CINTA KITA BUKAN CINTA MEREKA

CINTA KITA BUKAN CINTA MEREKA
CKBCM 18


__ADS_3

"Wah, ternyata kita satu kelompok ya Fir." sapa Angga ketika telah dibagi kelompoknya.


"Iya Ngga. Aku senang pembagian kelompoknya kayak gini."


"Kenapa? Senang ya bisa sekelompok sama aku?" goda Angga.


"Ih, ge-er kamu. Bukan itu alasannya."


"Lalu apa dong alasannya?" tanya Angga penasaran.


"Aku senang karena jadi ada kesempatan mengenal anak IPS lebih banyak lagi. Selama ini anak IPS yang kukenal sangat terbatas. Cuma kamu dan teman-teman dekatmu. Itu pun jarang banget ngobrol sama mereka."


"Hai Ngga. Nggak nyangka, akhirnya gue bisa sekelompok sama elo," sapa seorang gadis cantik yang mengenakan celana selutut dengan hoodie warna pink.


"Eh elo Nya. Kenalin nih, Safira anak kelas 11 IPA 4." Angga memperkenalkan Safira pada Sonya. "Sonya ini teman aku sejak SD. Nggak tau kenapa sekolahnya bareng mulu. Sampe bosan aku lihat dia."


"Itu artinya kita berjodoh," sahut Sonya asal.


"Berjodoh sama cewek tomboy kayak elo? Waduuh nggak deh."


"S****n lo Ngga! Gue sumpahin elo jatuh cinta sama gue dan bakal kawin sama gue." semprot Sonya sambil menonjok lengan Angga. Tak lama keduanya asyik kejar-kejaran seperti bocah SD.


"Teman kamu kayak anak kecil kelakuannya," Tiba-tiba Troy berbisik persis di telinga Safira sehingga membuatnya terjengit kaget.


"Astaghfirullah, kak Troy bikin kaget saja."


"Kamunya sih asyik banget ngeliatin temanmu kejar-kejaran begitu. Sama siapa dia? Pacarnya?"


"Nggak tahu kak. Kata Angga, Sonya itu teman dia sejak kecil." Safira bergeser sedikit agak menjauhi Troy.


"Kamu percaya omongan dia?" tanya Troy kembali.


"Kenapa nggak?" Safira balik bertanya.


"Kalau menurutku mereka berdua itu lebih dari teman masa kecil."


"Ya nggak papa juga kalau mereka pacaran. Itu hak mereka," sahut Safira kalem.


"Kamu nggak cemburu? Kamu masih mau didekati sama si Angga itu?"


"Kenapa harus cemburu? Aku sama Angga cuma berteman kok."


"Beneran cuma berteman? Nggak lebih?" Safira menoleh dan menatap Troy dengan heran lalu buru-buru membuang pandang. A***r cantik banget, padahal dia nggak dandan, batin Troy terpana menatap mata Safira.


"Memangnya kenapa kalau lebih?"


"Beneran kamu pacaran sama dia?" tanya Troy kaget.


"Aku cuma bertanya kenapa kalau lebih. Nggak ada kata-kata aku pacaran sama dia." Troy menghela nafas lega. "Kak Troy merasa terganggu?"


"Iya. Aku nggak suka kalau kamu pacaran sama dia." Safira tertawa kecil. Troy semakin terpesona saat melihat wajah Safira kala tertawa. Jarang banget bisa melihat wajah Safira seperti saat ini. Biasanya Safira hanya tersenyum tipis sambil menundukkan wajah sehingga Troy tak bisa menikmati wajah cerianya yang cantik.


"Nggak ada yang pacaran kak."


"Berarti aku punya peluang dong?"


"Peluang apa?"


"Peluang jadi pacar kamu pastinya." Safira tak menjawab. Dia malah menghampiri Rosa yang sedang duduk di dekat miss Lucy. Tak lama mereka sudah asyik membahas penelitian yang akan dilakukan.

__ADS_1


"Gimana Troy?" tanya Seto yang kebetulan juga satu kelompok dengan mereka. Troy hanya mengangkat bahu seolah tak peduli. "Sudahlah, lupakan saja si Safira. Lebih baik elo pacarin si Vonny atau Ariana anak 12 IPS 1. Mereka dari dulu naksir elo."


"Perjuangan baru dimulai bro. Nggak ada yang baru mulai berjuang langsung berhasil. Pokoknya sebelum lulus, gue bakal berhasil menjadikan Safira sebagai pacar gue. Lo liat aja nanti."


