
"Hey centil! Berani juga lo ngedeketin Troy!" Vonny menghadang Safira saat gadis itu hendak menuju dapur umum yang terletak agak sedikit jauh dari tenda siswi. Safira membawa botol minuman. Karena ia berniat mengambil air untuk persediaan di tenda.
"Maaf, kakak bicara sama saya?" tanya Safira terkejut. Ia melihat ke sekitar, namun tak ada orang lain selain mereka berdua.
"Iya. Emangnya lo liat ada orang lain selain elo disini?"
"Ya barangkali kakak sedang latihan drama untuk acara pembukaan nanti malam. Siapa tau kakak lagi melatih akting tokoh antagonis yang cowoknya direbut cewek lain," ucap Safira polos. "Saya dengar kakak-kakak senior aktingnya bagus-bagus. Buktinya kak Aldo dan kak Ivanka jadi pemain sinetron terkenal."
"Dasar s****l! Berani ya lo melawan gue?"
"Maaf kak, siapa yang melawan kakak? Apa kakak butuh partner buat latihan akting? Saya sempat dengar dari panitia, penampilan malam ini akan dinilai lho. Siapa yang penampilannya bagus akan mendapat hadiah."
"Ba****t lo, benar-benar minta pelajaran dari gue ya?! Jangan main-main lo sama gue ya!!" Vonny terlihat semakin emosi. Ia langsung menarik jilbab Safira dengan keras hingga tubuh Safira terhuyung ke samping. Safira langsung melempar botol minuman yang tadi dipegangnya. Ia berusaha menahan jilbabnya yang hampir lepas.
"Nggak usah munafik lo! Pura-pura alim di depan orang banyak tapi elo deketin si Troy! Mendingan lo lepas aja tuh jilbab dan sekalian aja lo jadi cewek nakal. Biar Troy liat kalau elo tuh munafik! Palsu!" Vonny terus mengomel seraya ingin membuka jilbab yang Safira kenakan.
"Astaghfirullah.. kak, saya nggak pernah pura-pura. Saya juga nggak mengejar kak Troy." Safira terus menahan jilbabnya.
"Halah banyak b***t lo , PLAK!!" Tangan Vonny melayang ke pipi Safira hingga meninggalkan bekas merah di pipi gadis itu.
"Istighfar kak... istighfar! Kakak pasti dipengaruhi oleh setan cemburu sehingga marah kayak gini! Istighfar kak.." Safira masih berusaha menenangkan Vonny yang terlihat emosi dan semakin kalap mendengar ucapan Safira.
"Halaaah.. nggak usah sok baik lo! Jangan pura-pura suci! Gue yakin elo itu j***ng berkedok jilbab! Pura-pura polos buat menarik perhatian Troy. Heh, sadar dong elo itu cuma anak driver ojol yang kere! Orang tua lo nggak pernah ngajarin ya kalau orang kere model elo ini nggak cocok sama Troy!! Gue yakin kelakuan ibu lo nggak jauh beda sama elo. Kalian berdua sama-sama l**te!" Sekali lagi tangan Vonny terangkat ingin menampar Safira. Namun kali ini Safira menahan tangan Vonny. Wajahnya tampak keras.
"Kakak boleh ngatain aku apa aja. Kakak boleh bilang aku j***ng, l**te, munafik atau sebagainya. Tapi jangan pernah kakak mengejek orang tuaku terutama ibuku." Tangan Safira mencengkeram pergelangan tangan Vonny dengan keras sehingga Vonny meringis kesakitan. "Ibuku adalah wanita paling mulia di dunia ini. Sungguh kasihan wanita yang telah melahirkan dan mengasuh kakak, karena kakak menjadi orang seperti ini."
"Dasar kurang ajar! Berani-beraninya lo ngomong kayak gitu! Cari mati lo?!" Wajah Vonny mulai panik saat dilihatnya mata Safira penuh kemarahan. Cengkeraman tangan Safira semakin mengeras sehingga membuatnya kesakitan. "Lepasin tangan gue atau gue bakal teriak dan gue bakal bilang ke orang-orang kalau elo menganiaya gue."
"Silahkan kakak teriak. Saya nggak takut." balas Safira.
"Elo nggak takut beasiswa lo bakal ditarik karena elo melakukan kekerasan?" tiba-tiba Vonny balik mengancam Safira. Mendengar ucapan Vonny cengkeraman Safira melemah. Hal itu dimanfaatkan oleh Vonny untuk mendorong Safira hingga jatuh ke belakang. Untunglah Safira sanggup menahan tubuhnya sehingga kepalanya tidak terkena bebatuan yang ada di belakangnya.
"Ooh.. jadi itu kelemahan lo anak m***in. Gue yakin elo nggak mau beasiswa lo dicabut kan? Mulai sekarang elo jangan berani-beranian mendekati Troy atau gue bakal bikin gosip yang bisa menyebabkan elo kehilangan beasiswa." Usai mengatakan hal tersebut Vonny bergegas meninggalkan Safira karena dilihatnya ada orang yang berjalan ke arah mereka.
"Lho Fir, kamu kenapa? Kamu nggak papa kan? Kenapa kamu sampai jatuh begini?" tanya Angga yang kebetulan juga ingin ke dapur umum. Angga melihat sekeliling namun tak ada siapapun. Angga membantu Safira bangkit.
"Kamu beneran nggak papa Fir?" tanya Angga lagi. Dilihatnya rok yang dipakai Safira kotor terkena lumpur.
