
"Please be my girl."
Sontak semua yang ada disitu terkejut mendengar ucapan Troy yang terdengar lembut. Ini kali pertama para sahabatnya melihat Troy menyatakan perasaannya pada seorang gadis. Selama ini para gadislah yang menyatakan perasaannya pada Troy.
"Kak..." Safira terlihat bingung.
"Aku janji nggak akan macam-macam sama kamu. Aku cuma minta kamu menjadi pacarku," bujuk Troy lembut.
"A-aku... aku nggak bisa, kak!" Usai mengucapkan hal itu, Safira berdiri dan berlari meninggalkan yang lain.
"Fir!" Troy mencoba mengejar namun langkahnya ditahan oleh Seto. "Minggir! Gue mau kejar pacar gue."
"TROY!"
"Apaan sih?!" sahut Troy kesal.
"Tolong jangan ganggu Fira. Elo sudah tau gimana prinsip dia, kenapa elo masih juga penasaran? Apa karena pertaruhan kita?"
Rosa dan si kembar terjengit kaget mendengar ucapan Seto.
"Taruhan? Bet? You made a bet on her? Wow.. you're ridiculous." Seru Rosa kesal. "Kalian manusia-manusia nggak punya hati. Gimana bisa kalian melakukan hal seperti itu pada gadis sebaik Fira. Kamu juga mas, kenapa ikutan? Harusnya kalau kamu menganggap Fira sudah seperti adik sendiri, kamu jangan ikut-ikutan."
"Lho, aku sudah memperingati Troy untuk tidak melakukan hal itu. Tapi dia tetap nekat." Seto membela diri.
Rosa tak menanggapi ucapan Seto. Diambilnya tas sekolah lalu ia berjalan meninggalkan Seto dan yang lain. Seto berusaha mengejar tapi kali ini si kembar yang menahannya. Mereka menggelengkan kepala seolah mengatakan biarkan Rosa menenangkan diri.
Akhirnya dengan rasa kesal Seto menuruti keinginan si kembar. Apalagi makanan pesanan mereka sudah datang.
Seketika suasana menjadi awkward. Seto mencoba menikmati hidangan walau terasa sulit menelannya. Pikirannya terbagi antara Rosa dan Safira. Ingin mengejar mereka, namun ia tahu keduanya membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan diri.
"Troy, lo gila!" Akhirnya tercetus juga ucapan dari mulut Seto.
"Iya, gue emang gila. Gue tergila-gila sama Safira. Kenapa? Elo nggak suka? Terserah," jawab Troy santai tak peduli.
"Kak, gimana kalau Fira marah?" tanya Santi dengan suara cemas. Sinta yang duduk di sampingnya juga terlihat cemas.
"Kenapa harus marah? Seharusnya dia senang karena berhasil membuat seorang Troy, cowok yang diinginkan olwh banyak cewek, memilih dia," jawab Troy tak peduli.
"Gue peringatkan elo untuk mwnghentikan kenekatan ini. Elo sudah tau kalau dia nggak mau pacaran. Elo juga tau ayahnya nggak mau anaknya pacaran. Tapi kenapa elo nekat?"
"Kenapa nggak? Gue kan cuma minta dia jadi pacar, bukan jadi istri," jawab Troy.
"Fira itu nggak mau pacaran dulu kak. Dia mau fokus pada pendidikan. Dia ingin cepat bekerja supaya bisa membantu orang tuanya," jelas Sinta.
⭐⭐⭐⭐
"Fir, kamu kok belum siap-siap?" tanya Dian yang melihat putri sulungnya masih sibuk membantu menyiapkan barang dagangan. "Sudah jam 05.30 lho."
"Iya bu," jawab Safira tak bersemangat. Dian langsung mendekati putri sulungnya. Dirabanya dahi Safira. Normal.
"Kamu kenapa? Nggak enak badan?" Safira menggeleng.
"Lagi malas aja, bu."
__ADS_1
"Kak Fira malas ke sekolah?" celetuk Salman yang keluar dari kamar dan terlihat segar. Meski baru kelas 9, namun tingginya sudah melebihi Seno. "Hmm.. berita besar nih."
"Berita besar gimana?" tanya Dian sambil terus mondar mandir menyiapkan dagangan dan sarapan untuk keluarganya.
"Memangnya ibu pernah lihat kak Fira malas ke sekolah? Dari jaman TK sampai sekarang kak Fira nggak pernah sekalipun bilang malas ke sekolah. Anak lain punya hobi bermain atau jalan-jalan, kak Fira hobinya belajar dan sekolah."
"Kamu kenapa, Fir? Tumben belum siap," tanya Seno yang sudah terlihat rapi hendak berangkat ke kantor. Sejak beberapa bulan terakhir ini Seno bekerja di perusahaan milik temannya.
"Katanua lagi malas, yah," celetuk Salman yang mulai menyendok nasi goreng ke piringnya.
"Kenapa malas? Masih ada yang suka ngeledekin kamu tentang pekerjaan ayah?"
"Nggak yah. Kalau cuma itu sih Fira nggak tersingggung," Safira berjalan menuju kamar. "Fira siap-siap dulu. Kalau ayah dan adik-adik mau berangkat , duluan saja."
Tidak sampai setengah jam Safira terlihat sudah rapi. Dilihatnya Seno dan kedua adiknya masih menikmati sarapan.
"Kak, nungguin di jemput pacar ya?" tanya Sania sambil cengar-cengir.
"Kamu punya pacar Fir?" tanya Seno seraya meletakan sendoknya. Dipandangnya Safira dengan serius.