"Fir, ngapain kak Troy bisik-bisik sama elo? Dia nembak elo?" tanya Rosa pelan.


"Nggak. Dia cuma bilang nggak suka kalau aku dekat sama Angga," jawab Safira sambil mencatat apa yang diterangkan oleh miss Lucy.


"Dia cemburu."


"Kenapa harus cemburu?"


"Karena... ya karena dia naksir elo."


"Tapi dia kan bukan pacarku. Dia nggak berhak cemburu."


"Mungkin itu yang namanya posesif. My daddy used to be like that before my grandma asked him to divorced my mom." Rosa terlihat termenung.


"Sa, nggak usah diingat lagi ah. Nanti kamu malah menangis. Lebih baik kita kerjakan tugas dengan baik supaya nilai kita bagus." Safira berusaha menenangkan Rosa yang mulai terlihat galau karena teringat ayahnya.


"Kalau menurutku terima saja cinta salah satu dari mereka. Biar salah satu dari mereka mundur," usul Rosa.


"Mau terima cinta siapa? Lah wong mereka aja belum menyatakan perasaaannya ke aku. Lagipula kita masih SMA, baru juga kelas 11. Masih panjang jalan yang harus kita tempuh untuk sukses," balas Safira.


"Fir, gimana kalau salah satu dari mereka menyatakan perasaannya?"


"Ya nggak gimana-gimana."


"Kamu tolak?" Safira hanya tersenyum tanpa menjawab. "Ayolah kasih tahu aku, kamu akan menjawab apa."


"Sa, aku belum mau memikirkan masalah pacaran. Sebagai anak sulung aku memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan studiku dengan baik. Aku nggak mau menyia-nyiakan beasiswa yang kuperoleh serta perjuangan ayah dan ibuku. Mereka bekerja keras untuk kami, anak-anaknya. Selain itu aku juga harus memberi contoh yang baik kepada kedua adikku."


"Jadi intinya kamu belum mau pacaran?" Safira mengangguk.


Di saat yang hampir bersamaan Seto dan Troy berjalan mendekati mereka. Seto menyenggol lengan Troy sambil memberi kode ke arah Safira.


"Lo dengar kan apa yang Safira bilang? Saran gue, lo lupain aja deh niat lo nembak dia. Gue ikhlas kok kita batalin taruhan." Troy terdiam mendengar ucapan Seto. Dia juga mendengar apa yang Safira ucapkan.


"Gue yakin bisa menundukkan hatinya dan merubah pendiriannya."


"Terserah elo deh. Tapi kalau sampai elo main-main dan menyakiti dia, gue nggak akan segan-segan menghajar elo."


"Elo mengancam gue?" tanya Troy sambil mengangkat sebelah alisnya. "Gue benar-benar curiga nih. Woy bro, jangan serakah. Elo sudah ada Rosa."


"Gue nggak mengancam elo. Cuma memperingatkan elo supaya nggak menyakiti perasaan dia."


"Tenang bro, percaya sama gue."


"Justru gue nggak bisa percaya sama elo karena gue tau gimana record lo selama ini." Troy hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Seto. Dia malah menghampiri Safira yang terlihat serius mendengarkan penjelasan miss Lucy. Sesekali ia mencatat.


"Fir, nih buat kamu." Troy memberikan sebatang coklat kepada Safira.


"Hmm.. makasih. Tapi nggak usah kak."


"Lho kenapa ditolak?"


"Nggak papa. Cuma nggak enak aja kalau yang lain lihat. Aku nggak mau ada yang salah sangka."


"Kenapa harus salah sangka? Itu kan hakku mau kasih ini ke kamu. Ambil aja. Kamu simpan dalam tas. Sebentar lagi kita kan akan ke pinggir desa. Aku dengar jaraknya lumayan jauh. Kuperhatikan tadi kamu sarapannya cuma sedikit. Coklat ini bisa untuk mengganjal kalau nanti kamu lapar," Troy memaksa Safira untuk menerima coklat tersebut.

__ADS_1


"Tapi kak...."


"Terima aja Fir. Sini kak, biar aku masukan ke dalam tasnya." Rosa mengambil coklat tersebut dan memasukkan ke dalam tas ransel kecil milik Safira.


"Sa, kok kamu ikutan maksa sih?"


"Kak Troy nggak akan menyerah sampai kamu menerima coklat ini. Iya kan kak?" Troy mengangguk sambil mengangkat jempolnya.


