
Happy Reading
"Sa, aku mau ke surau di ujung dusun. Kamu mau ikut?"
"Ngapain?"
"Kemarin kepala dusun cerita kalau setiap sore anak-anak di dusun ini suka mengaji. Tapi sayangnya mereka kekurangan guru. Mumpung kita lagi disini, nggak ada salahnya kan kita ikut membantu mereka."
"Wah, kayaknya aku nggak ikut deh. Soalnya baca Al Qur'an saja aku belum lancar," tolak Rosa. "Lagipula letak surau itu kan di ujung dusun, Fir. Dekat jalan setapak menuju ke hutan."
"Kamu takut?"
"Hmm.. gimana ya. Kalau di kota besar aku nggak takut, tapi disini kan gelap. Walau ada listrik, tapi jalanannya kalau malam gelap. Konon kalau maghrib nggak ada yang berani dekat-dekat surau itu. Katanya bisa dibuat nyasar oleh jin penunggu hutan."
"Kamu lahir dan besar di Australia masak takut sama jin?" Safira meledek Rosa.
"Mau di Australia atau di Indonesia, yang namanya jin atau setan ya tetap menakutkan. Aku saja dari dulu paling nggak suka kalau pas perayaan halloween." Rosa bergidik membayangkan suasana halloween.
"Kalau mas Seto mau menemani kamu mau ikut? Soalnya aku lihat kamu tuh pintar banget menghadapi anak kecil."
"Hmm.. coba kamu tanya dulu mas Seto bisa ikut atau nggak."
Pada saat bersamaan Seto, Ilyas dan Troy berjalan menghampiri mereka.
"Mas, nanti shalat ashar dimana?" tanya Safira pada Seto.
"Mushola yang dekat balai desa. Kenapa?"
"Ah, nggak papa. Tadinya aku mau ajak mas Seto ke surau yang di ujung desa."
"Mau ngapain kamu ajak Seto kesana? Kenapa nggak ajak aku saja?" tanya Troy dengan nada cemburu.
"Kak Troy lancar baca Al Qur'an?" Safira balik bertanya. Troy terdiam sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Troy mana bisa baca Al Qur'an," celetuk Ilyas. "Pas jamnya ngaji dia bolos melulu."
"S****n lo Yas. Gue bisa tapi nggak lancar." Yang lain tertawa melihat sikap kikuk Troy.
"Makanya aku mau minta ditemani oleh mas Seto untuk bantu mengajar anak-anak di ujung desa. Kasihan kalau mereka nggak bisa mengaji. Walau hanya mengajar dua sampai tiga kali, setidaknya ada sedikit ilmu yang kita sampaikan untuk mereka," ucap Safira menjelaskan. "Tapi kalau mas Seto nggak bisa, biar nanti aku berangkat sendiri kesana. Nanti aku tanya pada kepala dusun, siapa yang biasa mengajar anak-anak disana."
"Wah, ada apa nih nama saya disebut-sebut?" Pak Rahman, sang kepala dusun, kebetulan datang menghampiri mereka bersama pak Dimas.
"Eh bapak. Begini pak, kemarin sore saya lihat banyak anak-anak menuju surau yang di ujung dusun. Sepertinya mereka mau berangkat mengaji ya. Kenapa mengajinya bukan di musholla dekat balai desa pak?" tanya Safira penasaran.
"Dulu mereka memang mengaji di musholla yang dekat balai desa. Mereka diajar oleh ustadzah Fatimah. Tapi tiga bulan yang lalu ustadzah Fatimah mengalami kecelakaan dan salah satu kakinya terpaksa di amputasi. Karena rumah beliau di ujung desa, akhirnya murid-murid beliau memutuskan untuk mendatangi beliau. Makanya surau di ujung desa kembali dipergunakan untuk anak-anak mengaji. Kenapa nak Fira? Apakah nak Fira ingin membantu ustadzah Fatimah?" tanya pak Rahman setelah menjelaskan panjang lebar.
"Insyaa Allah pak. Kalau tidak ada halangan selama beberapa hari disini saya ingin membantu ustadzah Fatimah. Tentunya kalau diijinkan oleh para guru."
"Wah, sungguh mulia niat kamu Fir. Tentu saja kami guru-guru merasa senang ada siswa yang memiliki niat mulia seperti kamu. Nanti bapak akan menyampaikan niat kamu kepada pak Yahya. Beliau pasti mengijinkan. Kebetulan setelah ashar memang waktu kosong kalian kan?" Safira menggangguk penuh semangat. "Yang penting sebelum maghrib kamu sudah kembali ke tenda."
