
"Kak, lepasin tangan Cantika." Kembali Cantika memprotes. Bukannya menuruti permintaan adiknya, Troy malah memanggil Ilyas.
"Wah, tumben elo sudah sampe."
"Hari terakhir bro. Kapan lagi bisa datang pagi sebagai siswa. Menikmati hari-hari terakhir nih bro. Besok-besok gue datang sebagai owner."
"Ketinggian khayalan lo! Eh, ada adek Cantik." Ilyas menyapa Cantika yang berdiri di belakang Troy. "Kok tumben nggak langsung diantar ke SMP?"
"Katanya dia mau ketemu elo, Yas," ucap Troy santai sambil tersenyum jahil.
"Iih.. kak Troy apa-apaan sih?!" desis Cantika kesal plus malu.
"Oh ya? Ada apa adek Cantik?" Hati Cantika berbunga-bunga mendengar panggilan khusus dari Ilyas. Dari sekian banyak teman dan sahabat sang kakak, hanya Ilyas yang memanggilnya 'adek Cantik'.
"Eeng.. nggak ada apa-apa. Itu kak Troy aja yang iseng." Cantika menunduk menghindari tatapan Ilyas. Wajahnya kembali memerah karena malu.
"Cieee... sok malu-malu lo!" ledek Troy. Ia memang gemar menggoda sang adik.
Ilyas tertawa melihat sikap Cantika yang menurutnya menggemaskan. Tubuh semampai Cantika tidak lantas menjadikan gadis ini lebih dewasa. Gadis ini malah lebih mirip anak kecil sikapnya. Manja dan menggemaskan. Apalagi kalau sudah malu-malu seperti saat ini.
Ilyas mengacak pelan rambut Cantika. Sebenarnya bukan sekali dua kali Ilyas bersikap seperti itu kepada Cantika. Namun sikap yang menurut orang lain seperti sikap kakak kepada adiknya, dirasakan berbeda oleh Cantika yang baru mulai besar. Ia mulai merasakan debaran yang berbeda saat Ilyas memperlakukannya dengan manis.
"Wah, adek gue bisa pingsan kalau elo terus-terusan manis ke dia," goda Troy.
"Kak Troy...." Cantika mulai merengek.
"Ayo kakak antar kamu ke SMP. Kasihan kalau kamu jalan sendirian kesana. Kak Troy mu itu memang jahil. Masa adeknya diturunin di sini." Ilyas lantas mengambil tangan Cantika dan mengantar gadis ABG itu menuju gedung sekolahnya.
"Dek, nafas dek nafas! Hati-hati pingsan di jalan!" Sekali lagi Troy meledek Cantika yang langsung berbalik dan menjulurkan lidahnya kepada kakaknya yang jahil.
"Happy banget lo pagi ini," tegur Duta dan Corong yang baru turun dari mobil.
"Dut, gimana urusan cewek lo?" tanya Troy.
"Alhamdulillah beres."
"Jadi digugurin?" tanya Corong. Troy menatap Duta penasaran.
"Nggak."
"Kalian bakal nikah?" Bukannya menjawab, Duta malah memperlihatkan tangannya.
"What?! Beneran itu?! Elo sudah seyakin itu sama dia? Bukannya waktu itu elo bilang cuma main-main sama dia?" Corong memberondong Duta dengan pertanyaan.
"Elo sudah kaw... eh sudah married sama dia?" tanya Troy tak percaya.
"Iya. Habis ujian hari pertama, gue langsung menghadap ke orang tua gue dan ceritain semuanya. Malamnya kita datang ke rumah Yola."
"Terus gimana tanggapan orang tuanya?"
"Awalnya mereka marah. Gue sempat digampar bolak balik sama bapaknya," jelas Duta. "Kedua orang tua gue sama sekali nggak membela. Ya gue, pasrah aja karena tahu gue memang salah."
__ADS_1
"Yola gimana? Dia masih mau menggugurkan kandungannya?"
"Dia menangis liat gue diam aja digampar bapaknya. Bahkan dia pasang body supaya bapaknya nggak mukulin gue lagi. Dia bilang kalau mau nikah sama gue." Duta tersenyum sambil menjelaskan.
"Beneran?!"
"Eh, ada apa nih? Apaan yang beneran?" tanya Seto dan Ilyas bersamaan. Mereka baru bergabung.
"Liat jarinya Duta," ucap Corong. Duta mengangkat tangannya yang memakai cincin. Seto dan Ilyas terbelalak melihatnya. Namun tak lama keduanya tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Duta.
"Gue bangga sama elo, Dut," ucap Ilyas. "Walaupun awalannya salah, tapi elo segera memperbaiki kesalahan lo dengan mau bertanggung jawab."
"Kapan kalian menikah?" tanya Seto penasaran.
"Tadi malam."
"Wah, sudah halal bobo bareng dong."
"Belum."
"Kenapa?"
"Kami baru boleh serumah setelah pengumuman kelulusan." Wajah Duta tampak sedih. Bukannya prihatin, para sahabatnya malah mentertawakan Duta.
"Nasib lo apes. Giliran halal, si otong disuruh puasa." ledek yang lain. Duta hanya bisa garuk-garuk kepala.
