mpok Mumun.
"Astaga Mun... bukan itu yang dimaksud sama Juna. Sok tau lo ye!" omel enyak Rodiah. "Kalau kagak ngarti jangan asal njeplak."
"Lah emang itu apaan, Nyah?"
"Poligami itu memiliki istri lebih dari satu, mpok," jelas Juna.
"Ooh bebini lebih dari satu. Bilang gitu aja kagak usah pake istilah poli-polian deh. Bikin mpok bingung aja."
"Makanya Mun, jamnya sekolah elo jangan nguprek di rumah mulu," ledek enyak Rodiah. "Nah elo dulu diajakin sekolah kagak mau. Malah milih kawin sama si Japra. Buntut-buntutnya ditinggal. Sekarang tuh orang dah kagak tau dimana."
"Iya Nyah. Sekarang Mumun nyesel. Mumun juga bingung tuh waktu den Angga jelasin soal si Njum." Yang lain tertawa mendengarnya.
"Jun, siapa sih cewek yang diperebutkan sama adik lo?" Kali ini engkong Rojaih yang penasaran.
"Anaknya pak Seno. Itu lho yang istrinya jualan nasi uduk yang sering kita beli. Yang engkong doyan semur jengkolnya."
"Emangnya bu Dian punya anak gadis?"
"Punya dan kebetulan satu sekolah sama si Angga. Sudah ah, Juna berangkat kerja dulu ya. Assalaamu'alaykum."
"Bang, kayaknya anak-anak kudu disuruh balik deh. Kasihan Juna dan Angga sudah kelamaan ditinggal. Lagipula mereka kan punya orang kepercayaan. Apalagi dua bulan lagi Juna bakal nikah dengan Priska. Pasti Juna pengen mereka hadir," usul enyak Rodiah.
"Iye nanti gue minta mereka pulang dan tinggal sama kita disini."
⭐⭐⭐⭐
"Fir... Fira!" Terdengar seseorang memanggil nama Safira saat ia baru saja membuka helmnya. Dilihatnya Angga menuntun sepeda menghampirinya.
"Selamat pagi pak," sapa Angga sopan pada Seno yang mengantar Safira.
"Eh, nak Angga. Kok nggak pernah beli nasi uduk lagi?"
"Sekarang harus berangkat pagi-pagi pak. Soalnya nggak ada tebengan. Maklumlah, kendaraan saya cuma sepeda balap ini," sahut Angga. "Eh iya Fir, sudah daftar fieldtrip?"
"Hmm... kayaknya aku nggak ikut," jawab Safira pelan.
"Lho kenapa?" tanya Angga heran. Bukannya menjawab, Safira menghampiri Seno dan mencium tangan ayahnya.
"Yah, Fira sekolah dulu ya."
"Fir, pulang sekolah nanti jangan lupa kamu mampir ke tempat bu Irma. Dia mau minta tolong sama kamu."
"Iya yah."
__ADS_1
"Fir, kamu beneran nggak ikut?" desak Angga saat mereka berjalan menuju kelas. Sudah beberapa kali Angga mengantar Safira ke kelasnya. Tentu saja semua itu tak luput dari pengamatan Troy.
Contohnya pagi ini. Troy duduk di depan kelas saat Safira dan Angga hendak lewat.
"Pagi Safira," sapa Troy tanpa mempedulikan Angga. "Kok tumben siang datangnya?"
"Pagi kak. Bukannya justru kak Troy yang tumben pagi-pagi sudah sampai sekolah," sahut Safira tanpa mengangkat wajahnya. Entah mengapa hingga saat ini ia masih belum berani menatap Troy. Berbeda saat ia sedang bersama Angga.
"Kamu jangan menunduk terus dong. Ada apa sih di lantai? Angkat dong wajahnya. Kak Troy kan mau lihat wajah kamu yang semalam hadir di dalam mimpi." Troy melancarkan rayuan mautnya. Angga yang berdiri di samping Safira memasang wajah datar walaupun ia kesal setengah mati mendengar gombalan Troy untuk Safira.
