
"Fir, bangun." Bahu Safira diguncang pelan oleh Troy saat bis berhenti di depan kantor kelurahan. Dari tempat parkir bis, mereka masih harus berjalan sejauh 2 kilometer lagi untuk mencapai lokasi.
"Mmmh... eh, sudah sampai ya kak?" tanya Safira setengah sadar.
"Kamu masih ngantuk?"
"Eenghh.. nggak kak," jawab Safira tergagap. Buru-buru ia merapikan jilbabnya. Ia khawatir jilbabnya tersingkap saat ia tidur tadi. Untunglah jilbabnya masih rapi.
"Ayo turun. Tuh yang lain sudah di luar. Barang-barang kamu jangan sampai tertinggal di bis." Troy mengingatkan.
"Eh iya, makasih kak."
Setelah semua siswa turun, mereka berbaris sesuai kelas masing-masing lalu diberi sambutan oleh kepala dusun setempat dan pengarahan oleh guru pembina.
"Jadi anak-anak. Bapak harap kalian nanti menjaga perilaku kalian selama di lokasi perkemahan. Bapak ingatkan kalian lagi kalau saat ini kita berada di daerah orang yang harus kita hormati dan patuhi peraturan yang ada di sini." Pak Yahya selaku pembina mengingatkan kembali. "Para senior, tugas kalian ikut membimbing dan menjaga adik-adik kalian. Jangan malah mengajarkan yang tidak-tidak pada mereka."
"Kalau junior yang ngajarin yang nggak-nggak gimana pak?" celetuk Corong. "Kita para senior mah anak baik-baik pak. Tapi ada beberapa junior yang agak-agak liar gitu lho pak."
"Huuuuuuu..... " Yang lain langsung menyoraki Corong. Terutama para junior.
"Pokoknya di daerah ini kalian harus menjaga tata krama dan menghormati adat istiadat yang berlaku. Kami warga dusun sini sangat menentang apabila ada muda mudi yang berdua-duaan. Kalau sampai ketahuan ada yang melakukan perbuatan yang melewati batas, maka aturan dusun ini adalah dinikahkan di tempat. Apakah kalian mau?"
"Kalau dinikahin sama yang cantik dan semok saya mau pak," celetuk Duta.
"Huuuuu...." Sekali lagi yang lain menyoraki.
"Sudah.. sudah.. tenang dulu. Jangan kalian pikir menikah itu suatu hal yang mudah. Kalian masih sekolah. Kalau sampai ada yang terpaksa menikah disini karena melakukan perbuatan amoral, maka kalian akan langsung dikeluarkan dari sekolah. Apakah kalian siap?"
"Nggak paaaak!" Serentak semuanya menjawab.
"Oke kalau begitu, setelah berdoa, kita berangkat menuju lokasi perkemahan."
Tak lama rombongan berangkat menuju lokasi perkemahan.
"Ngga, itu si Troy nempel terus sama Safira. Elo nggak cemburu?"
"Kenapa gue harus cemburu? Dia kan bukan pacar gue. Walaupun gue suka sama dia, tapi gue kan belum nembak dia."
"Ya sudah, kalau memang elo suka sama dia, mumpung disini elo tembak aja," usul Arif.
"Lo nggak dengar apa ucapan kepala dusun tadi? Kalau sampai ketauan gue berduaan sama dia, bisa-bisa kita dinikahin paksa. Gue nggak mau merusak masa depan dia," tolak Angga. "Lagipula gue tahu dia punya cita-cita untuk kuliah dan bekerja."
"Ngga, kayaknya elo sudah kenal dia banget. Sampai tau cita-cita dia segala," sindir Nakula. "Akrab banget."
"Hehehe.. biasa aja La. Gue kan sering ngobrol sama dia pas nungguin dia naik angkot. Gue juga sering gowes bareng adiknya," sahut Angga sambil nyengir.
__ADS_1
"Ngga, elo kagak bantuin dia? Kayaknya bawaan dia banyak tuh," tanya Bento.
"Bukan gue nggak mau, tapi lo lihat dong siapa yang nempel dia terus. Tuh, si Troy berusaha bantuin aja ditolak. Safira tuh bukan cewek lemah model si Aini atau si Celine. Kalau elo nggak percaya, coba aja elo yang nawarin bantuan ke dia."
"Ogah ah! Bisa-bisa gue ditonjok sama Troy. Cukup elo aja yang gelut sama Troy." tolak Bento sambil cengar cengir. "Elo yang jago bela diri aja babak belur, apalagi gue. Gue nggak mau nyokap pingsan gara-gara dengar anak kesayangannya bonyok."
"Huuuu...." Semua sahabatnya langsung menoyor kepala Bento.
"Hey.. kalian yang di belakang jangan bercanda melulu!" tegur Pak Dimas.
Sementara itu Troy setia berjalan di samping Safira. Tak ada satupun guru yang berani menegurnya. Kebetulan di sekolah hanya Broto dan Anto yang berani menegur langsung apabila Troy melakukan kesalahan.
"Kamu capek nggak? Mau kakak bantuin bawa tasnya?" Troy menawarkan bantuan pada Safira.
"Hmm.. nggak usah kak. Terima kasih. Bawaanku cuma sedikit kok," tolak Safira.
"Beneran?"
"Iya kak."
"Kalau gitu aku temani jalan ya?"
"Hmm.. kak Troy kan barisannya disana? Bareng anak-anak kelas 12."
"Tapi adik-adik kelas kan bukan cuma Fira. Tuh kayaknya Maria dan Cheryl butuh bantuan untuk mengangkat tas mereka."
"Ah, itu mah salah mereka sendiri. Sudah tau mau kemping kok malah bawa koper," sahut Troy tak peduli. "Emangnya mau nginep di hotel. Dasar ribet."
