
Safira baru saja selesai shalat dzuhur saat pintu kamarnya diketok. Hari ini hari Sabtu. Kemarin ia baru saja selesai melaksanakan ujian kelulusan.
"Fir, kamu dipanggil ayah." Terdengar suara Dian.
Safira buru-buru membuka pintu kamarnya. "Maaf bu, Fira baru selesai shalat."
"Oh ya sudah, kamu selesaikan saja dulu dzikir dan doanya. Kalau sudah selesai, ditunggu ayah di meja makan."
Tak lama kemudian Safira, Dian dan Seno sudah berkumpul di meja makan.
"Ada apa yah?"
"Duduk dulu Fir. Tuh ayah buatkan capcay dan ayam goreng mentega kesukaan kamu."
"Ih, tumben ayah masak buat Fira. Sudah lama banget Fira nggak melihat ayah masak. Padahal dulu setiap weekend ayah pasti masak untuk kita."
"Hari ini hari spesial kan." jawab Seno sambil tersenyum misterius.
"Hari spesial gimana yah?"
"Ya spesial karena ......"
"Surprise!" Tampak Salman dan Sania keluar dari dapur dengan kue tart di tangan. "Selamat ya kak!"
Safira tampak bingung. "Ada apa sih? Ini surprise apaan? Memangnya hari ini ada sesuatu yang spesial?"
"Tentu saja hari ini sangat spesial. Pertama, hari ini adalah hari kelahiranmu. Kedua, kamu telah selesai ujian yang artinya kamu sebentar lagi sudah bukan anak SMA. Ketiga, kemarin ayah mendapat kabar gembira dari kantor kalau ayah diangkat menjadi manajer di kantor," jelas Seno. "Jadi ayah pikir ini adalah suatu hal yang patut kita syukuri."
"Tapi yah, bukankah selama ini kita nggak pernah merayakan ulang tahun? Lalu ayah selalu bilang kalau kita harus bersyukur setiap hari bukan hanya di hari-hari tertentu," ucap Safira.
"Memang nak, kita harus selalu bersyukur setiap hari. Tapi untuk kali ini ayah ingin sedikit lebih spesial karena kamu sebentar lagi akan kuliah."
Safira tertunduk mendengar perkataan Seno. Apakah aku pantas bermimpi untuk kuliah, sementara ada Salman yang baru akan masuk SMA dan pastinya butuh biaya yang tidak sedikit.
"Kamu kenapa, nak?" tanya Dian yang melihat perubahan wajah Safira.
__ADS_1
"Bu, setelah lulus nanti sepertinya Fira akan istirahat dulu setahun. Fira nggak akan langsung kuliah."
"Lho, kenapa begitu Fir?" tanya Seno dan Dian bersamaan.
"Tahun ini Salman mau masuk SMA. Pasti akan butuh biaya besar memasukkan Salman ke sekolah yang bermutu. Makanya Fira akan menunda kuliah."
"Tapi Fir, kamu kan sudah diterima di jurusan arsitektur melalui jalur undangan. Apakah itu akan kamu lepas?" tanya Dian prihatin. Ia memahami pemikiran putri sulungnya yang tak ingin merepotkan orang tuanya.
"Fir, sekarang kan jabatan ayah di kantor sudah lebih baik. Gaji ayah juga bertambah. Jadi kamu nggak usah khawatir mengenai biaya pendidikan kalian."
"Tapi yah, biaya kuliah arsitektur tidak sedikit. Walaupun Fira mendapat UKT yang tidak terlalu tinggi, tapi tetap saja biayanya mahal. Apalagi dek Sania kan mau masuk pesantren. Itu artinya ayah harus mempersiapkan biaya yang tak sedikit. Buat Fira pendidikan adik-adik lebih penting. Fira sudah sangat bersyukur karena bisa sekolah hingga lulus SMA. Sekarang giliran adik-adik."
"Masyaa Allah... ayah bersyukur punya anak seperti kamu, yang sangat mengerti keadaan orang tua. Tapi kamu nggak usah khawatir. Allah akan menurunkan rizkinya kepada kita. Tugas kalian adalah belajar dan berdoa. Sisanya biar kami yang memikirkan," ucap Seno sambil mengelus kepala Safira.
"Fir, ayah dan ibu ingin kalian sekolah yang tinggi dan mencapai cita-cita kalian. Itu adalah salah satu doa kami. Sehingga kalian bisa memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dari kami. Ibu nggak mau kalian bodoh seperti ibu. Cukup ibu yang bodoh di keluarga ini."
"Ibu nggak bodoh. Justru ibu adalah istri dan ibu terpandai dalam hidup kami. Fira masih ingat bagaimana dulu ibu mengajari kami mengaji dan pelajaran sekolah. Ibu juga istri yang pandai. Buktinya kita nggak pernah kekurangan bahkan saat ayah hanya menjadi supir ojol. Sementara ibu-ibu yang lain hanya tau bersolek dan menghabiskan uang suami, ibu justru mampu menghasilkan uang untuk keluarga ini," puji Safira sambil memeluk Dian.