"Emm.. kak, Safira ke kelas dulu ya," buru-buru Safira hendak melangkah meninggalkan tempat itu. Belum sempat berjalan, Troy menahan tangannya. Tentu saja Safira merasa kaget sekaligus tak nyaman. Apalagi saat itu ada beberapa siswi senior yang melihat kejadian tersebut.
"Ssstt.. liat deh. Si cewek sok alim itu lagi godain kak Troy."
"Ih, nggak nyadar banget sih tuh cewek. Sok kecakepan!"
"Beuuh.. berasa banget tuh dia diperebutkan dua cowok."
"Gue dengar-dengar bokapnya dia kan cuma driver ojol."
"Katanya alim, dipegang tangannya sama cowok kok diam saja. Kegatelan!"
"Kak, tolong lepasin tangannya," bisik Safira dengan suara bergetar.
"Kenapa? Aku kan pengen ngobrol sama kamu. Ada sesuatu yang mau aku omongin ke kamu." Troy tetap memegang tangan Safira.
"Lepasin tangan dia. Elo nggak liat kalian jadi pusat perhatian?" tegur Angga kesal. Ia bisa mendengar kata-kata para siswa senior tadi.
"Kenapa elo yang emosi? Nggak suka? Cemburu? Pacar bukan kok cemburu. Sadar diri bro!" ucap Troy sinis.
"Gue memang bukan pacar dia, walaupun gue suka sama dia. Tapi gue bisa merasakan kalau dia nggak nyaman tangannya lo pegang kayak gitu. Lagian elo memangnya nggak punya kuping, dari tadi mereka menyindir Safira?"
Troy memandang sekelilingnya. Benarlah, para siswi senior sedang menatap mereka dengan pandangan sinis. Beberapa langsung membuang muka saat Troy menatap mereka. Troy bisa melihat pandangan tak suka dari mereka. Tanpa mempedulikan hal tersebut, Troy malah menarik Safira untuk mengikutinya. Tentu saja Angga tak membiarkan mereka berdua. Ia mengikuti mereka.
Di taman dekat kantin akhirnya Troy berhenti.
"Ngapain lo ngikutin kita?"
"Biar nggak ada fitnah," jawab Angga kalem walaupun sebenarnya ia sangat kesal melihat sikap Troy seenaknya. "Sekali lagi gue minta, lepasin tangan dia.
Kali ini Troy melepaskan pegangannya karena ia melihat mata Safira berkaca-kaca.
"Maaf, apakah aku menyakitimu?" tanya Troy lembut. Ingin sekali ia menarik Safira ke dalam pelukannya dan meminta maaf karena telah membuat gadis itu bersedih.
"Ng-nggak papa, kak." Hanya itu yang Safira katakan dengan suara bergetar menahan isakannya.
"Bro, lo harusnya sadar kalau gadis seperti dia ini sangat menjaga dirinya Ia tak mau disentuh oleh pria yang bukan mahramnya, walaupun hanya tangannya." tegur Angga dengan suara dingin. "Jangan samakan dia dengan cewek-cewek yang lo pacarin!"
Troy terkejut mendengarnya. Ia tak menyangka karena pikirnya Safira hanya berjilbab namun tetap bergaul seperti biasa.
"Ma-maaf Fir. Kak Troy nggak tahu."
"Nggak papa kak. Tadi kak Troy mau ngomong apa?"
"Eengh.. kakTroy cuma mau tanya kamu kenapa nggak daftar acara fieldtrip?"
__ADS_1
"Nggak papa kak. Kalau cuma tanya tentang itu, aku pamit mau ke kelas ya kak. Assalaamu'alaykum." Safira bergegas meninggalkan Troy dan Angga.
⭐⭐⭐⭐