"Iya nak Fira. Kalau bisa kamu sudah kembali sebelum maghrib. Tapi kalau waktu mengajar mepet dengan waktu shalat maghrib, kamu bisa shalat disana. Nanti bapak akan menyuruh pak Jiman dan istrinya menjemput kamu," usul pak Rahman.
__ADS_1
"Ah, nggak perlu dijemput pak. Saya berani kok balik sendirian ke tenda. Lokasinya nggak terlalu jauh." tolak Safira halus. Ia tak ingin merepotkan orang lain.
"Biar saya yang menemani dia, pak." Tiba-tiba Troy mengajukan diri.
"Kalian nanti berdua saja?" tanya pak Rahman. "Sebaiknya jangan nak. Kalian tahu kan peraturan di dusun ini. Kalau bapak yang lihat sih nggak ada masalah karena bapak tahu tujuan nak Troy menemani Safira. Tapi bapak khawatir nanti ada warga yang melihat kalian berduaan. Bisa-bisa kalian langsung dinikahi di tempat."
"Hehehe.. saya nggak menolak pak kalau dinikahkan dengan dia," sahut Troy seraya mengedipkan sebelah matanya pada Safira. Tentu saja hal itu membuat Safira merasa tak enak kepada pak Rahman dan pak Dimas. Sementara itu yang lain hanya tertawa.
"Kalau begitu biar nanti saya juga ikut menemani Safira, pak." Tiba-tiba Angga muncul dan mengajukan usul.
"Ngapain elo ikut-ikutan?"
"Kata nenek gue, nggak baik cowok cewek berduaan. Makanya gue ikut menemani Safira."
"Cowok cewek berduaan, yang ketiganya setan," celetuk Troy. "Elo setannya."
"Nggak mungkin gue setannya. Mana ada setan rajin shalat. Yang ada juga elo setannya. Shalat niatnya buat menarik perhatian cewek. Cuma setan yang ngide kayak gitu," balas Angga tak mau kalah. Pak Dimas dan pak Rahman hanya geleng-geleng kepala kelakuan keduanya.
"Hmm.. saya nggak apa kok pulang pergi sendiri ke musholla pak. Saya yakin Allah akan menjaga saya," ucap Safira sebelum Troy dan Angga melanjutkan perdebatannya.
"Wah, apa nggak bahaya nak Fira? Jalanannya gelap lho," tanya pak Rahman khawatir.
"Insyaa allah saya akan baik-baik saja, pak." Safira memastikan.
"Biarkan Angga dan Troy menemani kamu, Fir," perintah Pak Dimas. "Bapak nggak mau terjadi sesuatu sama kamu. Biar bagaimanapun, keselamatan murid-murid adalah tanggung jawab kami."
"Saya setuju dengan pak Dimas. Dan seperti pesan pak Yahya, senior harus menjaga juniornya. Iya kan pak?" ucap Troy dengan semangat.
"Siap pak. Nanti saya akan bantu mengajar anak-anak lelaki. Gini-gini saya juara tahfidz di RT saya," sahut Angga.
"Oh ya? Wah hebat kamu, Ngga. Anak-anak itu pasti senang mendapat guru yang kocak seperti kamu," puji Safira. Angga tersenyum penuh kemenangan sambil melirik ke arah Troy.
"Sombong," celetuk Troy tak senang. Kayaknya balik dari sini gue harus belajar ngaji lagi nih biar Safira tertarik sama gue, batin Troy.
"Kalau kak Troy mau belajar ngaji juga boleh. Saya bersedia mengajarkan," sindir Angga.
Safira tampak pasrah. Sebenarnya ia lebih nyaman sendirian ke musholla tersebut, namun sepertinya pak Dimas dan pak Rahman tidak mengijinkan. Apa boleh buat, batin Safira. Untung ada Angga, jadi aku nggak akan merasa canggung dibandingkan harus berduaan dengan kak Troy.
"Nanti kita berangkatnya sebelum ashar ya, biar kita bisa sekalian shalat disana," usul Angga. "Tenang kak Troy, gue nggak akan minta elo menjadi imam."
"Sialan lo!" balas Troy kesal.
"Sudah.. sudah... ayo sekarang kalian siap-siap untuk kegiatan berikut sebelum makan siang."
⭐⭐⭐⭐
"Nah, adik-adik sekian dulu pengajian kita sore ini. Insyaa Allah besok kami akan kemari lagi untuk membantu ustadzah Fatimah."