"Troy, kamu nggak salah kelas kan?" sindir bu Anita. "Perasaan ibu, kamu sudah mau lulus. Apa kamu masih betah dan mau mengulang kelas 11?"
"Ah, ibu ganggu aja nih. Kayak nggak pernah muda aja," jawab Troy berani yang disambut tawa oleh anggota genknya dan beberapa junior yang memang menikmati keberadaan Troy di kelompok mereka. Kapan lagi bisa melihat idola mereka sedekat ini.
"Kalian juga ngapain disini?" tanya bu Anita kepada anggota genk yang lain.
"Kalau kita mah ngawal Troy, bu." Corong menjawab. "Tadi pak Yahya kan juga nyuruh kita membimbing junior, bu. Nah, kami disini sebagai pembimbing mereka. Siapa tau nanti tiba-tiba ada yang minta digendong bu."
"Huh, dasar kalian! Selalu saja punya jawaban." Bu Anita terlihat kesal.
"Seto, jangan bilang kamu disini menjaga adik-adikmu?"
"Hehehe.. iya bu. Titah baginda ratu, saya harus menjaga si kembar." jawab Seto sambil cengar cengir.
"Kamu ngapain disini Duta?" tanya bu Anita pada Duta yang berjalan bergandengan dengan Zara. "Ngapain kalian gandeng-gandengan begitu? Kalian tadi dengar kan apa kata kepala dusun?"
"Ah, ibu kayak nggak pernah muda aja. Saya jagain pacar baru bu." Jawab Duta. "Tenang bu, saya nggak akan macam-macam selama fieldtrip ini. Saya kan juga belum siap nikah. Masih pengen bebas bu. Macam-macamnya nanti kalau sudah pulang. Iya kan sayang?"
__ADS_1
"Haduuuh kalian ini anak kelas 12 kok malah kasih contoh yang nggak baik sama adik-adik kelas. Troy, kamu yang bertanggung jawab ya kalau teman-temanmu mulai ngaco."
"Siap bu Anita cantik. Nanti saya lapor sama oma kalau bu Anita guru paling baik di sekolah ini," jawab Troy sambil memberi hormat layaknya tentara hormat kepada komandan. Para junior terkikik melihatnya, namun mereka langsung menutup mulut saat bu Anita melemparkan pandangan tajam.
"Fir, kamu mau minum?" Troy menawarkan sebotol air mineral pada Safira.
"Terima kasih kak. Aku bawa minum sendiri," tolak Safira sambil menunjukkan botol minuman di tasnya.
"Oh okay." Troy terlihat kecewa.
"Troy, buat gue aja. Gue lupa bawa minum nih," pinta Corong.
"Sorry, ini buat cewek gue," jawab Troy lantang sehingga banyak orang yang penasaran sehingga ada beberapa siswa yang berhenti dan menengok ke arah mereka.
"Siapa cewek lo?" tanya Ilyas yang sedari tadi diam saja sambil berjalan di samping Seto. Ilyas dan Seto memang sudah lebih dulu berteman sebelum mereka masuk SMA Bhakti Nusa.
"Hey, ayo jangan berhenti!" Terdengar suara pak Dimas menegur mereka saat barisan tiba-tiba berhenti. Sambil bersungut-sungut mereka melanjutkan perjalanan. Padahal mereka sangat penasaran setelah mendengar ucapan Troy tadi.
"Ssstt... Mir, menurut lo siapa cewek Troy?" tanya Vonny yang sejak kelas 10 naksir Troy namun belum mendapat kesempatan dekat dengan cowok itu.
"Gue sih nggak tahu pasti ya. Tapi gosipnya si Troy lagi naksir Safira, anak 11 IPA 4," jawab Miranda, teman sebangku Vonny.
"Yang mana sih anaknya? Cantik banget gitu?" tanya Vonny penasaran sekaligus kesal. "Berani banget tuh junior ngerebut gebetan gue!"
"Itu lho anak Rohis yang cantik banget. Anak beasiswa yang bokapnya supir ojol," terang Miranda.
"Elo kenal sama si Safira itu?"
"Kenal baik sih nggak. Kebetulan aja tuh anak teman dekat adiknya Seto. Gue pernah ketemu tuh cewek lagi jalan sama si kembar ditemenin sama Seto dan Troy. Beberapa kali gue juga liat si Troy main ke kelas tuh cewek."
"Kok elo nggak bilang-bilang sih kalau Troy lagi dekat sama tuh cewek. Gede juga nyali tuh anak beasiswa. Nggak sadar diri apa kalau dia tuh nggak selevel sama Troy. Kecentilan!"
"Bukan tuh cewek yang ngejar si Troy. Tapi kata Seto, justru Troy yang naksir berat sama tuh cewek. Gue dengar dari Seto kalau Troy mau nembak tuh cewek pas api unggun pembukaan."
"Nanti malam dong?!" Miranda mengangguk. "Sialan gue kalah cepat sama tuh cewek. Lihat aja kalau tuh cewek sampe berani nerima si Troy, gue bakal bikin dia nggak betah sekolah di Bhakti Nusa."
"Sabar Von. Jangan emosi dulu. Itu kan gosip."
"Kalau Seto yang ngomong bukan gosip lagi mo***ng!" sergah Vonny kesal. "Seto kan se-genk sama Troy."
"Sudah ah, ngapain mikirin tuh cewek. Kita kesini kan mau penelitian dan bersenang-senang sebelum ujian." Miranda berusaha menenangkan Vonny yang terlihat emosi.
Vonny tak menjawab. Ia berjalan cepat meninggalkan Miranda. Wajahnya terlihat kesal namun penuh tekad. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1