
Matahari masih malu-malu menyinari bumi saat di lapangan terlihat para siswa berbaris bersiap melaksanakan senam pagi. Tampak beberapa wajah masih terlihat mengantuk. Bahkan ada beberapa dari mereka yang duduk bersandar pada pohon meneruskan mimpi mereka. Termasuk Corong dan Duta yang duduk bersandar pada pohon besar di dekat lapangan. Sementara itu Troy terlihat segar.
"Tumben lo jam segini sudah segar banget," komentar Hilman, salah seorang teman sekelasnya. "Biasanya elo baru bangun jam 8 pagi, jamnya sarapan."
"Weits.. perubahan yang bagus dong," sahut Troy sambil sibuk melakukan pemanasan.
"Apa gara-gara cewek alim yang kemarin duduk di samping lo? Tadi gue liat elo ikutan shalat subuh berjamaah." Troy hanya nyengir mendengar ucapan Hilman.
"Beneran nih elo berubah gara-gara tuh cewek?" Kembali Hilman bertanya tak percaya. Hilman walaupun bukan anggota gank mereka, namun ia sudah berteman dengan Troy sejak mereka masih SMP.
"Cocok nggak menurut lo kalau dia gue jadiin pacar?" Troy balik bertanya.
"Ah, yang benar bro! Elo naksir sama dia? Kenapa? Dia kan bukan tipe lo banget."
"Tapi dia cantik banget, Man. Apalagi kalau dia senyum, gilaaaaa... waktu mendadak berhenti. Apalagi dia orangnya humble banget."
"Menurut gue lebih cantik si Vonny. Dia juga jauh lebih seksi. Lebih cocok buat elo, Troy."
"Gue bosan pacaran sama yang model begitu. Nggak ada tantangannya banget. Cewek-cewek model Vonny tuh diapain aja mau. Nggak perlu ditaklukin lagi dia pasti memasrahkan diri ke gue."
"Lalu kalau dia mau jadi pacar lo, apa yang bakal lo lakukan? Apa elo bakal perlakukan dia kayak mantan-mantan lo yang dulu?"
"Gue nggak bakal ngijinin Troy memperlakukan Safira kayak gitu." Tiba-tiba Seto sudah hadir di antara mereka. Di belakangnya terlihat Ilyas yang juga sudah terlihat segar.
"Kenapa? Elo naksir dia, To?" tanya Hilman.
"Dia itu sahabat si kembar. Bahkan sekarang dia berteman baik dengan Rosa, cewek yang lagi gue gebet. Kalau sampai si Troy mainin Safira, nggak kebayang sama gue kemarahan tiga cewek dalam hidup gue. Belum lagi kalau sampai nyokap tahu dia pasti ikutan marah. Bisa mampus gue. Karena nyokap gue juga sayang banget sama dia," jelas Seto.
"Kok elo nuduh gue bakal mainin dia sih?"
"Gue bicara berdasarkan fakta Troy. Siapa sih yang nggak kenal Troy, playboy kelas kakap di sekolah kita. Hampir semua cewek dari kelas 10 sampai kelas 12 naksir dan siap dijadiin pacar. Elo pacaran paling lama cuma tiga bulan. Bosan, putus. Mantan lo di sekolah ini aja sudah lebih dari 10 orang."
"Itu kan sebelum gue naksir Safira."
"Kalau modus lo bakal sama, mendingan jangan deh," imbuh Ilyas.
"Iya Troy, mendingan lo batalin niat lo ngejadiin dia pacar." Hilman sependapat dengan Troy dan Ilyas.
"Kenapa sih pada ngelarang gue? Semakin kalian larang, gue malah semakin penasaran. Gue bakal coba menaklukkan hati dia."
"Gue justru mengkhawatirkan elo, Troy." Ucapan Ilyas mengejutkan yang lain.
"Maksudnya apa? Kenapa bisa begitu?"
"Gue khawatir elo kecewa karena ditolak sama dia. Selama ini kan belum pernah ada cewek yang menolak elo."
"Gue akan bikin dia mau menerima pernyataan cinta gue," balas Troy penuh tekad. "Nggak ada yang bisa menolak pesona seorang Troy Adiguna Hartawan."
__ADS_1
"Jangan sesumbar dulu bro. Gue kan sudah bilang kalau Safira bukan cewek biasa. Nggak mudah untuk menaklukkan dia," ucap Ilyas. "Dia nggak tergila-gila harta ataupun wajah ganteng. Yang dia liat akhlak seseorang."
