CINTA KITA BUKAN CINTA MEREKA

CINTA KITA BUKAN CINTA MEREKA
CKBCM 20


__ADS_3

Happy reading 💖


Di saat Troy dan Angga berdebat siapa yang akan menjadi imam, tiba-tiba masuklah seorang lelaki tua mengenakan sorban berjalan tertatih memasuki surau. Lelaki itu tak banyak cakap. Ia hanya tersenyum kepada mereka.


"Daripada kalian ribut, lebih baik kakek itu saja yang menjadi imam," potong Safira saat melihat Troy dan Angga hendak melanjutkan perdebatan. "Kek, kakek mau kan menjadi imam shalat maghrib?"


Lelaki tua itu tersenyum dan mengangguk tanda setuju. Troy dan Angga langsung berhenti berdebat. Akhirnya mereka bertiga shalat maghrib dipimpin oleh lelaki bersorban itu. Ternyata suara lelaki tua tersebut sangat indah dan mampu menghanyutkan perasaan para makmum shalat. Suara yang melantunkan ayat-ayat suci dengan indah mampu mengena di hati yang mendengarkan. Bahkan Troy terisak saat mendengar lantunan ayat-ayat suci yang dibacakan oleh lelaki tua itu. Ini suatu hal yang tak pernah terjadi dalam sejarah hidup Troy.


Angga dan Safira walau tak sampai menangis seperti Troy, namun hati mereka juga tersentuh mendengarkan bacaan lelaki tua itu. Suara yang mampu menenangkan sekaligus menghanyutkan siapapun yang mendengarkan. Suara yang mampu membius pendengarnya bahkan seolah menambah kekhusyukan para makmum.


Selesai shalat mereka langsung asyik berdzikir. Troy pun ikut berdoa. Entah apa yang dia minta kepada Allah. Tak biasanya ia lama menundukkan kepala dan berdoa. Biasanya selesai shalat ia langsung berdiri. Itupun kalau ia melaksanakan shalat. Hal yang jarang terjadi. Namun sejak mengenal Safira, hal itu sedikit berubah. Ia mulai melaksanakan shalat walau belum full lima waktu. Perubahan yang terjadi karena ingin menarik perhatian Safira. Sungguh bukan alasan yang tepat dalam menjalankan ibadah.


Mereka seolah larut dalam doa sehingga tak menyadari keadaan sekitarnya. Troy dan Angga tersadar saat mendengar suara-suara yang memanggil nama mereka. Bukan hanya satu orang namun, sepertinya ada beberapa orang yang memanggil. Saat itulah Angga dan Troy baru menyadari suasana surau yang gelap. Begitu juga kondisi di luar surau yang temaram hanya diterangi oleh lampu yang mulai meredup. Otomatis mereka menoleh ke belakang untuk mencari Safira namun mereka tak melihat keberadaan gadis itu. Menyadari hal tersebut mereka langsung berlari keluar surau.


Keduanya berpencar mencari Safira di sekitar surau. Namun mereka tak menemukan gadis itu.


"Mana Safira?" tanya Troy pada Angga.


"Gue sudah cari sekitar sini tapi nggak ketemu," jawab Angga. "Bukannya elo yang dari tadi pengen banget nempel sama dia? Kok bisa elo nggak sadar dia keluar dari surau ini?"


"Apa dia sudah balik ke tenda ya?" tanya Troy tanpa mempedulikan ucapan Angga. "Lo liat waktu si bapak tua itu keluar?"


"Nggak. Elo?" Troy juga menggeleng. Menyadari hal tersebut mereka berpandangan dengan khawatir.


Sementara itu suara-suara yang memanggil mereka terdengar semakin dekat.


"TROY!"


"ANGGA!"


"SAFIRA!"


"KAMI DISINI!" sahut keduanya serempak. (Hmm ternyata mereka bisa kompak juga ya).


Tak lama kemudian muncullah serombongan pria yang terdiri dari penduduk desa, para guru dan beberapa teman mereka. Wajah mereka terlihat khawatir.


"Kalian ngapain disini?" tanya pak Rahman.


"Kami baru selesai shalat maghrib berjamaah, pak," jawab Angga. "Kami baru selesai berdoa saat mendengar nama kami dipanggil."


Yang lain saling berpandangan dengan heran mendengar jawaban Angga. Beberapa penduduk desa bahkan berbisik-bisik. Entah apa yang dibisikkan.


"Apakah kalian sadar sekarang jam berapa?" tanya pak Dimas sambil memandang keduanya bergantian.

__ADS_1


"Jam setengah delapan?" Troy menjawab dengan tidak yakin sambil melihat jam yang melingkar di tangannya. Wajahnya tampak terkejut saat melihat pukul berapa saat itu.


