
"Nyak, nggak sarapan nasi uduk?" tanya Angga pada Enyak Rodiah.
"Tumben lo nanya-nanya. Biasanya jam segini elo masih molor setelah shalat subuh." jawab enyak Rodiah. "Enyak baru mau nyuruh si Juna beli."
"Angga aja yang pergi, Nyak. Pesanan kayak biasa kan?" tanya Angga kembali sambil bersiap-siap pergi. "Duitnya mana Nyak?"
"Nih, jangan pake lama ya. Kasian engkong lo kalau nunggu kelamaan." Angga langsung pergi dengan sepedanya setelah menerima uang dari enyak Rodiah.
"Rodieh, itu si Angga mau kemane?" tanya engkong Rojaih sambil menyesap kopi yang disediakan istrinya.
"Beli nasi uduk."
"Lah tumben dia yang pergi beli. Biasanya jam segini tuh anak masih di tempat tidur."
"Tau dah bang. Aye juga bingung tiba-tiba dia semangat banget."
Angga sudah tiba di depan warung nasi uduk. Untunglah pagi ini tak terlalu ramai. Atau mungkin ini masih terlalu pagi? Angga melongok ke arah warung. Senyumnya langsung mengembang saat menemukan apa yang dicari. Setelah memarkirkan sepedanya, Angga mendekati warung.
"Assalaamu'alaykum," sapa Angga. "Selamat pagi Fir."
"Wa'alaykumussalaam. Eh, kamu," jawab Safira terkejut. "Kamu Angga kan? Anak 11 IPS 2."
"Wah, kamu masih ingat. Padahal waktu itu kita belum resmi kenalan ya. Kenalin namaku Angga Prananda. Aku anak bungsu dari dua bersaudara. Orang tuaku saat ini bekerja di Dubai. Disini aku tinggal bersama kakek nenek dan kakakku." Safira tertawa mendengar Angga memperkenalkan diri secara lengkap.
"Nggak sekalian kamu kasih tahu aku tanggal lahir, hobi, makanan kesukaan, no hp," ledek Safira.
"Wah, kalau itu aku kasih taunya saat pertemuan berikutnya."
"Ih, kamu pede banget deh. Kata siapa aku mau ketemu kamu lagi," balas Safira sambil tertawa lepas. Angga terpana melihat deretan gigi putih bersih dibalik bibir mungil berwarna pink itu. S**t ini beneran manusia atau manusia setengah dewi sih, batin Angga.
"Eh, ada nak Angga. Kok tumben bukan nak Juna yang kemari?" sapa Dian yang baru keluar dari dalam rumah. Di belakangnya tampak seorang pria setengah baya namun masih tampak gagah mengenakan jaket ojol.
"Assalaamu'alaykum bu, pak," sapa Angga dengan sopan. Pengen cium tangan tapi belum jadi calon mantu. Keduanya menjawab salam Angga.
"Bang Juna kebetulan lagi dinas keluar kota, bu. Oh ya, pesanannya seperti biasa ya bu. 5 nasi uduk, 3 pakai semur jengkol dan telor balado, 2 pakai telor balado saja. Kerupuknya dipisah."
"Kok 5? Bukannya bang Juna nggak ada?" tanya Safira heran sambil mulai membungkus pesanan dengan cekatan. Bujug, hebat banget nih cewek, Angga kembali terkagum-kagum.
"Dua buat aku. Kebetulan lapar banget hari ini," jawab Angga malu-malu karena ketahuan rakus. "Porsi nasi uduknya kurang banyak. Aku kan lagi dalam masa pertumbuhan."
"Lain kali buat nak Angga akan ibu lebihin porsinya."
"Eh jangan bu. Kalau kayak begitu namanya nggak fair dan bisa merugikan ibu. Seharusnya ibu bisa menjual dua porsi, malah hanya menjual harga satu porsi dengan isian dua porsi." tolak Angga.
"Waah kamu hebat. Mentang-mentang anak IPS," ledek Safira. Angga tertawa kecil.