"Elo darimana yas?" tanya Corong. "Habis dari SMP? Ngapain?"
"Habis nganter adek."
"Adek ketemu gede," ledek Troy.
"Maksud lo?"
"Cantika?" Tebak yang lain. Ilyas tak menjawab. Ia malah meninggalkan yang lain.
"Serius Troy?" Yang lain ganti bertanya pada Troy. Sikap Troy kali ini sama dengan Ilyas. Meninggalkan yang lain kebingungan.
⭐⭐⭐⭐
"Fir, kamu dipanggil pak Broto."
"Pak Broto? Kamu nggak bikin salah kan? Jangan-jangan beasiswa kamu dicabut." Santi terlihat cemas.
"Jangan mikir yang aneh-aneh," potong Sinta, kembarannya.
"Mau ditemenin?" tanya Sinta dan Santi bersamaan. Safira tersenyum melihat kelakuan si kembar.
"Nggak usah. Aku sendirian aja."
"Tapi kalau nanti...."
__ADS_1
"Nih anak dibilang jangan mikir aneh-aneh, kok ngeyel!" omel Sinta.
"It's okay girls. Aku sendirian aja kesana. Nanti kalau bu Rini masuk kelas dan aku belum balik tolong kasih tahu ke beliau kalau aku lagi di ruangan pak Broto."
Tangan Safira sedikit gemetar saat mengetuk pintu ruangan Broto. Walaupun ia yakin tak melakukan kesalahan, namun ia tetap khawatir.
"Selamat pagi, pak." Di dalam ruangan, pak Broto tak hanya sendiri. Ada wanita setengah baya yang masih terlihat cantik. Wajahnya mengingatkan Safira pasa seseorang.
"Silahkan duduk Fir. Sebentar ya, bapak tanda tangan dulu."
Sementara Broto menandatangani dokumen, wanita cantik itu memperhatikan Safira dengan seksama. Safira hanya bisa tersenyum kepada wanita tersebut.
"Fir, kenalkan ini bu Kemala, anak oma Linda," Broto memperkenalkan wanita cantik yang duduk di sampingnya. Anak oma Linda, berarti dia istri pak Broto, batin Safira. Apakah dia ibu dari Troy?
"Tebakanmu benar. Saya mamanya Troy." Wanita itu seolah bisa membaca pikiran Safira.
"Oh, se-selamat siang bu."
"Kamu nggak usah gugup begitu. Saya mau ketemu kamu karena Troy merekomendasikan kamu," ucap Kemala sambil tersenyum.
"Kak Troy merekomendasikan saya? Kalau boleh tahu, untuk apa ya?" Safira terlihat bingung.
"Fir, bapak mau menawarkan pekerjaan untuk kamu."
"Oh.. eh.. saya nggak mungkin mengajar kak Troy untuk persiapan ujian masuk PTN, pak," jawab Safira gugup. Tak terbayang olehnya menjadi tutor untuk Troy.
"Hmm... ide yang bagus. Kenapa saya tidak pernah terpikirkan meng-hire kamu sebagai tutor untuk Troy. Pasti hasil ujian dia akan lebih baik," ucap Broto sambil terkekeh. Safira mulai terlihat panik mendengar ucapan Broto.
"Pa, jangan suka meledek Safira. Kasihan dia. Kalau dia sampai menolak awas saja," ancam Kemala sambil menahan senyum.
"Maafin bapak, Fir. Bapak cuma bercanda."
"Kamu punya pengalaman menjadi tutor?" tanya Kemala.
"A-ada bu. Saya pernah menjadi tutor anak tetangga saya."
"Anak kelas berapa? Kamu mengajar apa saja?" Kemala mengajukan serentetan pertanyaan.
"Saya pernah mengajar anak-anak SD dan SMP bu. Kalau anak SMA saya belum pernah. Apalagi kalau untuk persiapan ujian masuk PTN. Saya nggak punya pengalaman," jawab Safira cepat. Kali ini Kemala tergelak mendengar jawaban Safira.
"Kamu takut ya kalau disuruh mengajar Troy?" goda Kemala. Safira mengangguk ragu. Ia takut Kemala tersinggung.
"Mama kok gantian menggoda Safira," tegur Broto. "Begini Fir, kami berencana merekrutmu sebagai tutor untuk adiknya Troy yang kelas 8."
Tanpa disadari Safira menghela nafas lega. Broto dan Kemala tersenyum melihat hal itu.
"Bagaimana Fir? Apakah kamu bersedia? Tenang saja, kami pasti akan membayarmu sesuai fee seorang tutor profesional."
"Hmm.. apakah saya boleh diskusikan dulu dengan orang tua saya?"
"Silakan kamu berdiskusi. Bapak harap besok kamu sudah bisa memberikan jawaban yang positif."
__ADS_1
Safira keluar dari ruangan dengan kening berkerut. Apakah aku harus menolak atau menerima. Kalau ditolak aku takut dicap sombong. Tapi kalau diterima itu artinya aku harus ke rumah mereka dan bertemu dengan kak Troy. Aduh bingung.
⭐⭐⭐⭐