"Benar apa kata kak Fira. Sania malah bercita-cita ingin menjadi seperti ibu. Walau hanya lulusan SMA tapi ibu lebih cerdas dari ibu-ibu lain yang lulusan S2. Mereka itu cerdas secara akademi tapi bodoh dalam mengurus keluarga. Tuh buktinya teman Sania. Mamanya direktur di perusahaan besar tapi nggak pernah mengurus anak dan suaminya. Akibatnya suaminya malah selingkuh dengan pembantunya. Bukan karena pembantunya cantik, tapi karena masakannya enak."
"Hush, kamu kok malah julid. Nggak boleh ghibah. Emak yang cerdas itu nggak suka ghibah," ucap Salman sambil menyentil kening Sania.
"Kalian ini masih aja kayak anak kecil. Ayo Salman, minta maaf sama adikmu," perintah Dian sambil tertawa kecil. Salman tak membantah perintah sang ibu, namun ia masih terus meledek Sania.
Sementara itu Seno dan Safira hanya bisa tertawa melihat tingkah Salman dan Sania. Sudah lama mereka tak bercengkrama seperti saat ini.
"Sudah, sudah.. ayo kita makan siang dulu," ajak Seno. "Nanti makanannya keburu dingin. Ayah bersyukur memiliki anak-anak seperti kalian. Terima kasih ya kalian sudah menjadi anak-anak yang membanggakan orang tua. Seperti yang ayah bilang tadi, tugas kalian adalah belajar dan berdoa. Insyaa allah akan ada jalan bagi cita-cita mulia kalian."
⭐⭐⭐⭐⭐
"Ngga, kamu jadi kuliah di Australia?" tanya Ahmad pada Angga saat mereka duduk santai di halaman belakang rumah engkong Rojaih.
"Belum tau pa."
"Kenapa ragu? Takut pisah dengan Safira ya?" ledek Juna yang saat itu datang berkunjung dengan Priska, istrinya yang sedang hamil 5 bulan.
__ADS_1
"Safira yang waktu itu jadi saritilawah, bang?"
"Iya sayang. Sejak kelas 11 Angga naksir dia. Sayang duduk disini. Kamu pasti capek kalau kebanyakan berdiri. Ngga, kamu pindah duduk dekat ayah sana. Bang Juna dan kak Priska mau duduk disini," usir Juna.
"Nggak papa, bang. Priska duduk di sini saja dekat enyak," ucap Priska sambil menunjuk kursi di sebelah enyak Rodiah yang kebetulan kosong.
"Lho, jangan dong. Kesayangan bang Juna nggak boleh duduk jauh-jauh," ucap Juna sambil mendorong Angga supaya berdiri.
"Yaelah bang, tega amat adiknya diusir. Lagian kak Priska juga nggak pengen-pengen amat duduk dekat bang Juna. Iya kan, kak?"
"Eh, mentang-mentang sudah mau kuliah jadi berani ngelawan ya. Mau motornya abang tarik?" ancam Juna.
"Ah, bang Juna nggak asyik nih. Mainnya ancam-ancaman segala," ucap Angga sambil bersungut-sungut tapi ia turuti perintah sang kakak. Kini Angga memilih duduk dekat sang nenek, enyak Rodiah.
"Kok nggak duduk di sebelah papa?" tanya Ahmad.
"Nggak ah, nanti mama datang Angga pasti diusir sama papa. Nggak papa, nggak bang Juna. Kalian ini kan sama aja. Nggak pernah memikirkan perasaan Angga yang jomblo ini. Angga duduk dekat enyak aja. Engkong pasti nggak akan ngusir, karena engkong pasti sudah bosan 50 tahun lebih duduk bersebelahan sama enyak."
"Eh, dasar cucu durhaka!" semprot engkong Rojaih yang duduk di kursi goyang kesayangannya sambil terkekeh. "Tapi apa yang elo bilang itu benar."
"Iya Ngga. Enyak juga sudah bosan duduk dekat kakek-kakek. Enakan duduk dekat anak muda. Enyak jadi ikutan berasa muda," balas enyak Rodiah sambil terkekeh.
"Bang, keluargamu seru ya," bisik Priska. Juna tersenyum sambil mengecup pelipis sang istri. Tangannya sibuk mengelus-elus perut Priska.
"Please ya nggak usah cium-cium di depan umum," celetuk Angga dengan wajah bete.
Selama setahun terakhir ini dia harus melihat kemesraan Juna dengan Priska. Paling sebal kalau mereka bisik-bisik, cekikikan lalu masuk ke kamar. Untunglah kini Angga diberi kebebasan menempati paviliun yang terletak di belakang rumah utama. Kesengsaraannya berkurang karena kini Juna dan Priska sudah pindah ke rumah yang mereka beli bersama.
"Memangnya Safira akan kuliah dimana?" tanya Zahra yang baru datang membawa sepiring pisang goreng. Di belakangnya mpok Mumun mengikuti dengan membawa minuman hangat.
"Fira lolos jalur undangan jurusan arsitektur, ma."
"Kalau memang kamu serius dengan dia, kenapa nggak kamu lamar aja?" tanya Priska tiba-tiba.
"Dia belum menerima perasaan Angga, kak."
__ADS_1
"Ungkapin lagi dong. Jangan sampai menyesal dia diambil cowok lain," ucap Juna. Angga hanya terdiam
⭐⭐⭐⭐