"Insyaa allah dengan menambahkan porsi buat satu dua pelanggan nggak akan membuat ibu rugi. Malahan dagangan ibu jadi lebih berkah, nak Angga," ucap Dian sambil tersenyum. "Insyaa Allah yang namanya berbagi nggak akan membuat kami bangkrut. Sama dengan bersedekah."
"Dik, mas berangkat dulu ya." Dian dan Safira mencium tangan Seno yang tampaknya sudah siap berangkat. "Nak Angga, bapak pergi dulu ya."
"Eh iya pak. Semangat pak," balas Angga.
__ADS_1
"Kamu tuh lucu ya," ucap Safira. "Kamu kan belum kenal sama ayahku, kok sok akrab."
"Nggak ada larangan kan aku akrab sama orang tuamu. Nggak perlu menunggu aku jadi calon kamu untuk akrab dan sopan kepada orang tua kamu."
"Calon apaan?" tanya Safira heran.
"Terserah kamu maunya calon apa? Aku pulang dulu ya. Jangan kangen ya," goda Angga. "Mari bu, Angga pulang dulu."
"Teman kamu itu lucu ya Fir. Ibu baru dua kali bertemu tapi kayak sudah lama kenal sama dia."
"Safira juga baru dua kali bertemu dia bu. Di sekolah belum pernah bertemu. Mungkin karena gedung kami berbeda ya."
"Fir, kamu baik-baik saja kan di sekolah? Nggak ada yang meledek kamu karena ayahmu cuma supir ojol?" tanya Dian khawatir.
"Alhamdulillah baik-baik saja bu. Kalaupun ada yang meledek, Fira nggak peduli. Pekerjaan ayah kan halal, bukan mencuri atau korupsi."
⭐⭐⭐⭐
"Ngga, lo mau kemana?" tanya Bento saat melihat Angga berjalan menuju gedung seberang. Gedung yang dikenal penuh dengan anak-anak borju dan elit. Gedung kelas IPA. Bahkan cucu pemilik sekolah juga ada disana. Tak usah ditanya lagi berapa banyak anak-anak pengusaha yang berada disana.
"Gue mau cari teman baru gue," balas Angga sambil terus berjalan menuju gedung seberang.
"Teman baru? Elo tau siapa?" tanya Bento pada Sadewa, yang dijawab dengan gelengan.
"Siapa ya?" Bento garuk-garuk kepala bingung.
"Kenapa lo Ben? Eh, itu si Angga ngapain kesana?" tanya Arif yang baru kembali dari kantin.
"Mbak, kelas 11 IPA 4 dimana ya?" tanya Angga pada seorang cewek setengah bule yang lewat di depannya.
"Elo siapa? Bukan anak IPA ya?"
"Hehehe.. bukan mbak."
"Oh pantesan. Tuh kelasnya di lantai dua. Elo kalau kesana hati-hati. Kelas bawah itu anak-anak kelas 12." Cewek itu memperingatkan.
"Makasih ya mbak."
"Eh iya, jangan panggil gue mbak. Kenalin nama gue Rosa. Gue anak 11 IPA 2."
"Gue Angga, anak 11 IPS 2." Angga menerima uluran tangan Rosa.
"Elo mau gue temenin ke sana?" Rosa menawarkan diri. Angga mengangguk senang. Bukan apa-apa. Rada keder juga main ke kandang macan. Mereka berjalan bersisian sambil mengobrol.
"Elo anak pindahan ya, Sa?" Rosa minta dipanggil dengan nama panggilan Osa.
"Iya, gue baru pindah kesini tiga bulan lalu. Gue pindahan dari Brisbane. Mommy balik kesini setelah divorce sama Daddy." jelas Rosa dengan logat Australia yang cukup kental.
"Bahasa Indonesia lo bagus," puji Angga.
"Iya, mommy selalu mengajak gue bicara dengan bahasa kalau di rumah."