"Troy, ini sudah jam 10 malam. Apakah kalian nggak sadar sudah berapa lama kalian disini? Mana Safira?" tanya pak Dimas lagi. "Tadi sore kalian bersama dia kan?"


Angga dan Troy saling berpandangan. Kali ini keduanya tak bisa menutupi keterkejutannya.


"Bapak jangan bercanda deh. Safira pasti sudah balik duluan. Buktinya kita nggak bisa menemukan dia di sekitar sini," ucap Troy.


"Kami nggak bercanda. Safira memang belum kembali ke tenda. Tadi si kembar yang melaporkan," balas pak Dimas. "Kami tadi sudah mencari di sekitar tenda dan balai desa namun kami tak menemukan kalian. Kami langsung menuju kemari karena Adi, salah satu murid bu Fatimah memberitahu kalau kalian shalat maghrib disini."


"Troy, Ngga,.. memangnya kalian nggak sadar kalau kalian cukup lama berada disini?" tanya Ilyas yang ikut dalam rombongan pencari.


"Nggak mungkin kami selama itu berada disini. Tadi kami shalat maghrib dipimpin oleh si kakek bersorban. Selesai shalat kami berdoa. Dan gue yakin gue nggak selama itu berdoanya. Elo tau kan gimana gue, Yas," sanggah Troy keras kepala. "Jam kalian pasti salah."


"Troy," panggil Angga.


"Apa?"


"Sekarang memang sudah jam 10 malam, bahkan sudah hampir setengah 11 malam," info Angga sambil memperlihatkan jam di ponselnya.


"Nggak mungkin! Ponsel lo pasti rusak." Kembali Troy menyanggah ucapan Angga.


"Nak Angga benar. Sekarang sudah hampir jam setengah sebelas malam." Ucapan pak Rahman menguatkan apa yang Angga sampaikan.


Angga dan Troy saling berpandangan dengan wajah terkejut tak mempercayai apa yang baru saja diucapkan oleh pak Rahman.


Keduanya menggeleng.


"Kami juga dari tadi mencari-cari dia di sekitar sini tapi nggak ketemu. Kami juga baru tersadar saat mendengar kalian memanggil-manggil," jelas Angga. "Kemana ya Safira?"


"Tadi kalian bilang ada seorang kakek yang mengimami kalian?" tanya Fajar, ketua karang taruna desa tersebut. "Lalu kemana kakek itu?"


"Entahlah mas, tadi saat kami keluar surau kakek itu sudah nggak ada, begitu juga Safira. Apakah Safira diculik oleh kakek tersebut?" Troy mengemukakan kecemasannya.


"Nggak usah mikir aneh-aneh lo! Mana mungkin gadis seusia Safira bisa diculik sama kakek-kakek. Elo liat kan tadi kakek itu saat memasuki mushola jalannya tertatih-tatih," sergah Angga. "Elo kebanyakan nonton drama kali ya?"


"Kata siapa kakek-kakek tua nggak bisa menculik gadis seusia Safira?!" balas Troy tak kalah keras. "Darimana lo bisa yakin kalau kakek-kakek itu beneran lemah? Bisa aja dia pura-pura kan?"


"Eh, sudah-sudah! Kalian kenapa malah jadi bertengkar sih?" potong pak Dimas. "Lebih baik kalian kembali ke tenda bersama Ilyas dan Fajar. Biar kami melanjutkan pencarian Safira."


"NGGAK!! KAMI MAU IKUT MENCARI SAFIRA!" seru keduanya serempak. Yang lain menggelengkan kepala melihat sikap keras kepala keduanya. Tadi ribut, sekarang malah kompak ingin ikut mencari Safira. Pak Rahman dan pak Dimas menghela nafas berat melihat sikap keduanya.


"Oke, kalian boleh ikut mencari tapi kalian nggak boleh bertengkar. Rombongan akan kita bagi dua. Kita akan mencari ke dalam hutan. Bapak harap kalian bisa menjaga sikap saat berada di dalam hutan. Jangan bicara yang aneh-aneh, jangan memisahkan diri dari rombongan walau kalian melihat sesuatu yang menarik serta jangan mengeluarkan sumpah serapah meskipun seandainya kaki kalian tersandung. Apakah kalian sanggup?" tanya pak Rahman. Keduanya mengangguk menyanggupi.

__ADS_1


Tak lama rombongan telah berpencar. Troy bersikeras satu rombongan dengan Angga di bawah pimpinan pak Rahman. Ia tak ingin hanya Angga yang dilihat oleh Safira seandainya rombongan pak rahman yang menemukan Safira lebih dahulu.