"Kalaupun saat ini ada yang memenuhi kriteria dia, gue nggak yakin dia mau dijadiin pacar," imbuh Seto. "Dia belum mau pacaran."
"Jangan-jangan kalian berdua pernah ditolak sama Safira," tebak Troy. "Kok kalian berdua yakin banget ngomong kayak gitu. Seperti yang sudah punya pengalaman aja."
Seto dan Ilyas saling berpandangan, saling menyelidik dan berakhir keduanya mengangkat bahu tak peduli. Semua itu tak lepas dari pengamatan Troy.
"Gimana kalau kita taruhan? Gue bakal buktikan kalau gue bisa menaklukkan dia."
"Taruhan? Gue nggak ikutan," tolak Ilyas cepat. "Gue nggak punya duit buat taruhan."
"Gue juga nggak mau taruhan." Seto ikut menolak.
"Gue ikutan." Corong datang dengan muka ngantuk.
"Gue juga." Di belakangnya Duta mengikuti dengan mata setengah terpejam. Wajah keduanya terlihat masih sangat mengantuk.
"Taruhannya nggak pakai duit biar semua bisa ikutan," jelas Troy. "Kalau gue berhasil menaklukkan Safira dan bisa bertahan sama dia lebih dari sebulan, maka kalian harus jadi kacung gue. Tugas kalian adalah mencatat semua pelajaran dan mengerjakan semua tugas sekolah gue. Termasuk mengerjakan try out gue."
Yang lain berpandangan. Seto dan Ilyas bimbang dengan tawaran tersebut. Corong dan Duta mengangguk-angguk setuju.
"Kalau gue kalah, selama sebulan gue bakal traktir kalian makan sepuasnya."
"Hmm.. kurang. Kalau elo kalah, gantian elo yang jadi kacung kita. Gimana?" tantang Corong.
"Sama kayak tugas kita ke elo. Berani?"
"Oke. Siapa takut," jawab Troy tak mau kalah. "Cuma kayak gitu aja mah gampang. Lagipula gue nggak bakal kalah dari kalian."
"Kok bisa seyakin itu? Ada sesuatu yang kita nggak tahu?" tanya Seto curiga. "Elo nggak main guna-guna kan?"
"Ya, nggaklah. Gue nggak percaya hal-hal kayak gitu, To." Seto memandang Troy curiga. "Santai lah bro, gue nggak bakal apa-apain adik ketemu gede lo itu."
"Kalau sampai Safira kenapa-napa gue nggak segan-segan memutus persahabatan kita." Yang lain terkejut mendengar ucapan Seto.
"Bro, nggak gitu juga kali. Masa hanya gara-gara cewek itu persahabatan kita bubar. Nggak lucu, ah." Corong berusaha menenangkan Seto yang terlihat emosi. Untunglah tak lama kemudian terdengar panggilan untuk melaksanakan senam pagi bersama. Yang lain langsung menghela nafas lega. Bukan sekali dua kali Seto dan Troy berbeda pendapat, namun kali ini sepertinya lebih serius dari biasanya.
⭐⭐⭐⭐
"Jadi, nanti setelah melakukan tugas dan penelitian kalian jangan lupa langsung membuat laporan." Langsung terdengar keluhan disana sini saat pak Yahya selesai memberi pengarahan. "Kalian jangan mengeluh dulu. Ada reward buat kelompok yang berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan sebelum acara api unggun malam ini."
"Rewardnya apa pak?" tanya salah satu siswa.
"Bukan coklat kan pak?"
"Rewardnya tambahan nilai dong."
__ADS_1
"Pak, boleh request reward nggak?"
"Pak, rewardnya boleh pulang duluan ya pak?"
Berbagai komentar dilontarkan oleh para siswa. Pak Yahya dan jajaran guru pembina hanya senyum simpul mendengarnya.
"Yang pasti, rewardnya bukan sabun mandi dan mie instant. Kepo ya? Silahkan selesaikan tugas yang diberikan," ucap pak Yahya.
"Huuuuuu.... nggak seru aaah."
"Kasih tau dong pak biar kita lebih semangat mengerjakan tugas kita."
"Kasih bocoran dong pak."
"Maaf pak, boleh saya tanya sesuatu?" Tiba-tiba Troy yang dari tadi diam saja mengangkat tangannya dan bertanya dengan lantang. Semua mata langsung fokus kepada Troy. Sebagian besar siswa wanita melakukan hal itu bukan karena penasaran dengan pertanyaan yang akan diajukan oleh Troy, tapi lebih karena ingin menikmati wajah ganteng Troy.
