
Penasaran bagaimana kelanjutan kisah siswa siswi SMA Bhakti Nusa?
Yuk dilanjutin bacanya
⭐⭐⭐⭐
Happy Reading ❤
Jam menunjukkan pukul setengah 6 pagi. Matahari masih malu-malu menunjukkan sinarnya. Di depan rumah Safira tampak sudah ramai para pelanggan nasi uduk. Dian terlihat sibuk melayani pelanggan. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur semester. Jadi banyak orang tua yang membeli sarapan untuk anaknya. Safira yang biasanya membantu, kali ini tidak bisa membantu karena sibuk menyiapkan diri untu semester baru.
"Bu, jangan lupa buat semur jengkol buat Engkong Rojaih dan Enyak Rodiah. Untuk den Juna dan den Angga jangan dikasih jengkol ya. Buat saya seperti biasa." Pagi ini mpok Mumun yang kebagian membeli sarapan.
"Kok tumben bukan Juna yang beli sarapan, mpok?" tanya Dian kepada mpok Mumun.
"Den Juna pagi ini berangkat lebih cepat dari biasanya. Takut kena macet soalnya. Maklum sekarang kan den Juna harus mengantar calon istri ke kantor."
"Emangnya sudah resmi lamarannya, mpok?" tanya mpok Leha yang sedang asyik memilih gorengan. "Orang tuanya nggak keberatan Juna kawin sama janda?"
"Kagaklah. Orang tua den Juna kan lama tinggal di luar negeri. Jadi nggak peduli dengan status janda. Yang penting seagama dan dua-duanya saling cinta, nggak ada paksaan," jawab mpok Mumun sambil menikmati bakwan goreng. "Bu Dian, jangan lupa saya makan gorengan satu biji ya."
"Wah, kampung kita bakal ngegelar pesta nih dalam waktu dekat. Emang kapan rencananye mpok?" tanya bang Jupri, tukang ojek online yang biasa mangkal dekat rumah Seno.
"Kalau itu gue kagak tau. Tapi katanya sih habis lebaran besok. Tunggu tuan dan nyonya balik."
Di saat mereka asyik ngobrol, tiba-tiba sebuah mobil sport mewah berhenti di dekat pos hansip, yang kebetulan dekat dengan warung nasi uduk milik Dian. Serentak semua mata memandang mobil tersebut dengan kagum sekaligus heran. Di wilayah mereka tak ada warga yang memiliki mobil mewah seperti itu.
"Mobil siape tuh?" tanya bang Edoy yang sedang asyik menikmati sepiring nasi uduk komplit plus kopi. "Pelanggan baru bu?"
"Wah, pembeli nasi uduk bu Dian sekarang naik level nih. Jangan-jangan bentar lagi harga makanan juga ikut naik nih," celetuk bu Siti yang masih menunggu giliran.
"Ya nggaklah bu Siti," sahut Dian sambil tangan terus menyiapkan pesanan para pelanggannya. "Pemilik mobil kayak gitu mah sarapannya roti, bu."
"Terus mobil siapa dong? Tamunya pak RT? Atau tamunya om Carlos?"
"Bukan tamu pak RT kayaknya. Parkirnya kejauhan dari rumah pak RT. Kayaknya juga bukan tamu om Carlos. Dia kan lagi ajak bininya pulang kampung ke Itali," sahut mpok Leha, salah satu pengamat sosial di kampung tersebut. Disebut pengamat sosial karena mpok Leha paling demen memantau kehidupan sosial para tetangga alias julid.
Saat mereka asyik menebak-nebak, pintu mobil terbuka dan turunlah seorang pemuda gagah dengan kacamata hitamnya. Pemuda tersebut menggunakan seragam SMA.
"Bujuuug, pagi-pagi seger bener pemandangannya," celetuk tante Tia, seorang wanita dewasa tapi masih single.
"Waaah.. jangan-jangan calon mantu pak Seno nih?" sambar mpok Leha. Semua langsung ribut mendengar ucapan Mpok Leha.
"Hush, jangan sembarangan ngomong mpok Leha. Safira kan nggak punya pacar," ucap Dian sambil terkekeh. "Teman kaya aja nggak punya, apalagi pacar kaya."
"Terus, siapa dong tuh anak muda?" Semua sibuk bertanya-tanya. Sementara pemuda tersebut terlihat menoleh kesana kemari seolah mencari alamat.
"Jangan-jangan penculik anak," ucap bu Siti.
"Mana ada penculik pake mobil mewah gitu. Bu siti ada-ada saja."