__ADS_1
"Aku nggak papa kok Ngga. Tadi aku terpeleset pas mau ke dapur. Mungkin karena aku kurang hati-hati." Safira berusaha membersihkan roknya yang terkena lumpur. Saat itulah Angga melihat pipi kiri Safira yang memerah dan sedikit membengkak. Tanpa sadar Angga mengulurkan tangannya menyentuh pipi Safira.
"Aah.. kamu mau ngapain Ngga?" tanya Safira terkejut sekaligus kesakitan saat pipinya disentuh oleh Angga.
"Eh maaf Fir. Aku nggak bermaksud apa-apa. Itu pipi kamu kenapa? Kok merah begitu? Kayaknya agak bengkak ya?" tanya Angga khawatir.
"Ooh mungkin itu karena tadi kelamaan bersandar pada kaca saat di dalam bis," elak Safira khawatir. "Kamu mau ambil air juga?"
Angga tak menjawab pertanyaan Safira. Ia malah menatap lekat mata Safira, mencoba mencari kebohongan di mata itu. Bukannya menemukan jawaban, Angga malah terpaku melihat bola mata Safira yang kecoklatan. Sumpah, bagus banget matanya batin Angga.
"Ngga... Angga.. kamu kenapa?" tanya Safira bingung.
"Cantik." gumam Angga.
"Apa kamu bilang?"
"Eh.. apa.. kamu nanya apa Fir?" Angga balik bertanya dengan tergagap.
"Kamu kenapa bengong begitu?"
"Oh.. eh.. eengh.. nggak papa kok. Aku cuma pengen tau kamu bohong atau nggak."
"Kamu cantik," puji Angga pelan.
"Angga.. apaan sih kamu kok mendadak gombal begitu. Sumpah, nggak lucu." omel Safira sambil mengambil botol minumannya yang tergeletak di tanah.
"Botol kamu kotor, Fir."
"Hehehe.. iya. Biar deh nanti aku cuci dulu. Semoga dekat dapur ada keran air jadi aku nggak perlu jauh-jauh ke toilet. Kamu mau ke dapur juga Ngga?"
"He-eh. Nih, mau ambil air minum. Ya sudah bareng yuk. Aku jagain kamu biar nggak jatuh lagi," jawab Angga. Gue yakin telah terjadi sesuatu sama elo. Mata elo memang nggak bohong, tapi disitu gue bisa lihat ada kemarahan sekaligus kesedihan disitu. Apa yang sebenarnya telah terjadi, tanya Angga dalam hati.
⭐⭐⭐⭐
"Fir, nanti pas api unggun duduk dekat gue yuk," ajak Rosa saat mereka bertemu setelah melaksanakan shalat isya. Ya, kini Rosa menjadi salah satu teman Safira.
"Boleh Sa. Eh iya, memangnya kamu nggak duduk dekat mas Seto?"
__ADS_1
"Nggak ah. Malas gue duduk dekat dia. Bukan karena Setonya sih, tapi gue malas aja dipelototin sama senior-senior lain."
"Kamu takut?"
"Bukan karena takut, tapi gue malas aja ngadepin drama nggak jelas. Lo tau kan, sebagai ketua klub basket dia banyak banget penggemarnya?" Safira mengangguk. "Sebelum berangkat kesini gue dapat pesan berisi ancaman. Gue diemin aja, tapi nggak gue hapus. Gue simpan, siapa tau bisa jadi barang bukti kalau nanti ada yang nekat ngerjain gue."
"Kamu berani banget ya, Sa. Apa ini karena didikan di Australia?"
"Elo juga berani Fir. Tadi gue liat waktu si Vonny nyegat. Pipi lo nggak papa?" Safira terkejut karena ternyata ada yang melihat kejadian itu. "Sorry gue bukannya nggak mau bantuin, tapi gue yakin elo bukan tipe yang senang ditolong orang lain. Iya kan?"
"Iya Sa. Aku lebih memilih tanganin sendiri masalah yang kuhadapi. Selama aku masih sanggup ngapain minta tolong orang lain," sahut Safira. "By the way, makasih ya kamu mau jadi teman aku."
"Sama-sama Fir. Oh iya, next time kalau elo benar-benar butuh bantuan kasih tau gue."
"Thanks Sa. Aku harap kamu nggak malu punya teman anak driver ojol ya."
"It doesn't matter. Gue malah mau kasih elo proyek nih."
"Proyek? Proyek apa?"
"Do you want to become my tutor?"
"Tutor? Maksudnya gimana? Kamu kan pintar Sa."
"There are a few things that I don't understand. Sebenarnya mommy sudah menawarkan memanggil guru privat, but I refuse. Coz gue ngga mau pusing, mereka kebanyakan nggak jago bahasa inggrisnya."
"Ya, kalau kamu percaya sama aku boleh-boleh saja aku jadi tutor."
"Tenang, mommy pasti akan menggaji kamu seperti tutor pada umumnya."
"Makasih ya Sa. Walau sebenarnya nggak digaji juga nggak papa. Hitung-hitung nolong teman."
"No... I wanna hire you as a tutor. Mommy can pay you. Anggap saja gue juga menolong elo. Sebagai teman kita kan harus saling tolong."
"Benar juga kata kamu, Sa. Thanks ya. Kita bisa mulai disini saat ada waktu luang."
"Oh no.. not here. Disini gue maunya bersenang-senang. Lagipula selama disini kegiatan kita pasti padat. Kata Sinta seperti KKN. What is KKN?" Safira tertawa melihat wajah canti Rosa terlihat kebingungan.
__ADS_1
"Nanti aku kasih tau apa itu KKN. Yuk sekarang kita ambil makan malam dulu."
⭐⭐⭐⭐