"Ya, silahkan Troy. Kamu mau tanya apa?" Pak Yahya balik bertanya.
"Pak, kenapa kelompoknya harus digabung antara anak IPA dan IPS? Penelitian yang kami lakukan pasti sangat berbeda dengan yang mereka lakukan," lanjut Troy. Kembali terdengar kasak kusuk dan bisik-bisik disana sini.
"Kalian jangan lupa, fieldtrip kita kali ini bukan hanya sekedar penelitian seperti di laboratorium. Fieldtrip kita kali ini sekaligus bakti sosial dan pengabdian kepada masyarakat dusun ini. Selain itu bapak mendapat misi khusus dari kepala sekolah dan yayasan untuk menghilangkan gap yang selama ini terjadi antara siswa IPA dan IPS. Jadi acara kali ini sekaligus untuk menguatkan bonding di antara seluruh siswa. Semakin kuat bonding di antara kalian maka tak kan ada lagi diskriminasi yang seperti selama ini terjadi."
"Diskriminasi seperti apa yang bapak maksud?" Semua murid terdiam. Selama ini mereka sebenarnya juga tak begitu mengerti kenapa ada gap antara anak IPA dengan anak IPS. Mereka hanya mengikuti tradisi tanpa tahu penyebabnya.
"Bapak yakin kalian mengerti apa yang terjadi di sekolah kita. Hal itu membuat sekolah kita mulai tidak kompak. Bukan rahasia lagi kalau banyak sekolah yang ingin mengalahkan prestasi sekolah kita. Namun akibat adanya pengkotakan-pengkotakan seperti yang terjadi saat ini, membuat sekolah kita kehilangan spirit persatuannya. Bagaimana kita bisa mengalahkan prestasi sekolah lain kalau kalian sendiri saling menjatuhkan?"
Semua terdiam. Suasana mendadak hening. Tak ada yang berani bicara karena apa yang pak Yahya sampaikan benar adanya. Beberapa kali sekolah mereka hampir kalah saat bertanding dengan sekolah lain karena terjadi permusuhan yang tak terlihat namun terasa antara anak IPA dengan anak IPS.
Tiba-tiba ada yang memecah keheningan dengan bertepuk tangan. Semua menoleh mencari asal suara. Tampaklah Rosa bertepuk tangan dengan semangat. Santi, Safira dan Sinta yang berdiri di dekat Rosa ikut bertepuk tangan walau ragu.
"Saya setuju dengan apa yang disampaikan oleh pak Yahya. Sejak saya masuk sekolah ini, saya merasa tidak nyaman karena adanya permusuhan antara siswa IPA dan IPS. Bahkan ada stupid rules yang melarang kami saling mengunjungi. Bagaimana saya bisa memperluas networking kalau saya tidak boleh mengunjungi gedung anak IPS. Demikian juga anak beasiswa sering diperlakukan tidak adil bahkan dikucilkan. Padahal bukan mau mereka masuk sekolah ini dengan beasiswa. Seharusnya itu justru membuka mata kita bahwa masih banyak anak-anak pandai yang butuh sekolah namun tak mampu secara finansial. Seharusnya hal tersebut mampu membuat kalian memiliki empati."
Kali ini ucapan Rosa disambut tepukan tangan dari para siswa IPS dan tentunya para siswa beasiswa. Mereka memandang kagum pada Rosa yang berani mengungkapkan pendapatnya. Seto semakin kagum pada Rosa.
"To, cewek lo hebat banget," bisik Ilyas.
"Itu yang bikin dia semakin menarik, Yas," balas Seto. "Gue berencana nembak dia di malam terakhir kita disini. Gue sudah minta tolong si kembar buat nemenin saat gue nembak Rosa."
"Biar kagak langsung dikawinin disini ya ?" Ilyas terkekeh mengingat peraturan di dusun ini. Seto tersenyum mendengarnya. "Gue support elo, bro."
"Kalau gue dikawinin sama dia, gue nggak bakal nolak. Bisa lo bayangin kayak gimana anak-anak kami nanti," balas Seto. "Pasti bakal pintar dan cakep."
"Huuu.. yakin banget lo."
"Oke, bapak harap kalian mengerti tujuan fieldtrip ini dan bisa mengerjakan tugas kalian dengan baik." Pak Yahya menutup pidatonya dan mempersilahkan para siswa mengerjakan tugasnya.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1