
Happy reading ❤
"Ngga, elo nggak sekolah?" tanya enyak Rodiah saat melihat Angga bersantai di halaman belakang rumah mereka yang luas.
"Libur Nyak."
"Sekolah lo libur melulu. Rugi banget bayar mahal kalau libur melulu," omel enyak Rodiah.
"Anak kelas 12 ujian, Nyak."
"Oh, ada yang ujian. Bilang dong."
"Lah enyak belon apa-apa sudah ngomel."
"Ngga, anterin enyak ke pasar yok."
"Ngapain ke pasar? Biasanya juga mpok Mumun yang belanja."
"Orang tua lo besok datang. Emangnya mereka nggak ngabarin?"
"Mereka ngabarin kok. Mereka juga bilang Angga disuruh jemput ke bandara."
"Enyak mau masak istimewa buat mereka. Sudah lama banget kan mereka nggak makan masakan enyak."
"Yaelah nyak, kalau cuma masak buat mama papa kan bisa nyuruh mpok Mumun yang belanja."
Plak!! Pukulan keras mendarat di punggung Angga.
"Berani ngebantah lo ye! Pengen gue kutuk jadi kodok lo?!" Ternyata engkong Rojaih sudah berdiri di belakang Angga.
"Sakit Ngkong!" keluh Angga sambil mengusap punggungnya yang ia yakini pasti memerah.
"Makanya jangan banyak ngebantah. Giliran disuruh susah banget, giliran minta duit manis banget lo."
"Kenapa nggak bang Juna aja sih yang antar enyak?" Angga masih mencoba berkelit. Ia benar-benar tidak suka pergi ke pasar tradisional. Bau. Panas. Becek. Apalagi tadi malam habis hujan.
"Pan abang lo musti gawe hari ini. Nah karena elo nganggur, makanya enyak minta antar elo."
Angga terlihat berpikir keras. "Hmm.. ada upahnya nggak?"
"Nih anak, dikit-dikit duit, dikit-dikit duit," omel Engkong Rojaih.
"Iya dong Ngkong. Angga kan harus mengorbankan waktu yang seharusnya bisa Angga pakai buat belajar."
"Alasan aja lo. Biasanya kalau libur elo cuma rebahan doang. Mageran. Sok sibuk lo," omel Engkong Rojaih. "Buruan sono. Daripada enyak lo ngambek."
"Iya.. iya..." Setengah bersungut-sungut Angga menuruti perintah Engkong Rojaih. "Tapi nanti di pasar Angga boleh minta jajan ya?"
__ADS_1
"Iye.. iyeee... Kayak bocah aja minta jajan." omel Engkong Rojaih sambil mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah muda dari sabuk yang selalu dipakainya. "Nih, buat isi bensin mobil. Full-in. Sisanya buat elo."
"Yaelah ngkong, ini mah cuma nyisa gocap. Masa anak muda jajannya gocap."
"Sudah, jangan berisik nanti enyak yang nambahin."
"Oke bos! Angga ganti baju dulu ya!"
"Nggak pakai lama ya! Nanti keburu habis sayurannya."
⭐⭐⭐⭐
"Nyak, masih lama?" tanya Angga dengan wajah lelah. Di tangannya terlihat berbagai bungkusan. Sepertinya enyak Rodiah mau menghabiskan isi pasar.
"Sabar dulu nape. Enyak mau beli bebek dulu. Emak lo kan demen banget makan bebek goreng."
"Enyak mah dari tadi bentar bentaran mulu," omel Angga namun tetap mengikuti langkah Enyak Rodiah.
"Angga?" Tiba-tiba sebuah tepukan halus mendarat di pundak Angga, yang membuatnya menoleh ke si pemilik tangan. Dan..
"Fira?!" Angga terkejut plus malu karena di tangannya banyak kantong plastik.
"Ngeborong Ngga?" Safira menatap tangan Angga yang penuh belanjaan sambil tersenyum. Senyum yang lagi-lagi mampu membuat Angga terpana.
"Ngga... Angga! Kok malah bengong?"
"Eh, apaan Fir?" Safira tertawa melihat Angga yang gelagapan. Tawa renyah yang mampu menghilangkan segala kelelahan Angga akibat berjalan mengelilingi pasar bersama neneknya. Seolah angin surga menerpa dan memberikan kesegaran.
"Eh.. ini.. ini belanjaan enyak," jawab Angga.
"Enyak Rodiah? Mana enyaknya?" Safira melihat kesana kemari.
"Angga! Dasar cucu kurang ajar. Kamu asyik-asyikan disini, enyak dibiarin keliling sendirian!" Enyak Rodiah mengomel panjang pendek dengan tangan penuh plastik belanjaan.
"Yee enyak kok nyalahin Angga. Enyak aja yang jalannya kecepetan," balas Angga tak mau kalah. "Lagian enyak belanja apaan lagi sih? Tangan Angga sudah penuh nih. Belanjanya kan bisa besok-besok lagi, nyak."
"Ngga.. jangan begitu sama orang tua." Safira menyentuh ringan lengan Angga. Sentuhan ringan namun terasa mengirimkan listrik tegangan tinggi ke tubuh Angga. Sehingga membuat tubuh Angga terasa melayang dan dada berdegup kencang seperti irama dangdut.