"Makasih ya Sa," ucap Troy. Rosa menggangguk dan menarik Safira untuk bergabung dengan anak-anak lain.


Sementara itu di kejauhan sepasang mata menatap Safira penuh kemarahan. Ya, Vonny masih saja tak bisa terima bila Troy mendekati Safira. Ia beranggapan itu semua karena Safira menggoda Troy. Di sisi lain Angga memperhatikan interaksi antara Troy, Safira dan Rosa. Ia merasa cemburu namun di saat bersamaan ia juga yakin Safira takkan semudah itu menyerah kepada Troy hanya karena sebatang coklat.


"Lo kenapa, Ngga? Biasa aja kali ngeliatinnya. Elo naksir Safira?" tanya Sonya yang berjalan di sampingnya. Angga hanya tersenyum.


"Kenapa elo nggak pepet aja si Safira?"


"Emangnya dia bajaj?" balas Angga acuh. "Sudah ah jangan berisik. Ayo buruan jalan. Jangan sampai ketinggalan rombongan."


"Hmm.. gue yakin elo cemburu ya liat Safira dipepet sama Troy," desak Sonya. "Ngaku aja. Kelihatan tau!"


"Nya, nggak usah sok tau deh. Gue memang suka sama dia. Puas?!" Sonya terbahak mendengar jawaban Angga. Dirangkulnya bahu Angga. "Yaelah, ngapain sih pake rangkul-rangkul segala?"


"Kenapa? Takut Safira lihat? Biasa aja kali. Dia nggak bakal cemburu kok."


"Bukan itu. Gue justru takut elo jatuh cinta sama gue," balas Angga pede. Jawaban yang membuatnya mendapat hadiah ketokan di kepala. "Bujug... kasar amat sih jadi cewek!"


"Mulut lo lémés banget! Kayak mulut nenek-nenek kehilangan konde. Ya kali gue jatuh cinta sama elo. Yang ada, elo jatuh cinta sama gue. Awas aja, kalau nanti tiba-tiba enyak Rodiah datang ke rumah buat melamar gue."


"Dih, absurd banget lo! Pantesan si Wildan ninggalin elo," ledek Angga. Wrong move! Karena kali ini lehernya dipiting oleh Sonya. Angga lupa kalau Sonya pemegang sabuk hitam tae kwon do.


"Si***n lo! Dengar ya, bukan Wildan yang ninggalin gue tapi gue yang ninggalin si kadal buntung itu."


"Rif, itu si Angga dan Sonya beneran cuma temenan? Gitu amat temenannya?" komentar Bento yang berjalan di belakang Angga dan Sonya.


"Memangnya kenapa? Lo cemburu? Sudah move on dari si Lanny?" Arif balik bertanya. "Lo tau kan Angga dan Sonya berteman dari SD. Ya begitu itu cara mereka berteman."


"Si Sonya lumayan juga sih. Nggak kalah cantik dan menarik dari Lanny. Tapi tomboynya itu lho. Bisa-bisa lebih gagah dia daripada gue," jawab Bento. "Nyokap gue nggak bakalan mau punya calon mantu kayak gitu."


"Memangnya elo mau ngawinin si Sonya?" tanya Arif.


"Nggak juga sih. Cuma kebayang aja kalau bini lebih gagah daripada suami."


"Nya, si Bento mau ngelamar elo nih!" teriak Arif sehingga membuat Sonya menoleh.


"Boleh, tapi gue jadiin suami kedua ya!"


"Yang pertama siapa?!"


"Nih, cowok di samping gue!" Sonya terbahak melihat Angga memasang wajah shock sekaligus memelas.


Yang lain ikutan terbahak melihat tingkah mereka. Miss Lucy dan pak Yahya sebagai pembina ikutan tertawa melihat tingkah anak-anak didik mereka.


"Ayo, jangan aneh-aneh kalau nggak mau dinikahin di tempat," Pak Yahya mengingatkan mereka. "Jaga sikap kalian ya."


"Sonya pengen nih pak!" ledek Arif disambut gelak tawa yang lain termasuk Sonya, cewek cantik yang tomboy.


"Hidup mereka kayaknya nggak ada beban ya pak," komentar miss Lucy.


"Namanya juga anak muda. Dulu miss Lucy juga pasti begitu."

__ADS_1


"Saya mah dulu nggak gaul pak. Kutu buku."


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2