__ADS_1
"Bokap lo jago bahasa Indonesia?" Rosa mengangguk.
"Sebelum menikah dengan mommy, daddy sempat bekerja disini selama tiga tahun. Setelah menikah, mereka pindah ke Brisbane."
Selama mereka bercakap-cakap banyak mata yang memperhatikan. Bukan pemandangan umum anak IPS bermain ke gedung IPA. Kecuali ketua OSIS dan jajarannya yang rata-rata anak IPS.
"Dut, itu siapa yang jalan sama Rosa?" tanya Corong. Duta angkat bahu. "Bukan anak OSIS kayaknya. Hebat, berani juga tuh anak kesini. Panggil Dut."
"Woy, sini lo!" panggil Duta. Angga dan Rosa saling berpandangan dengan heran. Tanpa banyak cakap mereka mendekati Duta dan Corong.
"Iya kak. Ada apa ya?"
"Elo anak IPS?" tanya Duta. Angga mengangguk. "Mau ngapain kesini?"
"Mau ketemu teman, kak."
"Rosa, elo kenal sama dia?" tanya Corong.
"Kenal. Kami baru saja berkenalan. Kenapa kak? Ada masalah?" tanya Rosa berani.
"Di sekolah ini ada peraturan, anak IPS nggak boleh kesini dan demikian juga sebaliknya. Kecuali anak-anak OSIS."
"Kenapa begitu?"
"Karena.. karena.. karena apa Cor?" tanya Duta. Corong angkat bahu.
"Kalau itu bukan aturan dari pihak sekolah, kayaknya nggak perlu diturutin deh." tukas Rosa kesal. Sejak dulu dia paling kesal senioritas dan eksklusivitas seperti ini.
Mengkotak-kotakkan manusia berdasarkan ras, gender, ekonomi dan sebagainya hanya membuatnya kesal Itulah yang menjadi penyebab orang tuanya berpisah. Keluarga besar daddy hingga saat ini masih memandang rendah mommy yang notabene bukan orang Australia.
"Ayo Ngga kita ke kelas teman lo. Malas banget gue menghadapi senior-senior seperti mereka." Rosa menarik tangan Angga. Saat itulah Seto keluar dari kelas dan melihat hal tersebut.
"Cor, itu siapa yang digandeng Rosa?"
"Anak IPS. Kenapa? Cemburu?"
"Nggak. Cuma kok enak banget gandengan begitu. Gue yang seniornya saja belum berhasil gandeng dia. Lah ini anak IPS berani-beraninya ngegandeng cewek gue."
"Bukan tuh cowok yang gandeng si Rosa, tapi sebaliknya," jelas Duta. "To, cewek lo galak banget. Barusan dia habis ngomelin kita." Corong mwnceritakan hal yang baru saja terjadi. Seto terbahak-bahak mendengarnya.
"Sialan lo To!"
"Nah kalian juga aneh, masih berlaku ya aturan lama itu? Ta, cewek lo aja anak IPS. Apalagi Rosa itu kan didikan Australia, didikan bule. Dia pasti sudah kesal banget sama yang namanya perudungan dan eksklusif-eksklusifan." ucap Ilyas yang baru saja datang dari perpustakaan. "Gue dari dulu nggak suka hal kayak gitu."
"Ya tapi memang dari dulu kasta kita beda sama mereka, Yas."
"Emangnya ada jaminan kita bisa lebih sukses dari mereka? Kebetulan saja di sini anak-anak tajir masuknya di IPA. Padahal gue yakin nggak semuanya berhasil masuk sini karena otak mereka. Elo aja nyogok Ta biar bisa masuk IPA. Padahal harusnya elo IPS. Elo juga Cor."
"Sudahlah hapusin aja tuh paradigma nggak penting. Dan perlu kalian tahu, cewek-cewek IPS banyak yang lebih cantik dari cewek IPA. Cocok tuh Cor, buat elo dan Troy yang player." imbuh Ilyas. Seto nyengir mendengarnya
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1