"Tong, elo cari siape?" tanya bang Jupri pada pemuda itu. "Mau cari alamat atau mau beli nasi uduk?"
"Rumah Fira yang mana ya bang?"
"Fira yang mana?"
"Memangnya disini ada berapa fra, bang?"
__ADS_1
"Ada dua. Fira anak pak Seno dan Fira anak pak Robi." Pemuda itu terlihat bingung.
"Fira yang SMA bang."
"Dua-duanya anak SMA."
"Waduh... Fira yang mana ya? Hmm.. Fira yang bapaknya driver ojol, bang."
"Oh Firanya pak Seno. Kalau yang itu, elo sudah tepat tong. Tuh rumahnya yang jualan nasi uduk."
Bapaknya driver ojol, ibunya jualan nasi uduk? Hmm.. menarik. Pantas saja tuh cewek jarang jajan ke kantin sekolah.
"Bu Dian, ada yang nyariin Fira nih!" teriak bang Jupri. Semua mata pembeli nasi uduk dan Dian langsung memperhatikan pemuda tampan tersebut.
"Pacarnya Fira ya bu?" tanya mpok Mumun serius.
"Wah bu Dian hebat pilih calon mantunya. Anak orang kaya," ucap mpok Leha setengah kepo, setengah sinis.
"Ah, Fira mah belum punya pacar mpok. Salah alamat kali tuh anak."
"Selamat pagi, bu" sapa pemuda tampan yang kini berdiri di depan Dian. "Benar ini rumah Safira, yang sekolah di Bhakti Nusa?"
"Benar. Kamu siapa? Teman sekelas Safira?" tanya Dian sedikit curiga. "Kok Safira nggak bilang ya kalau temannya mau datang."
"Eh.. Safira nggak tau kalau saya mau datang bu."
"Oooh....." Semua yang ada disitu bergumam setelah mendengar jawaban pemuda tersebut.
"Boleh ibu tahu nama kamu siapa?"
"Troy bu." Semuanya mengangguk-angguk sambil meperhatikan Troy dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Troy hanya tersenyum mendengar pertanyaan tersebut. Sementara itu Dian masuk ke dalam rumah.
"Fir... Firaaa... ada teman kamu tuh di depan?" Dian mengetuk pintu kamar Safira.
"Siapa bu?" tanya Safira yang sudah siap dengan seragamnya. Bahkan tas sekolah sudah dibawanya.
"Troy. Dia siapa?" tanya Dian penasaran
"Troy? Kak Troy?!" Safira tampak terkejut mendengar jawaban ibunya. "Mau ngapain dia ke sini bu?"
"Mana ibu tahu. Memangnya kamu nggak tahu kalau dia mau kesini? Dia itu siapa kamu?" Dian mencecar Safira dengan pertanyaan. "Pacar kamu?"
"Ih bukan bu. Fira nggak punya pacar dan belum ada niatan buat pacaran. Fira kan masih kecil, bu."
"Lalu itu siapa nak?" Tiba-tiba Seno berdiri di belakang Fira. Terlihat dia sudah siap untuk berangkat.
"Mas sudah sarapan? Tadi aku sudah siapin sarapan dan kopi kesukaan mas Seno. Oh iya untuk bekal juga sudah aku siapin."
"Tadi aku sarapan bareng anak-anak. Salman dan Sania hari ini minta diantar ayah. Kamu nggak apa-apa naik angkot, Fir?"
"Nggak papa Yah. Mumpung masih pagi."
"Eh, tapi jawab dulu pertanyaan ayah. Siapa pemuda itu?"Seno kembali bertanya. Perasaan itu bukan kakaknya si kembar kan?"
Safira melihat ke teras lalu menghela nafas panjang. Mau ngapain sih kak Troy kesini? Darimana dia dapat alamatku? Apakah dari si kembar? Mereka juga nggak tau alamatku. Safira sibuk dengan pikirannya hingga akhirnya Seno menepuk bahunya.
__ADS_1
"Fir, Kok malah bengong? Pertanyaan ayah belum kamu jawab."
"Iiih.. kak Fira pacaran ya?!" Tiba-tiba Salman dan Sania sudah ikut nimbrung dalam percakapan. Keduanya terlihat sudah siap berangkat.
"Bukaaaan! Itu bukan pacar kakak," tegas Safira.
"Salman tahu siapa pacar kak Fira," celetuk Salman. "Pacar kak Fira tuh kak Angga, cucunya Engkong Rojaih. Iya kan kak?"
"Salman apaan sih! Kakak tuh nggak punya pacar." Safira sudah hendak memukul bahu adiknya, namun Salman bersembunyi di balik tubuh ibunya.