"Et dah, nih bocah malah bengong. Ayo buruan kita ke tukang cabe." Omelan Enyak Rodiah mengembalikan Angga ke alam nyata.
"Beli cabe lagi nyak? Kan tadi sudah beli 5 kilo. Enyak mau jualan cabe?" tanya Angga kesal.
"Ayo nyak, Fira temani. Biar Angga duduk disini. Keliatannya dia capek." Safira segera menggandeng enyak Rodiah.
"Kamu pacarnya Angga?"
"Bukan Nyak. Kenalin nama saya Fira, teman sekolahnya Angga. Anak bu Dian yang jualan nasi uduk," jelas Safira dengan suara lembut yang lagi-lagi membuat Angga terbuai mendengarnya.
__ADS_1
"Ini Safira yang elo taksir Ngga?" tebak enyak Rodiah.
Tebakan yang membuat Angga kicep. Yaelah enyak, ngapain juga diomongin di depan orangnya sih, omel Angga dalam hati. Dengan hati-hati diliriknya Safira. Ia khawatir Safira tak suka mendengarnya. Untunglah Safira tetap tersenyum.
"Ih enyak, mana mungkin Angga naksir anak tukang nasi uduk. Ayo Fira antar enyak beli cabe." Safira langsung mengalihkan pembicaraan. "Enyak mau beli cabe di bang Ali kan? Itu juga langganan ibu."
Lagi-lagi Angga terkesima melihat bagaimana sabar dan lembutnya Safira memperlakukan enyak Rodiah, yang baru kali ini ditemuinya. Wah, benar-benar calon istri shalihah. Eh, kok pikiran gue melantur ya.
Tak lama, Safira dan enyak Rodiah sudah kembali dengan tambahan beberapa plastik belanjaan yang ditenteng Safira.
"Makasih ya neng Fira. Enyak demen banget belanja ditemenin sama neng Fira. Nggak pake ngedumel," puji enyak Rodiah. "Nggak kayak cucu enyak yang kalau diajak belanja pasti manyun."
"Sama-sama nyak. Fira juga senang bisa membantu enyak belanja."
"Fir, kamu sudah selesai belanja?" tanya Angga.
"Sudah. Nyak, Fira pulang dulu ya." Safira mencium punggung tangan Enyak Rodiah dengan sopan.
"Fir, bareng aja pulangnya. Kita kan searah," ajak Angga.
"Iya neng Fira. Pulangnya biar bareng aja. Kan nanti rumah neng Fira kelewatan." Kali ini enyak Rodiah yang menawarkan.
"Nggak usah nyak. Merepotkan Angga dan enyak," tolak Safira halus.
"Fir, nggak baik menolak tawaran dari orang tua. Iya kan, Nyak?" Angga meminta dukungan dari enyak Rodiah. Dalam hati ia sangat berharap Safira tidak menolak.
"Tapi.... "
"Nggak merepotkan kok. Angga mah sudah biasa disuruh antar kesana kemari. Neng Fira nggak usah khawatir. Anggap saja ini sebagai cara enyak berterima kasih sama kamu karena sudah mau menemani enyak belanja."
"Fir, enyak nggak suka ditolak lho. Iya kan nyak?" tanya Angga sambil mengedipkan sebelah matanya ke enyak Rodiah sebagai kode. Enyak Rodiah memang nenek yang baik. Dia tanggap dengan permintaan Angga.
"Iya neng Fira, enyak nggak suka ditolak. Jadi neng Fira harus mau ya pulang bareng kita. Kalau neng Fira menolak, enyak nggak mau lagi beli nasi uduk di warung bu Dian," ancam enyak Rodiah. Di sebelahnya Angga tersenyum penuh kemenangan. Mau tak mau Safira menerima tawaran tersebut.
"Ayo ke mobil. Angga, nih kamu bawa belanjaan enyak. Neng, kasih aja belanjaannya ke Angga. Dia kan laki-laki, harus kuat bawa-bawa barang."
"Perasaan tadi enyak mau beli cabe doang. Kenapa temannya banyak banget? Tangan Angga penuh nih!"
"Nyak, biar Fira yang bawain. Kasihan Angga kalau bawa terlalu banyak barang, nanti tangannya sakit dan nggak bisa nyetir."
"Beeuuuh... senang banget yang dibelain sama pacar," ledek Enyak Rodiah. "Sekali lagi makasih ya neng Fira mau bantuin enyak. Angga emang pinter pilih pacar."
"Fira bukan pacar Angga, Nyak," bantah Angga cepat, khawatir Safira akan marah.
"Ya kalau gitu buruan lo jadiin pacar. Jaman sekarang susah cari anak gadis model Safira. Cantik, sholehah, sopan, ramah. Calon menantu idaman lho."
"Ah, enyak bisa aja." Safira tersipu malu mendengar perkataan enyak Rodiah. "Kami berdua cuma teman."
__ADS_1
"Enyak doain kalian berjodoh, kayak bang Juna dan neng Priska."
⭐⭐⭐⭐