"Kakak akan seterusnya membantu ustadzah kan?"
"Kakak yang pakai baju biru lucu. Aku mau diajari sama dia."
__ADS_1
"Aku mau kak Safira yang mengajari aku."
"Aku maunya diajar oleh kakak yang pakai baju biru."
"Nggak, aku maunya kak Safira."
"Aku maunya sama kakak baju biru. Soalnya kakak itu pintar bercerita dan lucu."
"Sudah... sudah.. Daripada kalian ribut lebih baik kita sama-sama berdoa dan menutup pengajian ini dengan doa kafaratul majlis." Angga berusaha menengahi anak-anak.
Celoteh anak-anak langsung berhenti saat Angga mengambil alih untuk menutup pengajian. Sementara itu ustadzah Fatimah yang duduk di samping Safira tersenyum puas melihat bagaimana semangatnya anak-anak di bawah pimpinan Angga.
"Mereka sangat senang diajari oleh kalian. Selama ini mereka harus bersabar menunggu giliran membaca karena kami kekurangan guru. Seandainya saja kalian lebih lama disini, kami pasti sangat terbantu."
"Kami, terutama saya juga sangat menikmati mengajar mereka. Sayangnya kami nggak bisa terus membantu karena dalam beberapa hari ke depan kami akan kembali ke kota," sahut Safira sopan.
"Ibu mengerti. Ibu sangat bersyukur kalian masih mau membantu walau tanpa diminta dan kegiatan ini tidak ada dalam program kalian. Tapi kenapa teman kalian yang satu lagi tidak ikut mengajar? Ibu perhatikan dia dari tadi hanya duduk sambil bermain hp."
"Oh, dia memang belum terlalu bisa mengaji bu. Tadinya dia mau bantu Angga tapi dia khawatir anak-anak malah tidak nyaman dengan kehadiran dia. Maklum ustadzah, dia nggak terbiasa berhadapan dengan anak kecil," jelas Safira.
"Apa dia pacar nak Fira?"
"Siapa? Angga?"
"Bukan, tapi dia." ustadzah Fatimah menunjuk Troy.
"Bu-bukan ustadzah," jawab Safira cepat. Wajahnya langsung memerah mendengarnya.
"Temanmu itu nggak bisa mengaji serta tidak nyaman bergaul dengan anak-anak. Tapi dia ikut kesini. Apakah dia kesini hanya untuk menemani nak Fira? Ibu yakin, dia kesini bukan karena ingin menemani nak Angga," tebak ustadzah Fatimah sambil tersenyum.
"Hmm.. dia senior kami ustadzah. Kebetulan para senior memang bertugas untuk mendampingi junior," elak Safira cepat.
"Ibu yakin, dia pasti naksir kamu. Dia rela menunggui kamu mengajar padahal ibu yakin dia pasti nggak nyaman duduk sendirian disana. Menunggu seperti itu pasti terasa lebih lama dan membosankan. Berbeda dengan kita yang dari tadi mengajar anak-anak. Bagi kita waktu berlalu dengan cepat. Tapi tidak untuk dia."
"Fir, kamu mau shalat maghrib disini atau mau kembali ke tenda?" tanya Angga setelah anak-anak dan ustadzah Fatimah pulang.
"Hmm.. enaknya sih shalat dulu baru pulang. Tapi kayaknya surau ini jarang dipakai shalat ya. Warga dusun lebih senang shalat di mushola dekat balai desa."
"Lebih baik kita balik saja ke tenda," usul Troy. "Mumpung belum adzan."
"Tapi kak, sebentar lagi pasti adzan."
"Kalau shalat disini siapa yang jadi imamnya?" tanya Troy.
"Bisa kak Troy, bisa Angga," usul Safira. Muka Troy langsung panik mendengar usulan tersebut. Dia langsung garuk-garuk kepala. Antara panik, bingung dan malu. Terus terang saja dia nggak terlalu banyak hafal surat-surat dalam Al qur'an.
"Hmm.. Angga saja yang jadi imam. Kita jadi makmum."
"Kenapa bukan elo saja? Kan elo lebih tua dari gue dan gue yakin elo terbiasa memimpin kan? Bagaimana kalau kali ini elo menjadi pemimpin dalam shalat?" tantang Angga.
"Sudah.. sudah.. Nggak usah berdebat. Siapapun yang menjadi imam, yang penting kita shalat maghrib dulu disini. Tuh, di kejauhan telah terdengar adzan." Benarlah di kejauhan suara adzan mulai terdengar.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