Sementara itu Ilyas dan Fajar bergabung dengan rombongan yang dipimpin oleh ustadz Ibrahim, imam di dusun. Pak Dimas bergabung dengan rombongan pak Rahman.


Setelah berjalan semakin jauh ke dalam hutan, suasana terasa semakin mencekam. Penerangan dari senter yang di bawa tak banyak membantu menghalau kegelapan yang melingkupi mereka.


"Pak Rahman, apakah sering ada kejadian seperti ini?" tanya pak Dimas hati-hati sambil berbisik. Namun bisikan pak Dimas bahkan terdengar nyaring di hutan yang sunyi itu. Hanya suara serangga malam yang terdengar..


"Sudah lama sejak kejadian terakhir, kira-kira 15 tahun yang lalu. Saat seorang mahasiswa yang KKN di dusun ini menghilang saat nekat memasuki hutan ini. Hingga saat ini mahasiswa tersebut tak ditemukan, bahkan jasadnya pun tak ditemukan. Sejak saat itu warga dusun ini menghindari mendekati hutan ini. Kalaupun terpaksa, maka kami pergi secara berombongan seperti saat ini. Enam tahun lalu hampir saja seorang anak masuk ke dalam hutan ini. Untung saja ada yang melihat dan berhasil mencegahnya," jelas Pak Rahman.


"Elo percaya cerita pak Rahman?" bisik Troy pada Angga yang berjalan di sampingnya.


"Entahlah. Gue hanya tahu bahwa Allah memang menciptakan jin, bahkan jauh sebelum manusia diciptakan," jawab Angga.


"An**r, nggak gue sangka orang agamis kayak elo percaya hal-hal mistik," ledek Troy sambil tertawa sinis.


"Mas, kalau ngomong hati-hati," salah seorang warga dusun yang berjalan di belakang mereka memperingati. Keduanya langsung terdiam


Namun hal itu tak berlangsung lama. Troy mulai tak sabaran karena sudah lebih dari dua jam mereka berjalan namun jejak Safira tetap belum ditemukan. Kakinya mulai lelah, perutnya mulai kelaparan bahkan matanya mulai terasa berat.


"Gue nggak sanggup melanjutkan pencarian ini," ucap Troy pada Angga. "Gue capek."


"Sabar. Katanya elo naksir Safira. Masak begini saja sudah menyerah," sindir Angga. "Kalau cuma segitu doang perjuangan lo, mendingan elo berhenti aja mendekati Safira. Gue yakin dia nggak bakal naksir cowok lembek kayak elo."


"Ba****t!! Elo bilang gue lembek?! Heh, curut... jangan pernah elo merendahkan gue kayak gitu!" Suara Troy mulai meninggi. "An**r... lo belum tau siapa Troy rupanya."


"Ssstt.. nak Troy dan nak Angga sebaiknya kalian tidak bertengkar. Ingat apa yang tadi bapak bilang," pak Rahman mengingatkan.


"Troy menyerah nih pak. Katanya dia nggak mau melanjutkan pencarian," sahut Angga. Ucapan yang langsung mendapat hadiah tonjokan di lengannya.


"Bertahan sebentar lagi nak Troy. Bapak ingin kita mencari ke satu lokasi lagi." Pak Rahman berusaha membujuk. Lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju ke pinggir sungai.


Troy yang benar-benar kelelahan melambatkan langkahnya. Satu persatu warga melewatinya. Troy tak memperdulikan hal tersebut. Baginya tak penting lagi apakah Safira akan mengetahui keikutsertaannya mecari gadis itu.


"Kalau capek, kamu istirahat saja. Saya akan menemani kamu," ujar seorang lelaki yang mengenakan sarung untuk menutupi kepalanya. Troy melihat ke arah lelaki tersebut, namun sialnya cahaya senter yang dipegang lelaki itu tiba-tiba padam.


"Bapak mau menemani saya?" Troy bertanya untuk meyakinkan.


"Iya. Sejak tadi saya sudah kasihan melihat kamu yang kelelahan. Tapi apakah kamu tidak apa-apa bersama saya di dalam kegelapan ini?" Pria itu balik bertanya.


"Nggak apa pak. Yang penting saya bisa istirahat. Lagipula kan ada bapak yang menemani." Lelaki itu tak menyahut. Ia hanya mendengus.


"Kamu duduk saja disitu. Kalau benar-benar lelah, kamu tidur saja. Saya yang akan berjaga dan membangunkan kamu bila rombongan kembali."

__ADS_1


Tak sampai semenit setelah duduk bersandar pada sebuah pohon, pemuda kota itu telah terlelap. Sebenarnya Troy merasa kurang nyaman tidur sambil bersandar di pohon yang penuh lumut itu. Dingin. Tapi rasa lelah yang menderanya membuatnya tak mampu bertahan.


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2