"Nggak yah. Fira nggak punya pacar. Fira belum memikirkan hal tersebut."
"Yang tiap malam suka kirim pesan siapa kak?" celetuk Sania lagi.
"Pesan yang mana?" tanya Safira.
"Itu lho yang suka panggil sayang." Semua mata memandang Safira. Bahkan Dian yang tadinya mau ke warung, menyempatkan berhenti.
"Eh.. hmm... apaan sih dek. Itu bukan pacar kak Fira," sanggah Safira.
"Troy?" tanya Seno. "Kamu pacaran sama dia?"
"Nggak yah. Fira nggak pacaran sama siapa-siapa. Kak Troy aja yang sering kirim-kirim pesan gitu. Fira nggak pernah menanggapi dengan serius pesan-pesan dari dia."
"Kamu sudah besar. Sudah tahu mana yang baik mana yang salah. Sudah tahu mana yang harus kamu prioritaskan."
"Jangan-jangan kak Fira malas ke sekolah karena nggak mau ketemu kak Troy," tebak Salman.
"Benar begitu Fir?" tanya Dian. "Memangnya dia gangguin kamu?"
"Eengh... gimana ya.. Fira risih saja karena kak Troy sering ke kelas. Gara-gara itu banyak senior yang nggak suka sama Fira. Belum lagi kak Troy suka nekat nungguin Fira datang atau nemenin Fira tunggu angkot."
"Kamu sudah lapor ke wali kelasmu?" Safira menggeleng.
"Lapor saja kak."
"Percuma Man, kak Troy itu cucu ketua yayasan. Bahkan kepala sekolah adalah papa tiri kak Troy."
"Kamu laporkan saja. Siapa tau mereka bisa memperingatkan Troy."
"Susah yah, bahkan papa tirinya nggak bisa didengar oleh Troy," keluh Safira sambil menghembuskan napas kesal. "Pak Broto sudah memperingati kak Troy, tapi dianggap angin lalu."
"Apa ayah perlu ke sekolah kamu? Siapa tau pihak sekolah akan mengambil tindakan lebih tegas kalau ayah yang lapor."
__ADS_1
"Nggak usah, yah. Biar Safira coba hadapi sendiri."
"Ayah yakin kamu mampu. Tapi ayah juga nggak mau hal tersebut mengganggu sekolahmu. Bilang sama ayah kalau kamu nggak sanggup."
"Oke yah. Doain aja Fira bisa menghadapi kak Troy dengan cara yang tepat."
Seno dan Dian saling berpandangan. Mereka bisa membayangkan bagaimana sulitnya posisi Safira. Sebagai penerima beasiswa, segala tingkah lakunya disorot. Bukan hanya oleh pihak sekolah, tapi juga oleh banyak siswa. Salah langkah sedikit bisa menjadi cemoohan bahkan bisa berakibat dicabutnya beasiswa.
⭐⭐⭐⭐
"Troy, mau sampai kapan elo ngedeketin Fira?" tanya Seto saat mereka berkumpul di kamar Troy.
"Kenapa? Elo nggak suka?" tanya Troy tanpa mengalihkan pandangannya dari permainan PS.
"Si kembar cerita sama gue kalau akhir-akhir ini Fira sering datang lebih siang."
"Hmm..."
"Itu gara-gara elo."
"Kok gara-gara gue?"
"Bro, elo nggak sadar sikap lo akhir-akhir ini sudah bikin dia nggak nyaman?"
"Kalau dia merasa terganggu harusnya dia terima dong pernyataan cinta gue," sahut Troy enteng. Yang lain saling berpandangan mendengar ucapan Troy.
"Bro, sadar nggak sih kalau sejak elo mendekati dia banyak siswi lain yang nggak suka. Bahkan nggak sedikit yang mem-bully dia," jelas Troy.
"Makanya dia terima cinta gue biar gue bisa jagain," sahut Troy enteng. " Lagian ngapain sih pakai jual mahal segala."
"Dia bukan jual mahal, tapi dia tahu diri. Lagipula elo kan tahu kalau ayahnya melarang dia pacaran."
"Troy, kenapa elo nggak pepet aja si Zara. Gue perhatikan, dia masih ngejar elo."
"Zara? Bekas elo?"
"Duta? Sejak kapan?"
"Pas camp waktu itu kan mereka sempat dekat. Bahkan sempat berlanjut sampai akhirnya si Duta dilabrak sama Yola."
"Bukannya elo sama Yola sudah putus?" tanya Ilyas yang dari tadi sibuk membaca komik.
"Iya, gue memang sempat break sama Yola, tapi Yola ngajak balikan," sahut Duta. "Lagipula Zara ngedeketin gue biar bisa masuk circle kita. Yola juga lebih menyeluruh servicenya."
Yang lain tertawa mendengar jawaban Duta. Sementara itu Ilyas hanya bisa geleng-geleng mendengarnya. Mereka tahu bagaimana 'panasnya' hubungan Duta dan Yola.
"Dut, elo kawinin aja si Yola. Sudah kadung lo rusak tuh anak."
"Eh, jangan salah. Dia yang ngerusak gue, bukan sebaliknya." Duta membela diri. "Pas gue pertama pacaran sama dia, gue masih polos."
"Sekarang?"
"Pro player." Semuanya tertawa mendengar ucapan Duta.
__ADS_1
"Hati-hati, jangan sampai kebablasan. Sebulan lagi kita ujian akhir." Seto mengingatkan
⭐⭐⭐⭐