"Ayah percaya deh sama Fira. Dia itu bukan siapa-siapa. Dia itu senior yang waktu itu sama-sama tersesat di hutan," jelas Fira. "Ayah ibu masih ingat kan kejadian fieldtrip kemarin itu?
"Kalau bukan pacar, ngapain dia kesini? Dia naik apa bu?" tanya Salman penasaran sambil berjalan ke ruang depan. "Wow, mobilnya bagus banget. Kalau nggak salah harga mobil itu sama dengan harga rumah kita. Bisa buat bayar kuliah."
"Sok tahu kamu."
"Sudah jangan berdebat terus. Sana kamu temuin temanmu itu, Fir. Ibu nggak enak lama-lama ninggalin pembeli."
"Disuruh masuk saja dik," perintah Seno. Safira terkejut mendengar ucapan sang ayah. Mampus deh. Ayah ngapain nyuruh kak Troy masuk segala sih.
"Yah, nggak usah disuruh masuk. Diusir saja."
"Hush.. bukan begitu cara menghadapi tamu. Biar bagaimanapun agama kita menyuruh untuk memuliakan tamu."
"Tapi yah...." Belum selesai bicara, tampaklah tubuh tinggi Troy di depan pintu ruang tamu sederhana rumah mereka.
"Pagi, om," sapa Troy sopan. Hmm.. bisa sopan juga nih orang, pikir Safira.
"Pagi, ayo silahkan duduk. Fir, sediakan minum buat temanmu."
"Tapi yah, ini sudah jam berapa. Kalau pakai acara bikin minum, Fira bisa terlambat. Ayah kan tahu, jam segini angkotnya penuh."
"Nak... Troy? Benar nama kamu Troy?" tanya Seno lembut namun tegas. "Boleh bapak tanya ada kepentingan apa pagi-pagi nak Troy datang mencari Safira?"
"Hmm... sa-saya bermaksud mengajak Safira berangkat bareng ke sekolah om," jawab Troy sedikit gugup. Mau tak mau Safira menahan senyumnya melihat Troy seperti itu. Selama ini Troy adalah sosok yang penuh percaya diri. Tidak seperti pagi ini.
"Itu mobil nak Troy? Beli sendiri atau dibelikan orang tua?" Mendadak Seno mengajukan pertanyaan di luar dugaan.
"Eengh.. itu mobil.. mobil pemberian oma saya, om." Tampak bulir-bulir keringat muncul di pelipis Troy. Padahal udara pagi ini dingin.
"Hmm.. jadi nak Troy menjemput Safira dengan mobil pemberian orang tua. Apa tidak malu?"
"Ma.. maksud om?"
"Iya, apa kamu nggak malu memakai fasilitas dari orang tua untuk mengajak seorang gadis?" Troy terkejut mendengar pertanyaan Seno. Mampus gue, pikir Troy panik.
"Mohon maaf nak Troy, buat bapak salah satu kebanggaan seorang pria di depan seorang gadis, adalah mampu memamerkan apa yang dia hasilkan sendiri. Bukan nebeng fasilitas orang tua."
"Ja-jadi maksud om... saya nggak boleh menjemput Safira kalau bukan dengan kendaraan hasil keringat saya sendiri?"
"Untuk hari ini, karena kamu sudah berjuang pagi-pagi kesini, bapak akan mengijinkan kamu mengajak Safira dan adik-adiknya. Mohon maaf, bapak nggak bisa mengijinkan kalian berduaan saja. Dan next time kalau kamu serius dengan Safira datanglah kesini dengan membawa apa hasil keringatmu. Bukan nebeng fasilitas orang tua."
Troy tampak pucat pasi mendengar ucapan Seno. Kok jadi serius banget. Gue kan cuma mau PDKT sama anaknya. Bukan mau ngajak kawin.
"Satu hal lagi, saya tidak mengijinkan nak Troy berpacaran dengan anak saya. Kalau nak Troy serius, datanglah setelah Safira lulus sekolah lalu lamar dia," tegas Seno. "Oh ya, Salman dan Sania.. pagi ini kalian berangkat bareng nak Troy dan kak Fira ya. Oke, bapak berangkat dulu nak Troy."
Semua yang ada disitu terdiam mendengar ucapan Seno. Safira dan adik-adiknya langsung mencium tangan Seno yang akan berangkat. Troy terlihat kikuk, tak tahu harus melakukan apa. Akhirnya ia berdiri dari duduknya dan menganggukkan kepala pada Seno.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